Rabu, 21 Oktober 2009

Perahu Retak Sang Gelombang


Di suatu masa di negeri antah berantah. Hiduplah beberapa orang pendekar sakti. Setiap pendekar memiliki jurus dan ilmu andalan masing-masing. Lima diantara yang paling ternama adalah pendekar hijau, pendekar biru, pendekar hitam, pendekar ungu dan pendekar putih. Ke lima pendekar bersaing dalam merebut mangsa dan kuasa. Juga dalam rangka merebut simpati para penguasa. Penguasa negeri merah, penguasa pulau hijau, penguasa kota biru dan penguasa wilayah bintang tiga warna.

Pertarungan demi pertarungan dilakukan untuk mencari sang pemenang. Belum ada yang berhasil tak terkalahkan. Dalam masa yang lama mereka bersaing. Dalam jangka yang panjang mereka berperang. Terus-terusan. Intrik, jurus dan ilmu perang semua dikerahkan. Spionase, pembajakan ajudan hingga sikut-sikutan. Atas nama harta dan kuasa.

Dalam persaingan yang ketat. Dalam pertempuran-pertempuran yang hebat. Pendekar biru dan pendekar hijau mulai bersiasat. Mereka berencana menggabungkan jurus dan ilmu mereka. Dengan satu harap “menjadi sang pemenang tiada bandingan”. Walaupun ditentang banyak orang. Walaupun tak disukai para pengikut mereka sendiri, kedua pendekar akhirnya melebur jadi satu. Perkawinan.

Sejak awal perkawinan sudah mulai banyak ketidakcocokan. Budaya yang berbeda. Nilai yang berbeda. Prinsip yang berbeda. Status yang berbeda. Kedua pendekar terus berupaya mendamaikan perbedaan di dalam diri mereka sendiri. Atas nama efisiensi, banyak ajudan terbaik dan pilihan yang terpaksa hengkang atau mundur sendiri. Ilmu dan jurus yang mereka miliki tak mudah melebur. Pun jua dengan budaya dan sifat mereka sendiri. Si biru yang sombong, arogan dan efisien bertabrakan dengan si hijau yang lebih familiar dan manusiawi. Mereka mendapat julukan baru “pendekar gelombang”. Yang menurut idenya adalah gabungan dari nilai2 yang dimiliki unsur-unsur pendiri gelombang – jurus biru dan jurus hijau-. Si biru berhasil menguasai kapal gelombang. Sementara pendekar hijau dan pengikutnya perlahan menghilang. Jurus-jurus baru. Nilai- nilai baru. Budaya baru. Peraturan baru yang semakin ketat dan mengawang. Pendekar gelombang adalah penjunjung nomor wahid ajaran etis. Kejujuran. Anti korupsi, anti kolusi. Idealisme gelombang ibarat sebuah mimpi utopia di tengah bumi yang kacau balau. Tabrakan nilai dan kepentingan pun dimulai.

Ketika pendekar gelombang dengan giatnya mengkampanyekan jurus-jurus etis, mereka kehilangan pamor di mata penguasa. Kenapa? Karena para penguasa tak terbiasa dengan ajaran etis yang diusung gelombang. Mereka menganggap gelombang terlalu keras dan mengada2. Karena pada dasarnya, para penguasa juga manusia, yang masih suka hal-hal durjana. Penguasa mulai ragu memberikan pekerjaan pada gelombang. Karena buat gelombang, lebih baik tdk mendapat kue daripada hrs tdk etis. Teorinya. Padahal diantara para pimpinan, abdi dan pengikutnya sendiri, kapal gelombang tidaklah seetis yang dikatakan.

Konflik internal. Etis yang utopis. Etika yang binasa. Peraturan yang membelit diri sendiri. Membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana. Ditambah lagi seluruh negeri yang sudah teracuni virus korupsi dan kolusi. Gelombang terlalu keras terhadap diri sendiri. Gelombang mulai tak mampu memenuhi keinginan para penguasa negeri.

Gelombang mulai sakit, tak tahan terhadap tekanan. Juga adanya pertentangan internal dan issue perceraian. Perlahan, pekerjaan-pekerjaan yang biasa diberikan pada gelombang diambil alih para pesaingnya. Mulai dari penguasa negeri merah yang biasanya mempercayakan sebagian besar pekerjaan pada gelombang mulai melirik pendekar lainnya. Pendekar ungu. Pendekar hitam. Terjadi juga pada penguasa wilayah bintang tiga warna yang berpindah kepada pendekar ungu dan si kipas merah. Penguasa kota biru-sebuah negeri yang masih sangat baru- tak lagi mempercayakan seluruh pekerjaan kepada pendekar gelombang. Lagi-lagi direbut oleh pendekar hitam, ungu dan si kipas merah.

Tahun-tahun belakangan, nama si kipas merah semakin muncul ke permukaan. Berbagai misi telah dilakukan dan mengangkat namanya di rimba persilatan. Si kipas merah yang berasal dari negeri tirai bambu memiliki jurus andalan “harga dan gratisan”. Para penguasa pun tergiur. Si kipas merah merajai persaingan mengalahkan para pendekar lainnya, termasuk pendekar gelombang.

Perahu yang ditumpangi pendekar gelombang mulai retak. Oleng tertiup angin si kipas merah. Para pengikut setia yang kecewa banyak berpindah arah. Begitu juga dengan para oportunis. Ini bukan lagi masalah kesetiaan. Kekecewaan yang bertumpuk. Ketidakpuasan hingga atas nama kesempatan. Pendekar gelombang mulai tertiup badai. Masih tak tahu apakah akan bisa bertahan atau perlahan tenggelam ke dasar lautan. Kapal gelombang butuh suatu gebrakan dan jurus sakti untuk membawanya menang dari perang.

Dan kini, kuberdiri di sini. Di atas perahu gelombang yang mulai retak dan terancam karam. Tergoda angin yang terus berhembus dari sebrang lautan. Angin si kipas merah dan godaan pendekar saingan. Muncul beberapa pilihan “Bertahan dan menambal perahu retak gelombang atau tergoda dan mengikuti arah angin para saingan.” Aku memilih pilihan ketiga, yaitu bertahan sambil melihat perubahan cuaca dan arah angin. Bukan karena kesetiaan. Tetapi lebih karena keskeptisan. Angin bisa cepat berubah arah, melebihi dugaan. Juga karena aku letih terus menerus dipermainkan. Perang.

Ketidakpastian. Ketidakleluasaan. Karena pada saat yang sama, aku ingin mempersiapkan diri membangun kapalku sendiri. Tiada lagi tekanan, penuh kesempatan dan keleluasaan. Berjuang menggapai mimpiku sendiri. Aku ingin tak lagi peduli pada perang, baik pada gelombang maupun si kipas merah. Pertanyannya : “Apakah aku bisa?” Hanya waktu yang kan menjawabnya. Wish me luck. Semangat!!


Palangkaraya, 20 Oktober 2009

Selasa, 13 Oktober 2009

Bukan Mentari


Aku bukanlah mentari
Yang selalu siap terangi hari

Aku bukanlah bintang
Yang mampu membuat malammu terang

Aku bukanlah dewi
Yang bisa kau bangga dan pujai

Aku hanyalah aku
Yang belajar mencintaimu
Seperti apa adanya dirimu

Palangkaraya, 12 Oktober 2009

Minggu, 11 Oktober 2009

Pencari Bahagia


Kucari bahagia
Hingga ke dasar samudra
Hingga ke beku antartika
Dan gersangnya sahara
Tapi tetap tiada

Kucari bahagia
Kemana-mana
Hingga ke ujung dunia
Tapi tetaplah fana

Orang bilang, bahagia ada di dalam hati
Tetapi mengapa kutak bahagia kini
Saat kau tak lagi disini
Apakah hatiku telah kau bawa pergi?

Palangkaraya, 10 Oktober 2010

Sabtu, 10 Oktober 2009

Travellous By : Andrei Budiman


A Lost Bird
By: Rie


A bird
Dream
Freedom
Life and love

when I was a child,
I always dreamed of the bird
Free without any tie
Could fly high until the sky

After years,
I could fly so high
I could go so far
I could be so free

But now, i’m just like a lost bird
Can’t found navigation
Can’t found the direction

I’m a lost bird
Who tired to fly
Missed the earth
Missed the grass

I’m a bird who is searching for a place
Where I could stay forever


Itu adalah sepenggal catatan hati yang langsung muncul di diri ketika mendengar kata “perjalanan”. Sejak kecil, saya ingin sekali bisa berkelana ke banyak tempat. Bertemu orang-orang baru, melihat tempat-tempat baru dan mendapat banyak pengalaman baru. Saya sempat terobsesi untuk bisa keliling dunia. Tapi itu hanyalah sebuah cita-cita belaka. Yang bahkan sebelum sempat terlaksana sudah habis naluri petualangnya. Tergantikan rutinitas yang stagnan dan monoton. Kebosanan untuk terus hidup nomaden. Buat saya, sesuatu yang baru tidak harus berarti sesuatu yang jauh. Yang terpenting adalah bagaimana cara menikmatinya.
==

Mendengar kata perjalanan buat saya adalah bisa berarti banyak hal. Sebuah pencarian, pelarian sekaligus juga pelampiasan akan banyak hal. Makna hidup, jati diri, pelarian masalah, mimpi dan masih banyak lagi. Perjalanan untuk setiap orang pasti berbeda maknanya.

Membaca buku ini tidak hanya membaca sebuah catatan perjalanan. Tetapi juga sebuah kisah. Sebuah cerita yang penuh romantikanya. Sebuah catatan perjalanan, juga sebuah novel. Tak melulu seperti tour guide membosankan yang ada di brosur-brosur perjalanan. Karena di dalamnya terdapat hal-hal pribadi sang penulis. Ibarat membaca buku harian penulis. Tergambar jelas pikiran dan perasaan penulisnya. It’s so personal. Walaupun terkadang terkesan sangat subjektif dan ego centris. Wajar sih sebenernya karena ini adalah sebuah buku harian perjalanan, yang pastinya penuh sentuhan personal. Perasaan bribadi, pikiran pribadi, prasangka pribadi, dll. But, that’s not a problem. So what gitu loch? Yang terpenting jalan ceritanya masih bisa dinikmati.

Membaca buku ini, membuatku teringat akan mimpiku sendiri. Sebuah mimpi pasti dimiliki oleh hampir semua orang. Yang tdk dimiliki oleh semua orang adalah tekad dan keberanian untuk meraih mimpi. Saya salut sekaligus iri dengan Andrei yang punya keberanian (baca : kenekatan) luar biasa untuk mewujudkan mimpinya.

Walaupun terdapat beberapa kekurangan di sana-sini. Mulai dari penulisan dan tanda baca yang agak mengganggu serta foto yang kurang banyak (plus tdk berwarna). Padahal sebuah buku travelling umumnya dihiasi foto-foto menarik. Untuk menarik perhatian biasanya. Secara keseluruhan buku ini cukup layak lah untuk dibaca.

@ Andrei : Saya tunggu perjalanan selanjutnya. Negeri bunga Sakura? atau keliling Indonesia? masih penasaran dengan akhir kisahnya ^^

Nb: Buat penghuni radal, thx atas pinjeman bukunya. Jangan pernah lelah dan bosan meminjami buku kepadaku =D

Jumat, 02 Oktober 2009

Life and Love


Akhir pekan kali ini benar-benar jadi hari bermalasan sedunia. Setelah menyelesaikan rutinitas akhir pekan yaitu bersih-bersih rumah, aku mencoba jalan-jalan ke satu-satunya mall di kota ini. Untuk membuang suntuk rencananya. Tapi jangan bayangkan mall di sini seperti di kota besar apalagi Jakarta. Ini bukanlah kota kecil. Tetapi sebuah desa besar, yang baru mulai menjadi kota. Awal September lalu dibukalah bioskop 21 pertama di kota Palangkaraya. Yihaa.. akhirnya.. welcome to peradaban. He3x.

Bosan dengan suasana mall yang biasa saja. Mungkin karena terbiasa dgn mall-mall di Jakarta yang banyak, beragam dan ruarr..biasa banyak dan besarnya, saya merasa ini tak ubahnya sebuah minimarket besar. Maaf saja, bukan bermaksud menghina. Tetapi ini realitanya. Inilah bukti betapa tidak berimbang dan meratanya pembangunan kita. Jiah..tiba-tiba kumat lagi dech seriusnya. Maklum, sebagai orang yg pernah kuliah di jurusan ekonomi studi pembangunan, kerjaan kami adalah menganalisa dan mengkritisi (baca: mencela) kebijakan-kebijakan pemerintah. Mau di tataran makro? mikro? atau sekedar teoritis saja? Hajar sajalah. Jadi teringat, saat kuliah dulu, Entah berapa banyak jam kuliah kulewatkan. Entah berapa banyak absenku dititipkan ke teman. Demi satu tujuan : agar tetap diijinkan ikut ujian. Buat ukuran saya yang datang ke kampus hanya kalau sedang ujian saja, sampai-sampai ada teman yang menyangka saya sudah DO karena jarang nongol di jam kuliah , saya masih bisa dapat IPK di atas tiga. Not too bad lah. Buat semua teman yang pernah membantu dan bersedia “dititipkan” absen serta meminjamkan catatan, I just wanna say :”Tq so much ya. Luv u all”. Karena kalianlah saya boleh ikut ujian dan akhirnya lulus dari kampus hijau tercinta. He3x =D

Back to masa kini. Sepulang dari mall, saya kembali ke tempat persembunyian. Apa lagi kalau bukan rumah kontrakanku yang mini. Kembali bermalasan. Makan, ngenet, tidur, baca buku-buku ringan, makan lagi trs apa lagi ya? Oh iya, tadi sudah janji mau menelpon seorang sahabat yang lagi dilanda problema cinta. Sesi share n curhat ceritanya. Sahabat saya itu, katakanlah namanya D, sedang dilanda jatuh cinta dengan seseorang di kantornya. Ini adalah sebuah hal yang cukup mengejutkan buat saya. Saya mengenal dia sejak kami masuk kuliah. Walaupun awalnya kami sering sekali bersitegang dan berbeda pendapat, bahkan kalau boleh dikatakan bermusuhan, seperti anjing dan kucing. Entah kenapa, nasib dan waktu malah membuat kami jadi sahabat dekat. Bahkan saat ini dia adalah sahabat terdekat yang kumiliki. Terkadang suka tertawa sendiri kalau ingat bagaimana kami dulu berdebat dan bertengkar. Sampai-sampai keluar kata-kata yang –maaf- agak berlebihan. Ha ha ha =D Memang ya, kita tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi orang yang saat ini kau benci, akan kau cintai nanti. Dan sebaliknya bisa jadi, orang yang kau cintai setengah mati saat ini akan kau benci mati juga nanti. We never know what will happen at the future. That’ s right? So sederhana aja. Jangan berlebihan. Jadi ingat nasihat seorang kawan “Jalani segala sesuatunya dengan sederhana. Termasuk dalam hal mencintai”. So wise.

Kembali ke problema sahabat saya tadi. Setelah cerita panjang lebar, kami sampai pada satu kesimpulan. Kalau ternyata kami sedang terjangkit “penyakit yang sama”. Sesuatu yang cukup luar biasa. Karena kami sama-sama tahu seperti apa pribadi kami berdua. Banyak sekali kesamaan di antara kami, apa karena kami terlahir di bawah naungan rasi bintang yang sama? What everlah. Membaca jalan pikirannya, hampir sama dengan jalan pikiranku sendiri (walaupun tdk sama persis). Bahkan, kalau kami sama2 iseng test2 di FB, hasilnya 70% selalu sama. Kami adalah teman sehati, baik dalam berbuat kebaikan maupun kejahatan (dan maksiat juga pastinya ^^ ). Makanya, saat D bercerita kalau dia sedang jatuh cinta, agak kaget juga mendengarnya. Sepanjang saya kenal dia, memang D pernah beberapa “suka” dengan pria. Tetapi tidak pernah seserius ini. sahabatku itu sampai berpikir untuk menikah. Dia yang kukenal PD, smart, ceria, ramai, easy going dan punya banyak impian –sama seperti saya- bisa berubah banyak. Amazing sekali rasanya. Apakah cinta yang telah membuatnya berubah? Sehebat itukah?


Tiba-tiba kilatan episode dan memori muncul lagi. Rasa itu tumbuh lagi. Aku tercenung. Apakah itu sama dgn yang saat ini juga kurasa? Apakah itu juga cinta? Apakah itu nyata? Ataukah itu hanya sebuah cinta sesaat bahkan sebuah pelarian belaka? Pertanyaan-pertanyaan muncul silih berganti. Hatiku berkecamuk. Emosiku jungkir balik. I just meet him. I still don’t know his good side nor his bad side. I just know him. But, strangely, I thought that is enough. Even I’m not sure whether this is real or not. I try not to think too far. Just enjoy. Oh No, damn shit.

Otakku memaki saat menyadari bahwa saya juga “terjangkit” virus yang sama. Walaupun mungkin dengan kadar yang berbeda. Untuk yang terakhir ini, just heaven knows.


Kalau bicara soal cinta, ga ada matinya. Semua orang pasti pernah jatuh cinta, baik disadari ataupun tidak. Seorang teman pernah bilang kalau ”perasaan suka, cinta, sayang, benci adalah fitrah manusia. Jadi nikmati aja”. Bener juga sih. Nikmati saja, selama belum dilarang dan masih bebas pajak. Karena kalau sudah dilarang namanya jadi cinta terlarang dunk *tiba-tiba sayup-sayup terdengar lagu cinta terlarang dari The Virgin*.

Kembali ke alam nyata, kesadaranku tersentak ketika mendengar nyayian di dalam perut. OMG, masa jam segini udah lapar lagi. Cacing-cacing piaraanku memang luar biasa. Apalagi kalau sedang banyak pikiran begini (personal n kerjaan sih) pasti mereka cepat sekali bernyanyi. Akhirnya kulangkahkan kakiku ke arah dapur dan memasak mie rebus. Maklumlah, sebagai orang yang hidup sendiri di kota kecil begini, mie instan adalah makanan paling praktis, cepat dan mudah di dapat. Apalagi untuk kondisi gawat darurat begini.

Menikmati semangkuk mie rebus pedas dan hangat cukup membuat cacingku berhenti bernyayi. Kubuka laptopku, mulai browsing sana sini. Buka sana buka sini. Pikiranku melayang lagi. Ribuan pertanyaan datang dan pergi. Tumpukan rasa penasaran, ego dan perasaan menjadi tumpang tindih. Otakku bilang” mundur perlahan daripada tersakiti. Hatiku bilang “sabar sebentar bu, dia pasti kan datang lagi”. Egoku bilang ”maju terus pantang mundur. Kalaupun tetap gagal, anggap saja dia yang rugi. heuh”. Entahlah, kutak tahu mana yang akan kuikuti. Aku lelah dengan semua ketidakjelasan. Aku letih kalau harus terus menanti. Otakku teriak, egoku berontak. Aku adalah orang yang benci kekalahan. Tetapi aku juga sadar akan satu hal ‘kalau mencintai itu tak harus memiliki. Kalau berani jatuh cinta harus berani patah hati. Lagipula patah hati ga akan membuat orang mati.” Yang kubenci adalah sebuah penantian tak pasti. Ibarat bermain roller coaster yang terombang ambing tak pasti. Kadang naik kadang turun. At one time you grow all the flower in my heart. But not long time after that. You makes it all die. Just one word. I just need one word. Yes, or not. If yes, we could let it grow and flow. But if not, I could move on fast. Gampang kan? Pls tell me the truth. Betcha Neva.

Hah. CINTA. Rangkaian lima huruf yang ajaib. Sebuah kata yang bisa membuat orang bahagia, tertawa. Dan pada saat yang sama bisa membuat orang menderita, sakit, merana hingga berani berkorban apa saja. Cinta menjadi alasan orang untuk berjuang memetik bintang di angkasa. Cintalah yang membuat romeo dan Juliet nekad bertaruh nyawa. Begitu pula yang terjadi dengan Majnun dan Laila. Cinta pulalah yang memicu perang besar di Troya. Cinta juga yang membuat Cleopatra jadi ternama. Hah..cinta. aku menarik nafas panjang. Tercenung, termenung. aku baru menyadari kalau akhir-akhir ini banyak sekali orang-orang yang di sekitarku yang terjangkit “virus” satu ini. Saat liburan di Jakarta kemarin, aku berkumpul dengan beberapa teman di “penhouse” radal yang ternama. Dan auranya adalah pinky pinky. Lagi-lagi cinta. Cinta. Lagi-lagi. Oh My God.

Sore tadi, selepas sholat magrib kulanjutkan sesi konsultasi tadi siang, still with same topic. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman pribadi beberapa kawan, cinta itu banyak macamnya. Jangan katakan Cinta pada Tuhan, cinta orang tua, cinta kemanusiaan, cinta tanah air dan segala macam cinta “baku” lainnya. Semua orang juga tahu. kalau kita harus punya cinta-cinta semacam itu. What I mean is, cinta –perasaan- di antara sesama manusia, tepatnya di antara dua orang manusia, yang umumnya berbeda jenis kelamin.

Let’s we share. Sebenernya apa sih cinta itu? ada yang bilang “cinta itu adalah sebuah pengorbanan”. Ada yang bilang “ love is time to take and give”. Ada yang bilang cinta itu emosi sesaat yang tak rasional, buta. Ada yang bilang cinta itu adalah bahasa halus dari nafsu. Love is chemistry between two people. Cinta adalah sejauh mana kita bisa menerima orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Etc..etc terlalu banyak filosof, teori, karya sastra dan tulisan yang bertemakan cinta. Saya sendiripun juga masih bingung kalau ditanya “apa sih cinta itu? I can’t answer that question. Not because I don’t know it. But because I don’t know how to explain it. Tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sesuatu yang datang tiba-tiba. I know I love you before I meet you. Terkadang lembut bagi seseorang dan berkobar menyala bagi orang lain. Cinta bisa berwujud sesuatu yang lembut, dan tanpa pamrih. Juga bisa menjadi api yang menyala di seluruh jiwa raga. Sesuatu yang bisa membuat segala sesuatunya terasa indah. Sesuatu yang bisa menaklukan ego dan kesombongan. Sesuatu yang bisa merubah jalan hidup, pikiran dan mimpi seseorang. Cinta bisa membuat seorang playboy Casanova menjadi seorang ayah yang pencinta anak-anaknya. Cinta bisa membuat seorang wanita yang selama ini bebas, lepas, mandiri dan tak pernah terpikir akan keluarga merubah mimpinya. Cinta bisa membuat wanita paling feminis yang pernah kukenal tiba-tiba merancang acara pernikahannya. Yah..cinta itu beragam dan bermacam. Dimaknai dan ditanggapi dengan berbeda oleh setiap orang. It’s unspeakable. Cinta tak perlu logika. Cukup dinikmati saja. Karena ini menyangkut hati, sesederhana itu, sekaligus juga sekompleks itu.

Ada seorang sahabat yang pernah menulis begini ‘kan kugantungkan cinta ini di atas sana, agar kau tahu kalau rasa ini ada karena-Nya”. it’s so sweet. So deep. I really like that statement. Memang Dialah yang Maha membolak balik hati manusia. Dialah Sang Penguasa hati manusia. Dialah yang telah membuatku memiliki rasa ini. Dia juga yang telah membuat temanku jatuh cinta. Dia Sang Maha Segala. Pertanyaanya adalah untuk apa? Yah, kalau perasaan itu timbul di dua sisi. Kalau tidak? Bertepuk sebelah tangan dunk. Bukankah itu akan menimbulkan kecewa dan sakit hati? Kadang kubertanya, kenapa cupid tak selalu mengarahkan panah asmaranya ke dua sisi pada saat yang sama? Only Heaven knows. Maybe that’s to make us learn. To make us be better. To make us stronger. Karena hidup seseorang tak kan sempurna sebelum ia mengenal cinta. Kalau Mahatma Gandhi Bilang “There is Life, There is Love”. What ever lah. Yang penting nikmati saja selagi bisa. Life is too beautiful. Never take it too seriously. Take it easy, enjoy.

***
More Than Words – The Extreme

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Now I've tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words


Dedicated to My special Best Friend “D” and for all the people whose fall in love
Enjoy it honey. I always believe that “God will give the best to us”. Everything happen must have any meaning. Okeh darling ;-)

Palangkaraya, 1 Oktober 2009