Minggu, 31 Januari 2010

Aku Jatuh Cinta (Lagi)


Sudah berbulan kutinggal di kota Palangkaraya ini. Di antara jenuh, penat dan kesepian. Di antara sunyi, bosan dan kerinduan yang tertahan. Baru saat ini aku bisa mulai menikmati indahnya alam Kalimantan. Sebelumnya yang kulihat hanya kebosanan tak berakhir. Kesepian tak berujung. Dan kebakaran hutan. Sempat aku patah hati ketika awal menjejakkan kaki di tanah bertuah ini. Katanya hutan, katanya rimba. Yang ada hanyalah hamparan lahan gersang sisa-sisa kebakaran. Yang nampak hanyalah tanah-tanah tandus sisa penggalian dan tambang. Dan asap yang menyesakkan pernafasan. Aku bertanya-tanya kemanakah hutanku? Kemanakah paru-paru bumiku?

Beberapa hari lalu, aku mendapat tawaran tour dari sebuah travel agent. Didorong rasa penasaran tanpa pikir panjang kuiyakan saja tawaran itu. Jum’at sore aku berangkat di tempat perjanjian. Jam setengah empat sore aku tiba di sebuah dermaga kecil di daerah Tangkiling (sekitar 1 jam dari kota Palangkaraya). Nampak sebuah perahu kayu ukuran sedang sedang bersandar. Kali pertama kuinjakkan kaki di atas perahu, I feel very exciting. Bersemangat, karena memang sdh lama aku ingin ikut tour ini. Menjelajahi sungai dan riam di pedalaman hutan Kalimantan. Menelusuri budaya asli masyarakat dayak dan mencumbui hutan dan alam yang masih perawan. Yah, walaupun ini hanya tour singkat sekitar 3 jam. Karena untuk mengikuti tour lengkap selama 3 hari, saya blm sempat. Karena diadakannya di hari kerja. Mana sempat? Bisa saja sih saya nekat “melarikan diri”. akan tetapi kalau ketahun si bos bisa gawat. Jadi tour singkat sebagai penawar sementara rasa penasaran ok lah.

Beberapa menit kemudian, peserta tour yang lain mulai berdatangan. Dan Oh No, sesuai dugaan, saya jadi satu-satunya orang local yang ikut tour ini. sementara peserta tour yang lain berasal dari berbagai negara. Disatukan oleh satu hal, ketertarikan akan alam dan eksotisme hutan Kalimantan. Jauh-jauh mereka datang kesini hanya untuk melihat hutan Kalimantan dan orang utan. Guidenya –pemilik perusahaan tour ini adalah seorang expat. dari pembicaraan kami selama perjalanan, ternyata beliau sudah beberapa thn tinggal di Kalimantan. Dan saya rasa dia jauh lebih menguasai alam dan hutan Kalimantan di bandingkan orang local. Yang menohok saya adalah kenyataan bahwa mereka-para bule dan expat- umumnya jauh lebih menghargai alam dan budaya negeri ini dibandingkan kebanyakan orang negeri ini sendiri. Ketika orang Indonesia bermimpi untuk pergi jalan-jalan ke luar negeri. Mereka malah jauh-jauh dari negeri mereka datang ke sini. Yah, seperti kata pepatah “rumput tetangga memang lebih hijau dari rumput sendiri”. Jadilah aku orang lokal satu-satunya di antara para bule, di kapal milik bule dan di guide-in juga sama bule. Diceritain tentang hutan Kalimantan dan kampung serta budaya dayak dari orang bule. Terdengar ironis rasanya. Tetapi itulah faktanya. Rasa malu, miris, ironis bercampur jadi satu. Apalagi ketika salah seorang dari mereka bilang begini padaku “ Cherry, your country is really beautifull. You must feel glad of it and must take care of it. If your neighbours Malaysia seem more known for tourism, that’s because you (baca: Indonesia) not do good marketing. For everything marketing is the most important. Your country more better and more beautifull than yourneighbour. So do good marketing. That could be your important asset. And don’t forget government support & management aspect”. Sungguh wejangan yang sangat menohok buatku.

Banyak pertanyaan menggelitik. Kemana peran pemerintah dalam hal ini? Apalagi ketika mendengar cerita tentang hutan yang terabaikan dan banyak beralih fungsi. Taman nasional yang tak terawat dengan baik bahkan tanpa akses jalan kesana. Etc etc. tanpa bermaksud menyalahkan pemerintah atau siapapun. Tanpa bermaksud memuja para expat yang kita juga tak tahu murni atau tdknya motif mereka. Tetapi faktanya adalah kurangnya kepedulian dari banyak pihak tentang alam mereka sendiri. Suatu keironisan ketika saya melihat bahwa orang luar jauh lebih menghargai alam dan budaya kita dibanding kita sendiri. Hal ini membuatku merenung. Tercenung.

Selesai pesiar singkat, bukannya langsung pulang ke Palangka sesuai rencana saya malah “nyangkut” di sebuah penginapan yg dinamakan eco village. Tempatnya sangat tenang dan damai. Yang baru saya sadari keeskan paginya kalau di belakang kamar saya sdh langsung hutan dengan pepohonan yang besar-besar. Tapi baguslah, kalau saya sadar malamnya mungkin saya tdk bisa tidur karena ketakutan tidur di tengah hutan :P

Paginya, bersama seorang pengurus yayasan yang memiliki tempat ini yang berbaik hati mau mengantar, aku berjalan jalan menyusuri hutan dan perkanmpungan dayak di dekatnya. Kuhirup aroma hijau dedaunan. Kuserap udara segar pagi hari dan kususuri pepohonan rindang. Ini memang bukan hutan sungguhan. Apalagi rimba belatara dan hutan perawan seperti yang kuimpikan. Tetapi dari perjalanan ini membukakan mataku akan satu hal. Indonesia is really beautifull. Tiba-tiba aku jatuh cinta (lagi) pada negeri ini. Tekadku semakin kuat untuk menyusuri tanah air ini. tiba-tiba terbersit sebuah mimpi, better tourism management, better government, better marketing. Better more and more. Apakah ini hanya akan jadi seperti sebuah mimpi di siang hari? I hope not.

Palangkaraya, 30 Januari 2010

Jumat, 29 Januari 2010

Gantung


Suatu waktu, tanya mewujudkan dirinya. Ku tanya “Apakah aku buatmu? Adakah aku di hatimu? Salahkah kubaca tanda dan isyarat matamu?”


Diam, hening. Tak muncul satu katapun dari mulutmu.

“Kenapa kau diam saja? Aku hanya butuh satu di antara dua kata, Ya atau tidak. Itu saja” lanjutku.

Kau lantas berkata “Aku tak mau menyakiti banyak orang, makanya aku tak berani membuat janji. Tak berani berkomitmen. Jalani saja apa yang ada saat ini”

Ku termenung. Tercenung. Kilatan gambaran dan cerita itu muncul lagi. Dari yang ku lihat, ku dengar dan ku baca. Ku tahu sesuatu. Pada saat yang sama, kau beri asa pada beberapa wanita. Kau tabur harapan di banyak cinta. Di beberapa tempat kau tinggalkan jejak hubungan tanpa status dan kata. Itukah sebabnya? Karena kau takut memberi janji? Begitu takutkah kau pada sebuah komitmen? Aku tak begitu yakin. Bisa saja itu hanya sebuah permainan kata. Ciri khas playboy cassanova.

Dan kalaupun benar begitu, kuhanya bisa bilang satu kata. NAIF. Sebegitu naifkah kau, sampai tak bisa melihat tanda? Ataukah kau begitu egois dengan hatimu? Kau takut untuk menyakiti. Takut untuk disakiti. Tetapi tahukah kau? Kalau pada saat yang sama kau tabur asa di banyak cinta. Kau tebar benih di banyak hati. Tanpa kau berani untuk memilih. Untuk berkata ya atau tidak. Untuk memberi kepastian dan jawaban atas sebuah tanya. Gantung. Tanpa kau sadari kau telah menyakiti banyak hati. Tanpa kau ingini, telah kau toreh luka di beberapa cinta.

Sshhh..kutarik nafas panjang. Sudahlah. Tak perlu dibahas lagi. tak perlu debat dan opini. Yang ada hanya tanya pada diri sendiri. Kenapa bisa? Kenapa harus dia dan bukan yang lainnya? Tanpa syarat, tanpa isyarat. Kujatuh pada cinta. Kuterseret pada rasa. Tertinggal tanya. Lagi-lagi kenapa? Pada akhirnya cinta tak butuh alasan. Tak butuh penjelasan. Pun dan tak butuh balasan. Karena cinta hanyalah cinta. Sekompleks itu sekaligus juga sesederhana itu. Itu saja.

Catatan: tulisan ini hanyalah fiksi. Kalaupun ada kemiripan dengan kisah nyata, hal itu memang disengaja ^^

Palangkaraya, 28 Januari 2010

Selasa, 26 Januari 2010

Suatu Hari di Negeri Angkasa


Suatu hari, di negeri angkasa, bulan dan bintang sedang bercengkrama.

“Hi bulan” sapa bintang. “kenapa kau tak pernah terlihat bersama mentari? Apakah kalian bermusuhan?”

“Tidak juga. Tetapi mungkin mentari yang tak suka padaku. Ia tak sudi kalau aku mengambil sedikit cahayanya untuk kupantulkan kembali ke bumi di malam hari”. Jawab bulan

“Kau baik sekali ya, kau sudah temani bumi sepanjang hari. Kau berikan ia cahaya pula di malam hari. Sebegitu besarnyakah kau mencintai bumi?” cecar bintang

“Entahlah. Tetapi yang pasti, aku hidup karena ada bumi. Aku ada disini, karena bumi ada. Bumilah gravitasiku. Bumilah penahan keberadaanku. Kalau bumi tiada aku kan jatuh entah kemana. Terbang, hilang ke semesta raya”. Jelas bulan

“Indah sekali hubungan kalian berdua. Terkadang aku iri rasanya”

“Kenapa kau harus iri pada kami bintang. Justru aku yang iri padamu dan mentari . Kalian memiliki cahaya sendiri. Kau tak butuh yang lain untuk keberadaanmu. Bisa hidup sendiri, mandiri. Tak seperti aku yang butuh bumi 'tuk bertahan. Dan butuh mentari tuk peroleh terang” ujar bulan.

“Ah, tidak juga. Terkadang aku merasa kesepian. Sendirian. Bulan dan bintang memang sering bertemu di kala malam tiba. Juga bersama dengan jutaan bintang lainnya dari kaumku. Tapi kita tak saling membutuhkan. Bersama tapi bukan siapa-siapa. Tak ada hubungan apa-apa. Hampa”

“Tapi kau cantik dengan cahayamu sendiri bintang, aku suka memandang kerlipanmu. Aku suka kehangatanmu. Dan aku yakin bumi juga suka kau yang begitu. Terkadang ia bilang padaku kalau di kala malam menjelang bumi rindukan datangnya bintang. Indah mempesona di langit malam”

“Bintang, kamu tahu tidak? Jujur saja, aku cemburu padamu” lanjut bulan

“Kenapa begitu”

“Sepanjang hari ku dampingi bumi. Di malam hari ku berikan sinar yang kucuri dari mentari, tetapi bumi tetap saja merindukan hadirmu. Bumi tetap saja sunyi tanpa cahayamu.”

Shing…sunyi…

“Bulan…apakah apakah kau mencintai bumi?” tanya bintang ragu-ragu

“Kenapa kau tanya begitu?”

“Hanya ingin tahu” lanjut bintang

“Hmm…bagaimana ya, aku sendiri tak tahu. Apakah ini cinta? Kami saling membutuhkan. Sudah jadi kebiasaan. Bagaimana kalau menurutmu?

“Aku juga tak tahu, jawabnya hanya ada di dalam hatimu. Tetapi….”

….sunyi sekejap

“Tetapi?”... tanya bulan

“Kalau cinta bisa tumbuh dari kebersamaan dan kebiasaan, mungkin aku bisa jatuh cinta padamu”

“Padaku? Kenapa?”

“Karena kebersamaan. Entah sudah berapa lama kita berjalan bersama. Arungi semesta raya. Entah sudah berapa juta malam kita habiskan bersama. Lama-lama aku jadi terbiasa. ”

“Terkadang aku berpikir, aku tak’kan bisa tanpa hadirmu. Terkadang aku merasa aku tak kan lengkap tanpa dirimu”

Senyap….tiada suara

“Apakah kau serius bintang? Apakah betul kau cinta padaku? Kupikir kau cinta pada mentari. Bukankah ialah sumber inspirasimu? Bukankah ia objek kekaguanmu? “

“Kenapa kau pikir begitu? “ tanya bintang

“Ia besar, berkuasa dan bercahaya. Semua semesta butuh ia. Ia dipuja dimana-mana. Termasuk bumi yang memujanya”

“Mungkin bumi memujanya. Karena ia besar, terang dan bercahaya. Sumber hidup banyak semesta. Tetapi tidak buatku” jelas bintang

“Kenapa begitu?”

“Kutak butuh cahaya dari mentari, karena aku sudah punya cahaya sendiri. Lagipula ia terlalu panas. Terlalu kuat. Terlalu membakar. Tak’kan sanggup aku dekat dengannya. Lagipula kami dari unsur yang sama. Api. Apa jadinya kalau kami bersama? Semesta pasti 'kan musnah. Atau aku saja yang akan musnah karena terpaksa mengalah”

“Hmm…jadi begitu… tapi bumi sangat mencintainya. Begitu memujanya” *bulan sedih*

“Yah, sudah kubilang itu bumi. Bukan aku. Karena buatku hanya ada kamu” ujar bintang

Hhmm…

“Sudahlah bintang tak perlu kau bercanda terus. Aku sedang sedih nih.” Gumam bulan

“Sudahlah kalau begitu maumu…aku 'kan pergi. tak mengganggumu lagi. Kau tunggu saja bumi menoleh padamu. Kau tunggu saja ia berhenti memuja mentari.” Bintang pergi menjauh

………………
“Kenapa terus kau pertanyakan. Kenapa terus kau ragukan. Tapi ku tahu cinta tak butuh alasan. Tak butuh penjelasan. Pun tak butuh balasan. Karena cinta hanya 'kan jadi cinta saja. Sesederhana itu, sekaligus juga sekompleks itu. Seperti itupun cintaku padamu” - ucap bintang di dalam hati. Hanya di dalam hati.

Untuk semesta, kau mungkin hanya seseorang. Tetapi tahukah kau kalau bagi seseorang, kau adalah semestanya

Biar Saja


Tanpa sadar, setiap kubangun di pagi hari, namamu langsung muncul di memori. Tanpa mau, hanya karena kudengar namamu hatiku menari. Tanpa ragu, telah terukir sosokmu di ruang hati. Tanpa kata, tanpa bicara.

Diam. Bisu. Gagu.

Kukunci semua rasa ini jauh di dalam hati. Takkan kubiarkan muncul lagi. Ku tak mau disakiti. Pun tak mau menyakiti. Bimbang. Gamang. Terjebak antara dua masa. Lalu dan kini. Biar hilang terbawa angin. Biar pupus tergerus masa. Kubunuh rasa. Kuabaikan tanya. Biar mati tak bertanda. Biarkan saja. Biarkan mengalir apa adanya. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Kan kuserahkan semua hanya kepada-NYA. Tuhan Sang Maha Segala.

Palangkaraya, 25 Januari 2010

Sabtu, 23 Januari 2010

Negeri Orang-Orang Gila


Malaikat bungkam. diam.
Tak berani bersuara
Tiada kata

Angin bertanya "kenapa"...
Ternyata... mulut mereka sudah ditutup sblmnya
"Awas jangan lapor2 KPK" kata mereka

Malaikat bingung. malaikat bimbang.
Ketika penegak keadilan telah menjual keadilan.
Ketika punggawa hukum telah menginjak2 hukum.
Ketika pelayan masyarakat malah memakan uang rakyat.
Ketika para pemimpin hanya memperkaya diri sendiri.

Keadilan semu. hukum palsu
Aparat keparat. pemimpin tanpa nurani.

Itu sama saja dengan kiamat. mati
Bagi negeri ini.

Pasien gila, dokter gila
Pemimpin gila, rakyat gila
Hukum gila, aparatnya juga gila
Benar-benar negeri orang-orang gila

Palangkaraya, 25 Januari 2010

Kamis, 21 Januari 2010

Mimpi


Malam tadi aku bermimpi.Tentang bulan, bintang dan matahari. Saling mengisi, dan berbagi. Sebuah skenario indah semesta. Malam itu, aku bermimpi. Tentang pangeran, putri dan istananya. Hidup bahagia bersama dengan cinta selamanya. Sebuah dongeng fantasi. Malam tadi, aku bermimpi. Tentang bunga, lebah dan para peri. Saling menggoda, Membutuhkan dan bernyanyi bersama. Melodi indah alam raya. Pagi ini, aku bangun sadarkan diri. Ternyata itu semua hanyalah mimpi. Ilusi. Imaginasi. Bukan realiti. Aku tercenung di tepian sadar. Aku tersadar di batas mimpi. Huh, aku ternyata masih berada di nyata ini. Bukan mimpi, dongeng dan dunia khayali. Tapi aku bisa menjadikan nyata mimpi-mimpi tadi.

Palangkaraya, 20 Januari 2010

Sabtu, 16 Januari 2010

Hantu itu


Hantu itu
Datang dan pergi
Menari
Sesuka hati

Hantu itu
Kembali lagi
Membayangi diri
Menghantui hati

Sudahlah kau pergi
Jangan kembali lagi
Tak’kan kutoleh lagi
dirimu
Masa laluku

Palangkaraya, 15 Januari 2010

Rabu, 13 Januari 2010

A Bird With A Broken Wings


There is a lost bird who tired to fly. One day, that bird found a place that she think as a home. But that’s just fake place. That bird got hurt, broken wings, stolen dreams. That bird cried alone. Lost the way to fly.
But after the time, the bird realized that’s the way universe told her. Everything happen is the best to her. God will give the best. At a best place, best way and the best time.

Now, the bird could sing a song. Because she believes that's sunshine and rainbow after rain. Life could be beautifull again.

a lost bird note.
palangkaraya, 12012010

Selasa, 12 Januari 2010

Dream of Utopia


When I was sad
When I was cry
When I was bored
When I was lonely

I was dreamed of you

Lonely comes
Tears dropped
And sickness near by
That dreames comes and comes

I was dreamed of a place where sad, cry, tears, boreness, loneliness, hurt is never exist
A placed called “utopia”

Palangkaraya, 11 Januari 2010

Senin, 04 Januari 2010

Sederhana


Ku tak pernah tahu kenapa dulu kuterpaku pada sosokmu. Kau tak tampan, tapi sederhana. Kau tak kaya, tapi sederhana. Kau tak terlalu cerdas, hanya sederhana. Apalagi kau bukan pujangga, hanya kata sederhana. Tapi idealismemu tak sederhana. Sekokoh karang di lautan. Mimpimu tak sederhana. Setinggi bintang di angkasa. Keras, tak dapat kuhancurkan. Tinggi, tak dapat kujangkau.

Kuingin jadi pendukung utamamu dalam mraih mimpi. Walaupun mungkin ku tak pernah jadi bagian dari mimpimu. Kuingin jadi kekuatanmu. Walaupun mungkin kau tak butuh aku. Karena bahagiamu adalah juga bahagiaku. Walaupun itu berarti bukan bersamaku. Oleh karenanya kulepaskan kamu demi mimpi-mimpimu. Dan itu juga berarti melepaskan diriku sendiri dari semua bayang dan harap akanmu.

Doaku semoga sukses dan bahagia selalu bersamamu di seberang samudra sana dan dmana saja. Dan aku, disini. Kan kujalani hidupku sendiri. Meraih mimpiku sendiri. Menggapai cita dan cintaku sendiri. Jalan hidupku sendiri. Soal apa yang akan terjadi nanti, biar waktu yang berbicara. Karena seperti katamu, kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.

catatan untuk seorang sahabat. 


3 Januari 2010