Rabu, 24 Februari 2010

Animal Farm By : George Orwell


“Kawan-kawan” teriak mayor tua, “Sudah jelas bahwa sumber kesengsaraan hidup kita tak lain adalah tirani manusia. Maka hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita bisa menikmati hasil keringat kita. Hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita menjadi merdeka”.

Selama ini dipeternakan milik seorang manusia yang bernama Jones, binatang hidup dalam perbudakan oleh manusia. Para binatang bekerja keras hanya untuk memperoleh imbalan sekedar cukup untuk makan dan bertahan hidup. Suatu hari, berawal dari orasi berapi-api mayor tua, para binatang mulaii bangkit kesadarannya. Akan hak-hak mereka yang terpasung. Akan kemerdekaan mereka yang terlupakan. Dan tentang hak-hak asasi binatang “binatangisme”.

Gerakan perlawan dimulai. Penyebarluasan faham binatangisme digencarkan. Pemberontakan dirancang. Hingga suatu hari Jones- manusia pemilik pertanian itu - bisa diusir oleh para binatang.

Maka dimulailah era pertanian binatang. Dimana bintang bekerja untuk kesejahteraan mereka sendiri. Tidak seperti sebelumnya, mereka diperas demi keuntungan manusia. Di pertanian binatang, para binatang bekerja untuk mereka sendiri. Kebanggaan akan kemandirian dan kemerdekaan kaum binatang membuat mereka rela bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Sebuah cerita yang sungguh cerdas. Penggunaan binatang sebagai tokoh cerita, penyamaran akan kritik yang sempurna. Narasi hebat dan menohok. Provokatif.

Sebuah fabel yang menceritakan tentang bagaimana seringkali pergantian era ditandai dengan sebuah “chaos” dan pertumapahan darah. Entah itu reformasi atau revolusi. Pemberotakan yang dipimpin para babi telah berhasil mengusir manusia yang lalim dan telah menjajah para binatang. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, di antara para revolusioner, muali terjadi sengketa antara sesama pihak yang mengaku reformis untuk perebutan pengaruh dan kekuasaan. Intrik politik dan saling sikut di antara sesama pun dimulai.

Seperti yang seringkali terjadi, seiring berjalannya waktu para reformis dan anti tirani akan seringkali tumbuh menjadi tirani itu sendiri. Melupakan cita-cita awal perjuangan. Mereka yang dulu menggembar-gemborkan keadilan dan kesetaraan, pada akhirnya menjadi pelanggar keadilan dan kesetaraan. Mereka yang dulu anti penindasan terhadap sesama, karena materi dan kekuasaan berubah jadi lalim kejam yang tak segan menindas dan menyingkirkan pihak yang dianggap bersebrangan. Pengkambing hitaman pihak lain. Dan itu semua dilakukan dengan dalih untuk kepentingan bersama.

Apakah cerita ini mengingatkan kita pada negeri kita sendiri?

Kartini : Habis Gelap Terbitlah Terang By : Armijn Pane


Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam” (Kartini - Habis Gelap Terbitlah Terang)

“Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu.”

Itu adalah sebuah kutipan dari sebuah lagu lama. Sebelumnya saya ingin jelaskan kalau saya tidak sudi menggunakan istilah wanita karena artinya yang merendahkan. Wanita berasal dari kata: wani = orang; toto = hias; yang artinya orang yang dihias, hiasan. Sedangkan perempuan memiliki makna yang jauh lebih menghormatkan. Perempuan dari kata empu = pemilik. Jadi wanita adalah pemilik, yang dihormati. Jadi untuk selanjutnya hanya akan ada kata perempuan.

Perempuan, sejak jaman dahulu kala sudah teraniaya. Entah itu di era Mesopotamia, Yunani maupun Timur Tengah. Baik itu Gadis pantai, Kartini hingga Siti Nurbaya. Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah dan dilemahkan. Tak berdaya dan dibuat tak berdaya oleh system, adat dan kebudayaan. Apalagi, di era feodalisme Jawa, peran perempuan didomestikan. Peran perempuan hanyalah berkisar pada tiga hal : kasur, dapur dan sumur. Perempuan tak boleh berpendidikan. Tak berhak meraih kebebasan. Tujuan hidup perempuan jawa di masa feodal hanya satu: Kawin dan selanjutnya menjadi mesin reproduksi untuk meneruskan garis keturunan dan hegemoni laki-laki. Bahkan yang lebih parah, terkadang perempuan hanya dijadikan objek dan pemuas nafsu dan ego laki-laki. Perempuan dianggap patung yang tak punya perasaan. Dia harus merelakan suaminya memadu dirinya, hingga 2,3,4 bahkan lebih. Dia harus menahan sedihnya ketika harus hidup seatap dengan para madunya. Perempuan yang datang belakangan pun tak kalah menderitanya. Dia harus mau untuk menjadi istri kesekian dari seorang laki-laki yang entah sudah punya berapa istri.

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Tanpa tahu secara detail kenapa? Dan mengapa Kartini? Yang diajarkan saat pelajaran sejarah sejak esde hanya kalau tentang lahir, hidup dan matinya saja, secara garis besar. “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang merupakan kumpulan surat-surat kartini kepada para sahabatnya memang sering sekali disebutkan. Tetapi, sampai sebelum hari ini, saya tidak pernah tahu apa isinya. Lagi-lagi kelemahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Hanya mengajarkan kulitnya saja.

Akan tetapi terlepas dari itu, sosok Kartini adalah sosok yang dijadikan lambang perjuangan perempuan. Yang oleh masa sekarang digembar-gemborkan sebagai gerakan emansipasi perempuan. Satu pertanyaan menggelitik “kenapa Kartini?” Padahal pada masa yang tidak terlalu jauh, juga sudah ada beberapa perempuan yang tercerahkan dan mau memperjuangkan nasib kaumnya. Sudah ada juga perempuan yang memulai pendobrakan. Tokoh Dewi Sartika misalnya. Bahkah, sosok yang satu ini tidak hanya menuangkan cita-cita dan mimpinya ke dalam kata-kata. Akan tetapi beliau sudah pada tataran riil. Beliau mendirikan sekolah sendiri untuk kaumnya. Lantas kenapa Kartini yang dijadikan icon perjuangan kaum perempuan? Tanpa bermaksud membanding-bandingkan atau menafikkan peran yang satu terhadap yang lain. Karena kedua tokoh ini berbeda tetapi tak sama. Sama, tetapi berbeda. Dan keduanya tidak dapat dibandingkan, karena keduanya sama berjasanya. Dengan cara berbeda.

Kembali kepada Kartini, dalam tulisan-tulisannya tertera pikirannya, semangatnya, cita-citanya dan mimpinya untuk memajukan peran dan derajat kaumnya. Berangkat dari apa yang ia lihat di lingkungannya, Kartini mencoba mendobrak pakem-pakem baku dari adat istiadat Jawa. Kartini yang lahir dari keluarga bangsawan Jawa yang memegang teguh adatnya. Di tengah konflik internal yangmuncul dalam dirinya, Kartini coba untuk memberontak. Pada fase-fase awal surat-suratnya, terlihat semangat muda seorang Kartini. Semangat untuk maju, sekolah, memperoleh pendidikan dan setara dengan kaum lelaki. Pada fase-fase awal, Kartini terkesan terlalu memuja Eropa dan membenci budaya, adat dan agama yang dianut masyarakat Jawa. Yang menurutnya mengukung dan mengekang. Buat Kartini muda, Eropa adalah segalanya. Baru pada fase selanjutnya ia baru mulai berpikir lebih dewasa dan realistis. Tiba-tiba teringat pada minke di tetralogi buru yg hdp di masa yg hampir sama dgn Kartini. sama-sama berasal dari keluarga bangsawan. Sama-sama ketika muda mengagungkan Eropa. Baru membumi setelahnya. Apakah ini memang jadi tren kaum muda bangsawan terpelajar di masa itu ya?

Karena tulisan ini adalah kumpulan surat, isinya lebih bersifat subyektif dan personal. Seringkali Kartini memiliki konflik di dalam dirinya. Pertarungan antara mimpi dan cintanya kepada orang tua. Hingga akhirnya ia memilih untuk mengabaikan mimpinya sekolah di negeri Belanda.

Membaca buku ini, membuatku mengerti sulitnya jadi seorang Kartini. Seseorang yang bermimpi setinggi langit, tetapi terkungkung adat dan tradisi. Butuh tekad dan keberanian besar untuk mendobrak system yang telah ada dan membudaya. Walaupun Kartini tidak pernah secara nyata menjadi seorang “pemberontak”. Tetapi pada masanya, sikapnya yang ia curahkan lewat tulisan-tulisannya sudah merupakan sebuah pemberontakan. Kartini yang berasal dari keluarga bangsawan memang menjadi salah satu kelebihannya – kenapa ia begitu dikenal orang-. Karena berasal dari keluarga bangsawan majulah, ia bisa memiliki kesempatan untuk belajar. Karena asal usulnyalah ia punya kesempatan belajar bahasa belanda, yang akhirnya menjadi alatnya untuk menyuarakan mimpi dan cita-citanya kepada dunia. Karena tulisannyalah ia jadi dikenal banyak orang, baik di bumi Hindia Belanda ataupun di Eropa. Dan lagi karena ia berasal dari keluarga bangsawan jawa yang terkenal ketat terhadap adat istiadatnyalah, “pemberontakan’nya serasa jadi sesuatu yang lebih istimewa. Mungkin karena itulah Kartini menjadi icon gerakan perjuangan kaum perempuan.

Satu hal yang menarik dari tulisan-tulisan Kartini. Ternyata, memperjuangkan hak dan derajat kaum perempuan tidak berarti melepaskan kodrat sebagai seorang perempuan dan seorang ibu. Tidak seperti yang banyak digembar gemborkan para feminis zaman sekarang. Ketika atas nama kesetaraan hak dan emansipasi , mereka bisa dengan bebas melegalkan aborsi, free sex dan banyak pandangan semu serta salah kaprah lainnya. Dan satu hal yang paling penting: Walaupun Kartini punya mimpi yang besar, Kartini tetap menikah dan punya anak loch ^^ Soal pendapat yang menyatakan kalau pernikahan buat perempuan adalah penjara dan sebagainya, itu kembali kepada pribadi dan nasib masing-masing. :D apakah kita akan mendapatkan pasangan hidup yang bisa menghargai dan menerima kita apa adanya? Apakah kita mendapatkan suami yang bisa sekaligus jadi sahabat, kekasih dan pembimbing? Bukan pernikahan yang salah, yang salah adalah pelakunya. Just Heaven Knows. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan berdoa.

Terlepas dari asal usul dan gelarnya. Sosok Kartini memang sudah istimewa. Walaupun akhirnya ia tak pernah bisa menamatkan mimpinya sekolah di negeri Belanda. Walaupun ia tidak bisa melihat pengaruh dari cita-citanya karena ia mati muda dalam usia 25 thn. Tetapi ia membuka jalan dan membawa pencerahan bagi kaumnya. Kartini bukanlah pendobrak. Tetapi Kartini membawa pelita dan membuka kesadaran kaumnya akan nasibnya. Membuat wanita berani berbicara, berani bermimpi. “Bermimpilah, karena tanpa itu, manusia akan mati”.

===
Note:
Sekedar catatan, buku yang saya baca ini adalah terjemahan dari surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya yang ditulis dalam bahasa Belanda. Buku yang ada di tangan saya ini, adalah versi terjemahan ke bahasa melayu oleh Armijn pane. Itulah kenapa gaya bahasa yang digunakan terlihat begitu mendayu-dayu. Agak aneh dan membuat pusing sebenarnya. Karena jadi serasa membaca atau menonton film Malaysia :D Walaupun saya tetap dapat mengerti isi dan jalan ceritanya, ini membuat saya tidak memberi 5 bintang untuk buku ini. Jadi penasaran untuk baca versi yang lainnya. Adakah?

Selasa, 23 Februari 2010

Negeri Lima Menara By : A Fuadi


Satu kata: “biasa saja”.

Setelah membaca buku ini, saya mendapat kesan yang biasa saja tentang buku ini. Maklum, mungkin sebelum membacanya saya cukup terpengaruh dengan pendapat dan review beberapa orang. Apalagi buku ini sempat dibahas di GRI. Jadi jujur saja, setelah membacanya, saya agak sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi awal.

Saya bilang biasa saja karena :
1. Ide ceritanya standar. Tentang perjuangan hidup seseorang atau beberapa orang untuk meraih mimpi. Cerita model begini mulai booming pasca lascar pelanginya andrea hirata. Jadi tidak lagi terlalu orisinil. Walaupun dengan setting yang berbeda. Kisah LP menceritakan perjuangan Ikal dari kecil hingga ia meraih mimpinya kuliah di Paris. Dan N5M, menceritakan kehidupan di balik pondok. Tetapi kalau bicara soal perjuangan seseorang meraih mimpi, di buku ini tidak terlalu dijelaskan secara detail kenapa dan bagaimana tokoh Alif dan teman-temannya bisa meraih mimpinya se[erti sekarang. Seperti ada sesuatu yang terpotong dan hilang. Jadi mulai masa di ponpes, lulus lantas “meloncat” begitu saja jadi orang sukses. Atau memang karena buku ini rencananya akan dibuat tetralogi? (kabarnya sih begitu). Padahal, dari sebuah cerita tentang perjuanagn meraih mimpi yang paling penting adalah bagaimana perjuangannya.

2. Membaca tahapan-tahapan tingkat di PM dalam buku ini mengingatkan saya pada kisah Harry Potter dengan Hogwartsnya. Mulai dari masuk sekolah, ujian hingga pertandingan olahraganya. Bedanya di sini sepakbola dan di sana squiditch. Atau memang semua sekolah berasrama memiliki system seperti ini atau setidaknya mirip seperti ini? Entahlah, saya tidak tahu persis karena belum pernah tinggal di pondok ataupun sekolah berasrama. Tetapi saya merasakan cerita dalam buku ini biasa saja. Nothing new.

3. Judulnya negeri 5 menara. Maksudnya apa sih? Dari awal sampai akhir saya menebak-nebak negeri mana saja yang di maksud. Bukittinggi? USA? London? Kairo? Jakarta? Penggambaran yang kurang jelas. Lagi-lagi karena memang buku ini rencananya akan dibuat berseri? Jadi detailnya akan dimuat di buku lanjutannya?

4. Cerita terkesan terlalu panjang, hingga hampir membosankan. Banyak hal-hal yang tidak terlalu penting diceritakan panjang lebar. Tanpa tahu apa kaitan antara satu bagian cerita dengan bagian cerita yang lain. Untungnya, saya menggunakan cara speed reading saat membacanya. Jadi saya tidak sampai bosan dan tertidur mengikuti alur cerita. Tetapi sebaliknya, inti ceritanya kurang digali lebih dalam. Terlalu datar. Tidak ada konflik ataupun pasang surut. Kurang dalam. Kalau diumpamakan dalam sebuah grafik, mungkin grafik alur cerita novel ini hanya akan berbentuk garis-garis kecil naik turun tanpa perubahan kenaikan atau drastic yang berarti.

Tetapi walaupun begitu, harus saya akui sebenarnya banyak nilai moral yang bisa kita ambil dari kisah ini. tentang keikhlasan, keyakinan dan perjuangan. “Man Jadda Wa jadda”.Dan kita bisa tahu lebih banyak tentang kehidupan di balik dinding-dinding pondok pesantren. Tetapi secara umum, dari sudut pandang saya pribadi, buku ini biasa saja. Nothing new. Nothing special. Sebuah cerita, walaupun idenya sederhana, kalau dikemas dengan cerdas dan apik pasti akan jadi sangat menarik. Yang sayangnya tidak terlalu muncul di buku ini.

Sekali lagi, ini hanya pandangan subyektif saya loch.

Minggu, 21 Februari 2010

Itu Saja


Tanpa syarat, tanpa isyarat.
Kujatuh pada cinta.
Kuterseret pada rasa.
Tertinggal tanya.
Lagi-lagi kenapa?
Kenapa dia, dan bukan yang lainnya?

Pada akhirnya cinta tak butuh alasan.
Tak butuh penjelasan.
Pun dan tak butuh balasan.
Karena cinta hanyalah cinta.
Sekompleks itu sekaligus juga sesederhana itu.
Itu saja.

Palangkaraya, 20 Februari 2010

Selasa, 16 Februari 2010

Teka Teki


Apa, kenapa, dimana, kapan, siapa, bagaimana. Tanya.
Jika, maka, andai, saja, bila. Umpama.
Ya, tidak, alasan. Jawab.

Kumpulan teka-teki basi.
Pertanyaan berulang yang usang.
Permainan kata tanpa makna.
Tapi tak jua kutemukan jawabnya.

Hanya asumsi berdasarkan bukti.
Hingga lelah, letih;
Sampai bosan, lalu mati.

Cukup, sudah, hentikan.
Semua permainan ini.
Sudahi teka-teki tanpa isi.
Tak perlu jawaban; karena tanya telah mati

Palangkaraya, 15 Februari 2010

Senin, 15 Februari 2010

Derasnya Ciuman Hujan (Sebuah Review atas Ciuman Hujan-Seratus Soneta Cinta By Pablo Neruda)


“Kini saat aku mendekarasikan fondamen-fondamen cintaku, aku persembahkan alaf ini kepadamu: sonata-soneta kayu yang lahir hanya karena engkau memberinya kehidupan” (Pablo Neruda dalam Ciuman Hujan)

Cinta, cinta dan cinta
Terpana oleh cinta
Terpesona dalam kata

Derasnya ciuman kata dari bibirmu
Basahi kering hatiku
Banjiri kerontang jiwaku
Hujani dahaga diriku

Sepanjang hari, ayat-ayat cinta itu terus bertasbih
Sepanjang waktu, tarian kata itu terus bernyanyi
Tanpa henti
Entah itu pagi, senja, petang ataupun malam hari.

Panas, membara dan bergelora
Hangat seperti mentari musim semi
Tetapi sekaligus tajam seperti duri


Oh No. Cinta. Satu kata ajaib dan misterius yang bisa membuat banyak orang terpesona dan kelimpungan dibuatnya. Manis, pahit sedu dan sedannya. Sakitnya, indahnya, suka dan dukanya. Cintalah yang mewarnai dunia. Menjadikan dunia tak hanya hitam, putih dan abu-abu. Kumpulan seratus sonata ini merangkai dgn begitu indahnya kata-kata cinta. Walaupun terkadang liar, panas dan menggelora. Dan terkesan terlalu gombal dan lebay. Tetapi, perempuan mana sih yang ga suka dirayu? Selama dia masih perempuan normal. Pasti tetap terpengaruh sama yg namanya rayuan dan kata-kata manis. Walaupun hanya sedikit. Bahkan walaupun tahu kalau rayuan itu hanyalah palsu belaka.

Kalau si penulis masih hdp di jaman sekarang, dan seumuran (bukan aki2 pastinya), ada di depan mata dan menuliskan soneta2 ini untuk saya, sepertinya saya akan jatuh cinta padanya ^^

Lelaki adalah buaya, binatang. Tetapi perempuan adalah penyayang binatang :P itulah kenapa saya tak suka sama yang namanya perempuan.


*Barbie yang masih klepek-klepek baca kumpulan rayuan buaya Opa Neruda*

Palangkaraya, 14 Februari 2010

Kamis, 11 Februari 2010

Mafalda By : Quino


Suatu hari di kelas
Guru : “Manolito, sebutkan satu kata yang dimulai dengan huruf P”
Mafada : *dalam hati* “duh! Pasti dia bakal menyebut kata jorok itu”
Manolito : “politik”
Mafada : *dalam hati* “nah benar kan!”

Mafalda adalah sosok anak kecil yang kritis dan serba ingin tahu. Pertanyaan dan ucapan polosnya mengena dan menohok. Lucu, usil dan menggemaskan. Juga sekaligus kritis dan mengena. Masalah-masalah yang terjadi di dunia seperti politik, perang dingin, perang, komunisme, kelaparan, kemiskinan, dsb dilihat dari sudut pandang seorang anak kecil.

Tokoh mafalda dan teman-temannya mewakili golongan masyarakat yang ada. Manolito yang kapitalis & mengukur semua hal dari segi materi dgn took Don Manolonya. Felippe yang pemalas dan suka mengulur-ulur pekerjaan –seperti kebanyakan orang-. Tokoh Susanita sebagai penggambaran kaum borjuis yang hanya bisa berhura-hura. Serta Miguelito yang polos dan seolah tak terkontaminasi dengan situasi dunia.

Sebuah komik yang cerdas. Tepat. Mengena. Lucu dan membuatku tertawa sepanjang jalan cerita. Dimana-mana. Di mobil, di rumah, di tempat makan, etc. untungnya belum ada yang menyangka saya orang gila (atau mungkin sudah?). Tidak hanya lucu dan menghibur, tetapi sekaligus tajam, kritis dan mengena. Walaupun dibuat era tahun 60-an. Akan tetapi ceritanya, permasalahan-permasalahan yang dikritis dan disindirnya terasa masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi dunia serta negara kita saat ini.

Kita butuh mafalda-mafalda baru untuk menyadarkan negeri ini dari tidur panjangnya.

Sabtu, 06 Februari 2010

Pantomim


Psst..sudah diam. Tak perlu banyak bicara. Karena makin banyak kau bicara akan semakin banyak dusta.

Sudahlah kau diam. Tutup mulutmu yang menghitam. Busuk. Bau menyan.

Sudahlah kau hentikan. Nyanyian janji tak penting yang kau sebarkan. Janji palsu yang tak pernah jadi kenyataan.

Karena buatmu kesakitan hanyalah tontonan.
Teriakan penderitaan hanyalah bahan tertawaan.

Lelucon hampa kata. mati. tanpa nurani. tirani.
Kelaparan. Kehausan. Akan kekuasaan

lebih baik diam.
Bisu. Gagu.

Seperti pantomim

Palangkaraya, 5 Februari 2010

Labirin


Tubuhku disini, tapi hatiku tidak. Pikiranku berkelana, jiwaku mengembara. Mencari asa yang tiada.
Tersesat dalam labirin. Terjebak dalam lorong tak berujung. Sebuah sesat.

Kemanakah logika? Karena semua kata serasa fana, hampa, tanpa makna. Semua hanyalah palsu belaka. Rayuan buaya.

Dan aku pergi. Bersama kepakkan sayap-sayap patah dan mimpi yang pecah. Tuk kutata lagi hidup dan mimpi tadi. Karena esok mentari ‘kan bersinar lagi. Hidupku ‘kan indah lagi.

Palangkaraya, 5 februari 2010

Jumat, 05 Februari 2010

Topeng


Susah. Sedih. Senang. Lara. Bahagia. Suka. Duka. Cinta. Merana. Benci. Dendam. Tangis. Miris. Tertawa.Terbahak. Meringis. Terkejut. Iri. Bingung. Hampa. Lugu. Lega. Lepas. Gundah. Resah. Gelisah. Tabah. Sakit. Pedih. Perih. Lirih. Serius. Santai. Sinis. Skeptis. Tenang. Diam. Bisu. Takut. Senyum. Histeris. Senyum.

Akting. Drama. Sandiwara. Skenario. Pura-pura. Palsu. Semu. Bohong. Tipu. Muslihat.

Topeng-topeng itu tutupi wajahmu. Yang manakah sebenarnya dirimu? Siapa sebenarnya kamu? Ada apakah di kedalaman jiwamu? Aku ingin tahu.

Atau jangan-jangan. Kau gunakan topeng itu untuk tutupi kerapuhanmu. Traumamu. Masa lalumu. Ketakutanmu. Kesedihanmu.

Entahlah. Hanya kau dan Tuhan yg tahu..
Karena kau adalah pemain solo dari drama kabukimu sendiri

Palangkaraya, 4 Februari 2010

Rabu, 03 Februari 2010

The Letter (Gantung Part 2)


Siang ini kau bertanya padaku. Suatu pertanyaan lugu yang sulit tuk kujawab. Bukan karena aku tak tahu jawabannya. Tetapi Karena ku tak tahu bagaimana mengatakannya. Akhirnya aku memilih untuk diam.

Kediamanku, mungkin mengesalkanmu. Ketakjelasanku, pasti menyesakkanmu. Maafkan aku, tetapi kurasa ini yang terbaik. Buatmu, buatku dan buat kita. Maafkan aku kalau ku tak berani katakan ya, pun tak punya cukup nyali untuk berkata tidak. Andai engkau tahu.

Masih teringat dengan jelas di otakku, saat pertama kali kita bertemu. Di sudut sebuah café yang tenang kau duduk sendirian sambil tertawa kecil sendirian. Di tanganmu nampak sebuah buku buku kecil bergambar yang kutahu belakangan kalau itu adalah komik jepang. Tawa kecilmu mengusik naluri ingin tahuku. Rasa penasaranku. Tanpa sadar, diriku tertarik pada medan magnetmu. Tapi kutak berani bahkan hanya sekedar tuk berkenalan. Gambar sosokmu hari itu saja yang kubawa dalam ingatan.

Hingga akhirnya takdir membuatku bertemu lagi denganmu. Membuatku punya kesempatan untuk lebih jauh mengenalmu. Tanpa syarat, tanpa isyarat kujatuh pada pesonamu. Pada daya dan semangat hidupmu. Pada keceriaanmu. Pada senyummu. Pada tawa lepasmu. Yang terindah adalah saat melihatmu tertawa lepas tanpa beban. Hingga rasanya seluruh dunia terasa ringan. Hanya dengan mendengar celotehanmu, rasanya semua bebanku menjadi hilang. Lenyap. Menguap.

Masih bisa kuingat dengan jelas hari-hari yang kita lalui bersama. Tawa, canda dan semuanya. Semakin lama kuterperosok semakin dalam dalam cintamu. Dalam dirimu. Hingga rasaku hampa bila tanpa hadirmu. Aku cinta kamu Re.

Tetapi, justru karena aku cinta kamu. Karena aku menyayangimu. Ku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Ku tak bisa katakan isi hatiku. Aku hanya bisa diam. Seribu bahasa.

Karena buatku, kau terlalu berharga. Karena buatku kaulah segalanya. Aku tak bisa melihatmu sedih. Aku takkan sanggup melihatmu menangis dan berduka. Aku ingin senyum dan tawa itu tetap ada. Terang seperti mentari. Indah seperti bintang. Dan teduh seperti sang rembulan. Aku takkan memaafkan diriku sendiri kalau kulihat air mata jatuh dari mata beningmu. Aku takkan bisa. Tetapi aku juga takkan mampu 'tuk jauh darimu. Takkan bisa tak melihat sosokmu. Mendengar suara dan tawamu. Senyummu. Makanya aku memilih untuk diam. Biar saja semua seperti ini, seperti adanya kini. Ku tak mau membuat janji. Ku tak mau berikan padau sesuatu yang tak pasti. Apalagi dengan kondisiku kini

………………………..
Kebahagiaanku adalah ketika melihat kau bahagia. Teruslah tersenyum dan tertawa. Teruslah berikan cahaya dan semangat hidup pada orang-orang di sekitarmu. Aku 'kan terus memandangmu dari jauh. Mengawasimu dari jauh. Pun nanti ketika waktuku telah tiba, aku kan tetap membawa ingat akanmu ke surga. 'Kan kuminta pada Tuhan di surga, semoga kau tetap bahagia selamanya.

Waktuku, hanya tinggal sekejap saja. Ku tak tahu apakah kukan bisa terus bertahan, melawan apalagi menang dalam perang ini. Bukan perang terhadap bom, granat atau senjata. Tapi terhadap kanker yang telah merajalela. Aku hanya ingin kau tetap ingat kenangan hari ini. Saat aku masih ada di dunia ini.
Aku sayang kamu Re.
……………………………………………………

Lembaran putih itu basah terkena rintik hujan yang mengguyur sejak dini hari tadi. Membasahi gundukan tanah merah yang baru tertanam. Hampa. Sunyi. Di sudut batu nisan yang baru terpasang.

Telah beristirahat dengan tenang
Andra Reva Susanto
10 October 1979 – 2 Februari 2010