Selasa, 03 Juli 2012

Gembel Traveller. Day 13. Nyasar di Bangkok


Pagi hari setelah sarapan kami kembali menjelajahi ibukota negara Thailand ini. Dari kediaman James, kami naik buskota (nomornya saya lupa) untuk menuju tempat kapal sungai di Kiak Kai. Buskota di Bangkok tarifnya cukup murah, yaitu 6,5 baht atau sekitar 2000 rupiah per orang. Kalau kita beruntung, bis tersebut tidak ada kernet yang meminta ongkos, itu artinya kita tidak perlu membayar apapun alias gratis :D

Dari Kiak Kai (pemberhentian nomor 21), kami naik kapal sungai yang melintasi sungai Chao Phraya sampai pemberhentian no. 8 di dekat Grand Palace di Ko Ratanakosin area. Dari sana kami berjalan kaki menuju Grand Palace. Grand palace adalah komplek istana kerajaan Thailand yang sangat luas dan terdiri dari beberapa bagian dan gedung. Tempat ini dulunya adalah tempat kediaman Raja Thailand. Tiket masuk komplek Grand palace ini seharga 400 Baht per orang, sudah termasuk tiket masuk Grand Palace dan Wat Phra Kaew yang sering disebut Temple of Emerald Buddha. 

Di Grand palace ini terjadi kecelakaan pada kamera SLR saya. Saat saya ke toilet, tas kamera saya gantung di cantelan pintu toilet. Tetapi tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamar mandi dengan sangat kencang hingga kamera saya terjatuh. Damn!! My lens was broken :( Mau nangis rasanya lihat lensa Tamron 18-270 FZD yang baru dibeli 2 bulan lalu retak bagian putarannya jadi agak menganga, walaupun masih bisa dipakai sih. Mana pelaku yang menggedor pintu toilet gak ketauan lagi. Makin kesel jadinya. 

Dari Grand Palace, kami melanjutkan berkeliling sekitar area Ko Ratanakosin. Setelah itu kami menuju Wat Pho. Wat Pho adalah salah satu dari beberapa temple besar di Bangkok yang sering dikunjungi para wisatawan. Selain Wat Pho ada Wat Arun, Wat Phra Kaew, Wat Traimit  dan Wat Benchamabophit. Luas kompleks Wat Pho cukup luas. Temple ini berciri khas warna emas di ornamen-ornamennya. Saat kami masuk ke area Wat Pho, kami tidak melihat adanya booth tiket, jadi kami pikir memang gratis. Setelah hampir satu jam kami di dalam, tiba-tiba Dahlia mengajak saya supaya segera keluar dari area Temple. Ternyata, sebenarnya ada tiket untuk masuk ke area temple. Dan ia mendengar ada beberapa orang yang sedang mencari orang-orang yang masuk tanpa tiket. Oo.. kami beneran baru tau kalau ada tiket. Dan tiket boothnya terletak di sisi yang berbeda dari pintu kami masuk. Harga tiket masuk Wat Pho adalah 50 baht. Jadi dengan kata lain, tanpa sengaja kami telah jadi penyelundup. He3x :D psstt. Jangan bilang siapa-siapa ya. Karena khawatir tertangkap basah tanpa tiket, kamipun segera keluar meninggalkan area Wat Po. Daripada kami harus kenapa-kenapa di negri orang  :D

Setelah sukses ‘selamat’ keluar dari Wat Pho, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Wat Arun. Wat arun terletak di tepi Sungai Chao Phraya, dan untuk mencapainya kami harus menyebrangi sungai Chao Phraya dengan menggunakan kapal untuk penyebrangan yang tarifnya 10 Baht. 

Kalau Grand Palace dan Wat Phra Kaew berwarna warni, Wat Pho berwarna emas dan ornamen warna warni, warna dasar bangunan Wat Arun adalah batu. Tidak terlalu banyak ornamen di sana. Harga tiket masuk ke area temple ini adalah 50 baht. Kali ini kami membayar tiket masuk loh :D  hari itu panas sangat terik, sehingga kami benar-benar tepar dan dehidrasi apalagi harus naik turun bagian-bagian kuil. Entah sudah berapa banyak air yang masuk ke tenggorokan. Panas gila!!! 

Sebenarnya di Bangkok masih banyak lagi temple-temple seperti Wat Traimit, Wat Bechamabophit, etc. pantas saja Thailand sering dijuluki negeri seribu pagoda. Karena pagoda di negara ini sangat banyak dan tersebar di mana-mana. Akan tetapi kalau waktu kita untuk mengeksplore Thailand terbatas, anda cukup mengunjungi Grand Palace, Wat Phra Kaew, Wat Pho dan Wat Arun

Dari Wat Arun, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Khaosan road. Khaosan road adalah areal backpacker terkenal di Bangkok. Karena di sini banyak tersedia penginapan, tour agent dan sarana pendukung untuk para wisatawan. Khaosan road ini sangat ramai dan padat dengan banyak orang berbagai bangsa berlalu lalang. Kami berkeliling sekitar Khaosan road sekaligus mencari tiket bus ke Siam Reap - Kamboja untuk esok hari. Setelah berkeliling dari satu tour agent ke tour agent lainnya, akhirnya kami mendapatkan tiket bus ke Siam Reap seharga 600 baht per orang.  

Dari sini kami melanjutkan perjalanan mencari pusat pertokoan elektronik untuk mengecek keadaan kamera dan lensa yang yang mengalami  ‘kecelakaan’ tadi pagi sekaligus mencari kedutaan Indonesia untuk mencari info terkait visa Myanmar. Kami naik bus sampai Victory monument dan melanjutkan bus menuju area jalan Pratunam , kalau tidak salah namanya Plaza Central.

Kami naik bus sampai victory monument. Dari sini, seharusnya kami naik bis yang lewat jalan Pratunam. Kami naik bus dengan damai. Di bus, kami jadi tontonan umum. Karena mungkin jarang wisatawan asing yang menggunakan bus umum di sana. Apalagi dengan ‘penampakan’ saya yang lagi-lagi terlalu obvious :p Karena petugas yang menagih tidak bisa bahasa Inggris dan kamipun tidak mengerti bahasa Thai. Jadilah kami menggunakan bahasa tarzan untuk mengetahui dan membayar ongkos bus :p Kami santai saja duduk dan mengobrol di kursi penumpang. Seakan-akan kami tahu dimana tempat yang kami tuju dan dimana kami harus turun :D  Setelah sekitar 30 menit, kami baru sadar kalau bus membawa kami makin menjauhi pusat kota. Kami mulai panik, kami mencoba menanyakan kepada petugas ataupun penumpang lain soal tujuan kami dan di mana kami berada saat itu, tetapi mereka juga tidak bisa bahasa Inggris. Mampus!! Kamipun makin panik. Untunglah tak lama kemudian, penumpang yang duduk di kursi di depan saya yang mengerti bahasa Inggris bersedia membantu. Darinya kamipun tahu, kalau kami telah NYASAR! Kami telah naik bus yang salah dan terbawa oleh bus yang rutenya berlawanan arah dengan tujuan kami. Dari orang yang sama jugalah kami disarankan untuk turun di halte terdekat berikutnya agar kami tidak nyasar semakin jauh.

Di suatu halte, entah di mana dan di jalan apa kamipun turun dari bus. Kalau kemarin kami hampir nyasar saat mencari bus ke rumah James, hari itu kami benar-benar lost in Bangkok :D Di halte tersebut tidak ada orang lain yang sedang menunggu bus juga tak ada petugas ataupun pedagang (emangnya di jakarta, hampir di setiap halte bus ada pedagang asongan :p). Kami mencoba mencari tahu posisi kami saat itu di peta. Salah satu hal yang wajib dibawa traveller independent adalah peta. Karena di situ kita bisa tahu rute dan lokasi tempat yang kita cari. Kami mencoba mencari tahu nama jalan tempat kami berada saat itu. Celingak celinguk, kami tak menemukan nama jalan satupun. Kalaupun ada papan nama ataupun tulisan, semuanya dalam bahasa dan tulisan Thai. Grook. 

Kamipun memutuskan untuk menyebrang jalan dengan tangga penyebrangan karena di halte sebrang jalan terlihat beberapa orang yang sedang menunggu bus. Kami berharap bisa mendapatkan info dari mereka. Sebenarnya untuk sesaat saya tergoda untuk menghubungi ‘teman’ saya yang saat itu bekerja di Bangkok untuk membantu. Akan tetapi gengsi saya terlalu tinggi. Ha3x :D Bukan apa-apa sih, soalnya teman saya itu, he is my ex. So I don’t want to contact him nor have any debt to him. Yang paling penting, saya juga tidak mau dianggap mengganggu apalagi ‘mengejar’nya. No way!! Walaupun kami berpisah tidak bisa dibilang dengan tidak baik juga, akan tetapi tidak juga bisa dibilang baik-baik. Dan saya tidak mau berpura-pura seakan- akan tidak ada apa-apa. He hurt me so much before, so I couldn’t pretend nothing happen. I still could be his friend – an ordinary friend – but don’t expect me to pretend to be his best friend anymore. Loe, gw, END, SELESAI!  Akhirnya, saya lebih memilih untuk bertanya. Malu bertanya, sesat di jalan. Gengsi menerpa nyasar jadinya :D

Kami mencoba menanyakan pada beberapa orang, tetapi lagi-lagi kendala bahasa jadi masalah. Kami beneran jadi dua cewek gembel yang nyasar di negeri orang saat itu. Kami akhirnya mengegelar peta untuk meminta mereka menunjukan di mana posisi kami saat itu dengan bahasa tarzan. Untunglah akhirnya ada mbak-mbak yang sepertinya baru pulang kerja membantu kami. Lebih lagi, dia juga menelpon temannya untuk tahu bagaimana cara kami untuk ke central plaza. Akhirnya disimpulkan kalau kami harus kembali menyebrang jalan, lalu jalan kaki ke perempatan sekitar 200 m dari situ baru melanjutkan naik bus yang lewat plaza central. Atau, cara termudah adalah naik taxi :D Akhirnya kami menuruti saran mbak-mbak tadi dan kembali menyebrang jalan untuk melanjutkan perjalanan. 

Dari jembatan penyebrangan menuju perapata rasanya jauh sekali. Karena kami sudah sangat letih, kaki pegel dan perut kelaparan. Lagi-lagi kami tak berani makan sembarangan. Padahal, di Bangkok kalau sore sudah menjelang, hampir di sepanjang jalan ada pedagang yang menjajakan makanan aneka macam yang kelihatan menggugah selera. Tetapi lagi-lagi karena khawatir akan kehalalan makanan tersebut, kami tak berani mencoba. Jadi berpikir ada bagusnya rekan perjalanan saya sama-sama muslim, jadi kami memang sama-sama memilih dalam hal makanan. Bagaimana jadinya kalau rekan perjalanan saya non muslim? Ini bukan masalah SARA sih, karena saya tidak pernah mempermasalahkan soal SARA dalam hal pertemanan. Saya bisa berteman dengan siapa saja, akan tetapi kalau dalam hal makanan tetap saja berbeda. Saya jadi berpikir, kalau teman perjalanan saya bukan muslim, pasti dia akan sangat menderita travelling dengan saya. Karena dia jadi tidak bisa menikmati banyak makanan khas disini yang terkenal enak rasanya.

Lelah, letih dan kelaparan, akhirnya sampai juga kami ke pusat pertokoan yang kami tuju. Tujuan pertama kami pastinya adalah mencari tempat makan :D Kami memilih untuk makan ayam goreng di restoran cepat saji KFC, walaupun sebenarnya kami juga tidak terlalu yakin akan kehalalannya karena tidak ada logo halalnya. Tetapi we think, it’s better than we eat food that obviously not halal.
Setelah mengisi perut, kami berkeliling pertokoan untuk mencari tempat servis kamera. Dari hasil bertanya sana-sini sebagian besar menyarankan agar lensa dan kamera saya di’rawat inap’ untuk diperiksa dan diservis. Karena kami tidak punya banyak waktu, dan besok sudah harus meninggalkan Thailand, akhirnya saya batal memperbaiki lensa dan kamera saya. Dari hasil windows shopping di sana, kami jadi tahu, ternyata harga elektronik di Thailand lebih murah daripada di Jakarta. Dahlia membeli tripod hanya seharga 30 baht atau sekitar 90 ribu rupiah. Padahal kalau di Jakarta harganya bisa mencapai lebih dari 200 ribu rupiah. 

Malam semakin turun, kamipun beranjak keluar dari area mall untuk kembali ke tempat James. Dalam perjalanan, ternyata kami melewati Kedutaan Indonesia yang dari kemarin kami cari-cari. Karena saat itu sudah malam, kantor kedutaan sudah tutup, jadi kami tidak bisa mencari info di sana. Malam itu adalah malam terakhir kami di Thailand dalam perjalanan kali ini. Kami nikmati pemnadangan malam di kota Bangkok melalui tuk-tuk yang kami sewa menuju daerah Intamari tempat kami menginap.]


Selama melakukan perjalanan di Thailand, ada beberapa point penting yang kami dapat.

11. Makanan Thailand umumnya enak dengan citarasa pedas asam sebagai ciri khasnya. Untuk daerah Thailand Selatan (Phuket, Krabi, etc), makanan halal masih mudah ditemui sedangkan makin ke Utara semakin sulit. Untuk traveller muslim, sebaiknya cari info terlebih dahulu di mana tempat yang menyajikan makanan halal di daerah yang dituju.
2
22. Harga barang di Thailand secara garis besar lebih murah dari di Indonesia. Buat para penggila belanja, tempat ini cocok untuk menguras dompet anda dengan barang murah.

33. I love Thailand’s  beach and islands. Karena kami hanya ke pulau dan pantai di sekitar laut Andaman,kami tidak tahu kondisi di area lain. Akan tetapi berdasarkan info yang kami dapat, pantai dan laut di area lain di Thailand pun sama indahnya.

44. Untuk traveller, sebaiknya paling tidak tahu beberapa kata dasar dalam bahasa Thai. Karena masyarakat di sana jarang yang bisa bahasa Inggris. Dan ini bukan salah mereka, karena ini adalah negeri mereka. Seharusnya kitalah sebagai tamu yang paling tidak sedikit mengerti bahasa mereka. 
55. Jangan lupa bawa peta dan travel guide book Ini adalah hal yang sangat penting untuk para independent traveller seperti saya. 

Bye Bye Thailand, hope I could go there again :)

Senin, 02 Juli 2012

Gembel Traveller. Day 12. Welcome to Bangkok


Pesawat kami dari Phuket menuju Bangkok berangkat jam pagi. Jadi kami sudah harus checkout dan berangkat dari hotel jam 4 pagi. Pagi-pagi buta kami sudah melaju di jalan raya sepi dan menuju ke Bandara. Kami sengaja sudah memesan taxi dari hari sebelumnya karena sangat sulit mencari taxi pagi buta seperti itu di sana. Kami sudah sampai di bandara Phuket jam 5 pagi.

Penerbangan dari Phuket menuju Bangkok di tempuh dalam waktu 1 jam 20 menit. Pesawat tiba di Bangkok 8.15. Di Bangkok, kami akan menginap di rumah host kami James, ia juga dari komunitas CS yang bersedia menjadi host kami selama di Bangkok. Setelah proses pengambilan bagasi, kami menuju stasiun kereta. Kami naik airport train sampai Phayathai Station. Dari stasiun, seharusnya kami menggunakan bus no. 54 untuk menuju rumah James seperti yang sudah ia infokan. Akan tetapi, kami kebingungan dimanakah letak halte bus atau paling tidak dimana kami harus menunggu bus yang dimaksud. 

Kami sudah berdiri di sebuah titik yang kami kira pemberhentian bus (karena bentuknya yang mirip halte bus di Indonesia), akan tetapi tidak ada satupun buskota yang berhenti. Kami pun menanyakan pada penduduk setempat. Akan tetapi kendala bahasa jadi masalah. Ternyata, orang Thailand, khususnya di Bangkok banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, bahasa tarzanpun tidak nyambung karena yang kami tanyakan adalah alamat rumah atau halte bus. Setelah kebingungan hampir 30 menit, kami akhirnya bertemu seorang bule dan akhirnya bertanya padanya. Ternyata, tempat kami berdiri dari tadi itu memang bukan halte bus. Itu adalah pemberhentian khusus taxi, pemberhentian bus terletak beberapa puluh m dari sana*zedig.. pantes aja*.

Karena sudah terlalu lelah dan bis juga tak muncul juga, akhirnya ujung-ujungnya kami memutuskan naik taxi. Tak terlalu sulit menemukan alamat James yang terletak di Jl. Intamara, karena tempat itu sekaligus sebuah café. Finally, kami sampai juga di café milik James tempat kami akan menginap selama di Bangkok.

Café itu terletak di ruko tiga lantai dimana café di lantai 1 sedangkan lantai 2 dan lantai 3 terdiri dari beberapa ruang untuk kamar-kamar. Pada saat yang sama, James menjadi host untuk lebih dari 10 orang yang berasal dari berbagai bangsa. Kami ditempatkan di lantai 3, dan bersama kami ada 4 orang lain, 1 berasal dari USA, 1 dari Hongkong, 1 Inggris dan 1 lagi dari Kanada. Selain kami berenam, ada lagi keluarga dari Timur Tengah dan beberapa orang lagi. OMG, James baik hati sekali, dia bersedia menyediakan tempat menginap bagi banyak backpacker yang datang ke Bangkok. Entah sudah berapa ratus orang yang diterimanya selama beberapa tahun ini. Bener-bener amazing rasanya. Walaupun tempatnya biasa saja, tetapi buat ukuran para backpacker yang terpenting adalah ada tempat untuk tidur dan beristirahat. Kami sangat berterimakasih kepada James atas kebaikan hatinya.
Café milik James di lantai 1 adalah café yang 100% makanan yang disediakan adalah makanan halal. Ini karena James memang seorang muslim. Kami sangat tertolong sekali. Karena di Bangkok tidak seperti di daerah Thailand Selatan seperti Krabi dan Phuket yang masih banyak penduduk muslimnya dan makanan halal mudah didapat. Di Bangkok makanan halal sulit ditemukan. 

Setelah beristirahat sejenak dan beramah tamah dengan tuan rumah, kami segera keluar dan memulai petualangan kami di Bangkok hari itu. Tujuan pertama kami adalah Museum lilin Madam Tussaud yang ada di Discovery Mall Bangkok. Musium ini memajang koleksi patung lilin banyak tokoh dunia, mulai dari aktris dan aktor, penyanyi, sutradara, tokoh negara dan terkenal lainnya. Harga masuk Museum ini cukup mahal, sekitar 1300 baht per orang. Tetaou kita bisa buas bernarsis ria dengan para tokoh dan selebritis favorit. Mau berfoto bareng Justin Beiber atau Beyonce? Bisa :D

Dari museum ini, kami ke national stadium dan MBK. MBK adalah pusat perbelanjaan terkenal di Bangkok. Para penggila belanja yang datang ke Bangkok pasti mampir ke mall ini. Tak jauh dari MBK, ada art Contemporary Museum. Di depan museum ini banyak hasil karya seni kontemporer yang unik, mulai dari tong sampah raksasa yang terguling, patung hewan dan bola bola warna warni. Saat kami lewat di depannya juga ada seniman jalanan yang sedang memamerkan aksinya. Seniman jalanna ini memainkan musik pukul semacam gendang tapi terbuat dari beragam kaleng dan bekas kemasan makanan. 

Selanjutnya kami menuju museum Jim Thompson. Jim Thompson adalah orang Amerika yang akhirnya menetap di Thailand dan mengembangkan industri sutra di sana. Dialah salah satu tokoh yang membuat Thailand terkenal karena prosuksi sutra. Tokoh ini menghilang saat sedang berlibur di daerah Cameroon Highland, Malaysia dan hingga sekarang tidak diketahui di mana keberadaanya dan bagaimana nasibnya, masih hidup atau tidak. Rumah milik Jim Thompson inilah yang kemudian oleh perintah Thailand dijadikan museum Jim Thompson untuk menghormati dan mengenang beliau. Area musium ini sangat luas terdiri dari beberapa bangunan yang didesain berdasarkan desain rumah asli Thailand. Di dalam mueum ini ditampilkan berbagai hal yang terkait dengan produksi sutra serta beragam barang antik yang menjadi koleksi pribadi milik Jim Thompson. 

Dari museum Jim Thompson, rencananya kami akan ke kedutaan RI untuk mencari info terkait visa ke Myanmar dan Laos. Kami menyusuri jalan mengikuti peta tak juga menemukannya. Kelaparan mulai mendera dan memamg dari tadi kami belum juga menemukan makanan halal. Sebenarnya kalau sore menjelang, hampir di sepanjang jalan di kota Bangkok banyak pedagang yang menjajakan makanan. Akan tetapi karena kami khawatir akan kehalalannya kami tak berani mencoba. Karena dari yang kami dengar, makanan di sini banyak mengandung B2.

Akhirnya kami terus berjalan menyusuri jalan. Baru setelah sekitar 1 jam berjalan kami menemukan rumah makan yang menjual makanan halal. Kalau di Bangkok, kedai makan milik muslim selalu jelas diberi tanda makanan halal, jadi pembeli tidak perlu khawatir. Pemilik rumah makan ini juga seorang ibu-ibu berjilbab. Rasanya aman untuk makan di sini. Worry free. Kami menyantap nasi goreng dan mie goreng Thailand serta  beberapa baso seafood yang ditusuk seperti sate dan dibakar serta disajikan dengan saus. Rasa makanan di sini maknyus. Rasanya selama lebih dari seminggu di Thailand kami belum pernah merasakan makanan yang tidak enak :D

Perut sudah damai, badan sudah letih, kami pun beranjak kembali ke tempat kami menginap. Malam itu kami bertemu dengan beberapa orang backpaker yang sama-sama menginap di tempat James. Setelah bercakap-cakap, bebersih, kamipun tidur.

Minggu, 01 Juli 2012

Gembel Traveler. Day 11. Beautiful Landscape and Lady Boy at Phuket


Hari itu kami menyewa kendaraan seharga 800 baht untuk bekeliling Phuket seharian. Karena pulau ini terlalu besar dengan kontur berkukit untuk dikelilingi dalam satu hari hanya dengan berjalan kaki. Sebenarnya dari Phuket kita bisa melakukan hopping island ke Surin Islands National Park atau Similan Islands National Park. Akan tetapi karena cuaca yang sedang tidak bagus dan selain itu kami juga sudah cukup puas bersnorkling ria di Krabi sebelumnya, kami memutuskan untuk sight seing.

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Kata dan Karon Beach. Dua pantai ini adalah pantai yang jadi tujuan wisata utama selain Patong Beach. Di pantai ini juga banyak terdapat akomodasi dan sarana penunjang untuk wisatawan lainnya. Hanya saja, hotel di daerah ini umumnya lebih mahal daripada di area Patong Beach yang jadi pusat backpacker. Saat kami ke sana, pantai ramai dengan pengunjung.

Setelah puas mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan menuju View Point dan Phromtep cape. Dari tempat ini kita bisa melihat pemandangan phuket dan sekitarnya, terutama lautnya. It’s so breath taking. Dari ketinggian seperti ini kita bisa melihat laut andaman yang berwarna hijau tosca menghampar luas dan indah. Kalau kita ke Phromtep cape di sore hari, sunset di tempat ini terkenal dengan keindahannya.
Selanjutnya kami menuju ke Big Buddha yang terletak di atas bukit. Dari tempat ini kita juga bisa melihat pemandangan Phuket dari ketinggian, terutama area daratnya. Saat ini Big Buddha masih dalam proses pembangunan, dan rencananya akan menjadi salah satu patung Buddha terbesar di Thailand.

Destinasi selanjutnya adalah Wat Chalong. Wat chalong adalah komplek kuil Buddha yang luas dan terdiri dari berbagai bangunan. Masing-masing bangunan dihias dengan ornamen dan warna warni cerah khas Thailand.

Selama berkeliling Thailand, tak lupa kami mencicipi makanan khas di sini, mulai dari papaya salad, Tom Yum Gung, Pad Thai (Thai Styles Fried Noodles), Kai Med Ma Chuang (Cicken With Cashew Nut), Khao Pad (Fried Rice), dan entah apa lagi (saya lupa namanya). Ciri khas makanan Thailand adalah asam dan pedas. Mulai dari salad, ikan, hingga makanan berkuang semacam sup dan Tom Yum Gung. Secara umum, makanna di Thailand mantap rasanya. Puas berkeliling Phuket, kami kembali ke hotel untuk istirahat dan bersiap-siap karena malam itu kami akan menonton pertunjukan Simon Cabaret.

Simon Cabaret ini adalah pertunjukan kabaret yang menampilkan para wanita transgender (lady boy). Hiburan semacam ini memang marak di Thailand. Dan wanita transgender banyak ditemui di negara ini. Kami dijemput sekitar jam 6 di hotel. Pertunjukan memang baru dimulai sekitar jam 7 malam. akan tetapi setiap jeda antar pertunjukan, biasanya para lady boy ini akan keluar bangunan dan memberi kesempatan pada para pengunjung untuk berfoto bersama dan mengambil foto mereka.

Antara terpana, bengong, kagum sekaligus iri begitu saya melihat para lady boy yang muncul di pelataran parkir. Gila, cantik cantik dan sexy sekalee. Para lady boy yang berjumlah puluhan ini benar-benar membuat para pengunjung terpesona dan terpana dengan kecantikan dan keseksian mereka. Jangankan bagi para pengunjung pria yang terpana, kaum wanita pun dibuat iri pada mereka. Tinggi, ramping, kulit mulus, body sexy. Hampir mau koprol sambil bilang wow *lebay.com*. Kalau gak ada yang bilang mereka itu asalnya pria, hampir gak percaya rasanya kalau mereka bukan perempuan asli. Sumpah, jadi minder rasanya. Apalagi saat kami foto bersama para lady boy, oo rasanya kami jadi kebanting berada di tengah-tengah mereka. Perempuan beneran kalah cantik dan sexy sama lady boy :D Banyak pengunjung yang berfoto bersama para lady boy dengan pose pose unik, aneh sampai ‘mesum’. Wuakkak :D Para lady boy ini akan dengan senang hati melayani berfoto bersama.

Para lady boy yang cantik dan sexy juga sangat mengenal uang permisah, soalnya mereka akan meminta uang pada para pengunjung yang mengambil foto ataupun berfoto bersama mereka. Kalau dihitung-hitung banyak juga ya penghasilan mereka hanya dari tip semacam ini. Tertarik jadi lady boy? 

Berdasarkan informasi beberapa teman, para lady boy ini memang membutuhkan usaha, biaya dan keberanian besar untuk menjadi seperti itu. Karena banyak hal yang harus mereka lakukan, mulai dari suntik hormon rutin untuk mencegah jakun, bulu-bulu tubuh dan ciri-ciri lelaki lainnya muncul ke permukaan sampai operasi kelamin. Menurut teman  saya yang kuliah di Fakultas Kedokteran, operasi kelamin itu sangat menyakitkan loh. Jadi merinding denger ceritanya soal step by step operasi kelamin ini. Hanya orang-orang yang sudah benar-benar ingin jadi wanita dan siap lahir batin yang akan melakukan operasi ini. Karena sekali kelamin sudah operasi, selamanya tidak akan lagi bisa menjadi laki-laki normal. Rasa sakit, treatment dan biaya untuk pasca operasi yang dilakukan seumur hiduppun santgat besar. Jadi wajar saja kalau para lady boy di pertujukan giat mengumpulkan uang, karena untuk jadi seperti itu dan mempertahankannya sangat mahal.

Jam 7 malam, pertunjukan kabaret dimulai. Pertunjukan dilakukan di dalam panggung di dalam gedung. Selama satu setengah jam, para penonton dimanjakan dengan banyak atraksi tarian, nyanyian dan kostum dengan warna warni menarik. Mulai dari tarian daerah beberapa negara di dunia, burlesque ala cher, barbie girl dan macam-macam lainnya. Sayangnya, penggunaan kamera, video dan semacamnya dilarang selama pertunjukan berlangsung. Jadi kami tidak bisa mengabadikan moment tersebut. Padahal kalau difoto, kebayang meriah dan warna warninya foto yang akan dihasilkan. Secara keseluruhan, pertunjukan ini sangat menarik dan menghibur. Karena para lady boy yang tidak hanya mengandalkan penampilan fisik dan kostum, mereka juga pandai menari.

Setelah pertunjukan usai dan kembali sesi foto-foto di luar gedung dengan para lady boy, kami diantar kembali ke hotel. Membawa kekaguman sekaligus sedikit rasa iri terhadap para lady boy. Kami langsung packing-packing karena pesawat kami menuju Bangkok berangkat besok pagi.

Sabtu, 30 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 10. From Ko Phi Phi to Phuket : From Heaven to ‘Heaven’



Kami mengawali hari dengan menikmati suasana pantai di pagi hari. Langit jingga, pasir pantai yang masih berpola. kami bermalas-malasan ria. Berharap waktu masih panjang dan kami tak harus segera meninggalkan ‘surga’ ini. Baru agak siangan kami mulai bersnorkling ria dan bercanda dengan ikan berwarna warni yang banyak di sana. Pantai dan laut yang indah, walaupun terumbu karang di tempat ini tidak terlalu luar biasa. Masih lebih bagus di Indonesia. Akan tetapi (lagi-lagi) manajemen pariwisata dan kesediaan fasilitas serta kemudahan akses menjadi faktor utama kemajuan pariwisata mereka. Seharusnya kita banyak belajar dari negara-negara tetangga.

Sebenarnya kami belum mau beranjak dan bersiap-siap untuk pergi, tetapi mau bagaimana, kami sudah harus check-out dari hotel jam 12 siang, jadi kami segera berhenti bermain air lalu membersihkan badan dan packing-packing.

Rasanya masih tak mau beranjak pergi dari sini. Menikmati hidup dan indahlnya alam, tanpa harus memikirkan hal-hal rumit, pekerjaan, tanggung jawab, kemacetan dan sebagainya. Pukul 1 siang kami sudah harus kembali ke pelabuhan untuk menumpang kapal yang akan membawa kami ke Phuket. Bye Bye Ko Phi Phi’s Heaven.

Kapal yang kami tumpangi berangkat pukul 14.30. perjalanan dari Ko Phi Phi ke Phuket ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam dengan biaya 500 baht per orang. Di perjalanan, cuaca mulai memburuk. Hal ini karena saat ini sudah mulai memasuki moonsoon season yang ditandai dengan meningkatnya curah hujan,  angin kencang dan meningkatnya ketinggian gelombang laut. Dalam cuaca seperti ini sangat sulit dan bahkan dalam taraf tertentu bisa berbahaya kalau melakukan aktifitas di laut. Ombak besar yang sangat terasa di kapal besar ini membuat kami tersadar kalau kami sangat beruntung telah menyelesaikan aktifitas di laut kemarin. Thanks God, saat kami bermain di laut beberapa hari sebelumnya cuaca masih cerah ceria. Alhamdulillah.

Setelah berjuang menerjang ombak sepanjang perjalanan, akhirnya kapalpun tiba di pelabuhan Phuket. Dari pelabuhan, kami menumpang minivan yang mengatarkan kami ke hotel tempat kami menginap di daerah Patong Beach.

Kami berencana menginap dua malam di Phuket. Kami memilih Seven Seas Hotel Phuket yang berada di area Patong Beach tak jauh dari Novotel Hotel Phuket. Kami menginap di kamar standart double ber AC dengan biaya 600 baht atau sekitar 180 ribu per malam. Patong Beach adalah salah satu pantai yang terkenal di Phuket. Di sini banyak berdiri hotel dan guest house, rumah makan dan restoran segala tingkatan harga. Selain itu, area Patong terkenal dengan hiburan malamnya yang ‘ramai’.

Setelah istirahat dan membersihkan tubuh, kami siap untuk mengeksplore sekeliling Patong. Sore mulai menjelang, kami berjalan santai di sepanjang pantai. Kursi kursi berjejer sepanjang pantai. Tampak pula beberapa orang tukang pijat dan salon rambut ada kadarnya. Beberapa orang turis tampak sedang menikmati Thai Massage dan ada juga yang sedang membuat rambutnya menjadi keriting gimbal ala Jamaican. 

Matahari makin turun dan langit makin menjingga. Kami duduk di tepi pantai sambil menunggu sunshet. Sayangnya, karena cuaca buruk langit berawan dan sunsetnya tidak nampak. Kami Cuma bengong di tepi pantai sambil memperhatikan orang lalu lalang. Setelah senja, kami melanjutkan perjalanan ke arah pusat keramaian dimana banyak terdapat hotel dan rumah makan yang merupakan pusat area para backpacker. Banyak pedagang makanan di sepanjang jalan. Saatnya wisata kuliner!

Kami mencicipi berbagai makanan kecil khas Thailand, barbeque seafood, sosis dan nugget yang diberi manis pedas, creepes semacam martabak mini, dan entah apa lagi yang kami kunyah sore itu. Kami juga berhenti dari satu tour agent ke tour agent yang lain untuk mencari harga tiket pertunjukan termurah. Phuket, terutama area Patong Beach terkenal dengan beberapa pertunjukan ‘spesial’. Mulai  dari kabaret wanita transgender, aksi para wanita ataupun transgender penghibur yang sedang ‘ mempromosikan’ dirinya dengan berani di pinggir jalan. Sampai ada yang pole dancing segala loh. Kami memilih untuk menyaksikan pertunjukan kabaret para transgender ini. Karena ramai dan banyak peminatnya berdiri beberapa kelompok kabaret, yang paling terkenal diantaranya adalah Simon Cabaret dan Aphrodite. Akhirnya kami bisa mendapatkan tiket pertunjukan untuk esok malam sebesar 500 baht per orang. Untuk Aphrodite dijual dengan harga  50 baht lebih murah.

Patong sering disebut sebagai ‘Heaven of Evil Things”. Karena banyak pertunjukan ‘khas’ malam di sini. Selain kabaret yang lebih sopan, sebenarnya ada beberapa macam pertunjukan lain, seperti pingpong show. Tiket pertunjukan ‘Pingpong’ show ini tidak dijual terbuka karena ini adalah pertunjukan khusus dewasa. Biasanya, para tour agent yang akan menawarkan kepada para turis. Tetapi entah kenapa selama kami berkeliling dari satu tour agent yang satu ke tour agent yang lain, tak sekalipun kami ditawari pertunjukan itu. Dan kamipun tidak berani untuk menanyakannya. He3x.

Menurut salah seorang teman yang sudah pernah menyaksikan pertunjukan ini, pingpong show memang pertunjukan khusus orang ‘dewasa’ terutama para pria. Karena banyak memperlihatkan adegan dan hal-hal yang tidak pantas dilihat oleh anak kecil. Jadi makin penasaran sebenarnya *evil mode on*. Kalau dipikir-pikir pantas saja kami sama sekali tidak ditawari, karena kami berdua adalah perempuan dan dari pakaian dan kostum saya yang berjilbab ini tidak memungkinkan mereka menawari kami pertunjukan macam itu. Salah satu tidak enaknya perempuan berjilbab saat travelling terkadang kita tidak bisa menikmati dan mengekspklore destinasi wisata secara optimal. Ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan serta terlalu ‘obvious’ dan sering jadi pusat perhatian. Dianggap aneh? maybe. He3x.

Dalam perjalanan kembali ke Hotel malam itu kami melihat banyak orang sedang berkerumun di pantai. Karena penasaran, kami mendatangi kerumunan tersebut. Ternyata telah terjadi kecelakaan di pantai. Seorang wisatawan asal korea selatan hampir tenggelam saat sedang bermain selancar di pantai. Dan saat itu tim medis sedang melakukan pertolongan sebelum membawa korban ke RS.

Gelombang dan cuaca saat itu memang sedang tidak baik. Di tepi pantai pun sudah terpasang papan peringatan dan bendera merah yang melarang pengujung untuk melakukan aktifitas di air. Tetapi entah karena tidak melihat atau memang sengaja tidak mengindahkan peringatan, wisatawan itu tetap berselancar di pantai. Akibatnya, terjadilah kecelakaan tersebut. Kasihan sebenarnya wisatawan tersebut, dia datang ke Phuket untuk berlibur, tetapi malah berakhir di rumah sakit. Oleh karenanya pelajaran buat kita untuk berhati-hati dan perhatikan peringatan yang ada agar tidak terjadi celaka.

Jumat, 29 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 9. Ko Phi Phi : Paradise on Earth



Pagi hari kami sudah dijemput oleh shuttle bus untuk day tour Phi Phi Island. Kami langsung check-out dari hotel dan membawa seluruh barang-barang. Kami berencana untuk ikut day tour sampai ke Phi Phi Island dan akan bermalam di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Phuket.

Dalam day tour itu, kami mengunjungi Bamboo Island, Viking Cave, Lohsamah Bay, Monkey Beach, Hin Klang, Pileh Bay dan Maya Bay yang terkenal karena film The Beach-nya Leonardo di Caprio. Laut berwarna hijau tosca yang jernih, batu batu karang besar berwarna hijau dan pemadangan yang indah sepanjang mata memandang. Tetapi lagi-lagi sayangnya banyak ubur-ubur beracun. So , becarefull ye. Di Maya Bay, kami bersantai dan puas mengambil foto. Pantai yang kalau di film the beach ini terlihat sepi, saat kami ke sana padat gila. Manusia berbikini di mana-mana. Berenang, snorkling, main pasir ataupun sekedar sunbathing di tepi pantai. Sulit buat saya mengambil foto landscape tanpa ada manusia berseliweran di dalamnya.

 Terakhir kami berhenti di Phi Phi Don untuk makan siang. Kami menurunkan semua barang kami dari kapal karena kami akan menginap di ko Phi Phi Don malam ini. Kami makan siang prasmanan di sebuah restoran di area Tonsay Bay, Ko Phi Phi Don. Harga makan siang sudah termasuk harga day tour yang kami bayarkan sebesar 900 baht/orang.

Ko Phi Phi itu terdiri dari 2 pulau, yaitu Ko Phi Phi Ley dan Ko Phi Phi Don. Ko Phi Phi Ley itu adalah pulau tak berpenghuni yang dijadikan taman nasional tempat Maya Bay berada. Sedangkan Ko Phi Phi Don adalah pulau besar berpenghuni tempat hotel dan segala macam fasilitas untuk para tourist berada. Kalau ada orang mengatakan ia menginap di Phi Phi Island. Pastinya itu di Ko Phi Phi Don. Karena di Ko Phi Phi Ley,  tidak ada fasilitas penginapan. Wisatawan bisa menginap di sana dengan berkemah. Itupun dengan biaya tinggi dan kapasitas terbatas. Karena walau bagaimanapun ini tempat ini masih berstatus taman nasional.
Setelah mengisi perut, kami berjalan-jalan sekitar area Tonsay Bay. Area ini adalah area terpadat di seluruh Ko Phi Phi Don. Di tempat ini banyak berdesakan guesthouse dan penginapan untuk backpacker. Ditambah restauran, bar, kantor tour agent, dive operator dan sebagainya. Jalan yang hanya selebar 2-3 m ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki dengan toko-toko di kanan kiri sepanjang jalan dan para tourist berbagai bangsa yang lalu lalang. Super crowded!!

Kami terus berjalan menuju pelabuhan tempat kapal ferry dari dan ke Krabi ataupun Phuket bersandar. Kami juga sekaligus mencari tiket kapal menuju Phuket untuk esok hari. Pelabuhan Ko Phi Phi Don berukuran sedang, tidak terlalu kecil juga tidak terlalu luas. Pemandangan di pelabuhan ini dipenuhi para penumpang yang baru turun dari kapal ataupun akan naik ke kapal. Sebagian besar para bule dengan backpack besar mereka.

Untuk menuju hotel tempat kami menginap, kami harus menggunakan perahu kecil yang tarifnya 150 baht per orang. Sebenarnya bisa saja kami berjalan kaki melalui jalan setapak tetapi menempuh waktu sekitar 1 jam dengan jalan naik turun dan pehohonan di kanan kirinya. Hal ini karena hotel tempat kami menginap berada di sisi lain pulau.  Mengingat bawaan kami yang cukup berat, kami memutuskan untuk menggunakan perahu menuju ke sana.

Kalau anda ke Phi Phi Island dan akan menginap di Phi Phi Relax Beach Resort serta ingin mencari kapal menuju ke hotel, cari saja Mr. Bob Marley. Pria berambut gimbal dan bergaya ala Jamaican ini tukang kapal yang mengantar jemput tamu dari dan ke Phi Phi Relax Beach Resort. Penduduk setempat menjuluki ia dengan panggilan ‘Bob Marley’ karena penampilannya itu.

Setelah 30 menit menumpang kapal kecil, sampailah kami ke hotel yang dituju. di Phi Phi Relax Beach Resort adalah satu-satunya hotel yang berada di area Phak Nam Bay, Ko Phi Phi Don. Jadi resort ini memiliki fasilitas private beach, yang artinya hanya tamu hotel ini saja yang bisa menikmati pantai ini. Pantai yang indah dan kita bisa bersnorkling tak jauh dari hotel. Kamar hotel berupa cottage-cottage dan bungalow kayu di sepanjang pantai. Tempatnya luar biasa indah. Damai dan jauh dari keributan. Sangat berbeda dengan suasana di Tonsay Bay yang sangat ramai dan padat. Tempat ini sangat cocok bagi pasangan honeymoon dan orang-orang yang ingin menjauhkan diri dari keramaian. Sangat cocok untuk istirahat dan relaksasi. Tidak mengada-ada kalau tempat ini dinamakan Phi Phi Relax Beach Resort. Di lain sisi, tempat ini sangat tidak cocok buat anda yang suka party di malam hari karena tidak ada lagi kapal dari dan menuju ke hotel. Kalaupun ada sifatnya charter dengan harga yang sangat tinggi.

Lagi-lagi, menginap di sini membuat kami merasakan jadi orang kaya!! Kapan lagi coba bisa merasakan kemewahan seperti ini dengan harga yang tidak terlalu mencekik. Rate kamar berkisar antara 1000-4000 baht, tergantung tipe kamar. Kami memilih yang termurah pastinya. Toh, kenyamanan pantai dan suasananya tetap kami rasakan. Kalau di Indonesia, hampir tidak ada resort mewah yang tarifnya 300 ribu rupiah per malam.

Sebagai informasi, harga rata-rata kamar di Phi Phi Island memang tinggi. Untuk budget hotel paling rendah berkisar 600 baht dengan kondisi seadanya. Jadi kalau ada uang sedikit lebih, saran saya, coba menginap di resort yang tarifnya memang lebih tinggi. Tetapi sangat sesuai dengan suasana dan fasilitas yang ditawarkan.
Karena hotel ini jauh dari mana-mana, sebaiknya anda membeli semua keperluan anda di Tonsay Bay sebelum menumpang kapal kecil. Karena harga di hotel lebih mahal daripada di Tonsay. Yang tidak bisa dielakkan adalah biaya makan, terutama makan malam karena kita tidak bisa ke mana-mana lagi. Listrik di tempat ini juga hanya beroperasi di malam hari, yaitu antara pukul 6 sore sampai 6 pagi. Yah, semua hal ada plus dan minusnya kan? Tergantung anda mau memilih yang mana.

Malam itu kami habiskan dengan menikmati kedamaian alam dan mendengarkan deburan ombak. Inilah yang namanya liburan, damai, rilex dan untuk sementara melupakan hal-hal yang memberatkan.

Kamis, 28 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 8. Take a Break after Sun and Sea at Krabi Town



Pagi hari kami habiskan dengan berleyeh-leyeh di pantai. Saya membayangkan suara musik dan seandainya ada matras, mungkin saya akan latihan yoga di tempat. Menikmati keindahan alam dan suasana damai yang sayangnya belum mampu kami abadikan melalui photo secara sempurna. Jadi yang bisa kami lakukan adalah menikmatinya untuk disimpan di dalam memori, di dalam hati dan memori.

Baru pada pukul 10 pagi minivan menjemput kami untuk kembali ke Krabi. Di dalam minivan ada beberapa penumpang lain selain kami, semuanya bule. Dan semuanya gosong dengan kulit merah. Semuanya terlihat bahagia dan bangga dengan warna kulitnya.

Kami sampai di Krabi Town sekitar jam 1 siang. Kami memutuskan berjalan-jalan di Krabi town sebelum kembali ke Ao Nang. Kami mengujungi Wat Kao Museum, Krabi Contemporary Art Museum, Kaewkorawaram Temple dan tugu kepiting. Nama kota Krabi ternyata berasal dari Kepiting = Crab. Entah kenapa kota ini dinamakan demikian, yang pasti ada kaitannya dengan kepiting *ngasal.com*.

Berkeliling kota Krabi Town ini adalah salah satu cara kami ‘break’ sejenak dari berlaut ria. Untuk menghindari kejenuhan karena sudah beberapa hari kami terus main di laut. Di krabi town ini juga kami menemukan sup iga ala Thailand yang maknyus banget. Segernya poll. Padahal kami hanya makan di warung pinggir jalan biasa (bukan restoran). Harganya pun murah. Dalam hal makanan dan harga ini, I love Thailand.
Sore menjelang, kami akhirnya kembali ke hotel di Ao Nang untuk (lagi-lagi) bersantai. Di hotel tempat kami menginap ada fasilitas kolam renang dan tempat gym. Jadi kita bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas ini di waktu senggang. Bayangkan bagaimana rasanya berenang di kolam renang yang tepat ada di bawah tebing dengan latar belakang suara alam. Ajib ….

Rabu, 27 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 7. The Nice and Quiet Ko Lanta



Hari ketujuh, kami melanjutkan perjalanan ke Ko Lanta dengan menumpang minivan yang telah dipesan sehari sebelumnya. Harga tiket minivan Ao Nang – Ko Lanta adalah 800 baht. Perjalanan dari Ao Nang ke Ko Lanta dinempuh dalam waktu selama 4 jam. Sebenarnya, kalau kita datang saat peak season, yaitu antara bulan November – Maret ada kapal kapal penumpang dari dan ke Ko Lanta dari Krabi, Ao nang, Ko Phi Phi, Railay maupun Phuket. Tetapi karena kami datang saat low season, jalan darat dan 2x penyebrangan ferry adalah satu-satunya cara menuju ke sana. Kami menitipkan sebagian besar barang di hotel di Ao Nang, karena kami berencana akan kembali lagi ke sini. Jadi kami tidak perlu membawa banyak bawaan ke Ko Lanta. Biar gak repot.

Kami tiba di Kwak Kwang Beach Resort sekitar pukul 12 siang. Resort ini terletak di private beach. Jadi ini adalah satu-satunya hotel di area Klong Dao Beach, Ko Lanta yang hanya berjarak 10 menit dari Pelabuhan Saladan Pier. Suasana yang cukup sepi dan jauh dari peradaban ada plus dan minusnya. Kita bisa dengan tenang bersantai ria di sini, tetapi kita jadi ‘terjebak’ untuk makan di restoran hotel  terutama untuk makan malam karena tidak ada pilihan lain. Harga kamar bungalow yang kami sewa adalah 650 baht. Lumayan mahal untuk ukuran Thailand, akan tetapi kalau dilihat tempat dan lokasinya it’s worthed. Kamar kami sudah ber AC, kamar mandi dalam, lengkap dengan TV dan pemanas air. Sayangnya, hotel ini adalah hotel tua yang saat kami datang sedang dalam proses renovasi. Jadi ada beberapa fasilitas yang tidak berfungsi. Kami batal leyeh-leyeh  di kolam renang view langsung ke pantai karena juga sedang direnovasi.

Setelah checkin kami menyewa tuk tuk sekitar 600 baht untuk berkeliling pulau. Tuk tuk adalah kendaraan khas di Thailand yang mirip dengan bentor di Medan, hanya lebih besar. Ko lanta ini adalah pulau yang cukup besar denagna mayoritas penduduknya adalah nelayan dan muslim. Saya sempat kaget banget saat mendengar suara adzan magrib di pulau ini. Ko lanta memiliki laut yang indah, dan merupakan destinasi diving yang cukup terkenal. Karena kami bukan divers, jadi kami cukup puas hanya berjalan-jalan sekeliling pulau. Kami mengunjungi kota tua Ko Lanta, kampung nelayan, mangrove, tempat pelatihan dan wisata trekking gajah serta beberapa pantai indah dan point view dengan pemandangan yang indah.

Suara deburan pantai menemani tidur kami yang damai malam itu.

Selasa, 26 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 6. Ao Nang – Hong Islands : Green Ocean with Green Limestone Peak



Jam 8 pagi, setelah sarapan kami dijemput untuk ke meeting point untuk day tour hari itu. Kami memesan day tour ini semalam di hotel tak lama setelah check-in. Kami beruntung karena datang di saat low season, sehingga harga-harga lebih murah daripada peak season. Untuk Day tour Hong Islands ini dibanderol dengan harga 600 baht atau sekitar 180 ribu rupiah/orang kalau menggunakan long tail dan 1000 baht kalau menggunakan speed boat. Sudah all in, termasuk makan siang, shuttle antar jemput, tiket masuk, boat, guide dan alat snorkling. Ada lagi tour lain yaitu 4 islands tour yang dibanderol dengan harga 400 baht (by long tail boat) dan 700 baht (by speed boat) dan Phi Phi islands tour dengan harga 900 baht/orang (by speed boat only). Perbedaan harga ini karena jarak pulau dari daratan Krabi. Harga - harga ini bisa naik menjadi dua kali lipat di saat peak season.

Dalam tour ini kami mengunjungi beberapa pulau, mulai dari Lading Island, Rai Island, Pakbia Island, Daeng Island dan pastinya Hong Island beserta lagunanya (Hong’s Lagoon). Mata kami dimanjakan dengan pemandangan indah laut hijau dan jernih beserta batu-batu dan bukit kapur berwarna hijau yang jadi ciri khas pemandangan di daerah Krabi, Thailand. Di sini kami puas bersnorkling, berenang dan memuaskan nafsu berfoto dan ambil foto. Sayangnya, laut di sekitar area ini banyak terdapat ubur-ubur beracun. Jadi harus extra hati-hati saat berenang. Saat di lagoon, kami malah tak bisa berenang sama sekali karena ubur-ubur yang sangat banyak. Rasanya seperti berperahu di tengah cendol, tetapi cendol beracun. Beda dengan kalau berenang di Danau kakaban, Berau-Kaltim yang ubur-uburnya tidak beracun, jadi aman.

Di Hong Island ini juga ada sisa-sisa peristiwa Tsunami beberapa tahun yang lalu. Gempa bumi yang berpusat di Aceh itu, imbasnya terasa hingga Thailand dan beberapa tempat lainnya. Reruntuhan dan foto-foto pasca tsunami juga dipampang di sana. Hal ini untuk mengingatkan manusia akan bencana dahsyat tersebut dan mengenang para korban yang sebagian besar adalah wisatawan yang sedang berlibur di Thailand saat itu.

Secara keseluruhan, tour yang dijalankan oleh Baracuda Tour Ao Nang ini cukup memuaskan. Karena harga yang dibayarkan cukup kompetitif dan sudah all in, jadi peserta hanya tinggal bawa badan, jalan, loncat dan berenang :D Kami kembali ke pantai Aonang sore hari setelah puas bermain air. Sebelum kembali ke hotel, kami berjalan-jalan dulu di sekitar pantai.

Kami makan malam di salah satu restoran di area pantai Ao Nang. Niatnya untuk mencicipi lebih banyak variasi makanan Thailand dan membandingkan harga. Ternyata, makanan di hotel lebih enak dan tetap lebih murah daripada di tempat ini.

Di sekitar pantai Ao Nang banyak terdapat hotel segala jenis dan tingkatan harga. Mulai dari bintang lima sampai bintang kecil. Begitupun dengan restoran dan tempat makan, sesuai dengan selera dan kemampuan dompet anda. Berbagai macam masakan tersedia di restoran-restoran sepanjang pantai. Semakin malam pantai semakin ramai. Toko dan pedagang souvernir juga berjejeran di sepanjang jalan. Kalau anda ingin belanja anda harus menawar. Karena di Thailand, apapun harus ditawar kalau ingin mendapat harga yang baik. Mulai dari hotel, souvernir, tour, dll. Kecuali di tempat makan yang sudah jelas harganya.

Secara garis besar, harga-harga di Thailand lebih murah daripada di Indonesia. Jadi buat teman-teman yang ingin ke luar negri dengan biaya terbatas kenapa tidak pergi ke Thailand. Menurut pendapat saya pribadi, daripada harus ke Singapore yang mahal atau ke Malaysia yang terlalu ‘mirip’ dengan Indonesia hingga hampir gak berasa ke luar negeri, Thailand adalah pilihan yang lebih baik. Alam yang indah, makanan enak, budaya juga beragam. Ini bukan promosi pariwisata Thailand loh ya.

Senin, 25 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 5. A Long Journey From Penang to Ao Nang Krabi




Esok paginya, kami berangkat ke Krabi dengan menumpang sebuah minivan bertarif RM60/orang. Perjalanan dari Penang ke Krabi normalnya memakan waktu sekitar 6-8 jam. Tergantung banyak hal, terutama nasib. Karena minivan yang harus muter-muter dulu untuk menjemput para penumpang sebelum berangkat ke luar kota. Dalam perjalanan minivan harus berhenti beberapa kali untuk makan siang, di perbatasan dan ganti van.

Seperti di perbatasan sebelumnya, kami tidak  mengalami kendala saat melintasi perbatasan. Setelah melewati perbatasan, Minivan berhenti sekitar 1 jam untuk istirahat makan siang. Kesan pertama makanan Thailand : maknyus. Padahal ini hanya warung biasa dengan menu rumahan biasa. Tapi rasanya enak dan harganya pun bersahabat untuk kocek gembel traveller seperti kami.

Kami harus berganti van di Surathani dan harus menunggu sekitar satu jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Krabi. Di minivan dari surathani ini kami bertemu 4 orang rombongan tourist ABG asal Riau – Indonesia dengan bawaan rempong. Bayangkan, minivan sebesar itu harus dijejeli penumpang yang mepet dan tas-tas trolly mereka yang segede gaban. OMG!! Belum lagi gaya mereka yang ampun DJ… ‘sok mengkota’ banget!! Ada yang bawa bantal n boneka segala. Gubrak!!  Jadi tengsin gw sebagai orang yang berasal dari negara yang sama.

Selain saya, Dahlia dan 4 orang ABG tadi, ada beberapa orang bule. Dan masing-masing asyik dengan pasangannya boo. Emang dasar bule ya, mereka cuek aja tuh pegang-pegangan , peluk-pelukan dan cium-ciuman di minivan penuh penumpang kaya gitu. Serasa dunia milik berdua cuy. Yang laen ngontrak.
Setelah hampir 9 jam perjalanan, pada pukul 4 sore sampai juga kami di Krabi Town. Sebenarnya sopir minivan menawarkan untuk mengantarkan kami sampai Ao Nang tetapi dengan biaya tambahan sebesar  500 baht per orang atau sekitar 150 ribu rupiah/orang. Ditawarpun jatuhnya hanya 300 baht. Nehi!! It’s too expensive. Mau coba ngegetok, dia pikir kami gak tau pasaran harga di sana apa? *keki setengah mati*. Akhirnya kami memutuskan turun di Krabi town.

Dari Krabi town, kami menumpang angkutan umum semacam delman tetapi menggunakan tenaga motor menuju Ao Nang dengan tarif 50 Baht per orang. Ini adalah tarif sore dan malam, kalau siang hari tarifnya hanya 40 baht atau sekitar 12 ribu rupiah per orang. Pak supir mengantarkan kami ke depan gang hotel tempat kami menginap. Menurutnya kami harus berjalan kaki ke dalam sejauh 500 m. That’s ‘good’ news.

Kami terus berjalan menyusuri jalan yang ditunjuk si bapak supir tadi. 10 menit..20 menit.. rasanya gak sampai-sampai. Mana jalanan menanjak dan hari semakin gelap plus kami harus berjalan dengan barang bawaan segede gaban. Hampir putus asa karena tak jua ada tanda-tanda kehadiran si Hotel. Ao Nang Cliff View Resort. Dari namanya sepertinya bukan isapan jempol. Kami curiga hotel ini beneran terletak di ‘cliff’ atau tebing di atas bukit. Mampus!! Kami semakin panik. Ditambah lagi lampu penerangan yang terbatas. Semakin ke dalam semakin gelap dan terdengar suara alam. Panik makin menjadi apalagi ketika nomor telpon hotel yang tertera di bukti booking hotel online tidak bisa dihubungi karena sibuk terus. Saya dan Dahlia sempat berdebat dan hampir ‘berduel’ di tengah jalan. Bayangkan, kami hanya berdua, dua cewek berbawaan segede gaban mendaki jalan menaik menuju hutan, gelap, tanpa penerangan cukup, tak tahu pasti di mana hotelnya berada, apakah kami nyasar atau tidak dan yang paling penting, ini di negri orang yang kami tidak mengerti bahasanya! Sungguh sesuatu banget! *take a deep breath* Untungnya kami cukup waras untuk tidak bunuh-bunuhan di negri orang.

Kami memberanikan diri untuk terus berjalan ke atas (dengan menyimpan pisau lipat di dalam saku pastinya). Kami kegirangan saat melihat bangunan dengan lampu-lampu benderang seperti hotel. Ternyata, bangunan yang kami lihat itu bukan hotel yang kami tuju, tetapi paling tidak kami mulai percaya diri kalau di sekitar situ ada kehidupan dan penginapan. Ternyata dugaan kami benar, tak jauh dari situ terlihatlah papan nama yang kami rindukan. Papan penunjuk arah panah Ao Nang Cliff View Resort, 100 m. Thanks God, we take the right way.

Finally, we are arrived at the hotel! Hampir teriak bahagia rasanya begitu melihat gerbang hotel. Ao Nang Cliff View Resort benar-benar sesuai namanya. Terletak persis di bawah tebing yang sekelilingnya hutan. Jadi kita bisa mendengar suara monyet dan suara alam lainnya di sini. Setelah check-in kami diantar ke kamar kami . Jalan menuju ke kamar juga lumayan jauh dari gerbang plus banyak pepohonan di kanan kiri jalan. Jadi jangan iseng celingak celinguk berjalan di waktu malam kalau tidak mau melihat ‘sesuatu’. Kamar kami yang bernomor C10 adalah sebuah bungalow kayu yang sangat unik dengan satu tempat tidur double (tanpa ranjang), kipas angin dan kamar mandi dalam. Seperti umumnya bungalow, bahan dasar bangunannya adalah kayu dan bambu. Kesan pertama, I love this place. Walaupun butuh perjuangan mencapai tempat ini, but it’s worthed enough.  Dengan harga 450 baht atau sekitar 130 ribu rupiah/malam, tempat ini membuat kami merasa jadi orang kaya!

Oh ya, saat check-in tadi, kami baru tahu kalau sebenarnya ada shuttle dari dan menuju hotel ini dari jalan raya dekat pantai. OMG!! Kalau tahu begitu ngapain juga kami harus mendaki dan hampir duel tadi?? *head bang* Pantas saja, dari tadi mikir, masa sih ada hotel yang lokasinya terpencil begini. Orang pada malas kali datang ke sana, kecuali orang-orang seperti kami yang hanya booking via internet tanpa tahu kondisi aktualnya.

Kami lelah, kelaparan dan lengket akut. Cucian kotor mulai banyak dan kami memang akan beberapa hari di sini. Jadi kami mulai unpacking barang sebelum mandi, beres-beres dan makan malam. Seger banget rasanya setelah membersihkan badan. Restoran di hotel menyajikan beberapa menu makan khas Thailand dan internasional. Rasanya enak dan harganya yang murah. Dengan 150 baht untuk dua orang kami bisa makan enak, kenyang dan aman. Karena makanan di tempat ini halal seperti pada umumnya di daerah Thailand Selatan.