Sabtu, 30 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 10. From Ko Phi Phi to Phuket : From Heaven to ‘Heaven’



Kami mengawali hari dengan menikmati suasana pantai di pagi hari. Langit jingga, pasir pantai yang masih berpola. kami bermalas-malasan ria. Berharap waktu masih panjang dan kami tak harus segera meninggalkan ‘surga’ ini. Baru agak siangan kami mulai bersnorkling ria dan bercanda dengan ikan berwarna warni yang banyak di sana. Pantai dan laut yang indah, walaupun terumbu karang di tempat ini tidak terlalu luar biasa. Masih lebih bagus di Indonesia. Akan tetapi (lagi-lagi) manajemen pariwisata dan kesediaan fasilitas serta kemudahan akses menjadi faktor utama kemajuan pariwisata mereka. Seharusnya kita banyak belajar dari negara-negara tetangga.

Sebenarnya kami belum mau beranjak dan bersiap-siap untuk pergi, tetapi mau bagaimana, kami sudah harus check-out dari hotel jam 12 siang, jadi kami segera berhenti bermain air lalu membersihkan badan dan packing-packing.

Rasanya masih tak mau beranjak pergi dari sini. Menikmati hidup dan indahlnya alam, tanpa harus memikirkan hal-hal rumit, pekerjaan, tanggung jawab, kemacetan dan sebagainya. Pukul 1 siang kami sudah harus kembali ke pelabuhan untuk menumpang kapal yang akan membawa kami ke Phuket. Bye Bye Ko Phi Phi’s Heaven.

Kapal yang kami tumpangi berangkat pukul 14.30. perjalanan dari Ko Phi Phi ke Phuket ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam dengan biaya 500 baht per orang. Di perjalanan, cuaca mulai memburuk. Hal ini karena saat ini sudah mulai memasuki moonsoon season yang ditandai dengan meningkatnya curah hujan,  angin kencang dan meningkatnya ketinggian gelombang laut. Dalam cuaca seperti ini sangat sulit dan bahkan dalam taraf tertentu bisa berbahaya kalau melakukan aktifitas di laut. Ombak besar yang sangat terasa di kapal besar ini membuat kami tersadar kalau kami sangat beruntung telah menyelesaikan aktifitas di laut kemarin. Thanks God, saat kami bermain di laut beberapa hari sebelumnya cuaca masih cerah ceria. Alhamdulillah.

Setelah berjuang menerjang ombak sepanjang perjalanan, akhirnya kapalpun tiba di pelabuhan Phuket. Dari pelabuhan, kami menumpang minivan yang mengatarkan kami ke hotel tempat kami menginap di daerah Patong Beach.

Kami berencana menginap dua malam di Phuket. Kami memilih Seven Seas Hotel Phuket yang berada di area Patong Beach tak jauh dari Novotel Hotel Phuket. Kami menginap di kamar standart double ber AC dengan biaya 600 baht atau sekitar 180 ribu per malam. Patong Beach adalah salah satu pantai yang terkenal di Phuket. Di sini banyak berdiri hotel dan guest house, rumah makan dan restoran segala tingkatan harga. Selain itu, area Patong terkenal dengan hiburan malamnya yang ‘ramai’.

Setelah istirahat dan membersihkan tubuh, kami siap untuk mengeksplore sekeliling Patong. Sore mulai menjelang, kami berjalan santai di sepanjang pantai. Kursi kursi berjejer sepanjang pantai. Tampak pula beberapa orang tukang pijat dan salon rambut ada kadarnya. Beberapa orang turis tampak sedang menikmati Thai Massage dan ada juga yang sedang membuat rambutnya menjadi keriting gimbal ala Jamaican. 

Matahari makin turun dan langit makin menjingga. Kami duduk di tepi pantai sambil menunggu sunshet. Sayangnya, karena cuaca buruk langit berawan dan sunsetnya tidak nampak. Kami Cuma bengong di tepi pantai sambil memperhatikan orang lalu lalang. Setelah senja, kami melanjutkan perjalanan ke arah pusat keramaian dimana banyak terdapat hotel dan rumah makan yang merupakan pusat area para backpacker. Banyak pedagang makanan di sepanjang jalan. Saatnya wisata kuliner!

Kami mencicipi berbagai makanan kecil khas Thailand, barbeque seafood, sosis dan nugget yang diberi manis pedas, creepes semacam martabak mini, dan entah apa lagi yang kami kunyah sore itu. Kami juga berhenti dari satu tour agent ke tour agent yang lain untuk mencari harga tiket pertunjukan termurah. Phuket, terutama area Patong Beach terkenal dengan beberapa pertunjukan ‘spesial’. Mulai  dari kabaret wanita transgender, aksi para wanita ataupun transgender penghibur yang sedang ‘ mempromosikan’ dirinya dengan berani di pinggir jalan. Sampai ada yang pole dancing segala loh. Kami memilih untuk menyaksikan pertunjukan kabaret para transgender ini. Karena ramai dan banyak peminatnya berdiri beberapa kelompok kabaret, yang paling terkenal diantaranya adalah Simon Cabaret dan Aphrodite. Akhirnya kami bisa mendapatkan tiket pertunjukan untuk esok malam sebesar 500 baht per orang. Untuk Aphrodite dijual dengan harga  50 baht lebih murah.

Patong sering disebut sebagai ‘Heaven of Evil Things”. Karena banyak pertunjukan ‘khas’ malam di sini. Selain kabaret yang lebih sopan, sebenarnya ada beberapa macam pertunjukan lain, seperti pingpong show. Tiket pertunjukan ‘Pingpong’ show ini tidak dijual terbuka karena ini adalah pertunjukan khusus dewasa. Biasanya, para tour agent yang akan menawarkan kepada para turis. Tetapi entah kenapa selama kami berkeliling dari satu tour agent yang satu ke tour agent yang lain, tak sekalipun kami ditawari pertunjukan itu. Dan kamipun tidak berani untuk menanyakannya. He3x.

Menurut salah seorang teman yang sudah pernah menyaksikan pertunjukan ini, pingpong show memang pertunjukan khusus orang ‘dewasa’ terutama para pria. Karena banyak memperlihatkan adegan dan hal-hal yang tidak pantas dilihat oleh anak kecil. Jadi makin penasaran sebenarnya *evil mode on*. Kalau dipikir-pikir pantas saja kami sama sekali tidak ditawari, karena kami berdua adalah perempuan dan dari pakaian dan kostum saya yang berjilbab ini tidak memungkinkan mereka menawari kami pertunjukan macam itu. Salah satu tidak enaknya perempuan berjilbab saat travelling terkadang kita tidak bisa menikmati dan mengekspklore destinasi wisata secara optimal. Ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan serta terlalu ‘obvious’ dan sering jadi pusat perhatian. Dianggap aneh? maybe. He3x.

Dalam perjalanan kembali ke Hotel malam itu kami melihat banyak orang sedang berkerumun di pantai. Karena penasaran, kami mendatangi kerumunan tersebut. Ternyata telah terjadi kecelakaan di pantai. Seorang wisatawan asal korea selatan hampir tenggelam saat sedang bermain selancar di pantai. Dan saat itu tim medis sedang melakukan pertolongan sebelum membawa korban ke RS.

Gelombang dan cuaca saat itu memang sedang tidak baik. Di tepi pantai pun sudah terpasang papan peringatan dan bendera merah yang melarang pengujung untuk melakukan aktifitas di air. Tetapi entah karena tidak melihat atau memang sengaja tidak mengindahkan peringatan, wisatawan itu tetap berselancar di pantai. Akibatnya, terjadilah kecelakaan tersebut. Kasihan sebenarnya wisatawan tersebut, dia datang ke Phuket untuk berlibur, tetapi malah berakhir di rumah sakit. Oleh karenanya pelajaran buat kita untuk berhati-hati dan perhatikan peringatan yang ada agar tidak terjadi celaka.

Jumat, 29 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 9. Ko Phi Phi : Paradise on Earth



Pagi hari kami sudah dijemput oleh shuttle bus untuk day tour Phi Phi Island. Kami langsung check-out dari hotel dan membawa seluruh barang-barang. Kami berencana untuk ikut day tour sampai ke Phi Phi Island dan akan bermalam di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Phuket.

Dalam day tour itu, kami mengunjungi Bamboo Island, Viking Cave, Lohsamah Bay, Monkey Beach, Hin Klang, Pileh Bay dan Maya Bay yang terkenal karena film The Beach-nya Leonardo di Caprio. Laut berwarna hijau tosca yang jernih, batu batu karang besar berwarna hijau dan pemadangan yang indah sepanjang mata memandang. Tetapi lagi-lagi sayangnya banyak ubur-ubur beracun. So , becarefull ye. Di Maya Bay, kami bersantai dan puas mengambil foto. Pantai yang kalau di film the beach ini terlihat sepi, saat kami ke sana padat gila. Manusia berbikini di mana-mana. Berenang, snorkling, main pasir ataupun sekedar sunbathing di tepi pantai. Sulit buat saya mengambil foto landscape tanpa ada manusia berseliweran di dalamnya.

 Terakhir kami berhenti di Phi Phi Don untuk makan siang. Kami menurunkan semua barang kami dari kapal karena kami akan menginap di ko Phi Phi Don malam ini. Kami makan siang prasmanan di sebuah restoran di area Tonsay Bay, Ko Phi Phi Don. Harga makan siang sudah termasuk harga day tour yang kami bayarkan sebesar 900 baht/orang.

Ko Phi Phi itu terdiri dari 2 pulau, yaitu Ko Phi Phi Ley dan Ko Phi Phi Don. Ko Phi Phi Ley itu adalah pulau tak berpenghuni yang dijadikan taman nasional tempat Maya Bay berada. Sedangkan Ko Phi Phi Don adalah pulau besar berpenghuni tempat hotel dan segala macam fasilitas untuk para tourist berada. Kalau ada orang mengatakan ia menginap di Phi Phi Island. Pastinya itu di Ko Phi Phi Don. Karena di Ko Phi Phi Ley,  tidak ada fasilitas penginapan. Wisatawan bisa menginap di sana dengan berkemah. Itupun dengan biaya tinggi dan kapasitas terbatas. Karena walau bagaimanapun ini tempat ini masih berstatus taman nasional.
Setelah mengisi perut, kami berjalan-jalan sekitar area Tonsay Bay. Area ini adalah area terpadat di seluruh Ko Phi Phi Don. Di tempat ini banyak berdesakan guesthouse dan penginapan untuk backpacker. Ditambah restauran, bar, kantor tour agent, dive operator dan sebagainya. Jalan yang hanya selebar 2-3 m ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki dengan toko-toko di kanan kiri sepanjang jalan dan para tourist berbagai bangsa yang lalu lalang. Super crowded!!

Kami terus berjalan menuju pelabuhan tempat kapal ferry dari dan ke Krabi ataupun Phuket bersandar. Kami juga sekaligus mencari tiket kapal menuju Phuket untuk esok hari. Pelabuhan Ko Phi Phi Don berukuran sedang, tidak terlalu kecil juga tidak terlalu luas. Pemandangan di pelabuhan ini dipenuhi para penumpang yang baru turun dari kapal ataupun akan naik ke kapal. Sebagian besar para bule dengan backpack besar mereka.

Untuk menuju hotel tempat kami menginap, kami harus menggunakan perahu kecil yang tarifnya 150 baht per orang. Sebenarnya bisa saja kami berjalan kaki melalui jalan setapak tetapi menempuh waktu sekitar 1 jam dengan jalan naik turun dan pehohonan di kanan kirinya. Hal ini karena hotel tempat kami menginap berada di sisi lain pulau.  Mengingat bawaan kami yang cukup berat, kami memutuskan untuk menggunakan perahu menuju ke sana.

Kalau anda ke Phi Phi Island dan akan menginap di Phi Phi Relax Beach Resort serta ingin mencari kapal menuju ke hotel, cari saja Mr. Bob Marley. Pria berambut gimbal dan bergaya ala Jamaican ini tukang kapal yang mengantar jemput tamu dari dan ke Phi Phi Relax Beach Resort. Penduduk setempat menjuluki ia dengan panggilan ‘Bob Marley’ karena penampilannya itu.

Setelah 30 menit menumpang kapal kecil, sampailah kami ke hotel yang dituju. di Phi Phi Relax Beach Resort adalah satu-satunya hotel yang berada di area Phak Nam Bay, Ko Phi Phi Don. Jadi resort ini memiliki fasilitas private beach, yang artinya hanya tamu hotel ini saja yang bisa menikmati pantai ini. Pantai yang indah dan kita bisa bersnorkling tak jauh dari hotel. Kamar hotel berupa cottage-cottage dan bungalow kayu di sepanjang pantai. Tempatnya luar biasa indah. Damai dan jauh dari keributan. Sangat berbeda dengan suasana di Tonsay Bay yang sangat ramai dan padat. Tempat ini sangat cocok bagi pasangan honeymoon dan orang-orang yang ingin menjauhkan diri dari keramaian. Sangat cocok untuk istirahat dan relaksasi. Tidak mengada-ada kalau tempat ini dinamakan Phi Phi Relax Beach Resort. Di lain sisi, tempat ini sangat tidak cocok buat anda yang suka party di malam hari karena tidak ada lagi kapal dari dan menuju ke hotel. Kalaupun ada sifatnya charter dengan harga yang sangat tinggi.

Lagi-lagi, menginap di sini membuat kami merasakan jadi orang kaya!! Kapan lagi coba bisa merasakan kemewahan seperti ini dengan harga yang tidak terlalu mencekik. Rate kamar berkisar antara 1000-4000 baht, tergantung tipe kamar. Kami memilih yang termurah pastinya. Toh, kenyamanan pantai dan suasananya tetap kami rasakan. Kalau di Indonesia, hampir tidak ada resort mewah yang tarifnya 300 ribu rupiah per malam.

Sebagai informasi, harga rata-rata kamar di Phi Phi Island memang tinggi. Untuk budget hotel paling rendah berkisar 600 baht dengan kondisi seadanya. Jadi kalau ada uang sedikit lebih, saran saya, coba menginap di resort yang tarifnya memang lebih tinggi. Tetapi sangat sesuai dengan suasana dan fasilitas yang ditawarkan.
Karena hotel ini jauh dari mana-mana, sebaiknya anda membeli semua keperluan anda di Tonsay Bay sebelum menumpang kapal kecil. Karena harga di hotel lebih mahal daripada di Tonsay. Yang tidak bisa dielakkan adalah biaya makan, terutama makan malam karena kita tidak bisa ke mana-mana lagi. Listrik di tempat ini juga hanya beroperasi di malam hari, yaitu antara pukul 6 sore sampai 6 pagi. Yah, semua hal ada plus dan minusnya kan? Tergantung anda mau memilih yang mana.

Malam itu kami habiskan dengan menikmati kedamaian alam dan mendengarkan deburan ombak. Inilah yang namanya liburan, damai, rilex dan untuk sementara melupakan hal-hal yang memberatkan.

Kamis, 28 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 8. Take a Break after Sun and Sea at Krabi Town



Pagi hari kami habiskan dengan berleyeh-leyeh di pantai. Saya membayangkan suara musik dan seandainya ada matras, mungkin saya akan latihan yoga di tempat. Menikmati keindahan alam dan suasana damai yang sayangnya belum mampu kami abadikan melalui photo secara sempurna. Jadi yang bisa kami lakukan adalah menikmatinya untuk disimpan di dalam memori, di dalam hati dan memori.

Baru pada pukul 10 pagi minivan menjemput kami untuk kembali ke Krabi. Di dalam minivan ada beberapa penumpang lain selain kami, semuanya bule. Dan semuanya gosong dengan kulit merah. Semuanya terlihat bahagia dan bangga dengan warna kulitnya.

Kami sampai di Krabi Town sekitar jam 1 siang. Kami memutuskan berjalan-jalan di Krabi town sebelum kembali ke Ao Nang. Kami mengujungi Wat Kao Museum, Krabi Contemporary Art Museum, Kaewkorawaram Temple dan tugu kepiting. Nama kota Krabi ternyata berasal dari Kepiting = Crab. Entah kenapa kota ini dinamakan demikian, yang pasti ada kaitannya dengan kepiting *ngasal.com*.

Berkeliling kota Krabi Town ini adalah salah satu cara kami ‘break’ sejenak dari berlaut ria. Untuk menghindari kejenuhan karena sudah beberapa hari kami terus main di laut. Di krabi town ini juga kami menemukan sup iga ala Thailand yang maknyus banget. Segernya poll. Padahal kami hanya makan di warung pinggir jalan biasa (bukan restoran). Harganya pun murah. Dalam hal makanan dan harga ini, I love Thailand.
Sore menjelang, kami akhirnya kembali ke hotel di Ao Nang untuk (lagi-lagi) bersantai. Di hotel tempat kami menginap ada fasilitas kolam renang dan tempat gym. Jadi kita bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas ini di waktu senggang. Bayangkan bagaimana rasanya berenang di kolam renang yang tepat ada di bawah tebing dengan latar belakang suara alam. Ajib ….

Rabu, 27 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 7. The Nice and Quiet Ko Lanta



Hari ketujuh, kami melanjutkan perjalanan ke Ko Lanta dengan menumpang minivan yang telah dipesan sehari sebelumnya. Harga tiket minivan Ao Nang – Ko Lanta adalah 800 baht. Perjalanan dari Ao Nang ke Ko Lanta dinempuh dalam waktu selama 4 jam. Sebenarnya, kalau kita datang saat peak season, yaitu antara bulan November – Maret ada kapal kapal penumpang dari dan ke Ko Lanta dari Krabi, Ao nang, Ko Phi Phi, Railay maupun Phuket. Tetapi karena kami datang saat low season, jalan darat dan 2x penyebrangan ferry adalah satu-satunya cara menuju ke sana. Kami menitipkan sebagian besar barang di hotel di Ao Nang, karena kami berencana akan kembali lagi ke sini. Jadi kami tidak perlu membawa banyak bawaan ke Ko Lanta. Biar gak repot.

Kami tiba di Kwak Kwang Beach Resort sekitar pukul 12 siang. Resort ini terletak di private beach. Jadi ini adalah satu-satunya hotel di area Klong Dao Beach, Ko Lanta yang hanya berjarak 10 menit dari Pelabuhan Saladan Pier. Suasana yang cukup sepi dan jauh dari peradaban ada plus dan minusnya. Kita bisa dengan tenang bersantai ria di sini, tetapi kita jadi ‘terjebak’ untuk makan di restoran hotel  terutama untuk makan malam karena tidak ada pilihan lain. Harga kamar bungalow yang kami sewa adalah 650 baht. Lumayan mahal untuk ukuran Thailand, akan tetapi kalau dilihat tempat dan lokasinya it’s worthed. Kamar kami sudah ber AC, kamar mandi dalam, lengkap dengan TV dan pemanas air. Sayangnya, hotel ini adalah hotel tua yang saat kami datang sedang dalam proses renovasi. Jadi ada beberapa fasilitas yang tidak berfungsi. Kami batal leyeh-leyeh  di kolam renang view langsung ke pantai karena juga sedang direnovasi.

Setelah checkin kami menyewa tuk tuk sekitar 600 baht untuk berkeliling pulau. Tuk tuk adalah kendaraan khas di Thailand yang mirip dengan bentor di Medan, hanya lebih besar. Ko lanta ini adalah pulau yang cukup besar denagna mayoritas penduduknya adalah nelayan dan muslim. Saya sempat kaget banget saat mendengar suara adzan magrib di pulau ini. Ko lanta memiliki laut yang indah, dan merupakan destinasi diving yang cukup terkenal. Karena kami bukan divers, jadi kami cukup puas hanya berjalan-jalan sekeliling pulau. Kami mengunjungi kota tua Ko Lanta, kampung nelayan, mangrove, tempat pelatihan dan wisata trekking gajah serta beberapa pantai indah dan point view dengan pemandangan yang indah.

Suara deburan pantai menemani tidur kami yang damai malam itu.

Selasa, 26 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 6. Ao Nang – Hong Islands : Green Ocean with Green Limestone Peak



Jam 8 pagi, setelah sarapan kami dijemput untuk ke meeting point untuk day tour hari itu. Kami memesan day tour ini semalam di hotel tak lama setelah check-in. Kami beruntung karena datang di saat low season, sehingga harga-harga lebih murah daripada peak season. Untuk Day tour Hong Islands ini dibanderol dengan harga 600 baht atau sekitar 180 ribu rupiah/orang kalau menggunakan long tail dan 1000 baht kalau menggunakan speed boat. Sudah all in, termasuk makan siang, shuttle antar jemput, tiket masuk, boat, guide dan alat snorkling. Ada lagi tour lain yaitu 4 islands tour yang dibanderol dengan harga 400 baht (by long tail boat) dan 700 baht (by speed boat) dan Phi Phi islands tour dengan harga 900 baht/orang (by speed boat only). Perbedaan harga ini karena jarak pulau dari daratan Krabi. Harga - harga ini bisa naik menjadi dua kali lipat di saat peak season.

Dalam tour ini kami mengunjungi beberapa pulau, mulai dari Lading Island, Rai Island, Pakbia Island, Daeng Island dan pastinya Hong Island beserta lagunanya (Hong’s Lagoon). Mata kami dimanjakan dengan pemandangan indah laut hijau dan jernih beserta batu-batu dan bukit kapur berwarna hijau yang jadi ciri khas pemandangan di daerah Krabi, Thailand. Di sini kami puas bersnorkling, berenang dan memuaskan nafsu berfoto dan ambil foto. Sayangnya, laut di sekitar area ini banyak terdapat ubur-ubur beracun. Jadi harus extra hati-hati saat berenang. Saat di lagoon, kami malah tak bisa berenang sama sekali karena ubur-ubur yang sangat banyak. Rasanya seperti berperahu di tengah cendol, tetapi cendol beracun. Beda dengan kalau berenang di Danau kakaban, Berau-Kaltim yang ubur-uburnya tidak beracun, jadi aman.

Di Hong Island ini juga ada sisa-sisa peristiwa Tsunami beberapa tahun yang lalu. Gempa bumi yang berpusat di Aceh itu, imbasnya terasa hingga Thailand dan beberapa tempat lainnya. Reruntuhan dan foto-foto pasca tsunami juga dipampang di sana. Hal ini untuk mengingatkan manusia akan bencana dahsyat tersebut dan mengenang para korban yang sebagian besar adalah wisatawan yang sedang berlibur di Thailand saat itu.

Secara keseluruhan, tour yang dijalankan oleh Baracuda Tour Ao Nang ini cukup memuaskan. Karena harga yang dibayarkan cukup kompetitif dan sudah all in, jadi peserta hanya tinggal bawa badan, jalan, loncat dan berenang :D Kami kembali ke pantai Aonang sore hari setelah puas bermain air. Sebelum kembali ke hotel, kami berjalan-jalan dulu di sekitar pantai.

Kami makan malam di salah satu restoran di area pantai Ao Nang. Niatnya untuk mencicipi lebih banyak variasi makanan Thailand dan membandingkan harga. Ternyata, makanan di hotel lebih enak dan tetap lebih murah daripada di tempat ini.

Di sekitar pantai Ao Nang banyak terdapat hotel segala jenis dan tingkatan harga. Mulai dari bintang lima sampai bintang kecil. Begitupun dengan restoran dan tempat makan, sesuai dengan selera dan kemampuan dompet anda. Berbagai macam masakan tersedia di restoran-restoran sepanjang pantai. Semakin malam pantai semakin ramai. Toko dan pedagang souvernir juga berjejeran di sepanjang jalan. Kalau anda ingin belanja anda harus menawar. Karena di Thailand, apapun harus ditawar kalau ingin mendapat harga yang baik. Mulai dari hotel, souvernir, tour, dll. Kecuali di tempat makan yang sudah jelas harganya.

Secara garis besar, harga-harga di Thailand lebih murah daripada di Indonesia. Jadi buat teman-teman yang ingin ke luar negri dengan biaya terbatas kenapa tidak pergi ke Thailand. Menurut pendapat saya pribadi, daripada harus ke Singapore yang mahal atau ke Malaysia yang terlalu ‘mirip’ dengan Indonesia hingga hampir gak berasa ke luar negeri, Thailand adalah pilihan yang lebih baik. Alam yang indah, makanan enak, budaya juga beragam. Ini bukan promosi pariwisata Thailand loh ya.

Senin, 25 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 5. A Long Journey From Penang to Ao Nang Krabi




Esok paginya, kami berangkat ke Krabi dengan menumpang sebuah minivan bertarif RM60/orang. Perjalanan dari Penang ke Krabi normalnya memakan waktu sekitar 6-8 jam. Tergantung banyak hal, terutama nasib. Karena minivan yang harus muter-muter dulu untuk menjemput para penumpang sebelum berangkat ke luar kota. Dalam perjalanan minivan harus berhenti beberapa kali untuk makan siang, di perbatasan dan ganti van.

Seperti di perbatasan sebelumnya, kami tidak  mengalami kendala saat melintasi perbatasan. Setelah melewati perbatasan, Minivan berhenti sekitar 1 jam untuk istirahat makan siang. Kesan pertama makanan Thailand : maknyus. Padahal ini hanya warung biasa dengan menu rumahan biasa. Tapi rasanya enak dan harganya pun bersahabat untuk kocek gembel traveller seperti kami.

Kami harus berganti van di Surathani dan harus menunggu sekitar satu jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Krabi. Di minivan dari surathani ini kami bertemu 4 orang rombongan tourist ABG asal Riau – Indonesia dengan bawaan rempong. Bayangkan, minivan sebesar itu harus dijejeli penumpang yang mepet dan tas-tas trolly mereka yang segede gaban. OMG!! Belum lagi gaya mereka yang ampun DJ… ‘sok mengkota’ banget!! Ada yang bawa bantal n boneka segala. Gubrak!!  Jadi tengsin gw sebagai orang yang berasal dari negara yang sama.

Selain saya, Dahlia dan 4 orang ABG tadi, ada beberapa orang bule. Dan masing-masing asyik dengan pasangannya boo. Emang dasar bule ya, mereka cuek aja tuh pegang-pegangan , peluk-pelukan dan cium-ciuman di minivan penuh penumpang kaya gitu. Serasa dunia milik berdua cuy. Yang laen ngontrak.
Setelah hampir 9 jam perjalanan, pada pukul 4 sore sampai juga kami di Krabi Town. Sebenarnya sopir minivan menawarkan untuk mengantarkan kami sampai Ao Nang tetapi dengan biaya tambahan sebesar  500 baht per orang atau sekitar 150 ribu rupiah/orang. Ditawarpun jatuhnya hanya 300 baht. Nehi!! It’s too expensive. Mau coba ngegetok, dia pikir kami gak tau pasaran harga di sana apa? *keki setengah mati*. Akhirnya kami memutuskan turun di Krabi town.

Dari Krabi town, kami menumpang angkutan umum semacam delman tetapi menggunakan tenaga motor menuju Ao Nang dengan tarif 50 Baht per orang. Ini adalah tarif sore dan malam, kalau siang hari tarifnya hanya 40 baht atau sekitar 12 ribu rupiah per orang. Pak supir mengantarkan kami ke depan gang hotel tempat kami menginap. Menurutnya kami harus berjalan kaki ke dalam sejauh 500 m. That’s ‘good’ news.

Kami terus berjalan menyusuri jalan yang ditunjuk si bapak supir tadi. 10 menit..20 menit.. rasanya gak sampai-sampai. Mana jalanan menanjak dan hari semakin gelap plus kami harus berjalan dengan barang bawaan segede gaban. Hampir putus asa karena tak jua ada tanda-tanda kehadiran si Hotel. Ao Nang Cliff View Resort. Dari namanya sepertinya bukan isapan jempol. Kami curiga hotel ini beneran terletak di ‘cliff’ atau tebing di atas bukit. Mampus!! Kami semakin panik. Ditambah lagi lampu penerangan yang terbatas. Semakin ke dalam semakin gelap dan terdengar suara alam. Panik makin menjadi apalagi ketika nomor telpon hotel yang tertera di bukti booking hotel online tidak bisa dihubungi karena sibuk terus. Saya dan Dahlia sempat berdebat dan hampir ‘berduel’ di tengah jalan. Bayangkan, kami hanya berdua, dua cewek berbawaan segede gaban mendaki jalan menaik menuju hutan, gelap, tanpa penerangan cukup, tak tahu pasti di mana hotelnya berada, apakah kami nyasar atau tidak dan yang paling penting, ini di negri orang yang kami tidak mengerti bahasanya! Sungguh sesuatu banget! *take a deep breath* Untungnya kami cukup waras untuk tidak bunuh-bunuhan di negri orang.

Kami memberanikan diri untuk terus berjalan ke atas (dengan menyimpan pisau lipat di dalam saku pastinya). Kami kegirangan saat melihat bangunan dengan lampu-lampu benderang seperti hotel. Ternyata, bangunan yang kami lihat itu bukan hotel yang kami tuju, tetapi paling tidak kami mulai percaya diri kalau di sekitar situ ada kehidupan dan penginapan. Ternyata dugaan kami benar, tak jauh dari situ terlihatlah papan nama yang kami rindukan. Papan penunjuk arah panah Ao Nang Cliff View Resort, 100 m. Thanks God, we take the right way.

Finally, we are arrived at the hotel! Hampir teriak bahagia rasanya begitu melihat gerbang hotel. Ao Nang Cliff View Resort benar-benar sesuai namanya. Terletak persis di bawah tebing yang sekelilingnya hutan. Jadi kita bisa mendengar suara monyet dan suara alam lainnya di sini. Setelah check-in kami diantar ke kamar kami . Jalan menuju ke kamar juga lumayan jauh dari gerbang plus banyak pepohonan di kanan kiri jalan. Jadi jangan iseng celingak celinguk berjalan di waktu malam kalau tidak mau melihat ‘sesuatu’. Kamar kami yang bernomor C10 adalah sebuah bungalow kayu yang sangat unik dengan satu tempat tidur double (tanpa ranjang), kipas angin dan kamar mandi dalam. Seperti umumnya bungalow, bahan dasar bangunannya adalah kayu dan bambu. Kesan pertama, I love this place. Walaupun butuh perjuangan mencapai tempat ini, but it’s worthed enough.  Dengan harga 450 baht atau sekitar 130 ribu rupiah/malam, tempat ini membuat kami merasa jadi orang kaya!

Oh ya, saat check-in tadi, kami baru tahu kalau sebenarnya ada shuttle dari dan menuju hotel ini dari jalan raya dekat pantai. OMG!! Kalau tahu begitu ngapain juga kami harus mendaki dan hampir duel tadi?? *head bang* Pantas saja, dari tadi mikir, masa sih ada hotel yang lokasinya terpencil begini. Orang pada malas kali datang ke sana, kecuali orang-orang seperti kami yang hanya booking via internet tanpa tahu kondisi aktualnya.

Kami lelah, kelaparan dan lengket akut. Cucian kotor mulai banyak dan kami memang akan beberapa hari di sini. Jadi kami mulai unpacking barang sebelum mandi, beres-beres dan makan malam. Seger banget rasanya setelah membersihkan badan. Restoran di hotel menyajikan beberapa menu makan khas Thailand dan internasional. Rasanya enak dan harganya yang murah. Dengan 150 baht untuk dua orang kami bisa makan enak, kenyang dan aman. Karena makanan di tempat ini halal seperti pada umumnya di daerah Thailand Selatan.

Minggu, 24 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 4. Penang : No Curry in My Life, Kecuali Terpaksa



Minggu, 24 Juni 2012 sekitar pukul 8 pagi kami berangkat dari terminal bis Puduraya menuju Penang. Tarif bus RM 39/orang. Seharusnya jam 1 kami sudah sampai di Penang, akan tetapi karena jalan raya yang macet terutama jalur untuk keluar kota KL, kami baru sampai di Penang sekitar jam 2 siang. Lalu kami melanjutkan naik CAT free shuttle bis dari pool bis ke Tune Hotel Penang. Lagi-lagi kami memanfaatkan harga promo di hotel tersebut. Karena kami cukup membayar RM17 per malam. Murahnya!

Penang adalah sebuah pulau yang cukup luas dan memiliki beberapa atraksi wisata. Tetapi yang kami fokuskan pada kesempatan ini adalah area kota tua dan George Town. Kami tidak tertarik wisata pantai di sini karena setelah ini kami akan puas berlaut dan berpantai ria di Thailand Selatan. Seperti Melaka,  kota George Town bisa dikelilingi dengan berjalan kaki. Cukup dengan bermodalkan peta kita bisa berkeliling area ini. Ada berbagai chinesse temple di sini, juga ada Masjid Kapitan Keling dan Sri Mariamman Temple. Kita juga bisa mengunjungi Cheong Fatt Tze Mansion, Penang Museum dan Pinang  Peranakan museum. Kami juga mengunjungi markas Pejuang Revolusi China Sun Yat Sen di pulau Penang. Banyak bangunan tua rapi dan terawat baik di area ini. Pantas saja diberi predikat world heritage site oleh UNESCO. Lagi-lagi saya jadi berpikir, andai kawasan kota tua Jakarta dan di kota-kota lain di Indonesia ditata dan dirawat dengan baik pasti akan menarik wisatawan lebih banyak.

Kata orang, Penang adalah surganya kuliner. Maka kami mecicipi beberapa panganan di sini. Mulai dari laksa penang, rujak penang, cendol, etc. rasanya.. hmm.. tergantung selera yang makan sih. Tapi, buat lidah saya agak aneh, terutama rujaknya. Karena rujak buah disini ditaburi bubuk ikan. Kurang cocok dengan lidah saya. Dan karena selama di Singapore dan Malaysia kami sering makan makanan berkari ala melayu yang berbumbu tajam, akibatnya kami rasakan di sini. Gangguan pencernaan mendera ! Saya  harus bolak balik toilet saat menemukannya di Port Cornwalis. Alhasil, kami (terutama saya) jadi tidak menikmati berkeliling kota dan mengambil foto dan harus segera pergi ke pusat kota mencari tiket minivan menuju Krabi untuk esok hari. Kapok kebanyakan makan kari. No Curry in My Life, kecuali kalau terpaksa. Ujung-ujungnya kami malah makan di restoran fast food di kota yang katanya surga makanan ini. Ironis!

Oh ya, di Penang, banyak bangunan yang gratis untuk dimasuki. Makanya kami dengan santai saja memasuki Port Cornwalis, kami kira gratis juga. Kami baru sadar kalau ada ticket booth setelah kami keluar dari sana. Jadinya kami masuk gretongan deh. Ho3x.. Ya maaf, habis ticket booth nya tidak di pintu masuk sih. Jadi tidak ketahuan *ngeles.com*.

Sabtu, 23 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 3. Gagal Jadi Gembel di KL


Sekitar jam 6 pagi kami sudah beredar ke luar hotel mencari taxi atau kendaraan lain menuju terminal. Setelah bertanya sana-sini, ternyata taxi dan atau kendaraan luar tidak boleh masuk dan ke luar area old town sebelum jam 9 pagi. Oo.. bagaimana ini? Kami tidak mungkin menunggu hingga jam 9 pagi karena kalau begitu kami akan terlalu siang sampai KL dan akan banyak waktu terbuang.

Ternyata, tak jauh dari penginapan kami, ada sebuah warung makanan melayu. Kami tak melihatnya kemarin karena mereka tidak buka. Masih untunglah, kami bisa sarapan dulu di sana dan bisa bertemu supir taxi yang akhirnya bersedia mengantar kami ke terminal Melaka sentral, walaupun dengan harga sedikit lebih tinggi dari biasanya. Tetapi daripada tidak ada sama sekali . Setelah sarapan, kami langsung checkout dan menuju terminal Melaka sentral untuk menumpang bus menuju Kuala Lumpur.

Sekitar pukul 8 pagi bis yang kami tumpangi menuju terminal puduraya KL berangkat. Teman saya DD akan menjemput saya di sana. Tarif bis adalah RM 12.3 /orang. Setelah dua jam perjalanan  kami sampai di terminal bis Pudu Raya, KL. Setelah menunggu sekitar 30 menit, DD datang dan mulailah kami berkeliling ibukota negri Jiran.

Awalnya, saya pikir teman saya DD hanya akan menjemput kami dan mengantarkan ke Tunne Hotel tempat kami menginap. Ternyata kami beruntung hari itu, DD yang baik hati bersedia mengantarkan kami dan menjadi guide untuk keliling kota tempat tinggalnya. Yippe! kami gagal jadi gembel di KL.

Kami menginap di Tunne Hotel Downtown KL malam itu. Kamar sudah kami booking online sejak beberapa bulan lalu dengan harga promo. Dengan harga RM33, kami sudah bisa menikmati kamar layak dengan fasilitas setara bintang 5. Pelajarannya adalah kalau mau plan untuk trip dan travelling, harus rajin-rajin cari info dan mafaatkan harga promo.

Setelah check-in dan beristirahat di hotel, kami langsung berangkat untuk berkeliling kota KL. Kali ini, kami tidak menggunakan kendaraan umum, karena alhamdulillah ada yang mengantar. He3x. Tujuan pertama adalah istana negara. Untuk menuju istana, kami sempat berputar-putar karena sedang ada renovasi jalan dan pengalihan arus. It’s make DD little bit confuse, apalagi kami. Terakhir kali saya ke KL beberapa bulan lalu dengan teman kost di Balikpapan, kami juga nyasar saat akan mencari istana. Bedanya, kami jalan kaki, beneran jalan kaki muter-muter KL selama 3 hari.

Setelah berputar-putar satu jam lamanya, akhirnya kami sampai di istana. Sayangnya saat itu sudah jam 4 lewat, dan istana yang saat itu sedang open house sudah ditutup sejak jam 4. Jadinya kami tetap hanya bisa berphoto ria di depan gerbangnya saja.

Selanjutnya, kami menuju Batu Cave. Batu Cave adalah kuil Hindu yang terletak di atas bukit. Letaknya di luar kota sekitar 1 jam berkendara dari kota KL. Kami harus menapaki ratusan anak tangga untuk sampai ke kuil di atas bukit. Cukup membuat pegal, tetapi pemadangan di atas lumayan indah. Kita bisa melihat area sekeliling bukit dan kuil Hindu yang penuh ornamen - ornamen indah.

Puas bernarsis dan foto-foto, kami melanjutkan perjalanan menuju area Putrajaya. Putrajaya adalah kawasan tempat kantor-kantor pemerintahan Kerajaan Malaysia berada. Kawasan ini memiliki danau dan taman yang cukup luas. Menikmati senja di kawasan ini memberikan suasana berbeda, apalagi untuk para pencinta photography. Dengan latar belakang gedung – gedung bertingkat milik pemerintah diraja Malaysia, langit violet dan pantulan di danaunya memanjakan mata dan kamera. Belum lagi ketika malam menjelang dan lampu-lampu kota mulai menyala, night photo shoot yang menampilkan jembatan Putrajaya cukup indah.

Sekitar jam 7 malam kami meninggalkan area petrajaya untuk kembali ke pusat kota. Haus dan kelaparan, kami berhenti di rest area dan menyantap makanan di sana. Sekitar jam 8  lewat kami sampai di KLCC dan menara kembar petronas. KLCC Suria Plaza adalah salah satu mall high end class di KL. Saya banyak bertemu lagi-lagi orang Indonesia yang sedang berbelanja. Kadang suka heran, kenapa saya sering bertemu orang Indonesia di tempat belanja di luar negri. Tetapi tidak banyak kalau di tempat selain itu.

Lagi-lagi kami bernarsis ria di sana. Tampak banyak juga orang yang sedang melakukan hal yang sama. Maklum saja, karena twin tower adalah icon kota KL. Jadi hampir semua orang yang datang ke sini pasti berphoto di sini. Malam makin menjelang dan akhirnya DD mengantar kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Terimakasih banyak DD. Jangan kapok ya.

Sebenarnya di KL masih ada beberapa tempat yang biasa dikunjungi wisatawan, seperti Menara KL tempat kita bisa menyaksikan  kota KL dari ketinggian dengan tarif RM50/ orang. Ataupun Little India dan Petaling Street untuk belanja, Masjid Raya, Masjid Biru ataupun Old Railway Station. Kami tidak mengujungi tempat-tempat tersebut pada kesempatan ini, karena keterbatasan waktu yang hanya 1 hari. Selain itu, saya juga sudah pernah mengunjungi tempat-tempat ini sebelumnya. Jadi saya tidak merasa itu perlu untuk saya kunjungi lagi dalam keterbatasan waktu yang ada. Maaf ya naga, waktu kita saat itu sangat terbatas, jadi harus memilih beberapa saja.

Jumat, 22 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 2. Melaka yang Panas Gila


Pada hari Jumat, 22 Juni 2012 pagi hari buta kami sudah packing-packing. Setelah pamit  dan pada host kami yang baik hati – Emiko - . Pukul 6.15 pagi kami sudah berangkat menuju pool bus yang akan mengantarkan kami ke Melaka. Bus dijadwalkan berangkat pukul 8 pagi. Harga tiket Singapore – Melaka adalah SIN$ 21/orang atau sekitar 150 ribu Rupiah/orang.

Kami tiba di Terminal Melaka sentral sekitar pukul 12 siang. Satu jam lebih lambat dari jadwal, karena bis baru berangkat sekitar jam 8.30. Rencananya kami akan menumpang bus umum dari terminal ke area kota tua tempat kami menginap, tetapi kami tidak berhasil menemukan satu bis pun. Akhirnya kami terpaksa menggunakan taxi dengan tarif RM30. Di Malaysia, hampir semua taxi menggunakan argo kuda, terutama kepada para tourist asing. Jadi harus pandai-padai menawar dan harus tega. Sekitar satu jam kemudian, kami tiba juga di guest house tempat kami menginap.

Kami menginap di Sayang-Sayang Guest House di Jalan Kampung Hulu area old town, Melaka. Tarif kamar antara RM60-120/ malam. Karena kami memesan dan membayar beberapa bulan sebelumnya melaui internet, kami bisa mendapatkan rate terendah. Guest house ini terletak tak jauh dari point of interest kota ini. Jadi kita cukup berjalan kaki untuk mencapainya. Luas kamar sangat kecil, yaitu sekitar  2 m x 2,5 tetapi di tata unik. Kamar terbagi 2 bagian, atas dan bawah. Kasur ditempatkan di atas dan bawahnya ditempatkan sofa beserta meja kecil. Baru kali ini dapat kamar hotel model begini. Tetapi untuk rate seharga ini cukuplah. Sebagai perbadingan, rata-rata kamar hotel ataupun guest house budget bisa mencapai RM 100/ malam.

Setelah beristirahat sebentar, kami mulai berangkat untuk menjelajah kota tua Melaka. Mulai dari Masjid Kampung Hulu yang hanya berjarak 200 m dari tempat kami menginap. Lalu kami menjelajahi kawasan chinatown yang penuh bangunan bergaya oriental dan toko-toko berjejer di sepanjang jalan. Kami mengunjungi jonker walk dan Baba Nyonya Heritage Museum serta beberapa temple yang tersebar di banyak tempat di sana. Matahari makin turun dan perut kami mulai berteriak minta diisi. Kami belum juga menemukan makanan halal di sana. Karena berada di area chinatown, kami tidak berani makan di sembarang tempat, karena khawatir soal kehalalannya. Rasanya ironis, kami berada di negeri melayu yang katanya mayoritas muslim. Tetapi kami sulit menemukan makanan halal di sana. Akhirnya kami terus berjalan diterpa matahari terik luar biasa dan perut kelaparan. Baru setelah bertanya sana sini, kami akhirnya menemukan warung makanan melayu di pasar melaka yang letaknya di sebrang miniatur kapal. Hampir semua makanan di pasar ini adalah makanan melayu karena hampir semua pedagang yang berjualan di sini adalah melayu Muslim. Akhirnya kami bisa makan puas tanpa rasa was-was.

Puas mengisi perut, kami melanjutkan berkeliling ke area Town Square dan Bukit St. Paul. Di kawasan ini, banyak gedung tua peninggalan eropa seperti Staddhuys dan St Paul Church . Bangunan tua di kawasan ini seperti di kota tua Jakarta. Bedanya, gedung-gedung di sini kondisinya jauh lebih terawat, bersih dan rapih. Beberapa gedungpun di cat warna warni. Banyak terlihat wisatawan asing bersliweran di sini. Tak lupa, kami puas bernarsis ria. Apalagi ketika malam menjelang dan lampu lampu mulai menyala.. it’s so… romantic. Lampu-lampu fluor berwarna di sekitar gedung tua dan pohon besar dan tua. Puas ambil photo night shoot dan slow speed di sini. Saatnya tripod beraksi!! :D




Setelah puas berphoto ria di area Town Square, kami kembali menyusuri chinatown menuju penginapan. Ternyata, malam itu ada night market di area jonker walk. Akhirnya kami menyusuri pasar malam yang meriah dan padat. Baru jam 9 malam kami tiba di penginapan. Lelah dan lengket sekujur badan. Mandi!!!! Lalu tidoor!! :D Have a nice sleep.


Kamis, 21 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 1. Singapore: Surga Para Shoper, Neraka Bagi Backpacker



The Journey is begin. Sekitar jam 7.30 pagi waktu setempat kami sudah berangkat. Emiko mengantar kami berkeliling area sekitar tempat tinggalnya sekalian ia berangkat ke kantor. Hollad Village adalah kawasan pemukiman, banyak apartment berdiri di sana. Apartment yang ada di sini tidak seperti apartment mewah seperti yang banyak ada di Jakarta. Mungkin lebih tepatnya ini seperti rumah susun di jakarta, hanya saja jauh lebih rapih, bersih dan teratur. Setelah berkeliling, kami sama-sama menuju stasiun MRT terdekat.

Tujuan pertama kami di Singapore adalah Esplanade dan Marina Bay. Kami berjalan kaki berkeliling mulai dari Teater Esplanade yang didesign mirip durian, Marina Bay hingga Patung Merlion yang terkenal sebagai iconnya negeri singa ini. Sayangnya saat kami ke sana Patung Merlion sedang dalam proses renovasi jadi kami tidak bisa bernarsis ria di sana. Kami hanya bisa narsis di Little Merlion, patung Merlion kecil yang letaknya tak jauh dari Patung Merlion. Jam sudah menunjukan jam 10 pagi dan matahari sudah makin meninggi perutpun sudah berteriak minta diisi. Akhirnya kami memutuskan ‘ngadem’ di coffe bean terdekat. Kami membeli secangkir kopi untuk Dahlia, secangkir coklat panas untuk saya dan satu porsi sandwich untuk kami makan berdua. Bukan karena kami romantis, tetapi karena harga semua barang di Singapore bikin kami hampir menangis. Sebotol air mineral 500 ml yang di Jakarta seharga 3000 Rupiah, di sana dihargai sekitar SIN$ 1,5 - 3 atau sekitar 10 ribu – 20 ribu Rupiah. Harga tiket MRT berkisar SIN$ 1,2-3 tergantung jarak. Jadi kami harus banyak berhitung sebelum membeli barang.

Setelah cukup mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan menuju area Bugis dan Little India. Toko-toko berjajar sepanjang jalan yang menggoda iman. Apalagi saat kami mengunjungi area Orchard Road, shopping mall sepandang mata memandang. OMG… bener- bener godaan iman yang (untungnya) tertahan oleh kemampuan kantong yang tak mau bolong. Perjalanan kami masih panjang, ini baru hari pertama dari 40 hari yang kami rencanakan. Alhasil, kami sukses tidak membeli apapun di sana.

Puas windows shopping, kami berangkat menuju Sentosa Island menumpang MRT menuju Vivo Mall. Dari sana kami membeli tiket dan naik Sentosa Express menuju Universal Studio Singapore. Berkeliling kota di Singapore, seperti perjalanan dari mall ke mall. Naik turun MRT akan langsung menuju mall. Negeri ini adalah negeri sejuta mall. Buat para penggila belanja, ini adalah surga. Tetapi, buat traveller berkantong pas-pasan seperti kami, ini adalah neraka!!  Hemat adalah motto utama kami.

Sesampainya di Universal Studio, kami tidak masuk ke dalam area USS, karena (lagi-lagi) masalah biaya jadi kendala utama. Harga tiket masuknya mahal cyin.. sekitar SIN$80 per orang atau sekitar 600 ribu rupiah/ orang. Jadi kami sudah cukup puas hanya dengan berfoto ria di depannya, terutama mini globe yang ada logo universal studionya .

Puas bernarsis ria di Universal studio, kami berkeliling area lain di Sentosa Island. Sentosa Island ini sebenarnya adalah pulau buatan yang terbentuk dari urukan pasir. Dengar-dengar, pasirnya berasal dari pantai di Indonesia. Hebatnya Singapore, mereka benar-benar memanfaatkan teknologi dan berdana besar untuk membuat pulau, membangun air terjun buatan, sungai buatan dan  kebun raya buatan. Dan mereka pandai mempromosikan wisatanya. Padahal, kalau dari segi alam, Indonesia jauh lebih indah dan punya segalanya. Tetapi mereka bisa mendayagunakan yang mereka punya dan memanagenya dengan baik. Kadang jadi mikir, kenapa masih banyak orang Indonesia ke Singapore malah datang ke ‘hutan’ buatan di sini. Padahal di Indonesia banyak, luas dan asli. Mungkin yang mereka cari hanyalah gengsi? Entahlah. Kalo ke Singapore untuk shopping sih sangat wajar, karena ini memang surganya belanja. Tetapi untuk wisata alam? Hmm… nanti dulu deh.

Puas beredar di Sentosa Island, sekitar jam 7 malam kami menuju Lau Pa Sat untuk makan malam. Kami akan makan malam bersama Emiko host kami. Lau Pa Sat adalah food court luas tak jauh dari MRT Rafless Place. Tempat ini terkenal sebagai tempat kumpul dan dinner warga Singapore maupun wisatawan. Di tempat ini menyajikan berbagai jenis masakan, mulai dari seafood, chinesse food, indian, melayu hingga western food. Kami memilih seafood sebagai menu makan malam. Singapore terkenal dengan  sea food di hawker food stal nya. Sea food yang kami makan lumayan enak dan segar.kami menghabiskan sekitar SIN $50 untuk makan malam. Lumayan mahal untuk ukuran Indonesia, tetapi apa sih di Singapore yang tidak mahal?

Rencananya, setelah dinner kami akan melanjutkan untuk hunting night shoot photo di area Marina Bay Sand yang terkenal itu. Tetapi kami sudah terlalu lelah karena hampir sepanjang hari ‘berkakilator’ ria muter-muter Singapore. Plus perut yang kekenyangan kami memutuskan untuk segera kembali ke apartment Emiko untuk tidur dan beristirahat. Karena kami harus berangkat esok pagi untuk menumpang bis menuju Melaka.

Rabu, 20 Juni 2012

Gembel Traveller. The Day Has Come


Finnaly, the day has come. Setelah merencanakan segala sesuatunya mulai dari beli tiket, susun itinerary, etc sejak setahun yang lalu. Akhirnya hari yang dinanti datang juga.

Pada hari Rabu, 20 Juni 2012 saya berdua dengan sahabat saya – Dahlia – berangkat menuju Singapore dengan menumpang pesawat Air Asia. Kami membeli tiket perjalanan ini saat promo. Jadi kami hanya menghabiskan tak sampai 2 juta Rupiah untuk membeli tiket Jakarta – Singapore, Phuket - Bangkok, Hanoi – KL dan KL –Jakarta masing-masing untuk dua orang. Lumayan murah kan?  Maklum saja karena kami beli tiket tersebut hampir setahun sebelum keberangkatan.

Saya tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta sekitar jam 2 lewat. Masih cukup banyak waktu, karena pesawat dijadwalkan berangkat pukul 17.35. Sambil menunggu Dahlia, saya bisa leyeh-leyeh dulu di  bandara. Sekitar jam 3 lewat, Dahlia muncul dan langsung saja kami ke dalam untuk check-in, ke imigrasi, dan sebagainya. Kami baru tiba di Bandara Changi sekitar jam 9 malam waktu setempat. Satu jam lebih lama dari jadwal karena pesawat mengalami delay satu jam berangkat dari Jakarta.

Changi Airport ini luar biasa luas. Dan kami jadi seperti orang ‘udik’ kebingungan mencari stasiun MRT. Belum lagi tas backpack kami yang lumayan berat dan tidak bisa menggunakan trolly karena harus naik turun eskalator.

Dari Changi Airport, kami naik MRT sampai stasiun Paya Lebar, lalu melanjutkan perjalanan ke stasiun Hollad Village. Sekitar jam 11 malam, kami tiba di stasiun Holland Village. Di sana Emiko, host kami selama di Singapore sudah menunggu.

Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit dengan bawaan rempong, akhirnya kami sampai juga di apartment Emiko di kawasan Holland Close. Oh ya, saya belum pernah bertemu Emiko sebelumnya. Saya mengenalnya melalui komunitas Couch Surfing. Dari beberapa orang di Singapore yang saya request untuk mejadi host, dialah satu-satunya yang mereply dan Thanks God, she willing to host me. Emiko adalah orang Jepang yang bekerja di sebuah perusahaan game online di Singapore. She is very nice person. Bicara dengannya mengingatkan saya dengan film-film Jepang. Apalagi kalau bicara soal manga and anime. Nyambung banget. Dengan bangganya dia mengaku sebagai seorang otaku. Ditambah lagi dia juga membuat beberapa  game online base on manga n anime loh, mulai dari game Naruto dan beberapa game lainnya. Kami juga diperlihatkan beberapa gambar hasil karyanya.. ooo keren banget!!  Salut sekaligus iri. Karena gambarnya yang keren abies, sementara saya hanya bisa membuat gambar coretan benang kusut.

Apartment Emiko sangat rapih dan bergaya minimalis. Sangat sesuai dengan gaya hidup di Singapore yang harga propertynya super mahal. Jadi harus bisa menyiasati space dan multifungsi. Kami diberi tempat tidur di ruang duduk yang multifungsi jadi kamar tidur. Tempat tidurnya juga bisa ditempel di dinding saat ruangan berfungsi sebagai ruang duduk. Lumayan unik, jadi terinspirasi bikin rumah minimalis model begini.

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan jam 1 malam. Oo.. kami harus segera tidur dan istirahat karena kami harus bangun pagi untuk berkeliling Singapore. Tapi sebelumhya kami harus online untuk booking tiket bus menuju Melaka esok lusa.  Baru setengah jam kemudian kami bisa melelapkan diri dan beristirahat. Good Night.