Pages

Tampilkan postingan dengan label My Notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Notes. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juli 2015

KAPAN?



Di hari raya begini, seharusnya adalah hari penuh suka cita. Apalagi kalau kita merayakannya bersama keluarga, teman dan orang-orang terdekat. Akan tetapi terkadang momen itu bisa menjadi sebuah ‘momok’ tersendiri buat sebagian orang. Kenapa? Ya itu karena sebuah pertanyaan tentang ’kapan?’. Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan ngasih adik lagi? Kapan? Kapan? Dan kapan? Hanya satu hal saja yang tidak ditanyakan, yaitu kapan mati? 

Pertanyaan yang sering ditanyakan keluarga (terutama bukan keluarga inti), kerabat, tetangga, teman, dsb. Pertanyaan ini sekilas terkesan sebagai sebuah perhatian penanya kepada yang ditanya. Tetapi tahukah anda kalau pertanyaan-pertanyaan macam ini membuat banyak orang enggan menghadiri acara keluarga besar, reuni, kumpul tetangga dan semacamnya. ‘Perhatian’ yang diberikan orang-orang jadi terasa berlebihan hingga tahapan ‘mengganggu’ privacy orang lain.

Siapakah anda, merasa berhak menjudge hidup orang lain? Dengan mengatakan mereka terlalu pemilih, terlalu sibuk bekerja, tidak mau berusaha, terlalu macam- macam, terlalu pasang standar terlalu tinggi dan kalimat-kalimat lain yang sejenis. Siapakah anda? Merasa berhak menilai orang dari status mereka, apakah mereka single, menikah dengan satu anak, menikah tanpa anak, janda, duda dan semacamnya. Siapakah anda? Merasa berhak untuk ikut campur masalah pribadi orang lain soal jodoh, anak, etc. Padahal itu adalah hal yang hanya Tuhan saja yang tahu. Siapakah anda??

Tahukah anda? Ketika seseorang sudah di usia yang dianggap cukup untuk menikah tetapi belum juga menyempurnakan separuh agamanya itu, sebagian besar dari mereka sudah berusaha dan berdoa? Tahukah anda berapa banyak usaha dan cinta yang sudah sia-sia? Tahukah anda berapa banyak suka duka dan air mata yang sudah mereka alami untuk menyempurnakan separuh agamanya? Saya tidak memungkiri, memang ada sebagian orang yang memilih untuk sendiri selamanya. Hidup bebas tanpa terikat. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja. Tahukah anda kenapa sebagian besar mereka masih juga sendiri sampai saat ini? Tahukah anda bagaimana perasaan mereka ketika orang-orang di sekitarnya terus saja mengusik privacy mereka dan menanyakan pertanyaan “kapan” itu? ANDA TIDAK TAHU APA-APA. YOU KNOW NOTHING.

Tahukah anda? Ketika pasangan sudah menikah tetapi belum juga diberikan keturunan, sebagian besar dari mereka sudah berusaha dan berdoa? Tahukah anda berapa banyak malam yang diusahakan mereka? Tahukah anda berapa banyak konsultasi dokter,  massage sampai ramuan tradisional yang mereka usahakan demi memperoleh titipan Tuhan? Tahukah anda seberapa besar keinginan mereka memperoleh buah cinta mereka? Saya tidak memungkiri, bahwa ada sebagian kecil pasangan yang memilih untuk tidak punya keturunan. Tetapi jumlahnya sangat kecil.  Tahukah anda kenapa sebagian besar dari mereka masih juga belum punya keturunan? Tahukah anda bagaimana perasaan mereka ketika orang-orang di sekitarnya terus saja mengusik privacy mereka dan menanyakan pertanyaan “kapan” itu? ANDA TIDAK TAHU APA-APA. YOU KNOW NOTHING.

Tahukah anda? “Perhatian” yang orang-orang berikan dengan cara bertanya soal “kapan” kepada orang lain itu bisa menjadi ‘paku tajam’ di hati mereka?  Yang kalau sering mereka terima bisa menyakiti dan merusak hati mereka? Sedih, pedih hingga meracuni pikiran mereka dengan buruk sangka? ‘Perhatian’ anda bisa diartikan sebagai ikut campur urusan orang, pamer kebahagiaan dan semacamnya. Tahukah anda? Kalau ‘perhatian’ yang anda berikan justru menjadi racun yang bisa memutus silaturahmi. Karena mereka jadi enggan berinteraksi dengan anda.

Jodoh, keturunan, umur, nasib, itu di tangan Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha. Terus kalau sudah berusaha dan berdoa belum juga memperoleh jodoh atau keturunan, apakah itu salah mereka?

Pemilih dalam mencari jodoh, apa itu salah? Membeli pakaian saja harus dipilih, jangan sampai kebesaran atau terlalu kecil buat kita. Apalagi mencari pendamping hidup yang untuk seumur hidup.

Merencanakan keturunan, apa itu salah? Memasak saja harus punya perencanaan. Jangan sampai kurang bahan di tengah jalan atau hangus karena dimasak terlalu lama. Apalagi untuk punya keturunan.

Jodoh, keturunan, umur, nasib, itu di tangan Tuhan. Apakah anda Tuhan yang bisa menentukan jodoh dan keturunan orang lain? Apakah anda Tuhan?

STOP pertanyaan-pertanyaan tentang ‘kapan’. Kalau itu hanya itu untuk memuaskan ego anda untuk pamer kebahagiaan dan merasa menang. Pernikahan dan keturunan bukanlah sebuah pertandingan, adu cepat dan harus ada yang menang. STOP pertanyaan-pertanyaan tentang ‘kapan’. Kalau itu hanya itu untuk memuaskan keingintahuan anda tentang hidup orang lain. STOP pertanyaan-pertanyaan tentang ‘kapan’. Kalaupun tujuan anda baik, bukankan lebih baik membantu dengan mendoakan, menjadi mak comblang untuk kaum single ataupun memberikan tips atau rekomendasi ahli kesuburan bagi pasangan yang belum juga memperoleh momongan.


STOP pertanyaan-pertanyaan tentang ‘kapan’. Silaturahmi akan lebih indah jika semua orang saling memahami tanpa ‘membully’.

“You never really understand a person until you consider things from his point of view... Until you climb inside of his skin and walk around in it.” (Harper Lee – To Kill A Mockingbird)

Jakarta, 18 Juli 2015 / 2 syawal 1436 H
Erry.
- Yang masih terus berdoa dan berusaha untuk menyempurnakan separuh agamanya - 

Senin, 03 Januari 2011

The Distance: Science Theory and Human Relationship *


Jarak, sesuatu hal yang seringkali menjadi faktor penghambat suatu hubungan dan interaksi, apapun itu. Baik itu hubungan kekerabatan, persahabatan, bisnis ataupun yang sifatnya personal. 

Dalam ilmu fisika, dikenal adanya gaya tarik (gravitasi). Konsep gaya memberikan gambaran kuantitatif tentang interaksi antara 2 benda atau antara benda dengan lingkungannya. Hukum Gravitasi Universal Newton mengatakan kalau gaya gravitasi (gaya tarik) berbanding terbalik dengan jarak.

F = G M1M2/r2

Dimana :
F = Gaya Gravitasi
G = konstanta gravitasi
M1, M2 = massa dari 2 benda
r = jarak antara 2 benda

Dalam bentuk lain, persamaan yang mirip terjadi pada gaya listrik. Berdasarkan hukum Coloumb, besarnya gaya listrik juga berbanding terbalik dengan jarak antara dua muatan.

F = k Q1Q2/r2

Dimana :
F = Gaya Listrik
k = konstanta coloumb
Q1, Q2 = muatan 2 buah benda
r = jarak antara 2 muatan

Konsep yang hampir mirip juga diaplikasikan dalam ilmu ekonomi regional dan geografi (Teori WJ Reilly), dimana interaksi dua daerah berbanding terbalik dengan jarak antara dua daerah tersebut

I = k P1P2/r2

Dimana :
I = Interaksi antara 2 wilayah
k = konstanta
P1, P2 = jumlah penduduk dua wilayah
r = jarak mutlak antara 2 wilayah

Interaksi ialah hubungan imbal balik antara pihak-pihak tertentu, antara orang perseorangan dengan orang perseorangan, antara perseorangan dengan kelompok, atau dari tanggapan antarmanusia. Berinteraksi merupakan kebutuhan setiap manusia dan juga merupakan kunci dari semua kehidupan sosial. Tanpa adanya interaksi, tidak mungkin ada kehidupan bersama.

Dari sini, intinya adalah interaksi antara dua hal (benda, daerah, muatan, etc) berbanding terbalik dengan jarak diantaranya. Semakin besar jarak, akan semakin kecil interaksi dan gaya yang terjadi, begitupun sebaliknya. Dan ini juga berlaku dalam hal hubungan antar manusia (human relationship). Tak bisa dipungkiri, kalau jarak merupakan faktor penghambat dari suatu interaksi dan hubungan antar manusia (human relationship). Karena adanya jarak, interaksi menjadi lebih sulit. Hukum geografi yang dikemukakan oleh Tobler (1979) menyatakan bahwa: “Segala sesuatu berhubungan dengan yang lainnya, dan sesuatu yang berdekatan lebih erat hubungannya dibandingkan dengan sesuatu yang berjauhan”.

Memang, saat ini adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi cukup membuat jarak dan waktu seakan tiada. Tetapi, tetap saja teknologi hanya membuatnya “seakan” tiada, tetapi tidak bisa sama sekali “meniadakan”. Karena mau tidak mau jarak itu tetap ada dan tetap ada efeknya. Apalagi dalam human relationship. Ada hal-hal yang belum bisa digantikan dari komunikasi langsung, tatap muka, tatap mata, gesture, body language, etc. Padahal hal tersebut sangat penting dalam sebuah hubungan antar manusia. Karena manusia bukanlah benda mati. karena manusia tidaklah stagnan dan mudah ditebak atau diprediksi.

Sebuah komunikasi tak langsung dan “berjarak” umumnya mengutamakan penggunaan kata. Sementara kata-kata sendiri bisa bermakna ganda. A word could have so many meanings that could makes misinterpretation, miscommunication.

Bukan berarti jarak membuat semuanya menjadi tak mungkin. Hanya saja adanya jarak membuat effort (usaha) yang dibutuhkan untuk sebuah interaksi menjadi lebih besar.

Dalam ilmu fisika, usaha sebagai Fungsi Gaya dan perpindahan. Jika sebuah benda menempuh jarak sejauh S akibat gaya F yang bekerja pada benda tersebut maka dikatakan gaya itu melakukan usaha, dimana arah gaya F harus sejajar dengan arah jarak tempuh S. Usaha adalah hasil kali (dot product) antara gaya dan jarak yang ditempuh.
W = F S = |F| |S| cos 
 = sudut antara F dan arah gerak

Jarak berbanding terbalik dengan interaksi, dan sebaliknya jarak berbanding lurus dengan usaha. Semakin besar jarak, akan semakin besar usaha (effort) yang dibutuhkan. Tetapi ini tidak berarti tak mungkin berinteraksi jarak jauh, kemajuan tekonologi semakin bisa menutupi kekurangan interaksi jarak jauh, yang terpenting adalah bagaimana memperkecil pengaruh faktor jarak tersebut. Kalau dalam gaya gravitasi ada massa 2 benda (M1, M2). Kalau dalam gaya listrik ada muatan 2 benda (Q1, Q2). Untuk memperbesar gaya (interaksi), dibutuhkan besaran M1, M2 atau Q1, Q2 yang lebih besar. sehingga dengan jarak yang sama, gaya dan interaksi yang terjadi akan semakin besar. Walaupun dengan konsekuensi dibutuhkan usaha yang lebih besar pula.

Dalam kaitannya dengan human relationship, besaran M1, M2 atau Q1,Q2 mungkin bisa diumpamakan dengan niat, tekad dan kemauan. Seberapa besar dan seberapa kuat keinginan kita untuk tetap “berinteraksi”? seberapa butuhnya kita akan interaksi tersebut. Karena walaupun jarak dekat atau tanpa jarak sekalipun, kalau variable ini kecil, bahkan tidak ada akan sama saja. Interaksi dan gaya yang terjadi tetaplah nol. Yang jadi pertanyaan adalah maukah kita? seberapa besar keinginan kita?

Pontianak, 3 Januari 2011

*tulisan ini bukanlah sebuah tulisan ilmiah yang belum bisa dipertanggung jawabkan keshahihannya. Qiqiqi :D *

Selasa, 23 November 2010

Life is...


Hidup terlalu berharga hanya untuk sebuah sia-sia. Karena waktu yang telah berlalu, takkan bisa kembali lagi. Tetapi hidup juga terlalu indah untuk dianggap terlalu serius dan rumit. Karena tak ada yang pernah keluar darinya dalam keadaan hidup-hidup.
Bekerjalah untuk dunia, seakan kita hidup selamanya. Tapi ingatlah akan mati seakan kita akan ‘selesai’ sebentar lagi.

Tidak rumit, juga bukan mudah. Nikmati, tapi jangan berlebih hingga sia-sia. Hmm... bingung gak sih? Sudahlah tak perlu banyak dipikir dan bikin pusing kepala. Jalani dan nikmati saja.

Because life is so... beautifull 

Balikpapan, 23 November 2010

Perfect is..


Tak ada sesuatupun di dunia ini yang sempurna. Tak ada orang yang sempurna. Tak ada cinta dan persahabatan yang sempurna. Yang bisa kita lakukan sebagai orang yang tak sempurna adalah bagaimana kita mau dan mampu menerima, menyayangi dan mencintai seseorang yang tak sempurna dengan cara yang sempurna.

Dengan menyadari ketidaksempurnaan kita sendiri, jangan pernah mengharapkan orang lain untuk menjadi sempurna dan selalu sesuai keinginan kita. Terima ia pa adanya, dengan segala kekueangan maupun kelebihannya. arena hidup dan mencintai bukanlah untuk mencari sebanyak mungkin persamaan atau mencari sebuah kesempurnaan. Tapi bagaimana untuk saling melengkapi dan berbagi. Karena hidup itu akan lebih indah kalau kita mau berbagi. 

Walau nyatanya tak sempurna, semua akan terasa indah dan sempurna.

Balikpapan, 23 November 2010

Dream is..


"Jangan pernah berhenti bermimpi, karena tanpa itu, manusia akan mati" (Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang)

Aku bermimpi. Ingin terbang bebas tanpa perduli pada bumi. Bebas bermimpi, merdeka bercita-cita. Tetapi, bisakah aku menjadi pemimpi sejati? Yang egois tak perduli hal lain selain mimpinya sendiri. Idealis naif yang tak perduli orang lain dan kepentingannya sendiri. Yang mengorbankan semuanya, bahkan dirinya sendiri. Waktu, kepentingan, kesehatan dan juga perasaannya sendiri.

Aahh.. aku tak mau seperti itu. Karena itu sama saja merugikan diri sendiri. Untuk apa dan siapa mimpi itu kukejar? Kalau mimpi itu sudah tercapai akan kupersembahkan pada siapa? Akan dirayakan dan dinikmati bersama siapa? Hanya dengan diri sendiri dan berteman dengan sepi?

Aku terlalu egois dan narsis hingga tak rela merugikan diri sendiri. Aku terlalu cinta diri sendiri sampai tak bisa tak perduli. Pada diri sendiri dan juga orang-orang dan hal-hal yang buatku berharga dan berarti. Karena aku sadar, aku hanya manusia biasa yang tak bisa hidup sendiri. Aku ingin terbang jauh dan tinggi tapi tetap punya tempat untuk pulang ke bumi.
Aku ingin tetap menjadi seorang pemimpi, tapi pemimpi yang manusiawi.

(Note for myself. Not have any tendention or as a 'message' for any person)

Balikpapan, 23 November 2010

Kamis, 18 November 2010

Benih Tak Bernama


Halo..kenalkan aku adalah benih yang masih tak bernama. Aku masih sangat mudan dan rawan celaka. Aku masih tak tahu akan jadi apa dan seperti apa. Agar kamu tahu, aku sangatlah sensitif dan perasa. Aku bisa cepat tumbuh subur, atau sebaliknya dalam sekejap bisa layu lantas mati.

Inangku juga masih tak tahu aku ini apa dan seperti apa. Hingga ia masih tak bisa menjawab tanya. Hingga ia ragu harus berbuat apa. Karena jawabnya masih tiada. Semua absurd dan serba tak nyata.

Aku ingin tumbuh, besar dan menunjukkan diri pada dunia. Aku tak sabar ingin melihat wajah-wajah bahagia mereka. Yang tak lagi dihantui praduga dan tanya. Aku ingin mereka tersenyum bahagia karena tahu aku ini apa sebenarnya.

Untuk tumbuh besar, aku butuh niat dan kemauan dari mereka berdua. Tak hanya sebelah pihak saja. Karena kalau seperti itu, akan percuma saja. Aku juga butuh kesabaran dan ketulusan hati ‘tuk menunggu aku tumbuh dan mewujudkan diri. Tak lupa aku juga butuh kebesaran hati. Agar mereka bisa menerima apapun yang terjadi. Misalnya saja, aku tak tumbuh dan jadi seperti yang mereka mau.

Bagaimanapun, aku mohon beri aku kesempatan untuk tumbuh. Jangan cabuti sedari dini. Jangan dibunuhi hingga mati. Karena kalau begitu kalian takkan pernah tahu akan jadi apakah aku nanti.

Balikpapan, 18 November 2010

Demi Waktu


Demi waktu. Dia yang jika datang tak bisa terulang. Dia yang jika pergi tak bisa diminta kembali. Dia yang saat telah habis tak bisa diputar ulang atau diminta lagi. Dia yang menjadi saksi peristiwa sejarah dan juga tragedi. Menjadi saksi kelahiran, perkembangan dan kematian. Menyimpan jawaban atas banyak misteri dan tanya. Manusia datang dan pergi dan jaman silih berganti. Ada awal pasti ada akhir.

Demi waktu. Yang terus berputar tak tergugat sampai tiba saat yang dikehendaki-Nya. Dan manusia berada di antaranya. Dipermainkan oleh takdir dan putaran waktu. Akan jadi apa? Akan jadi seperti apa? Apakah kita mampu memanfaatkan bahkan mengendalikan waktu ataukah kita hanya akan habis tergilas oleh waktu. Apakah dalam hidup, kita mampu membuat arti dan menjadi berharga ataukah hanya sebuah kesia-siaan belaka. Apakah kita yang akan menjadi penoreh sejarah atau malah kita yang lenyap ditelan arus sejarah. 

Pertanyaan beruntun yang terus berkecamuk di pikiranku. Mampukah aku menaklukkan sang waktu?
Akankah sesal kan jadi hantu tanpa makna. Karena ketika tiba saatnya, semua sudah terlambat

 Balikpapan, 18 November 2010

Minggu, 14 November 2010

Me, My Self & My Alter Ego

Pernahkah terpikir di kepala kita kalau kita memiliki 'sisi' dan kepribadian lain di luar yang selama ini kita kenal?

Pernah tidak anda mengalami tiba-tiba ada di satu tempat dan keadaan yang kita tidak tahu apa, di mana dan kenapa kita bisa ada di sana? Seperti ada waktu yang 'menghilang' dan 'meloncat' begitu saja.

Seringkah kita bertemu orang-orang yang tidak kita kenal tiba-tiba menyapa kita seakan-akan kita kenal baik dengan mereka? Menanyakan hal-hal aneh yang terasa asing buat kita? Dan terkadang ada beberapa yang memanggil kita dengan nama panggilan yang berbeda. Bukan karena kita mirip seseorang atau karena muka kita pasaran. Tetapi karena mereka benar-benar yakin kalau kitalah orang yang mareka kenal.

Pernahkah terbersit niat dalam diri kita untuk 'lari' dari satu masalah lalu berpura-pura itu tidak pernah ada? Lantas berpikir andai saja aku begini dan begitu. Andai saja aku bisa berbuat ini atau itu. Atau ketika kita sedang dalam kondisi marah, sakit, kecewa atau sedih yang luar biasa tapi tak bisa bebas lepas mengeluarkan emosi. Semua tertahan, semua terkubur lantas berjamur jauh di dalam diri kita. Yang lantas tanpa sadar menimbulkan penolakan-penolakan besar ataupun kecil terhadap keadaan kita saat itu.  Menumbuhkan kekecewaan terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar.

Seberapa sering kita mendengar ada suara-suara sedang berbicara atau berdebat di dalam kepala kita?

Kalau jawabnya adalah "iya", maka berhati-hatilah. Bisa jadi anda berpotensi  (atau bahkan sudah) memiliki kepribadian ganda. Segeralah berkonsultasi dengan psikolog ahli jiwa :D

*Catatan iseng tanpa ada dasar ilmiah*

Balikpapan, 14 November 2010

Tuhan Yang Aku Kenal


Tuhan yang aku kenal adalah DIA yang baik hati, pemurah, penyayang dan penuh cinta kasih. Tuhan yang aku tahu adalah entitas tertinggi yang pemaaf, pengampun dan maha bijaksana.

Dia yang selalu mendengar setiap keluh kesah dan doa umat-NYA. Dia yang tak pernah bosan memaafkan dosa dan kesalahan manusia. Walau sering kita terus mengulangi hal yang sama.

DIA tak pernah letih memberi nikmat, rizky dan anugrah kapada kita. Meski kadang kita lalai dan lupa kepada-NYA. Bahkan terkadang kita menjadi angkuh dan lupa kalau semua yang ada di dunia adalah milik-NYA, dan akan kembali kepada-NYA jua.

Tuhan yang aku percaya bukanlah tuhan yang gemar menghukum dan menghakimi manusia. Bukan tuhan yang mengajarkan teror dan menebar ketakutan serta fitnah. Bukan makhluk menyeramkan dengan cambuk dan ancaman siksa neraka di tangannya.

Kalaupun sesekali DIA memberikan cobaan, kesakitan dan kesedihan. Bukan karena DIA murka dan ingin menghukum kita. Tetapi karena DIA menyayangi dan mengasihi kita. Agar kita menjadi lebih baik. Bukan untuk DIA, tapi untuk diri kita sendiri.

DIA tidak butuh kita untuk menyembah-NYA. Krena tanpa itupun DIA akan tetap ada, abadi dan Maha Segala. Tapi kitalah yang membutuhkan-NYA. Karena kita fana dan bukan apa-apa

Balikpapan, 14 November 2010

Minggu, 31 Oktober 2010

The Lessons


Life is a never ending learning. Learn until our time will come.
Life is a all time struggle. Need much effort, decision and do it with all of your heart.

Life had told me so many things. Sometimes, life isn't easy at all. It give me laugh, tears, smile, hurt, happiness, loneliness, raise up, fall down, love, hate, friends, lover, enemy, etc.

Do just like you want others done to you

If you want to be loved. Loving others with all of your heart.
If you want to be respected. You must respect others with full of kindness.
If you want to be success. You need much effort to fight. Make sure it worthed enough.
If you want to be happy. Just feel happiness from your ownself. Because happiness not come from the outside, but heart.
If you want to be rich. Just enjoy and thx to the GOD for everything you get.

But never over done about everything. Because once you failed. Yo u wouldn't get down too much. There's an invisible hand called GOD and the destiny.

"There's no mistakes in life, just lessons"

A note for my self. An introspection.

Jakarta, 31 Oktober 2010

Minggu, 24 Oktober 2010

Tanda Baca


Suatu ketika, himpunan tanda baca sedang bermusyawarah. mereka ingin menentukkan siapa yang akan jadi ketua di antara semua jenis huruf dan tanda baca.

Si titik yakin kalau drinya akan menang. Karena ialah penutup segala jenis kalimat pernyataan ataupun berita. Tapi  hal ini dibantah oleh tanda seru dan tanya. Mereka juga merasa menjadi penutup rangkaian kata. Malahan dengan penekanan yang lebih besar . Si kembar tanda kurung satu dan dua berwacana kalau fungsi mereka juga tak klaah penting, untuk membedakan mana kalimat lansung dan istilah dalam cerita.

Huruf miring dan huruf tebal juga menyanggah. Mereka merasa jadi centre of interest dari suatu rangkaian kata. Titik koma memilih untuk diam saja. Sedangkan tanda koma mencoba menjadi penengah di antara mereka.
Perseteruan seru. Diskusi dan debat adu wacana yang cukup sengit. Hingga batas waktu berakhir tetap tak memutuskan apa-apa. Yang ada, tugas-tugas terlantar,  kreatifitas dan tulisan tak ada yang tercipta. Imaginasi tak bisa tergambarkan sempurna.

Mereka baru menyadari kalau hanya denagn kebersamaan dan kerjaslah mereka basa sempurna. Tak ada yang lebih daripada yang lainnya. Mereka tak bisa berdiri sendiri karena akan tanpa arti.

Begitupun dengan manusia.

Balikpapan, 241010

Kamis, 30 September 2010

Ada Apa Dengan Cinta?


“Cinta itu anugrah, maka berbahagialah. Karena kita sengsara bila tak punya cinta…” (Doel Soembang)
Beberapa hari terakhir, entah kenapa di chatt room gerombolan skypers sedang hot-hotnya dibahas tentang cinta. Kalau versi Imam, satu kata cinta. C.I.N.T.A 

Cinta. Apa sih itu cinta? Kalu bicara tentang hal satu ini, setiap orang bisa punya pendapat yang berbeda. Tergantung pemahaman dan pemaknaannya sendiri tentang cinta. Ada yang bilang kalau cinta itu logis, dari dulu hingga sekarang. Ada yang bilang cinta itu tak bisa didefinisikan, karena semua kembali kepada naluri. Ada yang bilang cinta adalah komitmen untuk terus bersama baik dalam suka dan duka.

Kalau menurut Kahlil Gibran “cinta mengarahkan manusia pada Allah, dan karena cinta pula Allah mempertemukan diri-Nya kepada manusia. Lantaran itu dalam pandangan Gibran cinta sesungguhnya adalah cinta atas nama Allah dan cinta kepada Allah itu sendiri, karena segala sesuatu adalah pantulan dan imanensi dari Sang Mahacinta. Cinta kepada yang lain selain Allah, tetapi atas nama dan di dasarkan pada Allah akan membawa manusia dan alam semesta kepada persekutuan dengan Allah” (Cinta Keindahan Kesunyian, Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74).

Menurut tante Wiki “Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.”

Sedangkan menurut Mario Teguh “ Cinta sejati bukan pada yang dicintai, tetapi pada yang mencintai.
Intinya, beda kepala beda pemahaman tentang cinta. So how about me? Well, menurut saya cinta itu… hmmm…apa ya? Cinta itu perasaan yang unik terhadap seseorang/ sesuatu. Karena cinta banyak macamnya, khusus cinta terhadap lawan jenis (atau sesama jenis untuk orang-orang tertentu), cinta itu biasanya menggebu-gebu diawal, kenginan untuk memiliki dan takut kehilangan, lantas berubah menjadi lebih lembut, keinginan untuk memberi di pertengahan, dan kalau tidak bisa dijaga dan dipertahankan bisa layu terus mati. Atau malah sebaliknya bisa terus ada dan berkembang  dengan adanya sebuah komitmen dan kesetiaan. Keinginan saling berbagi dan memberi, saling menjaga dan mengayomi serta menerima pasangan apa adanya ia, baik dan buruknya. Karena tak ada cinta yang sempurna, yang ada hanyalah bagaimana kita menerima dan mencintai seseorang yang tak sempurna dengan cara yang sempurna.

Cinta jauh lebih dalam daripada sekedar simpati, kekaguman atau bahkan kasihan. Cinta itu berbeda dengan persahabatan, kedekatan ataupun perasaan nyaman dan kepercayaan. Memang, semua itu bisa menumbuhkan cinta, tetapi itu bukanlah cinta.

Whatever people said, cinta itu hanya bisa dirasakan dan dimengerti oleh yang merasakan. Cinta itu tak perlu didefinisikan, tetapi hanya bisa dirasakan. Cinta itu tak butuh alasan maupun penjelasan. Karena cinta hanya kan jadi cinta saja. Sesederhana itu, sekaligus juga sekompleks itu.

Jakarta, 30 September 2010