Pages

Minggu, 02 Agustus 2009

A Lost Bird


A bird
Dream
Freedom
Life and love

when I was a child,
I always dreamed of the bird
Free without any tie
Could fly high until the sky

After years,
I could fly so high
I could go so far
I could be so free

But now, i’m just like a lost bird
Can’t found navigation
Can’t found the direction

I’m a lost bird
Who tired to fly
Missed the earth
Missed the grass

I’m a bird who is searching for a place
Where I could stay forever

Banjarmasin, 1 Agustus 2009

Rabu, 01 Juli 2009

Welcome to the jungle. Nach loch, Junglenya pada kemana??


Kalimantan. Sejak kecil, ketika mendengar kata itu yang pertama muncul di kepalaku adalah hutan. pulau hijau yang penuh hutan belantara. dimana flora dan fauna masih alami dan bebas hidup di sana. Suara alam dan nyayian rimba masih terdengar di mana-mana. persis gambaran di film animasi keluaran Disney Tarzan, Simba dan sejenisnya.

Ketika pertama kali mendapat tawaran penugasan di sana, perasaanku dipenuhi rasa khawatir dan was was. Setelah kota besar Jakarta, Surabaya dan Bandung. Lantas 'dilempar' ke Medan, Padang, Pekanbaru di bagian barat indonesia, sekarang Kalimantan?? Semakin jauh saja. "Adakah peradaban di sana?", batinku bertanya. Bermodal nekad (seperti biasanya), kuiyakan saja tawaran itu. Toh ini adalah sebuah pengalaman baru buatku. Toch, segala sesuatunya berawal dari ketidaktahuan. Kalau tidak tahu, maka harus cari tahu. Kalau tidak kenal, maka kenalan. Kalau belum juga punya pacar, makanya cari pacar. upss.... :P

Setelah sempat mendapat beberapa halangan, akhirnya aku berangkat juga. Kusiapkan semua kebutuhan yang kuperlukan di sana. Pakaian, pernak pernik, buku, dan bayar polis asuransi jangan lupa. In case kalau terjadi sesuatu padaku. Dengan semangat 45 kulangkahkan kaki menuju tempat baru. Welcome to the Jungle.

Perjalanan Jakarta-Balikpapan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Kalau naik pesawat, aku selalu meminta kursi dekat jendela. Karena dapat bebas memandang keluar plus terbebas dari orang dan kru pesawat yang lalu lalang. bisa tidur dengan damai :P 30 menit lagi menuju Bandara Sepinggan, kuarahkan pandanganku ke bawah sana, masih dengan image yang lama tentang Kalimantan "hijau dan hutan. Tetapi….loh kok? loh kok? mana? mana?

Sepanjang mata memandang tak lagi kulihat rimbunan pohon di bawah sana. Permadani hijau hutanku telah berubah warna menjadi kumpulan warna hijau yang tak rapat perkebunan di bawah sana, menjadi hamparan luas berwarna coklat, kuning dan warna warni atap rumah dan bangunan di mana-mana. Hingga pesawat mendarat dengan selamat tak jua kutemukan hamparan sangat luas hutan hijau yang pernah kulihat di televisi ataupun gambaran imaginasiku sendiri. Aku patah hati.

Setelah 2 minggu di Kota minyak Balikpapan, aku semakin melihat sebuah realita yang menyedihkan. Bahwa dalan beberapa puluh tahun terakhir ini, telah berjuta juta hektar hutan telah beralih fungsi menjadi perkebunan, tambang maupun pemukiman. bayanganku tentang hutan di Kalimantan digantikan oleh pertambangan dimana-mana. Kaum expat merajalela, PMA berkuasa. Birokrat yang merasa jadi raja. semuanya atas nama satu hal, keegoisan dan keserakahan manusia. ternyata benar kalimat dalam kitab suci, "kalau manusia akan lebih banyak berbuat kerusakan di muka bumi". Sebelumnya aku sudah sering mendengar berita tentang HPH dan perusakan lingkungan, kebakaran ataupun "pembakaran" hutan, ilegal logging, maupun perusakan alam karena pertambangan. Sebelumnya semua hal itu terasa tak nyata buatku. setaknyata ketika orang bicara tentang migrasi manusia ke mars ataupun kemungkinan menjadi karyawan permanen di tempatku bekerja. semua itu terasa jauh dari kehidupan keseharianku.

Ternyata, datang dan tinggal beberapa saat di sini (walaupun belum terlalu lama) telah memberi satu lagi pelajaran padaku. Aku tersadar bahwa keegoisan dan keserakahan manusia sudah sedemikian parahnya. terutama di negeri kita, Indonesia. Coba kita mulai berhitung 50 thn terakhir saja, sudah berapa juta hektar hutan yang beralih fungsi? Sudah berapa banyak kekayaan alam bumi kita yang beralih tangan ke pihak asing? Sementara rakyatnya sendiri harus rela menjadi kuli di negeri sendiri, dan membiarkan kekayaan alamnya sendiri dikuasai bangsa asing. Coba kita hitung, dari seluruh kekayaan alam kita yang sudah dieksploitasi, hanya berapa persen yang masuk ke kas negara? Dan dari jumlah itu, setelah dipotong korupsi dan birokrasi, hanya seberapakah yang benar-benar dirasakan rakyat banyak? Belum lagi dampak lingkungan yang tak ternilai harganya. Kerusakan alam dimana-mana. Kepunahan berbagai jenis satwa dan flora di depan mata. Pertanyaannya "apakah kita perduli?"

Sebuah keironisan kulihat disini. Ketika kucoba mengunjungi tempat konservasi orang utan di sini, hampir penduduk kota yang kutanya tdk tahu keberadaannya. Mereka tak perduli dengan hutan mereka sendiri. Mereka hanya perduli dengan minyak dan dollar yang mengalir dari upah sebagai "kuli" pengusaha asing. Mereka tak sadar, kalau alam adalah penyokong kehidupan. Kalau alam rusak, apa jadinya hidup kita? Mungkin kita akan benar-benar memerlukan planet baru untuk bermukim.

Aku tak bermaksud mencela pemerintah orde manapun, dulu hingga sekarang. Tetapi ini adalah sebuah realita yang harus dipikirkan. Ini semua harus diperbaiki. Harus ada revolusi ataupun reformasi. Kalaupun kita tak bisa menjadi presiden ataupun anggota dewan pembuat kebijakan, minimal kita mulai sebuah kepedulian kecil. tidak membuang sampah sembarangan, minimalkan penggunaan plastik. Hemat menggunakan kertas dan korek, dan masih banyak hal lain. Semua berawal dari hal yang kecil. Kalau kata AA Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang.

Let's save our Earth. Let’s go Green for the future.

Balikpapan, 30 Juni 2009

Senin, 29 Juni 2009

Aku Jatuh Cinta


Aku jatuh cinta pada kata
Rangkaian kata penuh pesona
Menebar mimpi membuka dunia

Aku rindu ungkapan rasa
Manis, pahit, sedu dan sedannya
Kunikmati saja semuanya
Membawaku memimpikannya

Aku ingin bercumbu dengan buku
Bercinta dengan kata
Bersenggama dengan aksara
Hingga tiada batasan antara aku dan alam raya

Balikpapan, 28 Juni 2009

Rabu, 03 Juni 2009

Three Cups of tea By : Greg Mortensen


"Di pakistan dan Afganistan, kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis: pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun- bahkan untuk mati.” Haji Ali- Noormadhar Desa Korphe.

Pada tahun 1993, Greg Mortensen mengikuti ekspedisi pendakian untuk menaklukan K2-sebuah jalur pendakian gunung di Himalaya- yang merupakan jalur paling mematikan nomor dua di dunia. Di tengah cuaca yang kurang bersahabat, stamina yang mulai melorot hingga ke titik nadir. Mortensen akhirnya tersesat dan akhirnya diselamatkan oleh Haji Ali, seorang nurmadaar (pemimpin) desa Korphe. Tetapi siapa sangka, justru kedatangannya di desa terpencil di daerah pegunungan Himalaya yang bahkan tidak tercatat namanya dalam peta ini akan sangat merubah hidupnya dan juga hidup ribuan anak di daerah sekitar puncak dunia tersebut.

Untuk membalas budi Haji Ali dan warga Korphe yang telah menyelamatkan nyawanya, juga setelah melihat kondisi hampir seluruh warga desa yang buta huruf, Mortensen berjanji akan membangun sebuah sekolah untuk desa tersebut. Ini adalah sebuah kisah tentang pemenuhan janjinya itu. Sebuah kisah yang penuh dengan kerja keras, pengorbanan, konflik dan kemanusiaan. Bagaimana perjuangan Mortensen - yang akrab disebut Dr. Greg oleh warga desa yang dibantunya- membangun sekolah di desa desa paling terpencil di atap dunia.

Membaca buku ini membuatku tersadar bahwa masih banyak sekali orang yang jauh lebih tidak beruntung. Saya masih bisa sekolah, membaca dan menulis. Sebagai seorang perempuan, di negeri ini saya masih berkesempatan untuk berkarya dan meningkatkan potensi diri. Di negara tropis ini saya tak perlu mengalami deraan badai salju dan musim dingin yang menggigit tanpa alas kaki. Hal itu membuatku tersentak malu. Di tengah sedemikian banyaknya anugerah yang saya terima, saya terlalu sering mengeluh, complain. Di saat yang sama saya juga merasa malu, ketika masih banyak saudara seiman yang hidup buta huruf di tengah bahaya musim dan perang, saya tidak berbuat apa-apa. Justru Mortensen yang adalah penganut Nasrani yang berjuang untuk membawa cahaya ilmu pengetahuan ke tengah-tengah mereka. Ironis. Seharusnya ini jadi sebuah pukulan telak bagi seluruh umat muslim di dunia. Agar mereka bisa lebih bersatu dan peduli terhadap sesama.

Kisah ini membuatku tahu bahwa kemanusiaan itu masih ada, bahkan pada seorang Amerika sekalipun. Dan bahwa ternyata, seorang George W Bush tidaklah dapat dijadikan patokan ketika kita hendak menilai Amerika secara keseluruhan, apalagi kalau hendak menilai warga Amerika. Di waktu yang sama saat Bush dan tentaranya melancarkan serangan dan meluncurkan rudal dan misil dengan dalih perang terhadap terorisme. Mortensen yang notabene adalah warga negara Amerika justru menjalankan misi kemanusiaannya tepat di tengah-tengah area konflik. Tepat di jantung wilayah yang terus menerus menjadi sasaran serangan dan penghancuran George W Bush dan sekutunya.

Kemanusiaan itu tak pandang bulu. Tak perduli suku, agama, ras, etnis, bahasa, warna kulit, wilayah dan sebagainya. Baik itu Muslim, Nasrani, Yahudi, Buddha, Pagan. Orang Eropa, Amerika, negro, Asia, Melayu, dsb. Dalam kemanusiaan semua sama. Karena pada dasarnya semua manusia diciptakan setara. Dalam kemanusiaan, hati nurani yang berbicara

Selasa, 02 Juni 2009

Kafka on the Shore. By : Haruki Murakami


The drowning girl’s finger
Search for the entrance stone, and more
Lifting the hem of her azure dress,
She gazes
At kafka on the shore

At beginning, reading this book just like we read two different and not connected stories. It’s about Kafka, a 15 years old boy who runs away from home either to escape from a gruesome oedipal prophecy and to search for his long missing mother and sister. And an aging simpleton called Nakata, who never recovered from a wartime affliction and now is drawn towards something for reasons that, like the most basic activities of his daily life, he can’t fathom.

Try to escape from his former life, try to escape from his father curse. Kafka go to wherever as far as he could. Without any place to go, without any relatives he knew and without any plan what will he do next. After take some travel days, kafka comes to takamatsu city. and stay at a private library.

In the other part of this story, after a murderer of a cat stalker called Johny Walker, Nakata started his jouney towards something he can’t describe. With help from many people, nakata continue his journey until he meets Hoshino, a middle twenty years old truck driver who drove him until Tokyo and then accompany him to Takamatsu.

The two uncorrelated seem stories came to have connected step by step. As their paths converge and the reasons for that convergences become clear. What and whose Nakata search for and what the reasons for that. And what’s the correlation between Kafka and Nakata’s jouney.

Haruki Murakami enfolds readers in a world where cats can talk, fish fall from the sky, and the spirits slip out of their bodies to make love or to commit murder. There’s just very thin border between reality and illusion or dream. This is unpredictable stories, just like Murakami’s. Some part of this story takes me to the other worlds, and I could imagine a place where no ages and no time.

At the end, it comes to the conclusion “In everybody’s life there’s a point of no return. And in a very few cases, a point where you can’t go forward anymore. And when we reach that point, all we can do is quietly accept the fact. That’s how we survive.”

“Time weighs down on you like an old, ambiguous dream. You keep on moving, trying to slip through it. But even if you go to the ends of the earth, you won’t be able to escape it. Still, you have to go there-to the edge of the world. There’s something you can’t do unless you get there.”

Senin, 18 Mei 2009

GERHANA KEMBAR By : Clara Ng


CINTA...Lima huruf yang ajaib dan penuh misteri. Rasanya, tak akan pernah cukup tinta seluas samudra untuk menggambarkannya. Ibarat pelangi indah campuran berbagai rasa. Manis, pahit, sedih, bahagia dan juga luka. Cinta bisa membuat orang bersemangat empat lima. Tetapi di saat yang sama dia bisa membuat orang sakit kepala, jiwa dan rela kehilangan nyawa. Kita tak akan pernah tahu kapan ia akan datang dan kepada siapa ia datang. Orang bilang, cinta itu buta. Cinta sejati tak mengenal batasan usia, kasta, agama, dunia, negara dan juga.....jenis kelamin...

“Cinta itu tak mengenal jenis kelamin, yang penting adalah kasih sayng.“

Ketika pertama kali mendengar kalimat itu, aku hanya bisa tertawa. Aku hanya menganggapnya sebuah lelucon saja. Sebuah lelucon konyol yang dilontarkan beberapa temanku yang ‘agak gila’. Sama sekali tak pernah terfikir olehku bahwa cinta yang seperti itu benar-benar ada.

Aku seringkali mendengar istilah homosex, lesbianisme dan kaum gay. Sama seperti aku juga sering mendengar tentang narkoba, sex bebas dan orang gila. Selama ini aku menganggap hal tersebut adalah sebuah’penyimpangan’, baik dari sisi kejiwaan maupun sosial. Sebuah hal yang jelas-jelas bertentangan dengan norma apapun yang pernah ada.

Aku bukanlah seorang homophobia. Pun aku juga bukan homofilia. Lebih tepatnya, aku bersikap netral. Aku adalah orang yang (berusaha) menghormati hak dan kebebasan individu, sepanjang itu tdk merugikan orang lain. Aku tak pernah ambil pusing tentang apakah si A gay atau si B bersikap ‘ACDC’. Asalkan mereka tidak ‘menyerang’ dan ‘mendekatiku’ secara personal. Karena walaubagaimanapun aku ini masih orang normal. Atau setidaknya kupikir begitu hingga detik ini.

Kalau mendengar tentang hubungan sesama jenis ini, yang terpikir di kepalaku adalah kok bisa? Dari sebegitu banyaknya wanita cantik di muka bumi ini, kenapa orang lebih memilih untuk mencintai sesama pria. Dengan adanya berjuta pria tampan dan keren yang berseliweran di planet ini, kenapa seorang wanita bisa menjadi lesbian? Aneh. Cinta yang aneh. Dunia yang aneh. Orang-orang yang aneh. Aku selalu keheranan dibuatnya.

Ketika membaca bagian awal novel ini, aku tak pernah menyangka kalau ini adalah kisah tentang hubungan cinta sesama. Cinta terlarang. Di pertengahan cerita, secara otomatis pemutar MP3 di kepalaku langsung memutar lagu “Cinta Terlarang’ dari The Virgin.

Kau kan selalu tersimpan di hatiku
Mesti ragamu tak dapat kumiliki
Jiwaku kan selalu bersamamu
Mesti kau tercipta bukan untukku

Reff:
Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk bersamanya
Kumencintainya.....
Sungguh mencintainya.....

Rasa ini sungguh tak wajar
Namun kuingin tetap bersama dia
Untuk selamanya

Mengapa cinta ini terlarang
Saat ku yakini kaulah milikku
Mengapa cinta kita tak bisa bersatu
Saat kuyakin tak ada cinta selain dirimu

Back to reff

Setiap mendengar lagu tersebut diputar di radio ataupun TV, yang pertama kali terlintas dipikiranku ini adalah kisah tentang lesbian. Walaupun di video klipnya menceritakan bentuk “cinta terlarang” lainnya (cinta adik dan kakak ipar?), tetapi entah kenapa aku tetap berpikir kalau lagu ini tdk bercerita tentang itu. Apalagi kalau melihat penampilan penyanyinya, plus beberapa adegan di video klipnya. Tetapi sudahlah tak perlu dibahas terlalu jauh. Toch itukan hanya kesan pribadiku saja. Tak ada hubungannya dengan sentimen pribadi ataupun aspek suka atau tdk suka dengan penyanyinya.

Kembali ke jalan yang benar, ini adalah sebuah review dari novel Gerhana Kembar karya Clara Ng, bukan review lagu ‘Cinta Terlarang’ dari The Virgin.

Lendy, seorang editor di sebuah perusahaan penerbitan tanpa sengaja menemukan sebuah naskah tua dan potongan-potongan surat di dalam lemari Diana-neneknya-. Saat itu sang nenek sedang sekarat di rumah sakit. Ibarat memasuki sebuah dunia yang terkunci rapat. Sebuah rahasia besar masa lalu neneknya dan juga tentang kehadirannya di dunia. Perlahan, dia mulai menyatukan kembali potongan teka teki masa lalu Diana.

Gerhana Kembar adalah kisah tentang cinta seorang wanita terhadap wanita. Sebuah kisah cinta yang tulus dan penuh pasang surut. Membaca novel ini membawaku ke sebuah dunia yang belum kukenal. Rajutan ceritanya menarik emosiku untuk terbawa. Sedih, luka, merana dan cinta. Debarannya, bahagianya dan juga lukanya. Membaca novel ini membuatku jadi berpikir kalau cinta sesama jenis, lesbianisme, homosex atau apapun namanya adalah sesuatu yang biasa saja, normal. Senormal dan sewajar hubungan antara laki laki dan perempuan. Mengalir begitu saja dan alami. Sealami air mineral dari mata air pegunungan. Ini tak ada hubungannya dengan luka masa lalu dan sakit hati. Pun jua tak ada kaitannya dengan penyakit dan penyimpangan. Ini adalah masalah hati. Perasaan. Sesuatu yang bersifat sangat personal. Walaupun itu melanggar batas norma. Peduli setan dengan anggapan publik. Karena kalu kita sudah bicara tentang cinta, seringkali terlupakan masalah logika.

Novel ini tak melulu bicara tentang lesbianisme. Lebih daripada itu, ini adalah tentang sebuah cinta sejati, pengorbanan dan cinta seorang ibu. Walaupun ditentang seluruh dunia, ia tetaplah abadi. Tak hanya itu, kiah ini juga bicara tentang bagaimana berdamai dengan masa lalu, karena seperti apapun ia adalah bagian dari sejarah hidup kita. Bagaimana kita berdamai dengan masa lalu adalah juga tentang bagaimana memaafkan. Juga tentang bagaimana menghargai masa kini.

Salut untuk Clara Ng atas karyanya ini. melalui Gerhana Kembar ia berani membicarakan sesuatu yang tabu di mata masyarakat menjadi sesuatu yang terlihat wajar dan layak untuk dibicarakan. Tiada kesan menghakimi. Juga tak terkesan berlebihan hingga orang salah mengira ia juga adalah seorang lesbian. Clara menceritakan lesbianisme dari sisi yang lain dan berbeda. Bukan sebagai sebuah penyimpangan dan dosa. Bukan pula pelarian atas sakit hati dan trauma masa lalu. Juga bukan sebagai penyakit sosial yang bisa menular. Tetapi ini adalah masalah hati. Sesederhana itu. Sekaligus juga sekompleks itu.

Kamis, 14 Mei 2009

Dimsum terakhir. By : Clara Ng


Ramalan zodiak, shio dan horoskop mengatakan kalau nasib dan sifat orang ditentukan dari tanggal dan bulan kelahiran. Itu berarti orang yang lahir pada tanggal dan bulan yang sama, bahkan tahun yang juga sama akan memiliki nasib dan sifat yang sama.

Ramalan hanya tinggal ramalan. Yang tidak bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan kebenarannya. Buktinya, Siska, Indah, Rosi dan Novera - empat orang saudara kembar yang pastinya lahir di hari, tanggal, bulan dan tahun yang sama tumbuh dan besar dengan sifat, gaya, nasib dan jalan hidup serta masalah yang berbeda. Pengusaha sukses, wartawan plus penulis novel, petani bunga dan guru TK. Siska yang smart, Indah yang kaku tapi dapat diandalkan, Rosi yang selalu ceria dan seenaknya dan Novera yang lembut tapi keras kepala. Setelah beberapa lama terpencar di empat arah mata angin, Singapura, Jakarta, Puncak Cisarua dan Yogyakarta. Mereka berempat terpaksa harus kembali ke Jakarta karena ayah mereka yang sudah tua menderita stroke. Ini adalah sebuah kisah tentang sebuah keluarga. Ketika ego dan kehidupan pribadi ditubrukan dengan sesuatu yang namanya keluarga.

Ketika membaca kisah ini membuatku ingat pada keluargaku sendiri. Walaupun kami tidak bersaudara kembar, tetapi terkadang justru perasaan memiliki itu ada ketika kita tercerai berai. Ternyata darah itu memang lebih kental daripada air. Bagaimanapun keadaan kita, seperti apapun kita. Dan apapun yang terjadi pada kita, keluarga selalu jadi pihak yang selalu menerima kita apa adanya. Sejatinya kita. Keluarga akan jadi tempat kita kembali. Kalau pepatah bilang, setinggi tingginya bangau terbang, pasti akan kembali ke sarangnya. Seperti juga buatku, kemanapun aku pergi, Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Padang atau bahkan London sekalipun. Aku tetap punya tempat untuk kembali. Wualah..kok malah jadi curhat gini sih...i miss Jakarta, I miss My family, i miss my friends..Kapan gw kembali ke Jakarta?? hiks3x *berlebihan*

Membaca kisah ini membuatku terharu hingga meneteskan air mata, juga sekaligus tertawa di bagian yang lain. Segar tapi juga menyentuh. Tak hanya itu kisah ini kritis. Dengan latar belakang keluarga keturunan Cina, Dimsum Terakhir banyak menceritakan bagaimana nasib dan perlakuan terhadap para warga keturunan Cina di era Orde Baru. Kritis, tanpa bermaksud menghakimi. Mengalir apa adanya. Saya sudah membaca hampir semua novel karya Clara Ng, dan hingga kini menurutku novel ini (dan Unreality Show) termasuk salah satu karya terbaiknya.