Pages

Selasa, 16 Februari 2010

Teka Teki


Apa, kenapa, dimana, kapan, siapa, bagaimana. Tanya.
Jika, maka, andai, saja, bila. Umpama.
Ya, tidak, alasan. Jawab.

Kumpulan teka-teki basi.
Pertanyaan berulang yang usang.
Permainan kata tanpa makna.
Tapi tak jua kutemukan jawabnya.

Hanya asumsi berdasarkan bukti.
Hingga lelah, letih;
Sampai bosan, lalu mati.

Cukup, sudah, hentikan.
Semua permainan ini.
Sudahi teka-teki tanpa isi.
Tak perlu jawaban; karena tanya telah mati

Palangkaraya, 15 Februari 2010

Senin, 15 Februari 2010

Derasnya Ciuman Hujan (Sebuah Review atas Ciuman Hujan-Seratus Soneta Cinta By Pablo Neruda)


“Kini saat aku mendekarasikan fondamen-fondamen cintaku, aku persembahkan alaf ini kepadamu: sonata-soneta kayu yang lahir hanya karena engkau memberinya kehidupan” (Pablo Neruda dalam Ciuman Hujan)

Cinta, cinta dan cinta
Terpana oleh cinta
Terpesona dalam kata

Derasnya ciuman kata dari bibirmu
Basahi kering hatiku
Banjiri kerontang jiwaku
Hujani dahaga diriku

Sepanjang hari, ayat-ayat cinta itu terus bertasbih
Sepanjang waktu, tarian kata itu terus bernyanyi
Tanpa henti
Entah itu pagi, senja, petang ataupun malam hari.

Panas, membara dan bergelora
Hangat seperti mentari musim semi
Tetapi sekaligus tajam seperti duri


Oh No. Cinta. Satu kata ajaib dan misterius yang bisa membuat banyak orang terpesona dan kelimpungan dibuatnya. Manis, pahit sedu dan sedannya. Sakitnya, indahnya, suka dan dukanya. Cintalah yang mewarnai dunia. Menjadikan dunia tak hanya hitam, putih dan abu-abu. Kumpulan seratus sonata ini merangkai dgn begitu indahnya kata-kata cinta. Walaupun terkadang liar, panas dan menggelora. Dan terkesan terlalu gombal dan lebay. Tetapi, perempuan mana sih yang ga suka dirayu? Selama dia masih perempuan normal. Pasti tetap terpengaruh sama yg namanya rayuan dan kata-kata manis. Walaupun hanya sedikit. Bahkan walaupun tahu kalau rayuan itu hanyalah palsu belaka.

Kalau si penulis masih hdp di jaman sekarang, dan seumuran (bukan aki2 pastinya), ada di depan mata dan menuliskan soneta2 ini untuk saya, sepertinya saya akan jatuh cinta padanya ^^

Lelaki adalah buaya, binatang. Tetapi perempuan adalah penyayang binatang :P itulah kenapa saya tak suka sama yang namanya perempuan.


*Barbie yang masih klepek-klepek baca kumpulan rayuan buaya Opa Neruda*

Palangkaraya, 14 Februari 2010

Kamis, 11 Februari 2010

Mafalda By : Quino


Suatu hari di kelas
Guru : “Manolito, sebutkan satu kata yang dimulai dengan huruf P”
Mafada : *dalam hati* “duh! Pasti dia bakal menyebut kata jorok itu”
Manolito : “politik”
Mafada : *dalam hati* “nah benar kan!”

Mafalda adalah sosok anak kecil yang kritis dan serba ingin tahu. Pertanyaan dan ucapan polosnya mengena dan menohok. Lucu, usil dan menggemaskan. Juga sekaligus kritis dan mengena. Masalah-masalah yang terjadi di dunia seperti politik, perang dingin, perang, komunisme, kelaparan, kemiskinan, dsb dilihat dari sudut pandang seorang anak kecil.

Tokoh mafalda dan teman-temannya mewakili golongan masyarakat yang ada. Manolito yang kapitalis & mengukur semua hal dari segi materi dgn took Don Manolonya. Felippe yang pemalas dan suka mengulur-ulur pekerjaan –seperti kebanyakan orang-. Tokoh Susanita sebagai penggambaran kaum borjuis yang hanya bisa berhura-hura. Serta Miguelito yang polos dan seolah tak terkontaminasi dengan situasi dunia.

Sebuah komik yang cerdas. Tepat. Mengena. Lucu dan membuatku tertawa sepanjang jalan cerita. Dimana-mana. Di mobil, di rumah, di tempat makan, etc. untungnya belum ada yang menyangka saya orang gila (atau mungkin sudah?). Tidak hanya lucu dan menghibur, tetapi sekaligus tajam, kritis dan mengena. Walaupun dibuat era tahun 60-an. Akan tetapi ceritanya, permasalahan-permasalahan yang dikritis dan disindirnya terasa masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi dunia serta negara kita saat ini.

Kita butuh mafalda-mafalda baru untuk menyadarkan negeri ini dari tidur panjangnya.

Sabtu, 06 Februari 2010

Pantomim


Psst..sudah diam. Tak perlu banyak bicara. Karena makin banyak kau bicara akan semakin banyak dusta.

Sudahlah kau diam. Tutup mulutmu yang menghitam. Busuk. Bau menyan.

Sudahlah kau hentikan. Nyanyian janji tak penting yang kau sebarkan. Janji palsu yang tak pernah jadi kenyataan.

Karena buatmu kesakitan hanyalah tontonan.
Teriakan penderitaan hanyalah bahan tertawaan.

Lelucon hampa kata. mati. tanpa nurani. tirani.
Kelaparan. Kehausan. Akan kekuasaan

lebih baik diam.
Bisu. Gagu.

Seperti pantomim

Palangkaraya, 5 Februari 2010

Labirin


Tubuhku disini, tapi hatiku tidak. Pikiranku berkelana, jiwaku mengembara. Mencari asa yang tiada.
Tersesat dalam labirin. Terjebak dalam lorong tak berujung. Sebuah sesat.

Kemanakah logika? Karena semua kata serasa fana, hampa, tanpa makna. Semua hanyalah palsu belaka. Rayuan buaya.

Dan aku pergi. Bersama kepakkan sayap-sayap patah dan mimpi yang pecah. Tuk kutata lagi hidup dan mimpi tadi. Karena esok mentari ‘kan bersinar lagi. Hidupku ‘kan indah lagi.

Palangkaraya, 5 februari 2010

Jumat, 05 Februari 2010

Topeng


Susah. Sedih. Senang. Lara. Bahagia. Suka. Duka. Cinta. Merana. Benci. Dendam. Tangis. Miris. Tertawa.Terbahak. Meringis. Terkejut. Iri. Bingung. Hampa. Lugu. Lega. Lepas. Gundah. Resah. Gelisah. Tabah. Sakit. Pedih. Perih. Lirih. Serius. Santai. Sinis. Skeptis. Tenang. Diam. Bisu. Takut. Senyum. Histeris. Senyum.

Akting. Drama. Sandiwara. Skenario. Pura-pura. Palsu. Semu. Bohong. Tipu. Muslihat.

Topeng-topeng itu tutupi wajahmu. Yang manakah sebenarnya dirimu? Siapa sebenarnya kamu? Ada apakah di kedalaman jiwamu? Aku ingin tahu.

Atau jangan-jangan. Kau gunakan topeng itu untuk tutupi kerapuhanmu. Traumamu. Masa lalumu. Ketakutanmu. Kesedihanmu.

Entahlah. Hanya kau dan Tuhan yg tahu..
Karena kau adalah pemain solo dari drama kabukimu sendiri

Palangkaraya, 4 Februari 2010

Rabu, 03 Februari 2010

The Letter (Gantung Part 2)


Siang ini kau bertanya padaku. Suatu pertanyaan lugu yang sulit tuk kujawab. Bukan karena aku tak tahu jawabannya. Tetapi Karena ku tak tahu bagaimana mengatakannya. Akhirnya aku memilih untuk diam.

Kediamanku, mungkin mengesalkanmu. Ketakjelasanku, pasti menyesakkanmu. Maafkan aku, tetapi kurasa ini yang terbaik. Buatmu, buatku dan buat kita. Maafkan aku kalau ku tak berani katakan ya, pun tak punya cukup nyali untuk berkata tidak. Andai engkau tahu.

Masih teringat dengan jelas di otakku, saat pertama kali kita bertemu. Di sudut sebuah café yang tenang kau duduk sendirian sambil tertawa kecil sendirian. Di tanganmu nampak sebuah buku buku kecil bergambar yang kutahu belakangan kalau itu adalah komik jepang. Tawa kecilmu mengusik naluri ingin tahuku. Rasa penasaranku. Tanpa sadar, diriku tertarik pada medan magnetmu. Tapi kutak berani bahkan hanya sekedar tuk berkenalan. Gambar sosokmu hari itu saja yang kubawa dalam ingatan.

Hingga akhirnya takdir membuatku bertemu lagi denganmu. Membuatku punya kesempatan untuk lebih jauh mengenalmu. Tanpa syarat, tanpa isyarat kujatuh pada pesonamu. Pada daya dan semangat hidupmu. Pada keceriaanmu. Pada senyummu. Pada tawa lepasmu. Yang terindah adalah saat melihatmu tertawa lepas tanpa beban. Hingga rasanya seluruh dunia terasa ringan. Hanya dengan mendengar celotehanmu, rasanya semua bebanku menjadi hilang. Lenyap. Menguap.

Masih bisa kuingat dengan jelas hari-hari yang kita lalui bersama. Tawa, canda dan semuanya. Semakin lama kuterperosok semakin dalam dalam cintamu. Dalam dirimu. Hingga rasaku hampa bila tanpa hadirmu. Aku cinta kamu Re.

Tetapi, justru karena aku cinta kamu. Karena aku menyayangimu. Ku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Ku tak bisa katakan isi hatiku. Aku hanya bisa diam. Seribu bahasa.

Karena buatku, kau terlalu berharga. Karena buatku kaulah segalanya. Aku tak bisa melihatmu sedih. Aku takkan sanggup melihatmu menangis dan berduka. Aku ingin senyum dan tawa itu tetap ada. Terang seperti mentari. Indah seperti bintang. Dan teduh seperti sang rembulan. Aku takkan memaafkan diriku sendiri kalau kulihat air mata jatuh dari mata beningmu. Aku takkan bisa. Tetapi aku juga takkan mampu 'tuk jauh darimu. Takkan bisa tak melihat sosokmu. Mendengar suara dan tawamu. Senyummu. Makanya aku memilih untuk diam. Biar saja semua seperti ini, seperti adanya kini. Ku tak mau membuat janji. Ku tak mau berikan padau sesuatu yang tak pasti. Apalagi dengan kondisiku kini

………………………..
Kebahagiaanku adalah ketika melihat kau bahagia. Teruslah tersenyum dan tertawa. Teruslah berikan cahaya dan semangat hidup pada orang-orang di sekitarmu. Aku 'kan terus memandangmu dari jauh. Mengawasimu dari jauh. Pun nanti ketika waktuku telah tiba, aku kan tetap membawa ingat akanmu ke surga. 'Kan kuminta pada Tuhan di surga, semoga kau tetap bahagia selamanya.

Waktuku, hanya tinggal sekejap saja. Ku tak tahu apakah kukan bisa terus bertahan, melawan apalagi menang dalam perang ini. Bukan perang terhadap bom, granat atau senjata. Tapi terhadap kanker yang telah merajalela. Aku hanya ingin kau tetap ingat kenangan hari ini. Saat aku masih ada di dunia ini.
Aku sayang kamu Re.
……………………………………………………

Lembaran putih itu basah terkena rintik hujan yang mengguyur sejak dini hari tadi. Membasahi gundukan tanah merah yang baru tertanam. Hampa. Sunyi. Di sudut batu nisan yang baru terpasang.

Telah beristirahat dengan tenang
Andra Reva Susanto
10 October 1979 – 2 Februari 2010