Pages

Jumat, 09 April 2010

Pedih


Mimpi itu datang lagi. Membuka luka yang masih basah. Perih.
Ketika semua kata serasa fana. Ketika semua sinar di mata menjadi fatamorgana. Hampa. Palsu semata.

Rasa itu nyata. Rindu itu ada. Cinta itu berteriak ingin mewujudkan dirinya. Hanya dia.

Tapi ternyata. Buatmu tak begitu. Bagimu semua hanyalah canda. Semua hanya permainan kata. Hampa. Tanpa makna. Pedih rasanya.

Apakah ini hukuman buatku yg telah bermain-main dengan rasa? Hingga kumabuk dalam permainan yang kumulai sendiri. Terjebak dalam jaring yang kutenun sendiri. Adiktif dengan racun yang kutebar sendiri?

Aku telah main hati. Kujatuh dalam cinta. Dalam, tak berdasar. Terperosok dalam rasa. Manis, pahit hingga hambar.

Jutaan tanya. Ratusan kata. Terkubur dalam tak pasti. Hingga lelah, letih. Sampai bosan terus mati.

Ketika kata tiada lagi bermakna. Terjebak dalam sangka yang tak berarti. Aku pergi. Membawa luka dan sakit hati. Tak lg butuh jawaban. Karena tanya telah mati.

The worst is not the word NO. But NO ANSWER.

Palangkaraya, 8 April 2010

Minggu, 04 April 2010

Happy Birthday NSN


Tak terasa, sudah tiga tahun berlalu sejak merger antara dua raksasa telekomunikasi ini dilakukan. Tak terasa, sudah hampir lima tahun saya bekerja di sini (kalau masa kerja selama masih Siemens dihitung juga). Di antara berbagai suka, duka, senang, sedih, tawa, tangis, marah, emosi, sakit hati, maki, konflik, sikut-sikutan, dukungan, kerjasama, tekanan, target, complain, perjuangan, kerja keras, cinta, persahabatan, petualangan dan pelajaran hidup. Lima tahun yang penuh warna. Lima tahun yang penuh pengalaman dan pelajaran berharga. Lima tahun yang telah membuat saya mengenal banyak orang dengan berbagai karakternya. Lima tahun yang telah membuat saya berkelana ke berbagai tempat di nusantara.

Tidak semua hal yang saya alami selama berada di NSN itu indah. Mulai dari status yang tak kunjung berubah kontrak dari dulu hingga sekarang, kapan permanennya ya? “permanen kontrak”. Serta banyaknya tekanan dan kerja gila-gilaan hingga lupa waktu, lupa makan dan lupa kesehatan, apalagi kalau sudah deadline. Entah sudah berapa banyak hal yang dikorbankan selama menjalani profesi ini dengan berbagai resikonya. Mulai dari “dibiasakan berbohong”, atau kalau istilah kerennya negosiasi dan manipulasi kata-kata :P entah sdh berapa banyak “dosa” yang kubuat. Baik sadar ataupun tidak. belum lagi cita-cita meraih jenjang S2 yang tak kunjung dimulai karena “terpaksa” hidup nomaden. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Belum lagi pengorbanan karena harus sering hidup jauh dari keluarga, sahabat dan orang2 tercinta. Bertemu dgn banyak orang, tetapi tak lama berselang langsung berpisah. Banyak, tetapi tak dekat. Ramai, tetapi sunyi. Terkadang lama-lama hal ini membuatku jenuh dan bosan.

Mengutip ucapan seorang teman, “Sudah berapa banyak cinta yang kandas di tengah jalan karena NSN?” karena pekerjaan, seringkali banyak terjadi masalah dan percekcokan beberapa rekan dengan pasangannya masing2 (mungkin saya dan anda adalah salah satunya? ) Banyak juga yang ketemu jodoh, mengalami jatuh cinta dan patah hati di NSN . intinya tetap saja soal jodoh atau tdk kan?

Dalam kurun waktu lima tahun, saya telah bertemu banyak orang dan melihat banyak tempat. Satu hal yang paling kusukai. Jalan-jalan. Di NSN saya punya banyak kesempatan untuk travelling ke banyak tempat secara gratis. Atau paling tidak dengan biaya minim. Hampir semua pulau besar di Nusantara (kecuali Papua) sudah kukunjungi. Entah sudah berapa banyak kota (besar maupun kecil) yang sdh pernah kusinggahi. Dan ini karena profesi. Jadi tanpa biaya kan :D mungkin kalau saya masih bekerja di banking seperti sebelumnya, hingga saat ini saya blm bisa menginjakan kaki di Toraja yg unik, serta “kembarannya” tanah batak karo di pulau samosir yg indah. Belum tentu bisa kakiku menapaki belantara hutan borneo hingga kampung pedalaman di Banten dan Pulau Jawa. Belum tentu juga aku bisa berani bermimpi untuk bisa keliling dunia suatu hari nanti.

Intinya, walaupun sering mengeluh karena tekanan pekerjaan yang membuat pening. Walaupun salary yang tak ada perubahan selama 2 thn terakhir ini. walaupun masih tetap jadi karyawan “permanen kontrak”. Walaupun tdk juga ada peningkatan karir yg jelas. Bisa seenaknya menaik atau turunkan jabatan seseorang, apalagi memutuskan kontrak orang. Walaupun sering kecewa dgn ulah beberapa orang “oknum” yang kurang jujur, KKN, egois, serta banyak sikut-sikutan. Walaupun pernah “hampir” jadi korban kambing hitam dan “ditendang” seenaknya oleh kroni dan geng KKN. Walaupun semakin lama semakin banyak saja peraturan dan kebijakan yang menjengkelkan, menyulitkan dan semakin menafikkan arti para karyawan temporer. Walaupun harus rela “dilempar2” entah ke mana. Terkadang sendirian dgn fasilitas minim. Walaupun sering mengeluh karena atasan, rekan, partner kerja serta customer yang menyebalkan. Walaupun harus rela kerja lembur tanpa dibayar (batasan 18 jam euy ). Demi progress semua harus dilakukan. Walaupun..dan banyak walaupun lainnya. Tetapi tetap saja, aku bersyukur bisa berada di sini. Lebih lagi kalau ada kenaikan gaji & bonus ^^ Beruntung rasanya bergabung di sini. Karena di sinilah aku bertemu dengan banyak teman dan sahabat (plus gebetan :P). Walaupun memang tujuan utama orang bekerja adalah demi materi. Tetapi, “Sahabat dan persahabatan adalah hadiah terbaik yang bisa kau berikan pada diri sendiri”. Ditambah lagi dengan berbagai pelajaran dan pengalaman berharga yang kudapatkan selama bekerja di sini. walaupun itu tetap tdk menutup kemungkinan buatku untuk searching for a better place ya ^^ Love your job, but not the company. Because you never know until when company loves you and then suddenly stop loving you.

Happy birthday NSN
. semoga semakin sukses dan jaya. Jangan lupakan jasa dan kerja keras para karyawannya. Sekecil apapun itu peranan dan jabatannya, juga statusnya. Karena ketahuilah, sebagai perusahaan yang lebih banyak bergerak di bidang jasa & teknologi, peran SDM sangat besar. Tolong lebih perhatikan lagi nasib para karyawan kontrak seperti kami. Jadikan karyawan yang sdh bekerja lebih dari 3 thn menjadi karyawan permanen. Atau paling tdk, buka dan beri kesempatan yang sama dan fair pada mereka yg sdh lama bekerja untuk lebih meningkatkan karir dan statusnya. Semoga tahun ini ada peningkatan status dan nasib bagi kami. Semoga tahun ini ada kenaikan gaji dan pembagian bonus besar-besaran. No more “personil cutting”. No more pemecatan.

Let’s works together to bringing networks to life.


Palangkaraya, 3 April 2010

Di Negeri Bisu


Terdampar di tengah keramaian. Penuh orang lalu lalang. Kereta, kuda dan beragam kendaraan. Tak jauh, kulihat ada pasar. Beragam benda dan barang dagangan. Bermacam ras dan umur. Semua bercampur baur di dalam pasar.

Tetapi, tunggu dulu. Ada sesuatu yang rasanya aneh. Dengan sebegitu banyaknya orang dan kegiatan. Dengan sedemikian ramainya orang berseliweran. Kenapa tak kudengar satu suarapun? Ibarat menonton adegan film bisu. Charlie Chaplin dan pantomime. Semua bergerak tetapi sunyi. Kuperhatikan orang-orang. Mulut-mulut mereka bergerak, seperti berbicara tetapi tanpa kata. Kulihat kuda-kuda yang diparkir di depan pasar. Mereka seperti meringkik, tetapi tanpa suara. Bel dan lonceng yang bergerak seperti berdentam. Ada apa? Batinku bertanya. Apakah mereka semua bisu? Ataukah mereka menggunakan bahasa dan isyarat asing yang tak kumengerti?

Kucoba dekati mereka satu per satu. Kuucapkan tanya. Setelah melirikku sekilas, mulut mereka lantas bergerak- seperti bersuara. Tetapi tetap tiada kata. Aku bingung. Terdampar sendirian di negeri asing yang entah di mana. Di tengah keramaian yang sunyi. Kumulai berteriak-teriak, meracau. Seperti orang gila. Aku mulai panik. Aku tak tahu harus berbuat apa. Kuterus berteriak hingga lelah. Hingga habis suara. Hampir putus asa.

Dalam letih ku menepi. Dalam lelah ku tetirah. Kucari asa kuraba tanya. Dari kejauhan kuamati lagi sekelilingku. Tetap sepi yang sama. Tetap hampa yang tak berkata. Tetap tanya yang tak peroleh jawabnya.

Hingga sampai di satu titik, akhirnya kusadari. Kalau bukan mereka yang bisu. Bukan orang lain yang gagu. Tetapi aku yang tuli . Suara itu ada. Kata itu nyata. Dan jawab itu jelas adanya. Tak bisa kudengar suara yang jelas ada. Tak mau kudengar kata dan jawab yang sudah nyata. Terdampar dalam jalan pikiran sendiri. Terjebak dalam labirin fantasi sendiri. Terikat dengan ego dan penilaian sendiri.

Aku tuli - tak mendengar. Hingga hampir ku bisu - tak bicara.

Palangkaraya, 3 April 2010

Sabtu, 03 April 2010

Hantu


Bayang-bayang itu kembali datang. Menggentayang. Tanpa sadar sosok itu trs muncul di alam sadar. Nama itu terpatri dalam. Hatiku dijajah. Pikirku diraja. Khayalku dimanja. Bagai hantu yg menghantui. Kemanapun aku pergi kau selalu di hati.

Kenapa bisa jadi begini? Aku benci seperti ini. Seperti bkn diriku lagi. Wahai hantu-hantu cepatlah kau pergi. Agar bsa kumiliki diriku lagi. Agar bisa kurebut hatiku lagi. Karena sejak bertemu denganmu. Hatiku bukan milikku sendiri lagi.

Palangkaraya, 2 April 2010

Rabu, 31 Maret 2010

The Stranger


This is my home or not? This is my office or not? This is my world or not?
They are my friends or not? They are person who I know or not? They are my enemies or not?

I think i know them, but not. I think I know this, but not. I think I know, but not.
Know nothing.

Everything looks absurd, imaginative and unreal.
Everywhere I go, makes me lost.
Everybody I meet, just like a stranger.
Or am I the stranger one? so confusing.

Near but far.
So many but not close enough.
Love but hate.
Silence in the crowd.

Banjarmasin, 30 Maret 2010

Senin, 08 Maret 2010

He is Just Not That Into You By : Greg Behrendt


"Seorang pria tidak benar-benar mencintai anda kalau dia tidak pernah berusaha untuk mendekati, menarik perhatian, menghubungi, menelpon, mengajak keluar dll yang menunjukan ketertarikannya kepada anda. Seorang pria tidak benar-benar mencintai anda kalau dia tidak mau menikahi anda atau dia berselingkuh".

Wanita sering mengalami kebimbangan untuk mengetahui perasaan pria terhadapnya. Kedekatan, kebersamaan, flirting, kata-kata basi, gombal, perhatian, etc. Tapi setelah beberapa waktu tidak juga ada kepastian. HTS. Hubungan Tanpa Status. TTM. Teman Tapi Mesra. Pertanyaan itu muncul bertubi "cintakah dia padaku?".

Dalam buku ini, Greg menuliskan jawabannya dari sudut pandang pria. Jawaban yang terus terang, apa adanya hingga kadang menyakitkan. Menohok. Kebenaran memang terkadang menyakitkan. Tapi itu jauh lebih baik daripada terjebak dalam jutaan dalih, Gede Rasa (GR), alasan, prasangka yang ujung-ujungnya menjadi ketidakpastian. Karena sudah jadi kebiasaan buruk kaum wanita untuk mudah tersanjung dan gede rasa kalau ada seorang pria yang memperhatikannya. Lantas mulai menanam prasangka, dalih dan sejuta alasan lainnya.

Menurutnya, pria itu simple. kalau seorang pria jatuh cinta, dia akan melakukan apapun untuk menunjukkan perasaannya & untuk mendapatkan wanita tersebut. Dalih-dalih terlalu sibuk, tidak ingin merusak persahabatan, tidak ingin menyakiti, belum siap, kamu adalah wanita terbaik yang pernah ia kenal, etc itu hanyalah kalimat lain dari "he is just not that into you". Dia tidak benar-benar mencintai anda.

Jadi ketika ada seorang pria yang mendekati anda, belum tentu ia jatuh cinta pada anda. Bisa jadi ia hanya ingin bersahabat dengan anda. Ketika ada pria yang mengobral rayuan dan kata-kata basi : “sayang, cinta, honey, dear, etc”, itu tidak berarti pria itu benar-benar mencintai anda. Bisa jadi karena ia hanya tertarik pada kelebihan yang anda miliki. Pria itu terlalu pengecut untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada anda. Pria lebih baik jatuh ke dalam sumur daripada harus mengatakan kalau ia tidak tertarik pada anda. "He is just not that into you"

So girls, be realistic. Jangan pernah buang-buang waktu, pikiran, energi & hati anda untuk pria yang tidak benar-benar mencintai anda. Anda terlalu berharga. Anda luar biasa. Kalau ia tidak benar-benar mencintai anda, anggap aja ia yang rugi. Percaya dech, ada seseorang di luar sana yang selalu menatap anda dan menanti cinta anda.


PS: buku yang tepat di saat yang tepat.

Kamis, 04 Maret 2010

Jangan Diam


Bicaralah, jangan kau diam.
Katakanlah, asal tak diam.
Jelaskanlah, dan jangan bungkam.

Beribu tanya menggantung.
Berjuta prasangka masih melayang.
Menanti sebuah titik terang.
Tapi kau tetap bungkam.

Pengecutkah kau? hingga tak berani hadapi kenyataan?
Naifkah kau? hingga tak jua mengerti semua pertanyaan?
Licikkah kau? Pandai mengeles mencari alasan?

Ataukah hanya aku yang telah salah pada paham?
Ternyata batas antara kebodohan dan kecerdikan itu terlalu tipis.
Penasaran.
Tapi sudahlah karena tanya sekarang sudah di makam.


Palangkaraya, 3 Maret 2010