Pages

Selasa, 17 April 2012

Travelling Yuks

“The world is a book, and those who do not travel read only a page” (St Augustine)

Jalan-jalan ke luar negeri sekarang tidak semahal satu dekade lalu. Kalau dulu, buat sebagian besar orang Indonesia jalan-jalan ke luar negeri terkesan 'wah' dan gimana.. gitu. Keren lah pokoknya. Soalnya biaya fiskalnya sendiri saja sudah tinggi, berkisar 2,5 juta rupiah, belum lagi biaya untuk pengurusan visa dan harga tiket pesawat yang masih cukup tinggi.

Berbeda dengan sekarang, sejak dihapuskannya fiskal bagi pemegang NPWP plus semakin ramainya penerbangan murah meriah, punya uang 2 juta rupiah saja sudah bisa ke luar negri. Minimal singapore atau KL. Apalagi kalau sedang ada promo maskapai penerbangan. Saya pernah mendapat tiket JKT-KL PP hanya seharga 150 ribu rupiah. Jumlah yang sama dengan harga tiket travel JKT –BDG. Pernah juga saya memperoleh harga tiket JKT – Singapore sebesar 300 ribu rupiah PP. Sama dengan harga tiket bus JKT – Pekalongan (bukan pada masa hari raya).

Coba kita bandingkan dengan harga tiket pesawat di dalam negeri. Untuk jurusan JKT – Balikpapan saja. Pada saat low season, tiket paling murah adalah 600 ribu rupiah one way. Itupun jarang sekali seharga itu. karena biasanya diatasnya. Apalagi menjelang hari raya seperti sekarang. Saya harus membayar dua juta rupiah untuk tiket Balikpapan- Jakarta one way. Jadi, kalau kita hitung-hitung kok ya lebih murah jalan ke luar negeri daripada di dalam negeri? Jadi wajar saja bagi sebagain orang, lebih menyukai travelling ke luar negri daripada di dalam negri.

Belum lagi masalah transportasi dan akomodasi. Transportasi dan akomodasi di dalam begri seringkal tidak memadai dan biayanya relative lebih tinggi. Map, informasi dan petunjuk pariwisata di Indonesia pun terbatas. Bandingkan dengan di luar negeri, di Malaysia misalnya. Kita bisa dengan mudah memperoleh map dan brosur pariwisata di mana-mana, di hotel, bandara, terminal dan tempat makan. Sedangkan di Indonesia? Belum lagi promo pariwisata Negara tetangga yang sangat gencar. Bandingkan lagi dengan Indonesia. Jangankan peta dan brosur gratis, Torism Information Centre yang ada di Bandara-bandara di Indonesia saja hampir selalu kosong tak ada petugasnya. Entah pada ke mana mereka. Entah apa saja yang dikerjakan department pariwisata RI. Jadi jangan pada ribut kalau dunia internasional lebih mengenal Negara tetangga. Asal jangan sampai kejadian pulau Sipadan ligitan terjadi lagi. setelah dimiliki negara lain baru deh pada sadar kalau ternyata potensi alam dan wisatanya luar biasa. Kalau sudah begitu baru deh orang Indonesia pada ‘manyun’.

Sejak dulu saya sudah suka travelling, tetapi masih dalam tahap biasa saja. Yang membuat saya suka travelling karena pekerjaan saya. Pekerjaan saya memungkinkan saya untuk travelling ke berbagai tempat di Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Hanya tinggal pulau Papua saja pulau besar yang belum pernah saya singgahi. Karena pekerjaan saya inilah saya jadi suka menikmati pemanadangan baru, tempat baru, budaya baru dan sebagainya. Terlebih lagi setelah sekitar 3 tahun lalu saat bertugas di Palangkaraya, saya mengikuti sebuah tour sususr sungai Kahayan dan Tangkiling si Kalimantan Tengah. Saya tertarik ikut tour itu karena kebosanan yang melanda. Setelah browsing-sbrowsing di internet jadilah saya mengikuti tour tersebut.

Yang cukup mengejutkan buat asaya adalah, tour tersebut dimiliki oleh seorang expat. Jadi di kapal dengan pengunjung sekitar 20 orang, hamper semuanya adalah orang asing. Guidenya pun orang asing. Jadilah saya satu-satunya orang local di kapal tersebut (juga dengan anak buah kapal pastinya). Ironis rasanya saya diguide-in oleh orang asing tentang negri saya sendiri di kapal milik orang asing dengan pengunjung yang hampir semuanya orang asing. Yang paling terngiang ngiang di kepala saya adalah ucapan sang guide bule yang warga Negara Inggris kepada saya “Erry, your country is very…beautiful. I’m falling in love with Indonesia since the first time I came here. Indonesia has almost everything, landscape, nature, biodiversity, culture, flora, fauna, etc.The only and most problem is, you have stup**d government.” Speachless rasanya mendengar ucapan bule tersebut. Seperti ditampar, tetapi ada saat yang sama ingin bilang “Yes, you’re absolutely right mam, I’m very agree with your words. Indonesia has almost everything, except good government.”

Mungkin itu yang menyebabkan saya jadi semakin suka travelling, untuk mengetahui lebih banyak tentang negeri sendiri. Jangan samapi orang luar yang lebih tahu tentang negeri ini dibandingkan kita sendiri. Saya suka travelling di dalam negeri, tetapi tidak berarti tidak mau keluar negeri. Yang saya nikmati dari travelling adalah perjalanannya itu sendiri. Bertemu orang-orang baru, tempat-tempat baru, budaya baru, pengetahuan dan pengalaman baru. Mengagumi keberagaman dan budaya manusia. Mengagumi keindahan alam dan karunia Ilahi. Itu pula yang membuat saya ingin ‘melebarkan sayap’ travelling ke luar negri. Buat saya, dimanapun mau dalam ataupun luar negeri yang penting kita bisa menikmati perjalanan itu kan?
So, mari travelling. Tak perlu jauh jauh dulu. Bahkan di kota tempat kita tinggal pun, terkadang masih banyak hal yang belum kita ketahui. Kalau soal biaya, saat ini untuk travelling tak perlu biaya terlalu tinggi. Asal kita cerdas menyiasatinya.

Happy travelling

Pontianak, 17 April 2012

errybarbie's photostream

mrt  stationmerlion-threehouse og condomCopy of 100_2437Copy of 100_2420borders book store
at wheelock plazaat sky parkat orchard roadat little indiaat ion plazaat esplanade
100_2768edited100_2762100_2753100_2744100_2726100_2724
100_2716100_2712100_2709100_2706100_2696100_2668

My Life, My Journey

Senin, 16 Januari 2012

Si Bolang Susur Mahakam (part 1)


H-1 : Gedebag Gedebug Keberangkatan 

Sungai Mahakam, sungai panjang yang melintasi Kalimantan timur hingga pegunngan Muller di perbatasan antar Kalimantan Timur dan Kalimantan Bara. Sejak beberapa bulan lalu, saya bermimpi untuk bisa menyusuri sungai terpanjang ketiga di dunia ini. Niat ini akhirnya kesampaian juga  akhir Desember 2011 lalu.
Walaupun saya sudah terbiasa pergi sendirian ke mana-mana, untuk perjalanan kali ini saya lebih memilih ada temannya. Karena medan yang “lumayan asing dan berat”. Plus travelling sendirian itu kurang menyenangkan karena mati gaya plus gak ada di kamera :P

Awalnya saya mengajak beberapa orang teman, tetapi hanya satu orang yang bersedia. Teman yang lain tidak bisa berangkat rata-rata karena masalah waktu dan cuti. Well, itulah nasib jadi pegawai yang serba terbatas. Terbatas waktu, biaya, etc. Andai aku jadi orang kaya .. :D *dream on* :P  Sebenarnya saya juga terancam tidak jadi berangkat karena alasan yang sama , cuti. Akan tetapi dengan modal nekat saya berangkat juga. Walaupun cuti saya sudah diapproved bos yang di JKT, tetapi bos yang di Kalimantan tidak setuju :P  So.. anjing menggongong kafilah berlalu lah. Hajar aja. Kalau mau dipecat, ya pecat aja :D

Berbekal informasi dan budget seadanya, akhirnya saya dan Yani - seorang teman di komunitas couch Surfing-  berangkat juga ke sana. Peralatan tempur pun saya siapkan. Backpack, sandal gunung, pakaian sekedarnya (bahan yang mudah kering pastinya), peta, kompas, P3K dan pastinya kamera serta perlengkapannya. Well, sebenernya kamera dan sodara-sodaranya ini yang bikin bawaan jadi rempong. Karena saya harus membawa tas kamera khusus  yang berisi kamera dan perlengkapannya. Belum lagi tripod. Salah satu kejelekan punya hobi fotografi : kalo ke mana-mana jadi ribet sendiri. Bawaannya jadi banyak. Terpaksa saya harus meminimalkan bawaan yang lain. Karena akan sangat sayang sekali kalau saya pergi tanpa membawa peralatan perang :D Kapan lagi coba saya ngetrip susur sungai Mahakam? :D

Rencana start perjalanan pada hari Jumat  tanggal 23 Desember 2011 dari Balikpapan. Karena posisi saya saat itu masih di Pontianak, maka sejak pagi buta saya sudah meluncur ke bandara untuk mengejar penerbangan pertama ke Balikpapan via Jakarta.

Saya sampai Balikpapan sekitar pukul 3 sore. Sesampainya di kostan, langsung gedebag gedebug packing-packing barang. Jam 5 sore saya meluncur ke terminal Bis Batu Ampar Balikpapan untuk bertemu rekan saya Yani.Dari sini, kami naik bis antar kota jurusan Samarinda dengan tariff Rp 21 ribu /orang. Bis berangkat jam 6 malam. Dan sampai di Samarinda sektar jam 10 malam. Sebenarnya waktu tempuh normal dari Balikpapan- Samarinda hanya sekitar 3 jam. Akan tetapi karena pengemudi bis yang sudah berusia lanjut jadi bis melacu dengan sangat “hati-hati”. Alon alon asal kelakon, daripada kecelakaan :D  

Sesampainya di Terminal Samarinda, kami dijemput oleh teman dari komunitas CS samarinda, yaitu Femi dan Fitria. Mereka mengajak kami menikmati pemadangan malam kota Samarinda dari Puncak, yaitu sebuah caffe yang terletak di atas bukit dengan view night scene yang cukup bagus. Tak terasa jam sudah menunjukan jam 12 malam. Kami segera bergegas ke rumah Ria, seorang member CS Samarinda yang telah berbaik hati mau menjadi host kami berdua malam itu. Tq so much Ria, Fitria dan Femi ..

H1 dan H2 : Pada Sebuah Kapal

Esoknya, pada hari sabtu, 24 Desember 2011 jam 6 pagi kami sudah meninggalkan kediaman Ria untuk menuju Pelabuhan. Setelah menumpang angkot 2 x, kami sampai di Pelabuhan sekitar jam 7 pagi. Sampai di sana kami menemui kekecewaan, ternyata kapal yang menuju Long Bagun sudah berangkat sejak semalam. Karena adanya jembatan roboh di Kutai kartanegara, kapal penumpang semacam ini tidak boleh lewat di sana pada siang hari. Berdasarkan info petugas di sana, kapal akan berangkat dari Tenggarong sekitar jam 9. Karuan saja kami langsung panik dan gedebag gedebuk mencari kendaraan untuk mengejar kapal ke Tenggarong.

Setelah naik angkot 2x, kami sampai di pelabuhan Tenggarong sekitar jam 9 kurang. Cukup ngepas, karena baru saja kami naik, kapal sudah langsung berangkat. Kalau kami telat 5 menit.. saja, bisa dipastikan kami sudah ketinggalan kapal :P  Kapal yang kami naiki bernama Amanda Akbar, jurusan Samarinda - Long Bagun dengan harga tiket 250 ribu/orang dan lama waktu tempuh sekitar 40 jam. Alamat dua harian kami berada di dalam kapal :P

Kapal yang kami tumpangi adalah sebuah kapal penumpang kayu yang terdiri dari 2 lantai. Lantai dasar untuk barang dan penumpang kelas ekonomi, dan lantai 2 untuk penumpang kelas eksekutif. Kelas eksekutif, kesannya keren ya, tapi jangan salah sangka dulu. Kelas eksekutif yang dimaksud di sini hanya berupa lapak kecil yang berukuran pas untuk tidur 1 orang. Para penumpang diberi  alas tidur semacam kasur lipat. Lumayan sih, paling tidak bisa tidur. Mengingat perjalanan bisa mencapai 2 hari.

Waktu terasa berjalan lambat sekali di dalan kapal. Ekspektasi awal, kami harap bisa melewati banyak hutan dan pepohonan. Tetapi ternyata sepanjang jalan kami disuguhi kapal-kapal tongkang batu bara, illegal logging dan hutan casing doang alias pinggir jalan dan sungai saja hutan, dalamnya sudah gundul,  sangat menyedihkan. Hutan sudah banyak yang beralih fungsi menjadi tambang batu bara, perkebunan karet ataupun penebangan kayu liar (illegal logging).  Sedih rasanya melihat kondisi seperti ini .

Bagi warga di sepanjang Mahakam, sungai ini menjadi salah satu sarana transportasi yang cukup penting. Jadi jangan heran kalau segala macam benda dan orang “naik” di kapal ini. Mulai dari kayu, besi tua, sembako sampai buah-buahan.  Karena saat itu sedang musim panen duren, jadilah kami mabok duren sepanjang jalan. Yang menyenangkan adalah, kami dapat duren gratisan :D :D

Sebagai sosialita (maksudnya makhluk social :p ), pastinya kami bersosialisasi dengan penumpang kapal yang lain. Ngobrol tentang banyak hal. Cukup menyenangkan, karena kami  bisa mengenal orang-orang baru dan mengenal lebih dekat penduduk di sekitar Mahakam. Rata-rata adalah penduduk asli setempat ataupun orang Jawa yang bermigrasi ke sana. Kalau dipikir-pikir, orang Jawa itu seperti orang Cina, karena jumlah mereka sangat besar, mereka menyebar ke mana-mana. 

Oh ya, kapal di Sungai Mahakam ini tergantung kepada musim. Saat musim hujan (desember- Januari), debit air tinggi sehingga kapal bisa berlayar sampai Long Bagun. Tetapi saat musim kemarau, debit air rendah, kapal hanya bisa berlayar sampai Melak tau paling jauh Long Iram. Jadi kalau mau ke hulu sungai Mahakam, lebih baik saat musim hujan. Karena kalau musim kemarau kapal tidak sampai Long Bagun. Lewat darat akan memakan biaya dan waktu yang tidak sedikit.

Di kapal ini ada kantin yang menyediakan makanan, yang walapun menunya itu-itu saja sepanjang jalan. Paling tidak menolong dari kelaparan :D sebagai catatan, bagi gembel traveler seperti kami, makan di kapal harus diirit karena harganya yang selangit. Semakin ke hulu sungai Mahakam, harga barang-barang memang semakin mahal.

Kapal melewati Kota Bangun, Melak, Long Iram sampai Long Bagun. Pada hari senin, 26 Desember  2011 jam 1 pagi kami sampai di perhentian terakhir, Long Bagun. Karena hari masih pagi sekali dan masih gelap, kami meminta izin kapten kapal untuk bermalam di kapal sampai pagi. Bermalam di kapal ini juga sebagai salah satu cara mengirit biaya penginapan :D bahkan kami diijinkan untuk bermalam di kapal 2 hari . Karena kapal baru akan kembali menghilir ke Samarinda pada hari Rabu. Yippie!!! :D :D

Malam itu ada 4 orang penumpang yang bermalam di kapal, yaitu saya dan Yani serta seorang perempuan umur belasan beserta ibunya. Demi factor keamanan bersama, kami memilih tempat untuk tidur yang tidak berjauhan.

Sedang enak-enaknya tidur saya dikagetkan dengan teriakan Yani “Mau ngapain pak?” Spontan saja kami terbangun. Ternyata, saat kami tertidur ada seorang Anak Buah Kapal yang mengendap-endap dengan gerakan mencurigakan menuju kami. Dan oknum tersebut mau tiba-tiba merebahkan badannya disamping kami. OMG… orang itu mau ngapain???
Si oknum beralasan sedang mencari gelas dan langsung ngeloyor pergi.  Gosh.. ngapain juga nyari gelas malam-malam. Alasan aja. Thanks God, untung teman saya terbangun kalau tidak.. Astagfirullah….  Hampir saja kami jadi korban pelecehan seksual  di atas kapal. Karena kejadian itu kami jadi tidak bisa tidur sampai pagi dan akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan kapal begitu pagi menjelang.

H3 : Long Bagun. Perjalanan yang tak terekam

Senin, 26 Desember 2011 pagi, kami meninggalkan kapal dan langsung mencari penginapan.  Kami memilih penginapan polewali yang lokasinya tak jauh dari dermaga kapal, tepatnya di depan lamin adat Long Bagun. Tarifnya 75 ribu/malam.

Hal yang pertama kami lakukan sesampainya di penginapan adalah ..mandi. rasanya puas sekali mandi dengan air bersih setelah2  hari tidak mandi di dalam kapal :P Well, sebenarnya di kapal ada kamar mandinya juga. Tetapi namanya juga kapal di sungai, airnya ambil langsung dari sungai dan keluar langsung ke sungai. Ha3x.. gak tega rasanya bersihin badan dengan cara seperti itu. Mending gak mandi sekalian. He3x :D 

Setelah puas bersih-bersih kami memulai petualangan di sekitar long bangun. Dengan menggunakan Ces seharga 1o ribu dari dermaga long Bagun kami menuju kampung adat Dayak batu majang. Sebuah perkampungan kecil yang terletak tak jauh dari Long Bagun. Kampung ini dihuni oleh penduduk asli suku Dayak. Warga setempat mengambil air dari mata air di pegunungan yang langsung dialirkan ke penampungan air untuk warga. Di kampung ini juga terdapat lamin adat.

Saat sedang berkeliling kampong, kami melihat anak-anak kecil membawa banyak duren di keranjang. Penduduk setempat memang suka memanen duren di hutan. Setelah ngobrol dan menawar dengan seorang penduduk desa, kami bisa menikmati 2 buah durian dengan harga 10ribu rupiah. Mak nyos…

Setelah dari kampong batu majang, kami menumpang ces menuju ujo bilang. Si Bapak pengemudi Ces menawarkan untuk menyusuri anak-anak sungai Mahakam sebelum ke Ujo Bilang. Setelah tawar menawar, si Bapak akhirnya mengantarkan kami menyusuri anak-anak sungai Mahakam di sekitar Long Bagun.

Serasa di hutan Amazon, dengan perahu kecil (ces) kami menyusuri anak sungai Mahakam yang berwarna hitam melewati hutan. Agak dag dig dug khawatir tiba-tiba ada buaya muncul di sungai atau ular yang melompat dari dahan pohon di pinggir sungai. Terkadang kami perlu menunduk karena dahan dan ranting pohon yang lebat mencapai sungai. Setelah sekitar 20 menit kami sampai di air terjun kecil yang saya lupa namanya. Mendengar suara alam, riak air, kicauan burung di alam liar dengan udara bersih dan bebas polusi. Rasanya seperti di surga :D

Dari air terjun kami diantar ke anak sungai  yang airnya jernih. Di situ kami baru bisa bermain air. Karena di anak sungai yang sebelumnya tak bisa. Warnanya saja gelap begitu. Kami tak punya cukup nyali untuk berenang bersama buaya atau makhluk air lainnya :D :D

Puas bermain air, kami diantar menuju  Ujo Bilang. Desa ini letaknya tak jauh dari dermaga Long Bagun. Desa ini adalah ibukota kecamatan Long Bagun, jadi desa ini lebih ramai daripada Long Bagun. Di desa ini juga berdiri tower BTS salah satu perusahaan Telekomunikasi. Hanya operator ini yang sinyalnya menjangkau sampai ke daerah hulu sungai Mahakam. Itupun hanya sampai Long Bagun ini. Di daerah di atasnya sudah no signal .

Awalnya kami berencana mengunjungi teman dari rekan seperjalanan saya – Yani -. Akan tetapi ternyata yang bersangkutan sedang tidak di tempat. Maklum saja saat itu memang masih dalam suasana natal. Masyarakat banyak yang bersilaturahmi ke sanak kerabat mereka. Akhirnya kami mengeliligi desa berdua saja.

Awalnya saya mengira kalau penduduk di daerah hulu sungai Mahakam masih sangat tradisonal. Ternyata dugaan saya salah. Jangan terlalu berharap penduduk berpakaian adat dan upacara-upacara tradisional. Telepon selular dan modernitas sudah merambah ke pedalaman. Upacara adat memang masih tetap dilaksanakan pada momen-momen tertentu. Dan sebagian penduduk masih memegang teguh adat dan kepercayaan nenek moyang. Akan tetapi seiring masuknya kebudayaan dari luar dan modernisasi perlahan namun pasti, penduduk mulai meninggalkan adat dan budaya mereka. Yang terlihat paling jelas adalah jumlah penduduk yang bertelinga panjang. Dulu waktu saya kecil, di acara televisi kalau ditayangkan tentang suku Dayak pasti ditampilkan nenek-nenek atau kakek-kakek yang bertelinga sangat panjang. Sekarang sudah sangat jarang. Seiring migrasi kepercayaan penduduk dari kepercayaan lama ke agama Modern seperti Islam dan Kristen, penduduk mlai meninggalkan budaya telinga panjang. Penduduk banyak yang memotong daun telinganya saat mereka hijrah ke agama baru. Anak-anak muda setempat sudah tidak mau memanjangkan telinga mereka. Yang tersisa hanyalah orang-orang tua yang masih setia dengan adat dan kepercayaan lama.

Kami ‘berburu’ orang tua bertelinga panjang untuk difoto. Tetapi memang nasib, mereka sulit ditemukan. Yang kami temukanpun tidak bersedia kami foto.

Tengah hari, kami beristirahat di Mushola setempat. Agak surprise juga masih menemukan mushola di daerah pedalaman dan kampung dayak begini. Usut punya usut ternyata banyak orang dari Jawa dan bugis yang merantau sampai ke sini. Sebagian besar mereka adalah pedagang. Jadi jangan heran jika di pasar-pasar di dearah hulu sungai Mahakam hampir sebagian besar pedagangnya adalah orang Jawa ataupun orang Bugis. Mereka pulalah yang berperan dalam penyebarann agama Islam di daerah ini.

Usai sholat dan beristirahat, maksud hati saya ingin mengedit foto di kamera. Akan tetapi saya melakukan suatu kebodohan yang tak termaafkan, tanpa sengaja saya memencet tombol format memori card di kamera SLR saya. Alhasil, semua foto perjalanan 2 hari pertama hilang tak berbekas. Damn!!!  Mau nangis rasanya  karena banyak momen dan gambar berharga yang hilang. Dengan tak bersemangat saya akhirnya kembali ke long Bagun.

Jumat, 14 Oktober 2011

Shift 1 Shift 2

Pada suatu hari jam 7 pagi. Seperti biasa si A datang kepagian di kantor. Karena bingung mau ngapain, terpaksalah dia sudah duduk manis di depan laptop busuknya yang sering ngadat dari pagi jam 7 lewat. Kantor sepi, lampu-lampu belum dinyalakan. “Walah, saingan ama security dan OB nih :P “ A bergumam.
Jam 8 pagi, mulailah penghuni kantor satu per satu bermunculan. Yang paling banyak sih datang sekitar jam 9an.
Seharian suasana kantor biasa saja. Tidak ada keramaian dan keributan yang berarti.
Jam 6 sore teng. Seperti biasa.. si A mulai berkemas
Bos : Kamu baru jam segini mau ke mana?
A : Pulang lah bos.
Bos : Baru jam segini, saya aja masih di kantor, yang lain masih di kantor.
A : Saya kan shifft 1. datang ke kantor jam 7 pagi. Wajar dunk kalau saya pulang jam 6. Seharusnya malah jam 4 sore saya sudah bisa pulang :D kalau yang lain shift 2, karena baru datang ke kantor jam 9, berarti pulang jam 8 :D
*Didenger orang-orang satu kantor yang cuma bisa geleng-geleng kepala*
A : .. *cuek bebek. Langsung meluncur pergi*

Lagi-lagi “Pesawat Delay”

Minggu pagi, via sms
A : Dear pak bos yang baik hati, karena ada keperluan mendadak di Jakarta, saya ijin hari senin datang siang ya.
Bos : Gak bisa. Kalau datang siang atau sore, ajukan form cuti resmi ya.

Hari senin jam 7.30 pagi
A : datang ke kantor pagi – pagi, manusianya pada ke mana?
Shing…… kantor sepi
Jam 8 mulai bermunculan manusia satu per satu. Paling banyak yang baru datang jam antara jam 9 – 10.

Jam 12.00 siang
A : Say, pak bos ke mana? *bawa-bawa dokumen untuk ditanda tangan pak bos*
B : Gak tau, seperti biasa, dia dari hari jumat pulang ke S**

Jam 2 siang
A : Pak bos belum dateng ya?
C : Belum. Tadi ditelpon katanya masih di bandara, gak tau bandara mana.
……………
Jam 5 sore
A : Si bos belum dateng juga?
B : Katanya pesawatnya delay. Kalau udah sampai akan telpon drivernya untuk jemput.
…………………………..
Jam 7 malam
A : Si bos tadi di bandara mana sih? masa sampe gini hari belum nyampe juga
B : Meneketehe? Alasan basi. Pesawat delay.

Esok harinya, hari selasa. Seperti biasa si A yang sering saingan sama office boy kantor untuk nyalain lampu-lampu kantor karena dateng kepagian.

A : Dokumen gw udah di tanda tangan belum ya?
B : Kayanya belum. Sampe semalam gak ke kantor

Jam 10 pagi, si bos baru muncul.

Jam 2 siang
 A; Pak, semalam pak bos dijemput jam berapa?
Driver : Baru pagi ini mbak.
A : ???????
Pak bos naik pesawat apa sih dari jam 2 siang kemaren bilang udah di bandara baru sampe pagi ini?? *inner. Sebenarnya udah tau jawaban sebenarnya*

2 minggu kemudian
A : Pak bos hari ini ada di mana ya? di sini atau masih di kota P?
B : Gak tau, kata mbak XXX sih dari jumat sore udah gak di P.
A : berarti dia ke sini ya

Sampai senin malam pak bos gak muncul juga.
Si bos naik apa sih dari kota P ke B ampe 3 hari lebih gak nyampe-nyampe? Naik getek atau rakit bambu ya menyusuri sungai Kalimantan dari barat ke timur *inner. Udah bisa menduga alasannya*

Enak ya jadi bos. giliran gw, sehari gak bisa dateng aja suruh bikin form cuti resmi. Nah dia ampir tiap minggu datang telat banget (senin malam atau malah selasa siang). Alasannya kalau gak “pesawat delay”, dia yang “ketinggalan pesawat” atau “lagi di bandara” (bisa seharian loh dibandaranya, ngapain aja?? :P)  *inner lagi*
Pantes aja loe bilang jatah cuti loe masih banyak dan belum diambil bos. Lah wong emang sering gak resmi kok ngambilnya L !! *damn damn inner*
A : Ggrrr^&*(
*garuk garuk tembok*

Nasib Jadi Buruh

Pada suatu hari
A : Bos, jadi gmana, saya boleh cuti gak?
Bos : Nanti ya

Besoknya
A : Pak, bagaimana soal cuti saya? Bisakah?
Bos : ….
Dikacangin
A : …. *tarik nafas. Sabar…*

Besoknya lagi
Bos : kamu cuti melulu. Saya aja gak pernah cuti!
A : kan sudah mau akhir tahun, kalau jatah cuti gak dipakai nanti hangus. Kan sayang
Bos : cuti saya juga hangus terus.
A : …….
“Derita loe kali bos. kenapa  juga gak pernah ambil cuti. Kalau mau cuti, cuti aja. Kok ya dirimu gak cuti orang disuruh gak cuti juga” *inner*
Beberapa hari kemudian
A : Pak, cuti saya...
Bos : Gak bisa!!
A : Tapi pak…
Bos : Gak bisa!! Harus kejar target akhir tahun!!
A : ….
“Kapan sih gak kejar target? Awal tahun, cuti saya ditolak karena harus closing PO tahun lalu. Pertengahan tahun direject karena kejar target baru keluar PO. Menjelang akhir tahun kaya sekarang juga gak bisa alasannya harus kejar target tahunan” *lagi-lagi inner*
Bos : Saya aja sebenarnya pingin cuti, tapi karena dikejar manajemen saya gak ambil cuti
A : ….
“Lah situ kan bosnya. Lagipula situ juga kejar bonus kan? Hayoo ngaku. Kalau achieved target bos-bos kan dapet bonus yang jumlahnya gak sedikit. Nah giliran kami para kroco? Jangankan bonus, planning outing aja gagal terus karena alasan budget. Sebagus apapun achievement kami, tak ada sedikitpun rewards yang kami dapat. Terima kasih aja juga belum tentu.
Jangankan itu , fasilitas dan kesejahteraan karyawan permanen kontrak juga lama-lama dikurangin terus. OT gak dibayar, gak dapat jatah tiket pesawat pulang kampung, sekarang dihomebase-in local – gak ada SPJ di kota yg tingkat biaya hidupnya jauh lebih besar dari Jakarta. Tapi dibayar dgn rate di Jakarta. Padahal UMR di kota ini hampir dua kali lipat UMR Jakarta.”  *inner . lagi –lagi*
Bos : Pokoknya kamu gak boleh cuti. Kalau kamu mau cuti minta approval saja sama pak XXX (atasannya pak bos yang di Jakarta)
A : ….
“Bener ya bos, kalo gw bisa dapat approval Pak XXX, bapak gak boleh complain ya” *just inner..damned!!*
Bos : kamu milih, kamu mau cuti atau mau berhenti!!
A : @^&*(
“Kok jadi kesannya ngancem sih!! Ok. Terserah bapak kalau bapak akan anggap saya berhenti. tapi jangan suruh saya bayar finalty karena melanggar kontrak kerja saya yang sampe akhir Des!! Saya kan mintanya cuti. Bukan mau berhenti!!  Sebenarnya saya masih suka kerja di sini!! Lagipula siapa juga yang melanggar kontrak duluan?? Saya udah diem ada keputusan sepihak soal homebase. Tapi masa cuti aja gak boleh?? Cuti itu hak karyawan!! “*DAMN SHITT!!! I just could say this inner*
“Shiing…. Gw racunin juga loe bos. Gw kutuk loe jadi baik!!” *INNER SIALAN!!!*

Didenger setan dan malaikat yang lagi lewat bersamaan.
Setan : Racun!! Bunuh!! Ayo marah!!
Malaikat : Jangan.. sabar.. marah tidak akan menyelesaikan masalah
Setan : Sabar juga ada batasnya
Malaikatr : Be professional, be rational
…..
A : @#$%^&*() *jedot-jedotin pala ke tembok. Antara profesionalisme, emosi, ego, etc*

Percakapan Orang Stress

Di suatu ruang chatting
A : Sial …Bt…
B : Anjrit….. sialan….gw mau bunuh orang!!
A : Brengsek!! Kesel-kesel gw racunin juga tuh ***
B : Gw  gak rela dihina orang. Harga diri gw gak terima diinjak-injak kaya gini!!
A : Sama, kurang ajar bgt sih *** seenak-enaknya aja memperlakukan orang. Emangnya kita budak, diperes doang,  tapi hak kita gak digubris!! 
B : Bunuh!!
A : Racun!!
Zzz
*Diliat tukang intip chatting orang yg langsung lari karena merinding ketakutan. Dua orang psyco…!!!