Pages

Rabu, 22 April 2009

Why is God Laughing? By : Deepak Chopra


Ketika sedang luntang lantung ga karuan di toko buku Gramedia di Pekanbaru, tak sengaja mata melihat sebuah buku dengan judul “menggoda”.” Mengapa Tuhan Tertawa?”. Jadi inget si naga yang sering memanggil Gus Gieb dengan “han han“. Jadi teringat teman-teman dan keluarga di Jakarta. Homesick yang kuderita semakin kuat mendera *lebay mode on*.

Ternyata..setelah kudekati si buku tadi, nafsu membeli buku semakin kuat ketika kulihat nama sang penulis –Deepak Chopra-. Siapa coba yang tdk pernah mendengar nama ini. Sebuah nama yang identik dengan buku-buku tentang pencerahan, pencarian jati diri, spiritualisme dan semacamnya. Tanpa melihat isi dalam, penerjemah dan penerbitnya, aku langsung membawa si buku ke meja kasir.

Alhasil, sesampainya di hotel dengan semangat 45 kubuka sampul plastiknya dan langsung kulahap kata demi kata. Satu lembar..dua lembar....Semakin jauh ke dalam kerut di dahiku semakin bertambah... Gabungan antara bingung, ga ngerti dan melongo. Diceritakan sang tokoh -Mickey Fellows- sedang mengalami suatu masa perubahan besar dalam hidupnya. Perceraian, kematian ayahnya serta karir yang mulai menanjak. Diceritakan pula adegan demi adegan ketika Mickey bertemu dengan seorang sosok misterius yang menamakan dirinya Fransisco. Cerita berlanjut antara kejadian-kejadian aneh dan teka teki. Lihatlah ini:

Teka Teki Pertama:
“Ketakutan menceritakan banyak dusta, namun selalu dipercaya
Jika terjadi hal-hal yang buruk, ketakutan sungguh akan terbebas
Pada hari ketika engkau dilahirkan, ketakutan telah meracuni hatimu
Ketakutan akan tetap di sana ketika kau mati“
..........................berlanjut dengan teka keti kedua............

Teka Teki Kedua:
“Aku menjaga rahasiamu, engkau membayar upahku
Kau tahu, jika kau tidak membayarnya, maka aku tidak akan lagi bersikap manis
Perlindungan itu penting, bukankah itu yang kau katakan?
Hidup begitu hampa ketika kau tidak tahu cara menjalaninya
Siapakah aku?“
..............................teka teki ketiga........................

Teka Teki Ketiga:
“Suatu hari engkau mencintaiku, tapi esok kau membenciku
Namun, kau tidak pernah menepis kail dan umpan
Engkau meronta ingin melarikan diri, tetapi apa peduliku?
Jala yang kulempar adalah sebuah perangkap abadi“
...........................

Teka teki yang membingungkan. Tak hanya bagi Mickey, juga buatku. Kerutku semakin banyak…..kepalaku pusing…..sumpah, aku tak mengerti sebenernya inti cerita dan rangkaian teka tekinya dimana sih??? Terus apa hubungannya dengan pertanyaan “mengapa Tuhan tertawa?” semakin jauh kubaca, semakin tak bersemangat untuk meneruskan. Entah kenapa aku tak bisa menangkap jalan cerita apalagi pesan moral dan kesan mendalam yang umumnya kutemui dari tulisan-tulisannya Chopra. Yach, walaupun aku bukanlah pencinta sejati karya Chopra, paling tidak aku telah membaca satu dua judul bukunya. Untuk yang satu ini, aku merasa tertipu. Ekspektasi tinggi yang awalnya kurasakan ketika melihat namanya di sampul depan, semakin lama semakin pudar. Entahlah. Aku jadi bertanya, benarkah ini karyanya Deepak Chopra??? Apakah karena masalah terjemahan yang kurang qualified (lagi lagi masalah terjemahan)?? Ataukah hanya karena aku saja yang tidak bisa medapat mood dan feelnya?? Atau...memang akunya saja yang lemot dan ga nyambung. Hahahaha

Lantaran sudah terlanjur membeli bukunya, pun sudah diancam si naga agar membuat review, kuusahakan juga menamatkan buku setebal 241 halaman ini. Baru ketika memasuki bagian epilog dengan sub bab yang bertemakan “Jalan meraih kebahagiaan. Sepuluh prinsip optimisme spiritual”. Aku baru mulai “ngudeng” klo orang jawa bilang. Karena di bagian ini dijelaskan inti dari kisah sebelumnya. Walaupun kalau boleh jujur, ketika membaca kisah sebelumnya, aku sama sekali ga nyambung, apalagi bisa menemukan intinya :P

Menurut Om Chopra di buku ini, terdapat Jalan meraih kebahagiaan. Sepuluh prinsip optimisme spiritual
1. Respons yang paling sehat terhadap hidup adalah tertawa. penangkal ketakutan
2. Selalu ada alasan untuk berterima kasih. penangkal atas pengorbanan
3. Anda adalah bagian skema semesta. Tiada yang harus ditakuti. Anda aman. penangkal perasaan tidak aman
4. Jiwa anda menghargai setiap aspek kehidupan anda penangkal dari perasaan rendah diri
5. Ada sebuah rencana. Jiwa anda menetahui rencana itu. penangkal ketidakberartian
6. Ekstasi merupakan energi jiwa. Ketika hidup mengalir, ekstasi itu alami. penangkal kelesuan (kurang semangat)
7. Ada solusi kreatif untuk setiap problem. Setiap kemungkinan menggenggam harapan berlimpah. penangkal kegagalan
8. Berbagai rintangan adalah peluang yang tersembunyi penangkal. kekakuan
9. Evolusi memandu perjalanan menuju keinginan. penangkal masalah kemunafikan
10. Biarkan kebebasan terjadi. penangkal ketergantungan
Hmmmm… jadi ini ya intinya?? Tahu begitu ga perlu dech cape2 baca kisah sebelumnya yang mondar mandir ga jelas dan menghabiskan 187 halaman dari buku ini. Langsung aja hajar bagian ini. Ketauan dech klo aku adalah penyuka hal-hal yang serba praktis. Instant.
Secara ringkas sebenernya, buku ini bisa dirangkum dalam haiku berikut (lagi ikut-ikutan buat haiku):

Aahh.........
Ah ha !
Ha ha….

Selintas haiku itu tampak tak bermakna. But let wee see.

Aahh…..
Itu adalah masa ketika manusia menghadapi masalah, perubahan, ketakutan, cobaan dan masa lalu yang menekan. Kita cenderung untuk mengeluh, takut bahkan depresi. Lantas berteriak Aahh…. Aku lelah dengan hidup. Aku takut, aku tak sanggup.

Ah ha!
Adalah fase ketika ketika memperoleh ide, solusi, pencerahan dan mulai memperbaiki diri. Ah ha! Adalah sebuah ekspresi umum banyak orang ketika tiba-tiba muncul ide di kepala yang mulai stagnan.

Ha ha…
Ketika manusia udah mulai mendapat pencerahan, dia sudah mulai bisa mengatasi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya dibuatnya sendiri. Hingga akhirnya kita sudah mulai bisa menertawakan diri sendiri. Menertawakan masa lalu dan menertawakan ketakutan itu sendiri.

Intinya, kalau kita lihat point 1 dari sepuluh prinsip di atas. Respons yang paling sehat terhadap hidup adalah tertawa. Jadi kalau kita ingin bahagia dan optimis, tertawa itu tidak hanya perlu, tetapi menjadi wajib. Kalau menggunakan prinsip ini, berarti orang yang paling sehat terhadap hidup adalah ‘orang gila’. Karena orang gila selalu tertawa. Ha ha ha. Tanpa beban, tanpa ketakutan dan tanpa kemunafikan. Orang gila adalah orang yang paling jujur. Karena orang gila tak terkotakan nilai, peraturan atau apapun yang sifatnya materi. Jadi..apakah kita harus jadi orang gila untuk bisa sehat terhadap hidup? Hahaha. Entahlah.

Awalnya aku hanya ingin memberi 2 bintang untuk buku ini. Karena sumpah..terjemahannya kacau balau (atau sebenernya aku saja yang ga nyambung sih). Tetapi, setelah dipertimbangkan lagi, kutambah jadi tiga bintang.

Satu bintang untuk judulnya yang provokatif serta nama seorang Deepak Chopra yang merangsang naluriku membeli buku ini
Dua bintang untuk bagian epilognya yang inspiratif
Tiga bintang karena aku ga tega memberi hanya dua bintang untuk karya Om Chopra.

Minus dua bintang karena
- terjemahannya yang kurang bisa kupahami
- lagi lagi terjemahan yang mengurangi nilai dari buku aslinya (mungkin, karena aku belum pernah baca buku aslinya)

Intinya, buku ini masih layaklah untuk dibaca. Tetapi sebaiknya baca buku aslinya, jangan versi terjemahan. Apalagi yang kubaca adalah versi terjemahan dari penerbit yang kurang dikenal. Karena takut anda akan kecewa karena terlalu memaang high expectation atas nama seorang Deepak Chopra. Dan kalau anda sudah mengalami kesulitan saat membaca bab bab awal, langsung lompat ke bagian epilognya. Karena di situlah intinya. Daripada buang buang waktu membaca sesuatu yang ga dimengerti kan?hehehe

Kamis, 02 April 2009

Tea For Two. By : Clara Ng


Malam penuh temaram bintang, angin berhembus pelan, dan cahaya bulan yang menyinari. Mendapati seorang pria bersimpuh dihadapanmu, dengan seikat bunga mawar di tangan dan berkata "would you marry me??" itu adalah impian hampir seluruh perempuan normal di muka bumi ini.

Pernikahan adalah sebuah kata keramat dan sakral untuk sebagian orang. juga menjadi tema yang terlalu sensitif untuk sebagian yang lain. terutama untuk kaum perempuan. Ketika usia mulai mengejar, diantara perjuangan hidup, karir, persahabatan dan gunjingan orang sekitar. tetapi apakah pernikahan adalah awal dari kebahagiaan dan hidup seorang perempuan?? Ibarat ending kisah2 dongeng. Happy Together, Ever After. Ataukah malah ternyata lelaki yang kita anggap sebagai Mr. Right, ternyata adalah seorang Mr. Totally Wrong?? Pernikahan memang menjadi sebuah babak baru dalam kehidupan seorang perempuan, entah itu babak yang membahagiakan atau bahkan menjadi awal sebuah kisah menyedihkan, tragis dan menguras airmata. seperti kisah telenovela ataupun dorama asia.

Membaca kisah ini membuatku merasa beruntung dengan kesendirianku yang sekarang. bukan berarti pernikahan adalah sebuah kata yang tidak untukku, karena walau bagaimanapun, aku tetaplah seorang perempuan normal. tetapi, paling tidak, aku tidak terburu-buru dalam memutuskan. pernikahan tidaklan seindah yang sering dibayangkan orang. Pernikahan bukanlah awal dari sebuah kisah Happy forever, Ever After. Ketika orang yang awalnya kita anggap Mr. Right, berubah menjadi Mr. Totally Wrong. Ketika sebuah pernikahan merubah kehidupan seorang perempuan. Atas nama cinta, perempuan terpaksa banyak mengalah, ketika seorang perempuan menghadapi penghianatan, KDRT dan perselingkuhan. Atas nama cinta, banyak perempuan menjadi kehilangan dirinya sendiri.

Membaca kisah ini, membuatku senjadi bersikap semakin kritis thd sebuah lembaga yang namanya pernikahan. Karena buat perempuan, pernikahan ibarat persetujuan menjadi “babu” secara legal dan formal. Dan itu semua dilakukan atas nama cinta. Aku bukanlah penganut feminisme semu, apalagi aku bukanlah aktifis perempuan yang gemar meneriakan emansipasi dan kesetaraan gender. Aku hanyalah aku. Manusia biasa yang ingin dicintai dan mencintai. Kalaupun akhirnya aku harus masuk ke dalam lembaga yang kukritisi sendiri, paling tidak aku ingin itu adalah pilihan terbaik yang Tuhan berikan untukku. Kalaupun akhirnya aku harus menjadi ‘pelayan’ dalam sebuah pernikahan, aku ingin menjadi ratu yang melayani raja yang cerdas, bijaksana dan tidak semena-mena. Dan sebaliknya kalaupun kata pernikahan itu tak juga untukku, aku akan dengan berani mengatakan “I’m single, brave, beauty, smart, confidence and very happy"

Hahaha kok review ini malah berubah menjadi media curhat sih. pokoknya hati-hati sebelum memilih. Daripada mengalami KDRT. Never judge a book by it’s cover, but by it’s price. Ups I did it again…hahahaha.

Jumat, 13 Februari 2009

ANAK SEMUA BANGSA. By : Pramoedya Ananta Toer


“Dengan rendah hati aku mengakui, aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat”

-Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa-

Ini adalah lanjutan dari kisahku. Kisah seorang anak yang terlahir di atas bumi manusia, dengan kesetaraan fitrah dan kelahirannya. Tanpa batas negara, suku, budaya, tempat, darah dan segalanya. Akan tetapi, pada saat yang sama, manusia mencoba menetapkan sistem, aturan dan nilainya sendiri. Manusia mengkotakkan diri dalam batasan fana negara, bangsa, suku ataupun kasta. Apakah yang disebut bangsa? Apakah yang dinamakan kasta? Dan apakah pula yang dikatakan sebagai kelas sosial?

Dengan keangkuhannya sendiri, manusia menempatkan diri mereka berada di atas sebagian yang lain. Batasan antara timur dan barat, tradisional dan modern, beradab dan biadab serta antara kulit putih dan berwarna. Apakah sebenarnya bedanya? Semua manusia berasal dari benih yang sama. Yaitu benih adam dan hawa yang akhirnya terusir dari surga. Manusia sama-sama hanyalah gumpalan tanah yang diberi ruh. Manusia juga sam-sama adalah hasil dari kompetisi sperma yang bertempur untuk bisa membuahi sel telur. Setelah berbuah, membelah, lantas tumbuh dan berkembang. Lantas apakah bedanya kita dengan mereka?? Apakah yang menjadi dasar anggapan kalau Barat selalu lebih unggul dari timur? Kulit putih lebih tinggi derajatnya dari kulit berwarna? Kalau bangsa yang satu berada di atas bangsa yang lain sehingga membuatnya merasa bebas berbuat apa saja?? Apakah ilmu pengetahuan? Budaya? Pandangan mereka terhadap diri mereka sendiri atau bahkan nafsu dan keserakahan manusia?

Anak semua bangsa merupakan buku kedua dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Anak semua bangsa adalah sebuah titik balik dalam kisah hidup seorang Minke. Bentrokan antara kekagumannya terhadap Eropa dengan realita yang dialami bangsanya. Merupakan titik balik dimana ia mulai untuk mengenal bangsanya sendiri. Mengenal dirinya sendiri.

Setelah kepergian istrinya-Annelies-, Minke berencana untuk melanjutkan studinya di tanah Betawi. Akan tetapi, siapa sangka, perjalanannya ini menjadi pemicu menuju titik balik kehidupannya. Pertemuannya dengan Khouw Ah Soe menggugah semangatnya untuk bergerak sebagai kaum muda. Sindiran sahabatnya Komer menantangnya untuk lebih mengenal bangsanya. Kenyataan dan kisah seorang petani Trunodongso serta seorang Surati cukup menyadarkannya kalau ia memang tidak cukup mengenal bangsanya sendiri.. Ini adalah sebuah titik balik dari perjalanannya di atas bumi manusia.

Perrjalan mengenal kembali bangsanya bukanlah suatu hal yang mudah. Minke dihadapkan pada suatu keironisan baru. Kenyataan bahwa bangsanya cukup kerdil di tengah-tengah masyarakat dunia. Bangsa kerdil yang tidak cukup bangga memandang dirinya sendiri. Bangsa kerdil yang betah selama berabad-abad selalu menghamba pada bangsa lain, yang ironisnya di atas tanah mereka sendiri. Menjadi budak di atas bumi mereka sendiri.

Humanisme, kesadaran akan harga diri bangsa, keadilan, konflik antara barat dan timur dan kesetaraan manusia masih mewarnai buku kedua ini. Bahkan nila-nilai itu terasa lebih nyata dan menohok. Humanisme yang universal. Walaupun pada dasarnya semua manusia diciptakan setara. Akan tetapi, manusia pulalah yang telah membatasi dirinya sendiri. Kekerdilan pikiran dan mental di satu sisi dan kerakusan di sisi lain. Kebodohan di kutub yang satu, melawan modal dan ilmu pengetahuan.

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Selama suatu bangsa masih memandang rendah dirinya sendiri, selamanya bangsa itu akan berharga rendah. Selama suatu bangsa tidak menganggap dirinya setara dengan bangsa lain, maka akan selamanya pula ia menjadi hamba. Penggambaran yang cukup menyentak dan menohok kesadaran. Bahkan lebih jauh dapat menjadi suatu kritik dan sindiran tajam apabila ditarik hingga era sekarang. Humanisme, keadilan, kesetaraan dan kesadaran akan diri sendiri. Lebh jauh lagi menjurus kepada sosialisme yang sama rata sama rasa?? Komunisme yang sama rata sama rasa tanpa kuasa??

Hahaha, terlalu jauh sepertinya kalau saya menariknya hingga ke arah sana. Akan tetapi bisa jadi, itu yang menjadi ketakutan kaum penguasa orde sebelumnya. Ketakutan akan kritik terhadap diri sendiri. Ketakutan melihat cacat di tubuh sendiri. Tapi ini hanyalah sebuah kemungkinan dari berjuta kemungkinan yang beredar di luar sana. Mungkin, maybe, bisa jadi, probably. Hahaha..entahlah...tak mau pusing saya memikirkannya. Saya bukanlah ahli sejarah, tata negara dan sastra. Saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah penikmat seni dan sastra.

Jumat, 17 Oktober 2008

Persepolis I. By : Marjane Satrapi


Persepolis adalah sebuah ibu kota kuno dari Kekaisaran Persia, terletak 70 km timur laut Shiraz, Iran. Dalam bahasa Persia kuna, kota ini disebut Parsa. Persepolis adalah bentuknya dalam bahasa Yunani.

Perang, revolusi dan pertikaian internal adalah kata yang biasanya terkesan ‘seram’. Tetapi di dalam novel grafis ini, kita bisa tertawa sekaligus mengerenyitkan dahi. Lucu, apa adanya, sekaligus menyentuh. Penuturan yang unik dari seorang Marjane Satrapi berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri.

Revolusi telah berimbas pada semua orang di hampir seluruh aspek kehidupan. Pendidikan, gaya berpakaian, peraturan, dsb. Belum lagi revolusi usai, mereka harus dihadapkan lagi pada serangan dari negara tetangga mereka Irak. Bom, kematian dan dihantui ketakutan. Perang dan pertikaian internal telah menghancurkan sebuah kebudayaan besar yang telah ada sejak beribu tahun SM.

*******
Lucu, apa adanya sekaligus menyentuh. Itu point terbaik dari buku ini. Kalau masalah gambar, menurut pandangan pribadi saya agak unik (mendekati aneh). Mungkin karena saya sudah terlalu terbiasa melihat manga-manga japan yang tipikalnya jauh berbeda. He3x.. Tapi, tetep menarik buat di baca.

Sejarah jadi tidak terlihat rumit. Mudah dicerna

Buku yang saya baca adalah buku edisi bahasa Inggris (sudah ada yg terjemahannya blm ya??). penggunaan bahasa inggris yang cukup familiar, tidak banyak kosa kata ‘asing’. Jadi, saya yang bahasa inggrisnya pas-pasan saja, masih bisa mengerti isinya.

Akan tetapi, buat saya, ada beberapa ‘masalah’ dalam kisah ini.

Pertama : latar belakang keluarga Satrapi yang berasal dari keluarga berada, menengah atas dan berpendidikan. Jadi, dampak dan imbas perang tidak terlalu terasa bagi mereka. Bayangkan saja, ketika krisis melanda, mereka masih sempat-sempatnya berpesta pora. Jadi buat saya, pengalaman perang Marji kecil disini tidaklah setragis bocah-bocah lain yang kurang beruntung yang mengalami hal yang sama.

Kedua : saya menangkap adanya sinisme, sentimen dan justifikasi negative tertentu terhadap revolusi islam di iran ataupun terhadap agama itu sendiri yang hadir pada kisah ini. Hal itu bisa muncul karena sang penulis berasal dari keluarga yang cukup liberal dan terbuka. Ditambah lagi dengan pengalaman perang sang penulis di masa kecilnya. Bagaimanapun, ia adalah korban revolusi dan perang. Mau tidak mau, itu pasti akan mempengaruhi pola pikir, pandangan serta cara penulisannya. Hal itu bisa dimaklumi, karena walau bagaimanapun perang, revolusi, kekerasan dan kejadian yang menimpa seorang anak kecil akan terus terbawa hingga seseorang itu dewasa. Jadi, apa yang digambarkan dalam buku ini belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya. Tanpa bermaksud mengatakan ini adalah sebuah kisah bohongan, akan tetapi saya akan bilang kisah ini tidak cukup untuk mewakili kondisi sebenarnya. Jadi kita tidak dapat menilai apa yang terjadi di sana saat itu hanya berdasarkan buku ini.

Karena kedua point di ataslah, saya hanya memberi tiga bintang untuk buku ini (5* - 2*).

Secara umum, ini adalah buku yang patut dibaca karena menghibur dan mudah dicerna.

Kamis, 16 Oktober 2008

Buddha By : Deepak Chopra


“Siapapun yang melihatku melihat ajaran”

Ini adalah sebuah kisah metamorfosis dari Siddharta Sang Pangeran menjadi Gautama si Petapa hingga menjadi sang Buddha. Siddharta meninggalkan semua kekayaan dan kemulian dunia untuk menjadi Petapa. Terdorong oleh panggilan hati dan takdir, pangeran kerajaan Sakya ini memilih jalan mengembara. Selama perjalanannya mencari kebenaran, mencari makna dan arti hidup, Gautama melalui berbagai penderitaan dan sakit. Perang, kelaparan, kekerasan dan penderitaan hampir menghabiskan tubuhnya. 


Melalui berbagai tempat, bertemu banyak guru dan petapa lain hingga metode penyiksan diri sendiri yang ekstrim dijalaninya demi satu hal, pencerahan. Apakah arti hidup?? Kenapa begitu banyak penderitaan?? Dan kenapa kita harus menderita?? Itu adalah pertanyaan yang terus menerus berkelebat di benak Gautama. Di sisi lain, Mara terus menerus menggodanya, dan berharap Gautama akan gagal. Akan tetapi, bagaimanapun usaha Mara untuk menggagalkan Gautama tidaklah membuahkan hasil. Setelah perenungan dan meditasi mendalam, Gautama memperoleh pencerahan. Sang Buddha telah lahir.

Buddha adalah sosok yang selama ini diidentikan dengan damai, pencerahan dan ketenangan. Tetapi, dibalik itu, kisah hidupnya penuh dengan kekerasan, penderitaan dan sakit. Dari seorang manusia biasa menjadi seorang yang setengah dewa (walaupun ia sendiri tidak pernah mengakui sisi keilahian dirinya. Ajaran-ajarannya masih mempengaruhi jutaan umat manusia di penjuru dunia hingga kini, lebih dari dua milenium sesudahnya. Itulah hebatnya Buddha. Ia hanyalah manusia biasa, hati dan pikirannya sama manusianya dengan hati kita. Ia bukanlah anak Tuhan ataupun tuhan yang turun ke bumi. Ia hanyalah manusia biasa. Manusia biasa yang mengalami pencerahan melalui perjuangan dan kihah panjang yang tak mudah. Sisi manusianya, sama dengan kita semua.

STARDUST By : Neil Gaiman


Semalam aku pergi ke dunia fantasi. Dunia yang hanya ada dalam mimpi dan imaginasi. Peri, elf, penyihir serta makhluk makhluk dan tanaman aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya. Tempat yang penuh dengan makhluk-makhluk ajaib, tempat-tempat eksotik dan benda benda unik. Sihir, penyihir, mantera, jimat, kekuatan gelap, mitos dan kekuatan cinta.

Di dunia mimpi aku seakan bisa menyaksikan perjuangan seorang pemuda dunia nyata yang mencari bintang jatuh demi pujaan hatinya. Pertemuannya dengan bintang jatuh yang dicarinya. Serta perjalanan kembali ke dunia nyata yang penuh marabahaya. Di dalam mimpi aku bisa melihat bagaimana kekuatan tekad dan kekuatan cinta yang bisa mengalahkan kegelapan dan mara.

Stardust (serbuk bintang) adalah sebuh dongeng untuk orang dewasa. Sebuah kisah fantasy untuk orang dewasa yang telah lama melupakan dunia khayalnya. Untaian katanya seperti menarikku kembali ke masa ketika dunia khayali itu masih ada. Ringan, namun menghibur. Bahwa orang dewasa tetap perlu yang namanya fantasy.

Rabu, 15 Oktober 2008

Dream Lovers

Aku jatuh cinta

Aku jatuh cinta pada kata
Rangkaian kata penuh pesona
Menebar mimpi membuka dunia

Aku rindu ungkapan rasa
Manis, pahit, sedu dan sedannya itu
Kunikmati saja semuanya
Membawaku memimpikanmu

Aku ingin bercumbu dengan buku
Bercinta dengan kata
Bersenggama dengan aksara
Hingga tiada batasan antara aku dan alam raya

Berawal dari sebuah statement yang terlontar kalau membaca adalah sebuah kebiasaan ‘buruk’ (terutama karya fiksi) yang hanya membuat orang kebanyakan bermimpi. Bener ga sih??

Statement itu, mengingatkanku pada pengalaman pribadiku. Hampir setiap hari aku membawa buku saat berangkat kerja. Aku membaca kapanpun ada waktu dan kesempatan. Aku membaca saat menunggu shuttlebus, di dalam shuttlebus menuju kantor, jam istirahat, dalam perjalanan keluar kantor kemanapun atau pada saat senggang. Tentunya bukan di saat banyak pekerjaan, karena aku masih cukup tahu diri kalau aku ini hanyalah ‘buruh gajian’ yang masih perlu pekerjaan. Saking seringnya rekan sekantorku melihatku membaca, mereka bertanya “ Rie, loe suka banget baca ya? Gw liat kemana-mana lo baca dech. Kenapa sih loe suka banget baca? “ atau dengan pertanyaan miring “ jangan kebanyakan baca loe, nanti terlalu terpengaruh sama buku n jadi ngimpi lo”. Dalam hati aku bertanya?? What’s wrong with that?? Aku suka baca. Mungkin bisa terpengaruh buku, but what’s wrong?? Selama pengaruh yang kudapat adalah positif. Dan selama aku bermimpi tentang hal yang positif. Apa salahnya dengan itu semua??

Melalu kisah dan perjalanan hidup orang lain yang kuintip lewat buku, aku bisa belajar banyak hal. Aku bisa memandang dunia lewat jendelanya. Bisa tahu hal hal yang blm pernah kutahu, tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi dan orang-orang yang belum pernah kutemui. Aku seakan mendapat oksigen, pencerahan dan cahaya. Tak lagi stagnan dengan rutinitas yang terkadang menjemukan. Belajar mengambil hikmah dari kejadian dan yang pasti aku berani untuk punya tujuan. Buku memang membuatku bermimpi. Bermimpi tentang keajaiban, kekuatan dan kemampuan. Mimpi memberiku inspirasi dan kekuatan. Aku tak ragu lagi meraih cita bahkan menggapai matahari. Seperti dulu, sesuatu hal yang hingga kini masih kusesali.

Tetapi itu hanya kata dalam batin saja. Diluarnya aku hanya tersenyum saja dan bilang pada mereka” mendingan baca daripada bengong, ngehayal yang gak gak ataupun ngomong yang gak karuan dan ngegosipin orang. Nambah dosa aja”. Mendengarnya mereka hanya tersenyum simpul saja. Terkadang sulit untuk menjelaskan pada orang kenapa begini dan kenapa begitu. Apalagi buat mereka yang tidak paham masalah dan tidak mengalaminya sendiri. Aku tak mau bersusah payah menjelaskan hal yang tak perlu pada mereka. Biarkan saja mereka dengan pemikiran mereka. Dan biarkan aku dengan diri dan kesenanganku sendiri. Selama mereka tak mengusik hal-hal ‘sensitif’ dan terlalu pribadi. Aku tak suka mencampuri urusan orang lain sama seperti aku tak suka urusanku dicampuri orang lain.

Life must go on, everything happen. Whatever others think

*sayup sayup terdengar suara nyanyian*

I have a dream
A song to sing
To help me caught with everything
If u see the wonder
Of a fairy tale
You can see future
Even if you fail

I believe in angel
Something good in everything i see

I believe in angel
When i know the time it’s right fo me
I have a dream
A song to sing

.........
Medan , 15 oktober 2008