Pages

Sabtu, 12 Desember 2009

Cukup Sudah. Selesai


Sudahlah. Cukup. Selesai. That's enough. Finished. Kalau memang tidak. Katakan saja tidak. Tak perlu kau ungkit lagi. Tak perlu kau candai. Apalagi kau coba sodorkan aku pada lain hati. Tahukah kau kalau itu jauh lebih menyakitkan daripada sekedar kata 'tidak'? Aku bukan wonder woman yang bisa terus menahan rasa sakit ini. Tapi aku tak butuh simpati. Juga tak perlu dikasihani. Mungkin aku pernah cinta kamu. Tapi aku jauh lebih cinta diriku. Hidupku. Jadi maaf saja. I'm sorry say goodbye. Sayonara. Apakah akan kau tertawai? Atau bahkan ‘kan kau sesali nanti? Kutak peduli lagi. Karena mulai kini kau bukan siapa-siapa lagi.

Palangkaraya, 11 Desember 2009

Sabtu, 21 November 2009

Terjebak Hampa


Hampa rata tanpa dinamika
Sunyi sepi menepi

Hampa tanpa kata
Senyap tanpa suara

Hampa
Sepi
Mati

Terjebak sunyi
Tertawan hampa
Terpenjara sepi

Otakku berkarat
Kakiku terikat
Jiwaku mati
Ideku lari

Dan kebosanan itu, mungkin bisa membunuhku,
Perlahan, namun pasti

Palangkaraya, 20 November 2009

Senin, 09 November 2009

Salam Rindu Untukmu di Surga


8 November 1987

Hari itu, langit kelabu. Matahari bersembunyi malu-malu. Hujan rintik-rintik mengiringi kepergianmu. Setelah beberapa waktu berjuang, akhirnya kanker dengan ganas merenggutmu dari keluargamu. Juga dari sisiku, ibu.

Waktu itu, aku masih terlalu kecil untuk tahu apa itu kanker. Apa itu leukemia. Apa itu kemotheraphy. Apa itu operasi. Saat itu, aku hanyalah seorang anak kecil yang cerewet, sok tahu dan keras kepala. Tetapi kau tetap sabar menghadapiku. Aku yang egois. Aku yang keras kepala. Teringat aku pada peristiwa dulu. Ketika sikap sok tahu dan kekeraskepalaanku membuahkan sebuah “bencana” di kamarmu. Yang bahkan kalau kuingat sekarang membuatku takut pada diriku sendiri. Ternyata, jauh di dalam diriku, aku punya bakat untuk berbuat “di luar batas”. Tapi itu terjadi jauh di masa lalu. Saat itu, kau masih ada disisiku, ibu.

Masih teringat jelas di kepalaku, saat terakhir kau selalu berkata ingin pulang. Dan kami semua berpikir kalau kau ingin pulang ke tanah kelahiranmu. Akan tetapi, ternyata, kau malah pulang kepada-Nya. Tuhan memanggilmu begitu cepat. Mungkin karena Dia begitu mencintaimu, ibu.

Hari ini, kumasih di sini. Di dunia fana yang telah kau tinggalkan. Di tengah berbagai coba dan warna kehidupan. Hingga detik ini, kumasih selalu teringat padamu. Bukan hanya karena kau telah melahirkan dan membesarkanku. Bukan hanya karena kau telah memberikan aku hidup dan cintamu. Bukan hanya karena kau telah mengajarkan kebahagiaan, kebijaksanaan dan cinta. Tetapi karena semuanya. Tak kan mampu kumenghitungnya.

Ibu, ku’kan selalu berdo’a semoga kau bahagia di surga sana. Ibu, kumohon restui anakmu, semoga tetap tabah dalam berjuang menempuh usia.

I luv U Mom, more more and …forever more


Bunda – Melly Goeslaw


Kubuka Album Biru
Penuh Debu dan Usang
ku Pandangi Semua Gambar Diri
Kecil Bersih Belum Ternoda

Pikirkupun Melayang
Dahulu Penuh Kasih
Teringat Semua Cerita Orang
Tentang Riwayatku

Reff Melly Goeslaw
Kata Mereka Diriku Slalu Dimanja
Kata Mereka Diriku Slalu Dtimang

Nada Nada Yang Indah
Slalu Terurai Darinya
Tangisan Nakal Dari Bibirku
Takkan Jadi Deritanya

Tangan Halus dan Suci

Tlah Mengangkat Diri Ini
Jiwa Raga dan Seluruh Hidup
Rela Dia Berikan

Back To Reff

Oh Bunda Ada dan Tiada
Dirimu Kan Slalu Ada Di Dalam Hatiku


Palangkaraya, 8 November 2009

Rabu, 04 November 2009

Malaikat pun Tertawa


Menghitung hari
Mengukur masa
Mengorek arti
Mencari makna

Untuk apa?

Kutanya bintang, tak berkata
Kuteriak pada bulan, dia pun diam saja
Kuteriak pada langit di atas sana
Malaikat pun hanya tertawa ha ha ha

Tiada jawabnya

Palangkaraya, 3 November 2009

Selasa, 03 November 2009

10227


Hari ini, 10227 hari yang lalu, Tuhan mengizinkanku terlahir ke bumi. Dengan penuh perjuangan dan pertaruhan nyawa, ibuku tercinta telah membuatku terlahir ke dunia fana. Keluar dari kegelapan rahim menuju keluasan dunia raya.

Hari ini, 10227 hari yang lalu, mataku mulai bisa melihat indahnya dunia. Birunya langit, hijaunya daun dan warna warni bunga. Dan yang terpenting, aku bisa melihat wajah ayah dan bunda. Ayah yang hanya bisa kudengar suaranya dari luar rahim bunda. Bunda yang merawatku sejak aku masih benih tak bernyawa. Bunda yang tak terlalu lama bisa kutatap wajahnya. Tuhan terlalu mencintainya, hingga Dia terlalu cepat dipanggil-Nya.

Hari ini, 10227 hari yang lalu aku terlahir sebagai manusia. Nyata. Ada. Bukan lagi setitik benih tak bernyawa. Tuhan telah memberikan nikmat hidup buatku. Itu adalah salah satu anugrah-Nya.

28 tahun sudah. 10227 hari lamanya ku hidup di dunia. Tak terhitung sudah berapa banyak nikmat yang telah diberikan-Nya. Tak terhitung pula berapa besar dosa dan alpaku pada-Nya. Tak terkira juga salah dan dosaku kepada manusia. Kuputar kembali cuplikan kisah-kisah lalu. Cinta, suka, duka, tangis, tawa, sedih, bahagia, rindu, dendam dan semuanya. Kucoba ingat kembali wajah-wajah yang pernah muncul di masa silam. Walaupun tak bisa kuingat semuanya karena keterbatasanku sebagai manusia. Wajah-wajah itu. Potret-potret itu. Adegan-adegan itu. Hidup adalah kumpulan peristiwa dan rangkaian keputusan. Yang selama 28 tahun telah membawaku ke saat ini. Titik ini. Tempat ini. Menjadi aku yang sekarang ini.

Kucoba renungi hidupku selama ini. seperti roller coaster yang naik dan turun. Terus berputar. Dan kalau kau tak siap, bisa membuatmu muntah, bahkan jatuh terpental. Tapi, walaupun seperti itu, itu memacu adrenalinku. “if my life just like roller coaster, I’ll choose to enjoy it. Instead of to makes it as a burden in my life”. Karena hidup itu indah. “life is too beautiful. Never take it too seriously. Just enjoy”

Tuhan, terimakasih atas semua yang telah Kau beri. Nikmat hidup. Nikmat iman. Nikmat Islam. Nikmat rezeki. Keluarga. Sahabat dan semuanya. Tak kan sanggup ku menghitungnya. Maafkan aku yang masih blm bisa menjadi hambamu yang terbaik. Maafkan aku yang masih punya banyak salah dan dosa. Tuhan, maafkan aku kalau kumasih sering mengeluh dan merajuk atas semua yang terjadi padaku. Padahal kutahu, itu semua adalah untuk kebaikanku. Masalah, musibah dan cobaan adalah hadiah Tuhan bagi hamba-Nya yang Ia percaya. Benarkah begitu Tuhan? Tuhan, kumohon ampuni aku. Bimbing aku selalu dalam jalan-Mu. Tuhan, bantu aku agar selalu berada di jalan-Mu. bantu aku agar menjadi hamba-Mu yang selalu bersyukur. Bantu aku agar masuk ke dalam golongan yang Engkau ridhoi.

Tuhan, hari ini kan ulang tahunku. Bolehkah aku meminta sesuatu pada-Mu? aku tahu, kau telah memberi banyak…sekali nikmat buatku. Tapi, bolehkan ku meminta satu hal lagi? Engkau Yang Maha Menguasai hati manusia. Engkau pasti tahu kan hal apa yang paling kuinginkan saat ini? Bukan kumerayu-Mu Tuhan. Aku hanya meminta. Kau bilang, manusia boleh banyak meminta pada-Mu kan? Kutahu Engkau pasti sudah tahu apa yang kumau. Jadi aku tak perlu bilang lagi kan? Ini jadi rahasia kita berdua saja ya Tuhan ^^

Waktu bergulir tak terasa. Seperti juga dosa manusia. Aku tahu, kubukanlah manusia yang sempurna. Bahkan masih sangat jauh dari sempurna. Aku tahu, bahwa dalam perjalananku hingga detik ini tak terhitung salah dan alpa yang kulakukan pada Tuhan dan juga manusia. Baik yang disengaja ataupun tidak. Aku hanya bisa bilang maaf atas semuanya. Untuk semua orang yang pernah hadir dalam hidupku, singkat ataupun lama. Aku mohon maaf atas segala salah dan alpa. Buat semua keluarga, teman, sahabat dan handai taulan, termasuk juga untuk orang yang menyebut diri mereka “musuhku” (semoga tdk ada), I just wanna say Thanks. Terimakasih atas semuanya. Terimakasih telah membuat hidupku jadi bermakna. Terimakasih telah membuat hariku jadi berwarna. Merah, hitam, putih dan semuanya. Terimakasih, karena kalianlah aku bisa menjadi aku seperti yang sekarang. Aku hidup, belajar dan berkembang dari kalian. Terimakasih. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya. For All, I luv you full


"Thank U"
By Alanis Morissete


how bout getting off these antibiotics
how bout stopping eating when I'm full up
how bout them transparent dangling carrots
how bout that ever elusive kudo

thank you india
thank you terror
thank you disillusionment
thank you frailty
thank you consequence
thank you thank you silence

how bout me not blaming you for everything
how bout me enjoying the moment for once
how bout how good it feels to finally forgive you
how bout grieving it all one at a time

thank you india
thank you terror
thank you disillusionment
thank you frailty
thank you consequence
thank you thank you silence

the moment I let go of it was the moment
I got more than I could handle
the moment I jumped off of it
was the moment I touched down

how bout no longer being masochistic
how bout remembering your divinity
how bout unabashedly bawling your eyes out
how bout not equating death with stopping

thank you india
thank you providence
thank you disillusionment
thank you nothingness
thank you clarity
thank you thank you silence

Palangkaraya, 2 November 2009

Rabu, 21 Oktober 2009

Perahu Retak Sang Gelombang


Di suatu masa di negeri antah berantah. Hiduplah beberapa orang pendekar sakti. Setiap pendekar memiliki jurus dan ilmu andalan masing-masing. Lima diantara yang paling ternama adalah pendekar hijau, pendekar biru, pendekar hitam, pendekar ungu dan pendekar putih. Ke lima pendekar bersaing dalam merebut mangsa dan kuasa. Juga dalam rangka merebut simpati para penguasa. Penguasa negeri merah, penguasa pulau hijau, penguasa kota biru dan penguasa wilayah bintang tiga warna.

Pertarungan demi pertarungan dilakukan untuk mencari sang pemenang. Belum ada yang berhasil tak terkalahkan. Dalam masa yang lama mereka bersaing. Dalam jangka yang panjang mereka berperang. Terus-terusan. Intrik, jurus dan ilmu perang semua dikerahkan. Spionase, pembajakan ajudan hingga sikut-sikutan. Atas nama harta dan kuasa.

Dalam persaingan yang ketat. Dalam pertempuran-pertempuran yang hebat. Pendekar biru dan pendekar hijau mulai bersiasat. Mereka berencana menggabungkan jurus dan ilmu mereka. Dengan satu harap “menjadi sang pemenang tiada bandingan”. Walaupun ditentang banyak orang. Walaupun tak disukai para pengikut mereka sendiri, kedua pendekar akhirnya melebur jadi satu. Perkawinan.

Sejak awal perkawinan sudah mulai banyak ketidakcocokan. Budaya yang berbeda. Nilai yang berbeda. Prinsip yang berbeda. Status yang berbeda. Kedua pendekar terus berupaya mendamaikan perbedaan di dalam diri mereka sendiri. Atas nama efisiensi, banyak ajudan terbaik dan pilihan yang terpaksa hengkang atau mundur sendiri. Ilmu dan jurus yang mereka miliki tak mudah melebur. Pun jua dengan budaya dan sifat mereka sendiri. Si biru yang sombong, arogan dan efisien bertabrakan dengan si hijau yang lebih familiar dan manusiawi. Mereka mendapat julukan baru “pendekar gelombang”. Yang menurut idenya adalah gabungan dari nilai2 yang dimiliki unsur-unsur pendiri gelombang – jurus biru dan jurus hijau-. Si biru berhasil menguasai kapal gelombang. Sementara pendekar hijau dan pengikutnya perlahan menghilang. Jurus-jurus baru. Nilai- nilai baru. Budaya baru. Peraturan baru yang semakin ketat dan mengawang. Pendekar gelombang adalah penjunjung nomor wahid ajaran etis. Kejujuran. Anti korupsi, anti kolusi. Idealisme gelombang ibarat sebuah mimpi utopia di tengah bumi yang kacau balau. Tabrakan nilai dan kepentingan pun dimulai.

Ketika pendekar gelombang dengan giatnya mengkampanyekan jurus-jurus etis, mereka kehilangan pamor di mata penguasa. Kenapa? Karena para penguasa tak terbiasa dengan ajaran etis yang diusung gelombang. Mereka menganggap gelombang terlalu keras dan mengada2. Karena pada dasarnya, para penguasa juga manusia, yang masih suka hal-hal durjana. Penguasa mulai ragu memberikan pekerjaan pada gelombang. Karena buat gelombang, lebih baik tdk mendapat kue daripada hrs tdk etis. Teorinya. Padahal diantara para pimpinan, abdi dan pengikutnya sendiri, kapal gelombang tidaklah seetis yang dikatakan.

Konflik internal. Etis yang utopis. Etika yang binasa. Peraturan yang membelit diri sendiri. Membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana. Ditambah lagi seluruh negeri yang sudah teracuni virus korupsi dan kolusi. Gelombang terlalu keras terhadap diri sendiri. Gelombang mulai tak mampu memenuhi keinginan para penguasa negeri.

Gelombang mulai sakit, tak tahan terhadap tekanan. Juga adanya pertentangan internal dan issue perceraian. Perlahan, pekerjaan-pekerjaan yang biasa diberikan pada gelombang diambil alih para pesaingnya. Mulai dari penguasa negeri merah yang biasanya mempercayakan sebagian besar pekerjaan pada gelombang mulai melirik pendekar lainnya. Pendekar ungu. Pendekar hitam. Terjadi juga pada penguasa wilayah bintang tiga warna yang berpindah kepada pendekar ungu dan si kipas merah. Penguasa kota biru-sebuah negeri yang masih sangat baru- tak lagi mempercayakan seluruh pekerjaan kepada pendekar gelombang. Lagi-lagi direbut oleh pendekar hitam, ungu dan si kipas merah.

Tahun-tahun belakangan, nama si kipas merah semakin muncul ke permukaan. Berbagai misi telah dilakukan dan mengangkat namanya di rimba persilatan. Si kipas merah yang berasal dari negeri tirai bambu memiliki jurus andalan “harga dan gratisan”. Para penguasa pun tergiur. Si kipas merah merajai persaingan mengalahkan para pendekar lainnya, termasuk pendekar gelombang.

Perahu yang ditumpangi pendekar gelombang mulai retak. Oleng tertiup angin si kipas merah. Para pengikut setia yang kecewa banyak berpindah arah. Begitu juga dengan para oportunis. Ini bukan lagi masalah kesetiaan. Kekecewaan yang bertumpuk. Ketidakpuasan hingga atas nama kesempatan. Pendekar gelombang mulai tertiup badai. Masih tak tahu apakah akan bisa bertahan atau perlahan tenggelam ke dasar lautan. Kapal gelombang butuh suatu gebrakan dan jurus sakti untuk membawanya menang dari perang.

Dan kini, kuberdiri di sini. Di atas perahu gelombang yang mulai retak dan terancam karam. Tergoda angin yang terus berhembus dari sebrang lautan. Angin si kipas merah dan godaan pendekar saingan. Muncul beberapa pilihan “Bertahan dan menambal perahu retak gelombang atau tergoda dan mengikuti arah angin para saingan.” Aku memilih pilihan ketiga, yaitu bertahan sambil melihat perubahan cuaca dan arah angin. Bukan karena kesetiaan. Tetapi lebih karena keskeptisan. Angin bisa cepat berubah arah, melebihi dugaan. Juga karena aku letih terus menerus dipermainkan. Perang.

Ketidakpastian. Ketidakleluasaan. Karena pada saat yang sama, aku ingin mempersiapkan diri membangun kapalku sendiri. Tiada lagi tekanan, penuh kesempatan dan keleluasaan. Berjuang menggapai mimpiku sendiri. Aku ingin tak lagi peduli pada perang, baik pada gelombang maupun si kipas merah. Pertanyannya : “Apakah aku bisa?” Hanya waktu yang kan menjawabnya. Wish me luck. Semangat!!


Palangkaraya, 20 Oktober 2009

Selasa, 13 Oktober 2009

Bukan Mentari


Aku bukanlah mentari
Yang selalu siap terangi hari

Aku bukanlah bintang
Yang mampu membuat malammu terang

Aku bukanlah dewi
Yang bisa kau bangga dan pujai

Aku hanyalah aku
Yang belajar mencintaimu
Seperti apa adanya dirimu

Palangkaraya, 12 Oktober 2009