skip to main |
skip to sidebar
Susah. Sedih. Senang. Lara. Bahagia. Suka. Duka. Cinta. Merana. Benci. Dendam. Tangis. Miris. Tertawa.Terbahak. Meringis. Terkejut. Iri. Bingung. Hampa. Lugu. Lega. Lepas. Gundah. Resah. Gelisah. Tabah. Sakit. Pedih. Perih. Lirih. Serius. Santai. Sinis. Skeptis. Tenang. Diam. Bisu. Takut. Senyum. Histeris. Senyum.
Akting. Drama. Sandiwara. Skenario. Pura-pura. Palsu. Semu. Bohong. Tipu. Muslihat.
Topeng-topeng itu tutupi wajahmu. Yang manakah sebenarnya dirimu? Siapa sebenarnya kamu? Ada apakah di kedalaman jiwamu? Aku ingin tahu.
Atau jangan-jangan. Kau gunakan topeng itu untuk tutupi kerapuhanmu. Traumamu. Masa lalumu. Ketakutanmu. Kesedihanmu.
Entahlah. Hanya kau dan Tuhan yg tahu..
Karena kau adalah pemain solo dari drama kabukimu sendiri
Palangkaraya, 4 Februari 2010
Siang ini kau bertanya padaku. Suatu pertanyaan lugu yang sulit tuk kujawab. Bukan karena aku tak tahu jawabannya. Tetapi Karena ku tak tahu bagaimana mengatakannya. Akhirnya aku memilih untuk diam.
Kediamanku, mungkin mengesalkanmu. Ketakjelasanku, pasti menyesakkanmu. Maafkan aku, tetapi kurasa ini yang terbaik. Buatmu, buatku dan buat kita. Maafkan aku kalau ku tak berani katakan ya, pun tak punya cukup nyali untuk berkata tidak. Andai engkau tahu.
Masih teringat dengan jelas di otakku, saat pertama kali kita bertemu. Di sudut sebuah café yang tenang kau duduk sendirian sambil tertawa kecil sendirian. Di tanganmu nampak sebuah buku buku kecil bergambar yang kutahu belakangan kalau itu adalah komik jepang. Tawa kecilmu mengusik naluri ingin tahuku. Rasa penasaranku. Tanpa sadar, diriku tertarik pada medan magnetmu. Tapi kutak berani bahkan hanya sekedar tuk berkenalan. Gambar sosokmu hari itu saja yang kubawa dalam ingatan.
Hingga akhirnya takdir membuatku bertemu lagi denganmu. Membuatku punya kesempatan untuk lebih jauh mengenalmu. Tanpa syarat, tanpa isyarat kujatuh pada pesonamu. Pada daya dan semangat hidupmu. Pada keceriaanmu. Pada senyummu. Pada tawa lepasmu. Yang terindah adalah saat melihatmu tertawa lepas tanpa beban. Hingga rasanya seluruh dunia terasa ringan. Hanya dengan mendengar celotehanmu, rasanya semua bebanku menjadi hilang. Lenyap. Menguap.
Masih bisa kuingat dengan jelas hari-hari yang kita lalui bersama. Tawa, canda dan semuanya. Semakin lama kuterperosok semakin dalam dalam cintamu. Dalam dirimu. Hingga rasaku hampa bila tanpa hadirmu. Aku cinta kamu Re.
Tetapi, justru karena aku cinta kamu. Karena aku menyayangimu. Ku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Ku tak bisa katakan isi hatiku. Aku hanya bisa diam. Seribu bahasa.
Karena buatku, kau terlalu berharga. Karena buatku kaulah segalanya. Aku tak bisa melihatmu sedih. Aku takkan sanggup melihatmu menangis dan berduka. Aku ingin senyum dan tawa itu tetap ada. Terang seperti mentari. Indah seperti bintang. Dan teduh seperti sang rembulan. Aku takkan memaafkan diriku sendiri kalau kulihat air mata jatuh dari mata beningmu. Aku takkan bisa. Tetapi aku juga takkan mampu 'tuk jauh darimu. Takkan bisa tak melihat sosokmu. Mendengar suara dan tawamu. Senyummu. Makanya aku memilih untuk diam. Biar saja semua seperti ini, seperti adanya kini. Ku tak mau membuat janji. Ku tak mau berikan padau sesuatu yang tak pasti. Apalagi dengan kondisiku kini
………………………..
Kebahagiaanku adalah ketika melihat kau bahagia. Teruslah tersenyum dan tertawa. Teruslah berikan cahaya dan semangat hidup pada orang-orang di sekitarmu. Aku 'kan terus memandangmu dari jauh. Mengawasimu dari jauh. Pun nanti ketika waktuku telah tiba, aku kan tetap membawa ingat akanmu ke surga. 'Kan kuminta pada Tuhan di surga, semoga kau tetap bahagia selamanya.
Waktuku, hanya tinggal sekejap saja. Ku tak tahu apakah kukan bisa terus bertahan, melawan apalagi menang dalam perang ini. Bukan perang terhadap bom, granat atau senjata. Tapi terhadap kanker yang telah merajalela. Aku hanya ingin kau tetap ingat kenangan hari ini. Saat aku masih ada di dunia ini.
Aku sayang kamu Re.
……………………………………………………
Lembaran putih itu basah terkena rintik hujan yang mengguyur sejak dini hari tadi. Membasahi gundukan tanah merah yang baru tertanam. Hampa. Sunyi. Di sudut batu nisan yang baru terpasang.
Telah beristirahat dengan tenang
Andra Reva Susanto
10 October 1979 – 2 Februari 2010
Sudah berbulan kutinggal di kota Palangkaraya ini. Di antara jenuh, penat dan kesepian. Di antara sunyi, bosan dan kerinduan yang tertahan. Baru saat ini aku bisa mulai menikmati indahnya alam Kalimantan. Sebelumnya yang kulihat hanya kebosanan tak berakhir. Kesepian tak berujung. Dan kebakaran hutan. Sempat aku patah hati ketika awal menjejakkan kaki di tanah bertuah ini. Katanya hutan, katanya rimba. Yang ada hanyalah hamparan lahan gersang sisa-sisa kebakaran. Yang nampak hanyalah tanah-tanah tandus sisa penggalian dan tambang. Dan asap yang menyesakkan pernafasan. Aku bertanya-tanya kemanakah hutanku? Kemanakah paru-paru bumiku?
Beberapa hari lalu, aku mendapat tawaran tour dari sebuah travel agent. Didorong rasa penasaran tanpa pikir panjang kuiyakan saja tawaran itu. Jum’at sore aku berangkat di tempat perjanjian. Jam setengah empat sore aku tiba di sebuah dermaga kecil di daerah Tangkiling (sekitar 1 jam dari kota Palangkaraya). Nampak sebuah perahu kayu ukuran sedang sedang bersandar. Kali pertama kuinjakkan kaki di atas perahu, I feel very exciting. Bersemangat, karena memang sdh lama aku ingin ikut tour ini. Menjelajahi sungai dan riam di pedalaman hutan Kalimantan. Menelusuri budaya asli masyarakat dayak dan mencumbui hutan dan alam yang masih perawan. Yah, walaupun ini hanya tour singkat sekitar 3 jam. Karena untuk mengikuti tour lengkap selama 3 hari, saya blm sempat. Karena diadakannya di hari kerja. Mana sempat? Bisa saja sih saya nekat “melarikan diri”. akan tetapi kalau ketahun si bos bisa gawat. Jadi tour singkat sebagai penawar sementara rasa penasaran ok lah.
Beberapa menit kemudian, peserta tour yang lain mulai berdatangan. Dan Oh No, sesuai dugaan, saya jadi satu-satunya orang local yang ikut tour ini. sementara peserta tour yang lain berasal dari berbagai negara. Disatukan oleh satu hal, ketertarikan akan alam dan eksotisme hutan Kalimantan. Jauh-jauh mereka datang kesini hanya untuk melihat hutan Kalimantan dan orang utan. Guidenya –pemilik perusahaan tour ini adalah seorang expat. dari pembicaraan kami selama perjalanan, ternyata beliau sudah beberapa thn tinggal di Kalimantan. Dan saya rasa dia jauh lebih menguasai alam dan hutan Kalimantan di bandingkan orang local. Yang menohok saya adalah kenyataan bahwa mereka-para bule dan expat- umumnya jauh lebih menghargai alam dan budaya negeri ini dibandingkan kebanyakan orang negeri ini sendiri. Ketika orang Indonesia bermimpi untuk pergi jalan-jalan ke luar negeri. Mereka malah jauh-jauh dari negeri mereka datang ke sini. Yah, seperti kata pepatah “rumput tetangga memang lebih hijau dari rumput sendiri”. Jadilah aku orang lokal satu-satunya di antara para bule, di kapal milik bule dan di guide-in juga sama bule. Diceritain tentang hutan Kalimantan dan kampung serta budaya dayak dari orang bule. Terdengar ironis rasanya. Tetapi itulah faktanya. Rasa malu, miris, ironis bercampur jadi satu. Apalagi ketika salah seorang dari mereka bilang begini padaku “ Cherry, your country is really beautifull. You must feel glad of it and must take care of it. If your neighbours Malaysia seem more known for tourism, that’s because you (baca: Indonesia) not do good marketing. For everything marketing is the most important. Your country more better and more beautifull than yourneighbour. So do good marketing. That could be your important asset. And don’t forget government support & management aspect”. Sungguh wejangan yang sangat menohok buatku.
Banyak pertanyaan menggelitik. Kemana peran pemerintah dalam hal ini? Apalagi ketika mendengar cerita tentang hutan yang terabaikan dan banyak beralih fungsi. Taman nasional yang tak terawat dengan baik bahkan tanpa akses jalan kesana. Etc etc. tanpa bermaksud menyalahkan pemerintah atau siapapun. Tanpa bermaksud memuja para expat yang kita juga tak tahu murni atau tdknya motif mereka. Tetapi faktanya adalah kurangnya kepedulian dari banyak pihak tentang alam mereka sendiri. Suatu keironisan ketika saya melihat bahwa orang luar jauh lebih menghargai alam dan budaya kita dibanding kita sendiri. Hal ini membuatku merenung. Tercenung.
Selesai pesiar singkat, bukannya langsung pulang ke Palangka sesuai rencana saya malah “nyangkut” di sebuah penginapan yg dinamakan eco village. Tempatnya sangat tenang dan damai. Yang baru saya sadari keeskan paginya kalau di belakang kamar saya sdh langsung hutan dengan pepohonan yang besar-besar. Tapi baguslah, kalau saya sadar malamnya mungkin saya tdk bisa tidur karena ketakutan tidur di tengah hutan :P
Paginya, bersama seorang pengurus yayasan yang memiliki tempat ini yang berbaik hati mau mengantar, aku berjalan jalan menyusuri hutan dan perkanmpungan dayak di dekatnya. Kuhirup aroma hijau dedaunan. Kuserap udara segar pagi hari dan kususuri pepohonan rindang. Ini memang bukan hutan sungguhan. Apalagi rimba belatara dan hutan perawan seperti yang kuimpikan. Tetapi dari perjalanan ini membukakan mataku akan satu hal. Indonesia is really beautifull. Tiba-tiba aku jatuh cinta (lagi) pada negeri ini. Tekadku semakin kuat untuk menyusuri tanah air ini. tiba-tiba terbersit sebuah mimpi, better tourism management, better government, better marketing. Better more and more. Apakah ini hanya akan jadi seperti sebuah mimpi di siang hari? I hope not.
Palangkaraya, 30 Januari 2010
Suatu waktu, tanya mewujudkan dirinya. Ku tanya “Apakah aku buatmu? Adakah aku di hatimu? Salahkah kubaca tanda dan isyarat matamu?”
Diam, hening. Tak muncul satu katapun dari mulutmu.
“Kenapa kau diam saja? Aku hanya butuh satu di antara dua kata, Ya atau tidak. Itu saja” lanjutku.
Kau lantas berkata “Aku tak mau menyakiti banyak orang, makanya aku tak berani membuat janji. Tak berani berkomitmen. Jalani saja apa yang ada saat ini”
Ku termenung. Tercenung. Kilatan gambaran dan cerita itu muncul lagi. Dari yang ku lihat, ku dengar dan ku baca. Ku tahu sesuatu. Pada saat yang sama, kau beri asa pada beberapa wanita. Kau tabur harapan di banyak cinta. Di beberapa tempat kau tinggalkan jejak hubungan tanpa status dan kata. Itukah sebabnya? Karena kau takut memberi janji? Begitu takutkah kau pada sebuah komitmen? Aku tak begitu yakin. Bisa saja itu hanya sebuah permainan kata. Ciri khas playboy cassanova.
Dan kalaupun benar begitu, kuhanya bisa bilang satu kata. NAIF. Sebegitu naifkah kau, sampai tak bisa melihat tanda? Ataukah kau begitu egois dengan hatimu? Kau takut untuk menyakiti. Takut untuk disakiti. Tetapi tahukah kau? Kalau pada saat yang sama kau tabur asa di banyak cinta. Kau tebar benih di banyak hati. Tanpa kau berani untuk memilih. Untuk berkata ya atau tidak. Untuk memberi kepastian dan jawaban atas sebuah tanya. Gantung. Tanpa kau sadari kau telah menyakiti banyak hati. Tanpa kau ingini, telah kau toreh luka di beberapa cinta.
Sshhh..kutarik nafas panjang. Sudahlah. Tak perlu dibahas lagi. tak perlu debat dan opini. Yang ada hanya tanya pada diri sendiri. Kenapa bisa? Kenapa harus dia dan bukan yang lainnya? Tanpa syarat, tanpa isyarat. Kujatuh pada cinta. Kuterseret pada rasa. Tertinggal tanya. Lagi-lagi kenapa? Pada akhirnya cinta tak butuh alasan. Tak butuh penjelasan. Pun dan tak butuh balasan. Karena cinta hanyalah cinta. Sekompleks itu sekaligus juga sesederhana itu. Itu saja.
Catatan: tulisan ini hanyalah fiksi. Kalaupun ada kemiripan dengan kisah nyata, hal itu memang disengaja ^^
Palangkaraya, 28 Januari 2010
Suatu hari, di negeri angkasa, bulan dan bintang sedang bercengkrama.
“Hi bulan” sapa bintang. “kenapa kau tak pernah terlihat bersama mentari? Apakah kalian bermusuhan?”
“Tidak juga. Tetapi mungkin mentari yang tak suka padaku. Ia tak sudi kalau aku mengambil sedikit cahayanya untuk kupantulkan kembali ke bumi di malam hari”. Jawab bulan
“Kau baik sekali ya, kau sudah temani bumi sepanjang hari. Kau berikan ia cahaya pula di malam hari. Sebegitu besarnyakah kau mencintai bumi?” cecar bintang
“Entahlah. Tetapi yang pasti, aku hidup karena ada bumi. Aku ada disini, karena bumi ada. Bumilah gravitasiku. Bumilah penahan keberadaanku. Kalau bumi tiada aku kan jatuh entah kemana. Terbang, hilang ke semesta raya”. Jelas bulan
“Indah sekali hubungan kalian berdua. Terkadang aku iri rasanya”
“Kenapa kau harus iri pada kami bintang. Justru aku yang iri padamu dan mentari . Kalian memiliki cahaya sendiri. Kau tak butuh yang lain untuk keberadaanmu. Bisa hidup sendiri, mandiri. Tak seperti aku yang butuh bumi 'tuk bertahan. Dan butuh mentari tuk peroleh terang” ujar bulan.
“Ah, tidak juga. Terkadang aku merasa kesepian. Sendirian. Bulan dan bintang memang sering bertemu di kala malam tiba. Juga bersama dengan jutaan bintang lainnya dari kaumku. Tapi kita tak saling membutuhkan. Bersama tapi bukan siapa-siapa. Tak ada hubungan apa-apa. Hampa”
“Tapi kau cantik dengan cahayamu sendiri bintang, aku suka memandang kerlipanmu. Aku suka kehangatanmu. Dan aku yakin bumi juga suka kau yang begitu. Terkadang ia bilang padaku kalau di kala malam menjelang bumi rindukan datangnya bintang. Indah mempesona di langit malam”
“Bintang, kamu tahu tidak? Jujur saja, aku cemburu padamu” lanjut bulan
“Kenapa begitu”
“Sepanjang hari ku dampingi bumi. Di malam hari ku berikan sinar yang kucuri dari mentari, tetapi bumi tetap saja merindukan hadirmu. Bumi tetap saja sunyi tanpa cahayamu.”
Shing…sunyi…
“Bulan…apakah apakah kau mencintai bumi?” tanya bintang ragu-ragu
“Kenapa kau tanya begitu?”
“Hanya ingin tahu” lanjut bintang
“Hmm…bagaimana ya, aku sendiri tak tahu. Apakah ini cinta? Kami saling membutuhkan. Sudah jadi kebiasaan. Bagaimana kalau menurutmu?
“Aku juga tak tahu, jawabnya hanya ada di dalam hatimu. Tetapi….”
….sunyi sekejap
“Tetapi?”... tanya bulan
“Kalau cinta bisa tumbuh dari kebersamaan dan kebiasaan, mungkin aku bisa jatuh cinta padamu”
“Padaku? Kenapa?”
“Karena kebersamaan. Entah sudah berapa lama kita berjalan bersama. Arungi semesta raya. Entah sudah berapa juta malam kita habiskan bersama. Lama-lama aku jadi terbiasa. ”
“Terkadang aku berpikir, aku tak’kan bisa tanpa hadirmu. Terkadang aku merasa aku tak kan lengkap tanpa dirimu”
Senyap….tiada suara
“Apakah kau serius bintang? Apakah betul kau cinta padaku? Kupikir kau cinta pada mentari. Bukankah ialah sumber inspirasimu? Bukankah ia objek kekaguanmu? “
“Kenapa kau pikir begitu? “ tanya bintang
“Ia besar, berkuasa dan bercahaya. Semua semesta butuh ia. Ia dipuja dimana-mana. Termasuk bumi yang memujanya”
“Mungkin bumi memujanya. Karena ia besar, terang dan bercahaya. Sumber hidup banyak semesta. Tetapi tidak buatku” jelas bintang
“Kenapa begitu?”
“Kutak butuh cahaya dari mentari, karena aku sudah punya cahaya sendiri. Lagipula ia terlalu panas. Terlalu kuat. Terlalu membakar. Tak’kan sanggup aku dekat dengannya. Lagipula kami dari unsur yang sama. Api. Apa jadinya kalau kami bersama? Semesta pasti 'kan musnah. Atau aku saja yang akan musnah karena terpaksa mengalah”
“Hmm…jadi begitu… tapi bumi sangat mencintainya. Begitu memujanya” *bulan sedih*
“Yah, sudah kubilang itu bumi. Bukan aku. Karena buatku hanya ada kamu” ujar bintang
Hhmm…
“Sudahlah bintang tak perlu kau bercanda terus. Aku sedang sedih nih.” Gumam bulan
“Sudahlah kalau begitu maumu…aku 'kan pergi. tak mengganggumu lagi. Kau tunggu saja bumi menoleh padamu. Kau tunggu saja ia berhenti memuja mentari.” Bintang pergi menjauh
………………
“Kenapa terus kau pertanyakan. Kenapa terus kau ragukan. Tapi ku tahu cinta tak butuh alasan. Tak butuh penjelasan. Pun tak butuh balasan. Karena cinta hanya 'kan jadi cinta saja. Sesederhana itu, sekaligus juga sekompleks itu. Seperti itupun cintaku padamu” - ucap bintang di dalam hati. Hanya di dalam hati.
Untuk semesta, kau mungkin hanya seseorang. Tetapi tahukah kau kalau bagi seseorang, kau adalah semestanya
Tanpa sadar, setiap kubangun di pagi hari, namamu langsung muncul di memori. Tanpa mau, hanya karena kudengar namamu hatiku menari. Tanpa ragu, telah terukir sosokmu di ruang hati. Tanpa kata, tanpa bicara.
Diam. Bisu. Gagu.
Kukunci semua rasa ini jauh di dalam hati. Takkan kubiarkan muncul lagi. Ku tak mau disakiti. Pun tak mau menyakiti. Bimbang. Gamang. Terjebak antara dua masa. Lalu dan kini. Biar hilang terbawa angin. Biar pupus tergerus masa. Kubunuh rasa. Kuabaikan tanya. Biar mati tak bertanda. Biarkan saja. Biarkan mengalir apa adanya. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Kan kuserahkan semua hanya kepada-NYA. Tuhan Sang Maha Segala.
Palangkaraya, 25 Januari 2010
Malaikat bungkam. diam.
Tak berani bersuara
Tiada kata
Angin bertanya "kenapa"...
Ternyata... mulut mereka sudah ditutup sblmnya
"Awas jangan lapor2 KPK" kata mereka
Malaikat bingung. malaikat bimbang.
Ketika penegak keadilan telah menjual keadilan.
Ketika punggawa hukum telah menginjak2 hukum.
Ketika pelayan masyarakat malah memakan uang rakyat.
Ketika para pemimpin hanya memperkaya diri sendiri.
Keadilan semu. hukum palsu
Aparat keparat. pemimpin tanpa nurani.
Itu sama saja dengan kiamat. mati
Bagi negeri ini.
Pasien gila, dokter gila
Pemimpin gila, rakyat gila
Hukum gila, aparatnya juga gila
Benar-benar negeri orang-orang gila
Palangkaraya, 25 Januari 2010