Pages

Minggu, 20 Februari 2011

Flowers

Ia memang tak secantik mawar ataupun seharum melati. Ia tak selembut camomile ataupun seindah anggrek.
Tak selangka Raflesia arnoldi ataupun setinggi Edelweis dapat diraih. 

Bukan bunga matahari yang selalu berubah arah mengikuti arah di mana matahari berada.
Tak seperti bunga di pinggir jalan yang bisa dengan mudah dipetik dan dihisap sarinya oleh kumbang-kumbang yang berkeliaran.

Tak mirip bunga-bunga di toko bunga, yang semahal apapun dipajang untuk dijual dan dapat dibeli.
Kerasnya hidup telah membuatnya tegar. Jadilah seperti teratai yang bisa tetap hidup dan bangkit, sedalam apapun ia jatuh sepahit apapun ia hidup.

Balikpapan, 20 Februari 2011

Minggu, 06 Februari 2011

Terapi itu Bernama “Tamparan”

Tanpa sadar, seringkali kita mengeluh. Masalah ini itu, mengapa begini mengapa begitu. Tanpa sadar, sering pula kita mencari alasan dan pembenaran. Untuk membenarkan kesalahan, tindakan dan ketidak dewasaan perilaku kita sendiri. Mencari celah untuk menyalahkan orang lain, lingkungan, keadaan, situasi, tempat, jarak, waktu, dsb. Tanpa pernah mencoba melihat ke dalam “apa yang salah dengan diri kita sendiri?” Ego dan emosi menghalangi kita untuk berpikir jernih dan terbuka. 

Ketika kesadaran itu menyeruak tiba-tiba. Rasanya seperti “ditampar”. Rasanya seperti ada sebuah cermin besar muncul di hadapanku. Sosok dalam cermin terus berteriak-teriak kepadaku

“Haloo.. kamu siapa”, tanya sosok di cermin.
“Kamu bertanya padaku”, tanyaku.
“Iya, kamu. memang siapa lagi?”, sosok itu kembali berkata
“Saya Erry. Chaeriwati”, jawabku.
“Itu hanyalah nama yang diberikan orang tuamu kepadamu. Tanpa itu, kamu siapa?”, cecarnya lagi.
“Saya seorang perempuan berusia 29 tahun, keturunan Jawa, lahir dan besar di Jakarta dan berkebangsaan Indonesia.” Uraiku.
“Itu semua adalah akibat dari kelahiranmu, tetapi siapa sebenarnya dirimu”, sosok dalam cermin semakin memburu.
“Aku adalah perempuan cerdas, mandiri dan percaya diri. Aku memang tak sempurna, tetapi aku selalu belajar memperbaiki diri ” belaku.
“itu kan hanya katamu. Apa benar kau seperti itu? kalau semuanya salah apa dan siapakah sebenarnya kamu?” tanyanya semakin menjadi.
“Aku… siapa ?? aku kehabisan kata-kata.
“Siapakah aku?” sebuah pertanyaan yang terkesan simple, tetapi belum mampu kujawab dengan memuaskan saat ini. seribu tanya menyeruak tiba-tiba. “Siapa aku? untuk apa aku hidup? Kenapa… dan sebagainya”. 
 “Kalau kamu masih tak mengenali dirimu sendiri, bagaimana bisa kau mengenali dan menilai orang lain? Baik dan buruknya. Salah dan benarnya. Kenapa kau selalu saja mempersalahkan hal lain di luar dirimu sendiri? Apakah kau sudah merasa paling benar dan sempurna hingga berani mau mengambil sifat Tuhan?” sindirnya.
“Aku..tentu saja tidak. Aku tidak pantas melakukan itu. Tuhan adalah Sang Segala, sedang aku bukan apa-apa”, sanggahku.
“Kalau kamu menyadari itu, kenapa kau selalu mengeluh sampai lupa bersukur akan semua hal yang telah kau terima? Apakah hanya karena kesakitan sementara membuatmu menafikan nikmat-NYA yang lain?” cecarnya.
“Aku…..” aku kehilangan kata-kata.

PLAKK!! PLAKK!! Rasanya seperti ditampar bolak balik.

Aku jadi tersadar kalau selama ini tanpa kusadari aku sudah terlalu banyak mengeluh. Mendramatisir keadaan. Kesakitan itu bukan hanya karena kesakitan itu sendiri. tetapi karena aku membiarkannya, bahkan memelihara dan membuatnya sendiri. Tanpa kusadari aku telah menjadi orang  yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya. Tanpa sadar, aku menjadi makhluk pengeluh, egois, lebay, queen of the drama, cengeng, persistent, dan tidak bisa menjaga kata, dsb. Menyebalkan memang saat menyadari kalau aku ternyata semenyebalkan itu. Damn!!!

PLAKKK!! PLAKK!! PLAAKK!! Lagi-lagi serasa seperti ditampar.

Kebenaran memang terkadang menyakitkan. Tetapi tamparan itu mampu membangunkanku dari mimpi, khayal dan imaginasi yang kubuat sendiri. Membuatku mau keluar dari labirin yang kubuat sendiri. Membuatku ingin menyembuhkan luka yang kubuat sendiri. Ternyata aku masih belum mengenali diriku sendiri. Kesakitan sementara ini telah tanpa sadar membuat aku lupa bersyukur atas semua anugerah yang telah Dia beri. Aku tenggelam dalam labirin yang kubuat sendiri, berasyik masyuk dalam derita yang kubuat sendiri.

Aku sering berkata akan meninggalkan masa lalu di belakang dan tidak mengingatnya lagi. Tetapi nyatanya, beban dan luka itu masih dengan suka rela kubawa pergi. Padahal, bisa saja aku meninggalkannya dan bersikap tak perduli.  Aku tahu, kalau memaafkan orang lain (dan diri sendiri) itu juga berarti menyembuhkan diri sendiri. Tetapi faktanya, tak semudah itu aku bisa melupakan semuanya. Walaupun sama sekali tak pernah ada benci apalagi dendam. Tetapi sakit itu tetap ada, dan aku dengan naïf memilih untuk membiarkannya ada dan bersarang. Meracuni hati, merusak diri.

Aku lupa kalau Tuhan telah memberikanku banyak sekali hal, termasuk juga kapasitas dan kemampuan diri. Aku belum memanfaatkannya dengan penuh dan sebenarnya. Aku belum mengenali diri sendiri. Tanpa sadar pula aku telah menghina Tuhan yang telah mencipta dan memberiku semua ini.

Astagfirullah al Adziim…..

Hanya itu yang bisa kuucapkan. Karena yang lain Kau Maha Tahu apa yang ada di dalam hatiku kan, Tuhan?

Aku sering meminta kepada Tuhan, agar aku diberikan yang terbaik buatku menurut-Nya, yang bisa membuatku menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Tetapi ketika kesakitan datang menyapa, aku tak menyadari kalau bisa jadi ini adalah jalan dan petunjuk-Nya. Bisa jadi ini adalah salah satu cara-Nya agar aku menjadi lebih baik. Kalau ini adalah yang terbaik buatku dan semuanya. Agar aku menjadi lebih baik, menjadi lebih siap dan lebih pantas untuk hal-hal baik yang menantiku di ujung jalan sana.

Hidup memang tak sempurna seperti semua hal di dalamnya. Tak ada manusia yang sempurna, tak ada persahabatan yang sempurna, tak ada hubungan yang sempurna, tak ada tempat yang sempurna. Sebagai entitas yang tak sempurna, yang bisa kulakukan hanya terus berupaya untuk menjadi lebih baik.

“ Tuhan, aku mohon bantu aku untuk menjadi manusia yang lebih baik dan tak lupa bersyukur. Bantu aku mengikis habis segala penyakit yang menjangkiti hatiku. Aku baik-baik saja. Aku bahagia, sehat, menarik dan sejahtera. Dan semoga ini tak lagi-lagi jadi sebuah retorika tanpa makna.” Amiin..

Balikpapan, 6 Februari 2011

Untuk seorang sahabat. Terimakasih. Thanks you so much sudah mengingatkan, walaupun serasa “ditampar”. He3x :D but, I’ll be fine. Mohon doa dan supportnya. Thanks you for being my best friend ^^

Sabtu, 05 Februari 2011

Tell Me Where's The Exit? Please (Tembok Itu Part 2)

Sudah waktunya aku berhenti. Keluar dari semua kebekuan ini. Aku benci menyerah. Tapi aku tak tahu cara lain. Tembok-tembok itu terlalu kuat ‘tuk kuhancurkan. Terlalu beku ‘tuk kucairkan. Setelah sempat bicara sesaat, dengan kalimat yang menyesakkan. Lantas kembali bisu tak terjamah.

Aku harus menerima kenyataan pahit kalau ternyata si empunya rumah memang tidak menginginkanku lagi di sini. Dan kalau ternyata, ia tak pernah benar-benar menginginkanku untuk menjadi penghuni tetapnya. Hanya tamu sementara. Mungkin untuk mengisi ruang-ruang hampanya yang telah ditinggal penghuni sebelumnya. Yang sampai sekarang mungkin gambarnya masih ada di mana-mana di seluruh penjuru rumah.

Tapi sudahlah, aku lelah dengan semua permainan ini.  Sekarang sudah saatnya berhenti. Aku harus keluar dari tempat ini. Tetapi di manakah pintu keluarnya? Aku pergi, bukan berarti aku membenci tempat ini atau pemiliknya. Aku ingin bisa sekali-sekali datang bertamu sebagai sahabat, sama seperti sebelumnya. Sebelum aku diundang masuk dan menginap sementara. Yang akhirnya aku malah tersesat di dalamnya.

Tetapi aku tahu, itu semua butuh waktu. Tak hanya aku yang sakit dan tersesat. Tetapi bisa jadi rumah ini juga merasakan kesakitan yang sama. Ia harus kembali sepi dan hampa tanpa pelita. Aku ingin menjadi pelita hidupnya. Aku ingin menemani hingga tak lagi hampa. Tetapi sepertinya rumah ini tidak mengijinkan aku melakukannya. Ia lebih suka sendiri dalam bisu dan hampa. Dan aku belum mampu untuk bisa bertahan di dalamnya sendirian dalam dingin dan bisu yang membeku.

Life must go on, right? Tentang esok dan nanti biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.

Malaikat Juga Tahu – Dewi Lestari

Lelahmu jadi lelahku juga.
Bahagiamu bahagiaku pasti.
Berbagi takdir kita selalu.
Kecuali tiap kau jatuh hati.

Kali ini hampir habis dayaku.
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata.
Setia hadir setiap hari.
Tak tega biarkan kau sendiri.
Meski seringkali kau malah asyik sendiri.

Karena kau tak lihat terkadang malaikat.
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu.
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya.

Hampamu tak kan hilang semalam.
Oleh pacar impian Tetapi kesempatan.
untukku yang mungkin tak sempurna.
Tapi siap untuk diuji.
Kupercaya diri.
Cintakulah yang sejati.

Namun tak kau lihat terkadang malaikat.
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu.
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya,

Kau selalu meminta terus kutemani.
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti.
Relakan ku pergi.
Karna tak sanggup sendiri.

Namun tak kau lihat terkadang malaikat.
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu.
Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya.

Balikpapan, 5 Februari 2011

Kamis, 27 Januari 2011

Setelah Badai Reda...


Badai yang datang tiba-tiba menghancurkan semuanya.  Semua mimpi, janji, asa dan juga.. rasa.  Secepat itukah semua menguap tak bersisa? Terbawa angin entah ke mana. Secepat kebahagiaan itu datang dengan tiba-tiba. Secepat itu pula ia berlalu lantas pergi.

Atau malah ternyata semua tak pernah ada. Hanya mimpi, ilusi dan fatamorgana. Bayangan maya mataku yang kehausan di tengah sahara.

Aku jadi berharap semua hanyalah mimpi. Jadi semua bisa kembali seperti sebelumnya. Tak ada salah faham dan sakit hati. Tak ada dusta dan rasa palsu. Tak ada kcewa. Tak ada keinginan ‘tuk memiliki. Jadi tak perlu ada kehilangan. Semua tulus tanpa tendensi ataupun main hati.

Tapi kusadari ini bukanlah mimpi. Ini nyata. Senyata lubang yang tertinggal. Walaupun pakunya sudah kucabut dan kubuang jauh. Tetapi bekas itu akan tetap ada dan bersarang di sana, entah sampai kapan. Ini sebuah nyata, bukan mimpi, hanya palsu.

Tuhan, aku lelah terus bermusafir di rimba dan sahara. Aku bosan terus terbang tak tentu arah. Aku rindu mata air sejati. Aku rindu rumah nyaman tempat aku bisa kembali, beristirahat dari keras dunia ini. Tuhan, kapan dan di manakah aku bisa bertemu? Tuhan, aku rindu...

Balikpapan, 27 Januari 2011

Sabtu, 22 Januari 2011

BINGO and then GAME OVER!!


Finally.. I realized the truth. After all the things happen, after all one-side relationship, after all the ignorance, after all the questions and doubts. And my feeling and intuition actually right. Bingo!! Finally, you confes this by your self “You are just not that into me L  GAME OVER!! it’s hurt… when I know the fact, but I must accept that. What else I must do? I wouldn’t being a”clingy” girl or stalker who will keep being persistent and denial the truth. No.. Nope.. I’ll never be that kind of person. I’m not as low as them. 

Actually, I be so free. knowing the truth just like all the burden inside me is gone. No more question. No more doubt. No more ignorance. No more more one side relationship. I don’t want to keep an asking why, but still I’ve questions. BIG QUESTION “why you ever told me that you love me when you are still not sure about your own feeling? Why you said to me about future and serious things, about future, marriage, etc when you are not sure about our future? Now, all that craps seems just like a non sense, just a bulshitt!! Sorry, if it’s seems to harsh to says that everything you do, everything you said was a bulshitt. but that’s what I’m thinking about that now. Just a fake.You are the one who started this relationship, but you are the one who broke this? Why you are by yourself who hurt me more than ever since you are already know how was my past, my experiences, my trauma, my fears, my heart fragileness? Why you lie to me since you already know how is my feeling and hate about lie and liar? Why you do this to me since I already think of you as my best friend? Why you sold our years friendship just for a fakeness? Do you just gambling? Lying? Or worse, just playing? Fake Status? Fake Love? Poker face? You don't even recognize the ways you hurt me, do you?

Oh God, I don’t wanna hate you. I don’t wanna fight with you. I don’t wanna have negative thinking, hate, anger and revenge. I always want to have positive thinking about anything. I love myself so much. So, i don’t wanna to poison my self with such things like ange, negative thinking, hate and revenge. I want to forgive, because forgiveness is the best medicine for all or heartache.

But still, I’m just an ordinary human. Who have a heart. And my heart don’t made from ice or hard rock. I could hurt, sad and anger. When you hurt others, that’s just like you put a nail into the wood. Even you already take out that nail, there’s still have a hole who will stay there forever.  Same thing happen when you hurt others. Even we already ask for forgiveness, even thy already forgive you, even there’s no more anger and hate. But the wound and the scars still there. It will take a time, a lot of time to cure it. And for few cases, that wounds and scars still there for a very long time. For some person, It leaves a trauma. But don’t worry, I’m not that weak. Yes, I’m hurt and sad. And yes, that will need times to cure it. But I’ll be alright. I’m strong enough.

Because I love my life. And I wouldn’t ruin it just because of heartache and hate. And now, keep walking, moving and flying Erry. Because you are beautifull just the way you are. Because you are beautiful in every single way. What could bring you down? Ho3x :D Semangat!!

Rehab - Rihanna

Baby baby
When we first met I never felt something so strong
You were like my lover and my best friend
All wrapped in one with a ribbon on it
And all of a sudden you went and left
I didn't know how to follow
It's like a shock that spun me around
And now my heart's dead
I feel so empty and hollow

And I'll never give myself to another the way I gave it to you
You don't even recognize the ways you hurt me, do you?
It's gonna take a miracle to bring me back
And you're the one to blame
And now I feel like....oh!

You're the reason why I'm thinking
I don't wanna smoke on these cigarettes no more
I guess that's what I get for wishful thinking
Should've never let you enter my door

Next time you wanna go on and leave
I should just let you go on and do it
'Cause now I'm using like I bleed

It's like I checked into rehab
And baby, you're my disease
It's like I checked into rehab
And baby, you're my disease
I gotta check into rehab
'Cause baby you're my disease
I gotta check into rehab
'Cause baby you're my disease

Damn, ain't it crazy when you're loveswept (?)
You'd do anything for the one you love
'Cause anytime that you needed me I'd be there
It's like you were my favorite drug
The only problem is that you was using me
In a different way than I was using you
But now that I know it's not meant to be
I gotta go, I gotta wean myself off of you


Balikpapan, January 21th 2011