Pages

Minggu, 24 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 4. Penang : No Curry in My Life, Kecuali Terpaksa



Minggu, 24 Juni 2012 sekitar pukul 8 pagi kami berangkat dari terminal bis Puduraya menuju Penang. Tarif bus RM 39/orang. Seharusnya jam 1 kami sudah sampai di Penang, akan tetapi karena jalan raya yang macet terutama jalur untuk keluar kota KL, kami baru sampai di Penang sekitar jam 2 siang. Lalu kami melanjutkan naik CAT free shuttle bis dari pool bis ke Tune Hotel Penang. Lagi-lagi kami memanfaatkan harga promo di hotel tersebut. Karena kami cukup membayar RM17 per malam. Murahnya!

Penang adalah sebuah pulau yang cukup luas dan memiliki beberapa atraksi wisata. Tetapi yang kami fokuskan pada kesempatan ini adalah area kota tua dan George Town. Kami tidak tertarik wisata pantai di sini karena setelah ini kami akan puas berlaut dan berpantai ria di Thailand Selatan. Seperti Melaka,  kota George Town bisa dikelilingi dengan berjalan kaki. Cukup dengan bermodalkan peta kita bisa berkeliling area ini. Ada berbagai chinesse temple di sini, juga ada Masjid Kapitan Keling dan Sri Mariamman Temple. Kita juga bisa mengunjungi Cheong Fatt Tze Mansion, Penang Museum dan Pinang  Peranakan museum. Kami juga mengunjungi markas Pejuang Revolusi China Sun Yat Sen di pulau Penang. Banyak bangunan tua rapi dan terawat baik di area ini. Pantas saja diberi predikat world heritage site oleh UNESCO. Lagi-lagi saya jadi berpikir, andai kawasan kota tua Jakarta dan di kota-kota lain di Indonesia ditata dan dirawat dengan baik pasti akan menarik wisatawan lebih banyak.

Kata orang, Penang adalah surganya kuliner. Maka kami mecicipi beberapa panganan di sini. Mulai dari laksa penang, rujak penang, cendol, etc. rasanya.. hmm.. tergantung selera yang makan sih. Tapi, buat lidah saya agak aneh, terutama rujaknya. Karena rujak buah disini ditaburi bubuk ikan. Kurang cocok dengan lidah saya. Dan karena selama di Singapore dan Malaysia kami sering makan makanan berkari ala melayu yang berbumbu tajam, akibatnya kami rasakan di sini. Gangguan pencernaan mendera ! Saya  harus bolak balik toilet saat menemukannya di Port Cornwalis. Alhasil, kami (terutama saya) jadi tidak menikmati berkeliling kota dan mengambil foto dan harus segera pergi ke pusat kota mencari tiket minivan menuju Krabi untuk esok hari. Kapok kebanyakan makan kari. No Curry in My Life, kecuali kalau terpaksa. Ujung-ujungnya kami malah makan di restoran fast food di kota yang katanya surga makanan ini. Ironis!

Oh ya, di Penang, banyak bangunan yang gratis untuk dimasuki. Makanya kami dengan santai saja memasuki Port Cornwalis, kami kira gratis juga. Kami baru sadar kalau ada ticket booth setelah kami keluar dari sana. Jadinya kami masuk gretongan deh. Ho3x.. Ya maaf, habis ticket booth nya tidak di pintu masuk sih. Jadi tidak ketahuan *ngeles.com*.

Sabtu, 23 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 3. Gagal Jadi Gembel di KL


Sekitar jam 6 pagi kami sudah beredar ke luar hotel mencari taxi atau kendaraan lain menuju terminal. Setelah bertanya sana-sini, ternyata taxi dan atau kendaraan luar tidak boleh masuk dan ke luar area old town sebelum jam 9 pagi. Oo.. bagaimana ini? Kami tidak mungkin menunggu hingga jam 9 pagi karena kalau begitu kami akan terlalu siang sampai KL dan akan banyak waktu terbuang.

Ternyata, tak jauh dari penginapan kami, ada sebuah warung makanan melayu. Kami tak melihatnya kemarin karena mereka tidak buka. Masih untunglah, kami bisa sarapan dulu di sana dan bisa bertemu supir taxi yang akhirnya bersedia mengantar kami ke terminal Melaka sentral, walaupun dengan harga sedikit lebih tinggi dari biasanya. Tetapi daripada tidak ada sama sekali . Setelah sarapan, kami langsung checkout dan menuju terminal Melaka sentral untuk menumpang bus menuju Kuala Lumpur.

Sekitar pukul 8 pagi bis yang kami tumpangi menuju terminal puduraya KL berangkat. Teman saya DD akan menjemput saya di sana. Tarif bis adalah RM 12.3 /orang. Setelah dua jam perjalanan  kami sampai di terminal bis Pudu Raya, KL. Setelah menunggu sekitar 30 menit, DD datang dan mulailah kami berkeliling ibukota negri Jiran.

Awalnya, saya pikir teman saya DD hanya akan menjemput kami dan mengantarkan ke Tunne Hotel tempat kami menginap. Ternyata kami beruntung hari itu, DD yang baik hati bersedia mengantarkan kami dan menjadi guide untuk keliling kota tempat tinggalnya. Yippe! kami gagal jadi gembel di KL.

Kami menginap di Tunne Hotel Downtown KL malam itu. Kamar sudah kami booking online sejak beberapa bulan lalu dengan harga promo. Dengan harga RM33, kami sudah bisa menikmati kamar layak dengan fasilitas setara bintang 5. Pelajarannya adalah kalau mau plan untuk trip dan travelling, harus rajin-rajin cari info dan mafaatkan harga promo.

Setelah check-in dan beristirahat di hotel, kami langsung berangkat untuk berkeliling kota KL. Kali ini, kami tidak menggunakan kendaraan umum, karena alhamdulillah ada yang mengantar. He3x. Tujuan pertama adalah istana negara. Untuk menuju istana, kami sempat berputar-putar karena sedang ada renovasi jalan dan pengalihan arus. It’s make DD little bit confuse, apalagi kami. Terakhir kali saya ke KL beberapa bulan lalu dengan teman kost di Balikpapan, kami juga nyasar saat akan mencari istana. Bedanya, kami jalan kaki, beneran jalan kaki muter-muter KL selama 3 hari.

Setelah berputar-putar satu jam lamanya, akhirnya kami sampai di istana. Sayangnya saat itu sudah jam 4 lewat, dan istana yang saat itu sedang open house sudah ditutup sejak jam 4. Jadinya kami tetap hanya bisa berphoto ria di depan gerbangnya saja.

Selanjutnya, kami menuju Batu Cave. Batu Cave adalah kuil Hindu yang terletak di atas bukit. Letaknya di luar kota sekitar 1 jam berkendara dari kota KL. Kami harus menapaki ratusan anak tangga untuk sampai ke kuil di atas bukit. Cukup membuat pegal, tetapi pemadangan di atas lumayan indah. Kita bisa melihat area sekeliling bukit dan kuil Hindu yang penuh ornamen - ornamen indah.

Puas bernarsis dan foto-foto, kami melanjutkan perjalanan menuju area Putrajaya. Putrajaya adalah kawasan tempat kantor-kantor pemerintahan Kerajaan Malaysia berada. Kawasan ini memiliki danau dan taman yang cukup luas. Menikmati senja di kawasan ini memberikan suasana berbeda, apalagi untuk para pencinta photography. Dengan latar belakang gedung – gedung bertingkat milik pemerintah diraja Malaysia, langit violet dan pantulan di danaunya memanjakan mata dan kamera. Belum lagi ketika malam menjelang dan lampu-lampu kota mulai menyala, night photo shoot yang menampilkan jembatan Putrajaya cukup indah.

Sekitar jam 7 malam kami meninggalkan area petrajaya untuk kembali ke pusat kota. Haus dan kelaparan, kami berhenti di rest area dan menyantap makanan di sana. Sekitar jam 8  lewat kami sampai di KLCC dan menara kembar petronas. KLCC Suria Plaza adalah salah satu mall high end class di KL. Saya banyak bertemu lagi-lagi orang Indonesia yang sedang berbelanja. Kadang suka heran, kenapa saya sering bertemu orang Indonesia di tempat belanja di luar negri. Tetapi tidak banyak kalau di tempat selain itu.

Lagi-lagi kami bernarsis ria di sana. Tampak banyak juga orang yang sedang melakukan hal yang sama. Maklum saja, karena twin tower adalah icon kota KL. Jadi hampir semua orang yang datang ke sini pasti berphoto di sini. Malam makin menjelang dan akhirnya DD mengantar kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Terimakasih banyak DD. Jangan kapok ya.

Sebenarnya di KL masih ada beberapa tempat yang biasa dikunjungi wisatawan, seperti Menara KL tempat kita bisa menyaksikan  kota KL dari ketinggian dengan tarif RM50/ orang. Ataupun Little India dan Petaling Street untuk belanja, Masjid Raya, Masjid Biru ataupun Old Railway Station. Kami tidak mengujungi tempat-tempat tersebut pada kesempatan ini, karena keterbatasan waktu yang hanya 1 hari. Selain itu, saya juga sudah pernah mengunjungi tempat-tempat ini sebelumnya. Jadi saya tidak merasa itu perlu untuk saya kunjungi lagi dalam keterbatasan waktu yang ada. Maaf ya naga, waktu kita saat itu sangat terbatas, jadi harus memilih beberapa saja.

Jumat, 22 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 2. Melaka yang Panas Gila


Pada hari Jumat, 22 Juni 2012 pagi hari buta kami sudah packing-packing. Setelah pamit  dan pada host kami yang baik hati – Emiko - . Pukul 6.15 pagi kami sudah berangkat menuju pool bus yang akan mengantarkan kami ke Melaka. Bus dijadwalkan berangkat pukul 8 pagi. Harga tiket Singapore – Melaka adalah SIN$ 21/orang atau sekitar 150 ribu Rupiah/orang.

Kami tiba di Terminal Melaka sentral sekitar pukul 12 siang. Satu jam lebih lambat dari jadwal, karena bis baru berangkat sekitar jam 8.30. Rencananya kami akan menumpang bus umum dari terminal ke area kota tua tempat kami menginap, tetapi kami tidak berhasil menemukan satu bis pun. Akhirnya kami terpaksa menggunakan taxi dengan tarif RM30. Di Malaysia, hampir semua taxi menggunakan argo kuda, terutama kepada para tourist asing. Jadi harus pandai-padai menawar dan harus tega. Sekitar satu jam kemudian, kami tiba juga di guest house tempat kami menginap.

Kami menginap di Sayang-Sayang Guest House di Jalan Kampung Hulu area old town, Melaka. Tarif kamar antara RM60-120/ malam. Karena kami memesan dan membayar beberapa bulan sebelumnya melaui internet, kami bisa mendapatkan rate terendah. Guest house ini terletak tak jauh dari point of interest kota ini. Jadi kita cukup berjalan kaki untuk mencapainya. Luas kamar sangat kecil, yaitu sekitar  2 m x 2,5 tetapi di tata unik. Kamar terbagi 2 bagian, atas dan bawah. Kasur ditempatkan di atas dan bawahnya ditempatkan sofa beserta meja kecil. Baru kali ini dapat kamar hotel model begini. Tetapi untuk rate seharga ini cukuplah. Sebagai perbadingan, rata-rata kamar hotel ataupun guest house budget bisa mencapai RM 100/ malam.

Setelah beristirahat sebentar, kami mulai berangkat untuk menjelajah kota tua Melaka. Mulai dari Masjid Kampung Hulu yang hanya berjarak 200 m dari tempat kami menginap. Lalu kami menjelajahi kawasan chinatown yang penuh bangunan bergaya oriental dan toko-toko berjejer di sepanjang jalan. Kami mengunjungi jonker walk dan Baba Nyonya Heritage Museum serta beberapa temple yang tersebar di banyak tempat di sana. Matahari makin turun dan perut kami mulai berteriak minta diisi. Kami belum juga menemukan makanan halal di sana. Karena berada di area chinatown, kami tidak berani makan di sembarang tempat, karena khawatir soal kehalalannya. Rasanya ironis, kami berada di negeri melayu yang katanya mayoritas muslim. Tetapi kami sulit menemukan makanan halal di sana. Akhirnya kami terus berjalan diterpa matahari terik luar biasa dan perut kelaparan. Baru setelah bertanya sana sini, kami akhirnya menemukan warung makanan melayu di pasar melaka yang letaknya di sebrang miniatur kapal. Hampir semua makanan di pasar ini adalah makanan melayu karena hampir semua pedagang yang berjualan di sini adalah melayu Muslim. Akhirnya kami bisa makan puas tanpa rasa was-was.

Puas mengisi perut, kami melanjutkan berkeliling ke area Town Square dan Bukit St. Paul. Di kawasan ini, banyak gedung tua peninggalan eropa seperti Staddhuys dan St Paul Church . Bangunan tua di kawasan ini seperti di kota tua Jakarta. Bedanya, gedung-gedung di sini kondisinya jauh lebih terawat, bersih dan rapih. Beberapa gedungpun di cat warna warni. Banyak terlihat wisatawan asing bersliweran di sini. Tak lupa, kami puas bernarsis ria. Apalagi ketika malam menjelang dan lampu lampu mulai menyala.. it’s so… romantic. Lampu-lampu fluor berwarna di sekitar gedung tua dan pohon besar dan tua. Puas ambil photo night shoot dan slow speed di sini. Saatnya tripod beraksi!! :D




Setelah puas berphoto ria di area Town Square, kami kembali menyusuri chinatown menuju penginapan. Ternyata, malam itu ada night market di area jonker walk. Akhirnya kami menyusuri pasar malam yang meriah dan padat. Baru jam 9 malam kami tiba di penginapan. Lelah dan lengket sekujur badan. Mandi!!!! Lalu tidoor!! :D Have a nice sleep.


Kamis, 21 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 1. Singapore: Surga Para Shoper, Neraka Bagi Backpacker



The Journey is begin. Sekitar jam 7.30 pagi waktu setempat kami sudah berangkat. Emiko mengantar kami berkeliling area sekitar tempat tinggalnya sekalian ia berangkat ke kantor. Hollad Village adalah kawasan pemukiman, banyak apartment berdiri di sana. Apartment yang ada di sini tidak seperti apartment mewah seperti yang banyak ada di Jakarta. Mungkin lebih tepatnya ini seperti rumah susun di jakarta, hanya saja jauh lebih rapih, bersih dan teratur. Setelah berkeliling, kami sama-sama menuju stasiun MRT terdekat.

Tujuan pertama kami di Singapore adalah Esplanade dan Marina Bay. Kami berjalan kaki berkeliling mulai dari Teater Esplanade yang didesign mirip durian, Marina Bay hingga Patung Merlion yang terkenal sebagai iconnya negeri singa ini. Sayangnya saat kami ke sana Patung Merlion sedang dalam proses renovasi jadi kami tidak bisa bernarsis ria di sana. Kami hanya bisa narsis di Little Merlion, patung Merlion kecil yang letaknya tak jauh dari Patung Merlion. Jam sudah menunjukan jam 10 pagi dan matahari sudah makin meninggi perutpun sudah berteriak minta diisi. Akhirnya kami memutuskan ‘ngadem’ di coffe bean terdekat. Kami membeli secangkir kopi untuk Dahlia, secangkir coklat panas untuk saya dan satu porsi sandwich untuk kami makan berdua. Bukan karena kami romantis, tetapi karena harga semua barang di Singapore bikin kami hampir menangis. Sebotol air mineral 500 ml yang di Jakarta seharga 3000 Rupiah, di sana dihargai sekitar SIN$ 1,5 - 3 atau sekitar 10 ribu – 20 ribu Rupiah. Harga tiket MRT berkisar SIN$ 1,2-3 tergantung jarak. Jadi kami harus banyak berhitung sebelum membeli barang.

Setelah cukup mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan menuju area Bugis dan Little India. Toko-toko berjajar sepanjang jalan yang menggoda iman. Apalagi saat kami mengunjungi area Orchard Road, shopping mall sepandang mata memandang. OMG… bener- bener godaan iman yang (untungnya) tertahan oleh kemampuan kantong yang tak mau bolong. Perjalanan kami masih panjang, ini baru hari pertama dari 40 hari yang kami rencanakan. Alhasil, kami sukses tidak membeli apapun di sana.

Puas windows shopping, kami berangkat menuju Sentosa Island menumpang MRT menuju Vivo Mall. Dari sana kami membeli tiket dan naik Sentosa Express menuju Universal Studio Singapore. Berkeliling kota di Singapore, seperti perjalanan dari mall ke mall. Naik turun MRT akan langsung menuju mall. Negeri ini adalah negeri sejuta mall. Buat para penggila belanja, ini adalah surga. Tetapi, buat traveller berkantong pas-pasan seperti kami, ini adalah neraka!!  Hemat adalah motto utama kami.

Sesampainya di Universal Studio, kami tidak masuk ke dalam area USS, karena (lagi-lagi) masalah biaya jadi kendala utama. Harga tiket masuknya mahal cyin.. sekitar SIN$80 per orang atau sekitar 600 ribu rupiah/ orang. Jadi kami sudah cukup puas hanya dengan berfoto ria di depannya, terutama mini globe yang ada logo universal studionya .

Puas bernarsis ria di Universal studio, kami berkeliling area lain di Sentosa Island. Sentosa Island ini sebenarnya adalah pulau buatan yang terbentuk dari urukan pasir. Dengar-dengar, pasirnya berasal dari pantai di Indonesia. Hebatnya Singapore, mereka benar-benar memanfaatkan teknologi dan berdana besar untuk membuat pulau, membangun air terjun buatan, sungai buatan dan  kebun raya buatan. Dan mereka pandai mempromosikan wisatanya. Padahal, kalau dari segi alam, Indonesia jauh lebih indah dan punya segalanya. Tetapi mereka bisa mendayagunakan yang mereka punya dan memanagenya dengan baik. Kadang jadi mikir, kenapa masih banyak orang Indonesia ke Singapore malah datang ke ‘hutan’ buatan di sini. Padahal di Indonesia banyak, luas dan asli. Mungkin yang mereka cari hanyalah gengsi? Entahlah. Kalo ke Singapore untuk shopping sih sangat wajar, karena ini memang surganya belanja. Tetapi untuk wisata alam? Hmm… nanti dulu deh.

Puas beredar di Sentosa Island, sekitar jam 7 malam kami menuju Lau Pa Sat untuk makan malam. Kami akan makan malam bersama Emiko host kami. Lau Pa Sat adalah food court luas tak jauh dari MRT Rafless Place. Tempat ini terkenal sebagai tempat kumpul dan dinner warga Singapore maupun wisatawan. Di tempat ini menyajikan berbagai jenis masakan, mulai dari seafood, chinesse food, indian, melayu hingga western food. Kami memilih seafood sebagai menu makan malam. Singapore terkenal dengan  sea food di hawker food stal nya. Sea food yang kami makan lumayan enak dan segar.kami menghabiskan sekitar SIN $50 untuk makan malam. Lumayan mahal untuk ukuran Indonesia, tetapi apa sih di Singapore yang tidak mahal?

Rencananya, setelah dinner kami akan melanjutkan untuk hunting night shoot photo di area Marina Bay Sand yang terkenal itu. Tetapi kami sudah terlalu lelah karena hampir sepanjang hari ‘berkakilator’ ria muter-muter Singapore. Plus perut yang kekenyangan kami memutuskan untuk segera kembali ke apartment Emiko untuk tidur dan beristirahat. Karena kami harus berangkat esok pagi untuk menumpang bis menuju Melaka.

Rabu, 20 Juni 2012

Gembel Traveller. The Day Has Come


Finnaly, the day has come. Setelah merencanakan segala sesuatunya mulai dari beli tiket, susun itinerary, etc sejak setahun yang lalu. Akhirnya hari yang dinanti datang juga.

Pada hari Rabu, 20 Juni 2012 saya berdua dengan sahabat saya – Dahlia – berangkat menuju Singapore dengan menumpang pesawat Air Asia. Kami membeli tiket perjalanan ini saat promo. Jadi kami hanya menghabiskan tak sampai 2 juta Rupiah untuk membeli tiket Jakarta – Singapore, Phuket - Bangkok, Hanoi – KL dan KL –Jakarta masing-masing untuk dua orang. Lumayan murah kan?  Maklum saja karena kami beli tiket tersebut hampir setahun sebelum keberangkatan.

Saya tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta sekitar jam 2 lewat. Masih cukup banyak waktu, karena pesawat dijadwalkan berangkat pukul 17.35. Sambil menunggu Dahlia, saya bisa leyeh-leyeh dulu di  bandara. Sekitar jam 3 lewat, Dahlia muncul dan langsung saja kami ke dalam untuk check-in, ke imigrasi, dan sebagainya. Kami baru tiba di Bandara Changi sekitar jam 9 malam waktu setempat. Satu jam lebih lama dari jadwal karena pesawat mengalami delay satu jam berangkat dari Jakarta.

Changi Airport ini luar biasa luas. Dan kami jadi seperti orang ‘udik’ kebingungan mencari stasiun MRT. Belum lagi tas backpack kami yang lumayan berat dan tidak bisa menggunakan trolly karena harus naik turun eskalator.

Dari Changi Airport, kami naik MRT sampai stasiun Paya Lebar, lalu melanjutkan perjalanan ke stasiun Hollad Village. Sekitar jam 11 malam, kami tiba di stasiun Holland Village. Di sana Emiko, host kami selama di Singapore sudah menunggu.

Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit dengan bawaan rempong, akhirnya kami sampai juga di apartment Emiko di kawasan Holland Close. Oh ya, saya belum pernah bertemu Emiko sebelumnya. Saya mengenalnya melalui komunitas Couch Surfing. Dari beberapa orang di Singapore yang saya request untuk mejadi host, dialah satu-satunya yang mereply dan Thanks God, she willing to host me. Emiko adalah orang Jepang yang bekerja di sebuah perusahaan game online di Singapore. She is very nice person. Bicara dengannya mengingatkan saya dengan film-film Jepang. Apalagi kalau bicara soal manga and anime. Nyambung banget. Dengan bangganya dia mengaku sebagai seorang otaku. Ditambah lagi dia juga membuat beberapa  game online base on manga n anime loh, mulai dari game Naruto dan beberapa game lainnya. Kami juga diperlihatkan beberapa gambar hasil karyanya.. ooo keren banget!!  Salut sekaligus iri. Karena gambarnya yang keren abies, sementara saya hanya bisa membuat gambar coretan benang kusut.

Apartment Emiko sangat rapih dan bergaya minimalis. Sangat sesuai dengan gaya hidup di Singapore yang harga propertynya super mahal. Jadi harus bisa menyiasati space dan multifungsi. Kami diberi tempat tidur di ruang duduk yang multifungsi jadi kamar tidur. Tempat tidurnya juga bisa ditempel di dinding saat ruangan berfungsi sebagai ruang duduk. Lumayan unik, jadi terinspirasi bikin rumah minimalis model begini.

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan jam 1 malam. Oo.. kami harus segera tidur dan istirahat karena kami harus bangun pagi untuk berkeliling Singapore. Tapi sebelumhya kami harus online untuk booking tiket bus menuju Melaka esok lusa.  Baru setengah jam kemudian kami bisa melelapkan diri dan beristirahat. Good Night.

Selasa, 17 April 2012

Travelling Yuks

“The world is a book, and those who do not travel read only a page” (St Augustine)

Jalan-jalan ke luar negeri sekarang tidak semahal satu dekade lalu. Kalau dulu, buat sebagian besar orang Indonesia jalan-jalan ke luar negeri terkesan 'wah' dan gimana.. gitu. Keren lah pokoknya. Soalnya biaya fiskalnya sendiri saja sudah tinggi, berkisar 2,5 juta rupiah, belum lagi biaya untuk pengurusan visa dan harga tiket pesawat yang masih cukup tinggi.

Berbeda dengan sekarang, sejak dihapuskannya fiskal bagi pemegang NPWP plus semakin ramainya penerbangan murah meriah, punya uang 2 juta rupiah saja sudah bisa ke luar negri. Minimal singapore atau KL. Apalagi kalau sedang ada promo maskapai penerbangan. Saya pernah mendapat tiket JKT-KL PP hanya seharga 150 ribu rupiah. Jumlah yang sama dengan harga tiket travel JKT –BDG. Pernah juga saya memperoleh harga tiket JKT – Singapore sebesar 300 ribu rupiah PP. Sama dengan harga tiket bus JKT – Pekalongan (bukan pada masa hari raya).

Coba kita bandingkan dengan harga tiket pesawat di dalam negeri. Untuk jurusan JKT – Balikpapan saja. Pada saat low season, tiket paling murah adalah 600 ribu rupiah one way. Itupun jarang sekali seharga itu. karena biasanya diatasnya. Apalagi menjelang hari raya seperti sekarang. Saya harus membayar dua juta rupiah untuk tiket Balikpapan- Jakarta one way. Jadi, kalau kita hitung-hitung kok ya lebih murah jalan ke luar negeri daripada di dalam negeri? Jadi wajar saja bagi sebagain orang, lebih menyukai travelling ke luar negri daripada di dalam negri.

Belum lagi masalah transportasi dan akomodasi. Transportasi dan akomodasi di dalam begri seringkal tidak memadai dan biayanya relative lebih tinggi. Map, informasi dan petunjuk pariwisata di Indonesia pun terbatas. Bandingkan dengan di luar negeri, di Malaysia misalnya. Kita bisa dengan mudah memperoleh map dan brosur pariwisata di mana-mana, di hotel, bandara, terminal dan tempat makan. Sedangkan di Indonesia? Belum lagi promo pariwisata Negara tetangga yang sangat gencar. Bandingkan lagi dengan Indonesia. Jangankan peta dan brosur gratis, Torism Information Centre yang ada di Bandara-bandara di Indonesia saja hampir selalu kosong tak ada petugasnya. Entah pada ke mana mereka. Entah apa saja yang dikerjakan department pariwisata RI. Jadi jangan pada ribut kalau dunia internasional lebih mengenal Negara tetangga. Asal jangan sampai kejadian pulau Sipadan ligitan terjadi lagi. setelah dimiliki negara lain baru deh pada sadar kalau ternyata potensi alam dan wisatanya luar biasa. Kalau sudah begitu baru deh orang Indonesia pada ‘manyun’.

Sejak dulu saya sudah suka travelling, tetapi masih dalam tahap biasa saja. Yang membuat saya suka travelling karena pekerjaan saya. Pekerjaan saya memungkinkan saya untuk travelling ke berbagai tempat di Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Hanya tinggal pulau Papua saja pulau besar yang belum pernah saya singgahi. Karena pekerjaan saya inilah saya jadi suka menikmati pemanadangan baru, tempat baru, budaya baru dan sebagainya. Terlebih lagi setelah sekitar 3 tahun lalu saat bertugas di Palangkaraya, saya mengikuti sebuah tour sususr sungai Kahayan dan Tangkiling si Kalimantan Tengah. Saya tertarik ikut tour itu karena kebosanan yang melanda. Setelah browsing-sbrowsing di internet jadilah saya mengikuti tour tersebut.

Yang cukup mengejutkan buat asaya adalah, tour tersebut dimiliki oleh seorang expat. Jadi di kapal dengan pengunjung sekitar 20 orang, hamper semuanya adalah orang asing. Guidenya pun orang asing. Jadilah saya satu-satunya orang local di kapal tersebut (juga dengan anak buah kapal pastinya). Ironis rasanya saya diguide-in oleh orang asing tentang negri saya sendiri di kapal milik orang asing dengan pengunjung yang hampir semuanya orang asing. Yang paling terngiang ngiang di kepala saya adalah ucapan sang guide bule yang warga Negara Inggris kepada saya “Erry, your country is very…beautiful. I’m falling in love with Indonesia since the first time I came here. Indonesia has almost everything, landscape, nature, biodiversity, culture, flora, fauna, etc.The only and most problem is, you have stup**d government.” Speachless rasanya mendengar ucapan bule tersebut. Seperti ditampar, tetapi ada saat yang sama ingin bilang “Yes, you’re absolutely right mam, I’m very agree with your words. Indonesia has almost everything, except good government.”

Mungkin itu yang menyebabkan saya jadi semakin suka travelling, untuk mengetahui lebih banyak tentang negeri sendiri. Jangan samapi orang luar yang lebih tahu tentang negeri ini dibandingkan kita sendiri. Saya suka travelling di dalam negeri, tetapi tidak berarti tidak mau keluar negeri. Yang saya nikmati dari travelling adalah perjalanannya itu sendiri. Bertemu orang-orang baru, tempat-tempat baru, budaya baru, pengetahuan dan pengalaman baru. Mengagumi keberagaman dan budaya manusia. Mengagumi keindahan alam dan karunia Ilahi. Itu pula yang membuat saya ingin ‘melebarkan sayap’ travelling ke luar negri. Buat saya, dimanapun mau dalam ataupun luar negeri yang penting kita bisa menikmati perjalanan itu kan?
So, mari travelling. Tak perlu jauh jauh dulu. Bahkan di kota tempat kita tinggal pun, terkadang masih banyak hal yang belum kita ketahui. Kalau soal biaya, saat ini untuk travelling tak perlu biaya terlalu tinggi. Asal kita cerdas menyiasatinya.

Happy travelling

Pontianak, 17 April 2012

errybarbie's photostream

mrt  stationmerlion-threehouse og condomCopy of 100_2437Copy of 100_2420borders book store
at wheelock plazaat sky parkat orchard roadat little indiaat ion plazaat esplanade
100_2768edited100_2762100_2753100_2744100_2726100_2724
100_2716100_2712100_2709100_2706100_2696100_2668

My Life, My Journey