Selasa, 17 April 2012

Travelling Yuks

“The world is a book, and those who do not travel read only a page” (St Augustine)

Jalan-jalan ke luar negeri sekarang tidak semahal satu dekade lalu. Kalau dulu, buat sebagian besar orang Indonesia jalan-jalan ke luar negeri terkesan 'wah' dan gimana.. gitu. Keren lah pokoknya. Soalnya biaya fiskalnya sendiri saja sudah tinggi, berkisar 2,5 juta rupiah, belum lagi biaya untuk pengurusan visa dan harga tiket pesawat yang masih cukup tinggi.

Berbeda dengan sekarang, sejak dihapuskannya fiskal bagi pemegang NPWP plus semakin ramainya penerbangan murah meriah, punya uang 2 juta rupiah saja sudah bisa ke luar negri. Minimal singapore atau KL. Apalagi kalau sedang ada promo maskapai penerbangan. Saya pernah mendapat tiket JKT-KL PP hanya seharga 150 ribu rupiah. Jumlah yang sama dengan harga tiket travel JKT –BDG. Pernah juga saya memperoleh harga tiket JKT – Singapore sebesar 300 ribu rupiah PP. Sama dengan harga tiket bus JKT – Pekalongan (bukan pada masa hari raya).

Coba kita bandingkan dengan harga tiket pesawat di dalam negeri. Untuk jurusan JKT – Balikpapan saja. Pada saat low season, tiket paling murah adalah 600 ribu rupiah one way. Itupun jarang sekali seharga itu. karena biasanya diatasnya. Apalagi menjelang hari raya seperti sekarang. Saya harus membayar dua juta rupiah untuk tiket Balikpapan- Jakarta one way. Jadi, kalau kita hitung-hitung kok ya lebih murah jalan ke luar negeri daripada di dalam negeri? Jadi wajar saja bagi sebagain orang, lebih menyukai travelling ke luar negri daripada di dalam negri.

Belum lagi masalah transportasi dan akomodasi. Transportasi dan akomodasi di dalam begri seringkal tidak memadai dan biayanya relative lebih tinggi. Map, informasi dan petunjuk pariwisata di Indonesia pun terbatas. Bandingkan dengan di luar negeri, di Malaysia misalnya. Kita bisa dengan mudah memperoleh map dan brosur pariwisata di mana-mana, di hotel, bandara, terminal dan tempat makan. Sedangkan di Indonesia? Belum lagi promo pariwisata Negara tetangga yang sangat gencar. Bandingkan lagi dengan Indonesia. Jangankan peta dan brosur gratis, Torism Information Centre yang ada di Bandara-bandara di Indonesia saja hampir selalu kosong tak ada petugasnya. Entah pada ke mana mereka. Entah apa saja yang dikerjakan department pariwisata RI. Jadi jangan pada ribut kalau dunia internasional lebih mengenal Negara tetangga. Asal jangan sampai kejadian pulau Sipadan ligitan terjadi lagi. setelah dimiliki negara lain baru deh pada sadar kalau ternyata potensi alam dan wisatanya luar biasa. Kalau sudah begitu baru deh orang Indonesia pada ‘manyun’.

Sejak dulu saya sudah suka travelling, tetapi masih dalam tahap biasa saja. Yang membuat saya suka travelling karena pekerjaan saya. Pekerjaan saya memungkinkan saya untuk travelling ke berbagai tempat di Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Hanya tinggal pulau Papua saja pulau besar yang belum pernah saya singgahi. Karena pekerjaan saya inilah saya jadi suka menikmati pemanadangan baru, tempat baru, budaya baru dan sebagainya. Terlebih lagi setelah sekitar 3 tahun lalu saat bertugas di Palangkaraya, saya mengikuti sebuah tour sususr sungai Kahayan dan Tangkiling si Kalimantan Tengah. Saya tertarik ikut tour itu karena kebosanan yang melanda. Setelah browsing-sbrowsing di internet jadilah saya mengikuti tour tersebut.

Yang cukup mengejutkan buat asaya adalah, tour tersebut dimiliki oleh seorang expat. Jadi di kapal dengan pengunjung sekitar 20 orang, hamper semuanya adalah orang asing. Guidenya pun orang asing. Jadilah saya satu-satunya orang local di kapal tersebut (juga dengan anak buah kapal pastinya). Ironis rasanya saya diguide-in oleh orang asing tentang negri saya sendiri di kapal milik orang asing dengan pengunjung yang hampir semuanya orang asing. Yang paling terngiang ngiang di kepala saya adalah ucapan sang guide bule yang warga Negara Inggris kepada saya “Erry, your country is very…beautiful. I’m falling in love with Indonesia since the first time I came here. Indonesia has almost everything, landscape, nature, biodiversity, culture, flora, fauna, etc.The only and most problem is, you have stup**d government.” Speachless rasanya mendengar ucapan bule tersebut. Seperti ditampar, tetapi ada saat yang sama ingin bilang “Yes, you’re absolutely right mam, I’m very agree with your words. Indonesia has almost everything, except good government.”

Mungkin itu yang menyebabkan saya jadi semakin suka travelling, untuk mengetahui lebih banyak tentang negeri sendiri. Jangan samapi orang luar yang lebih tahu tentang negeri ini dibandingkan kita sendiri. Saya suka travelling di dalam negeri, tetapi tidak berarti tidak mau keluar negeri. Yang saya nikmati dari travelling adalah perjalanannya itu sendiri. Bertemu orang-orang baru, tempat-tempat baru, budaya baru, pengetahuan dan pengalaman baru. Mengagumi keberagaman dan budaya manusia. Mengagumi keindahan alam dan karunia Ilahi. Itu pula yang membuat saya ingin ‘melebarkan sayap’ travelling ke luar negri. Buat saya, dimanapun mau dalam ataupun luar negeri yang penting kita bisa menikmati perjalanan itu kan?
So, mari travelling. Tak perlu jauh jauh dulu. Bahkan di kota tempat kita tinggal pun, terkadang masih banyak hal yang belum kita ketahui. Kalau soal biaya, saat ini untuk travelling tak perlu biaya terlalu tinggi. Asal kita cerdas menyiasatinya.

Happy travelling

Pontianak, 17 April 2012

errybarbie's photostream

mrt  stationmerlion-threehouse og condomCopy of 100_2437Copy of 100_2420borders book store
at wheelock plazaat sky parkat orchard roadat little indiaat ion plazaat esplanade
100_2768edited100_2762100_2753100_2744100_2726100_2724
100_2716100_2712100_2709100_2706100_2696100_2668

My Life, My Journey