Rabu, 01 Juli 2009

Welcome to the jungle. Nach loch, Junglenya pada kemana??


Kalimantan. Sejak kecil, ketika mendengar kata itu yang pertama muncul di kepalaku adalah hutan. pulau hijau yang penuh hutan belantara. dimana flora dan fauna masih alami dan bebas hidup di sana. Suara alam dan nyayian rimba masih terdengar di mana-mana. persis gambaran di film animasi keluaran Disney Tarzan, Simba dan sejenisnya.

Ketika pertama kali mendapat tawaran penugasan di sana, perasaanku dipenuhi rasa khawatir dan was was. Setelah kota besar Jakarta, Surabaya dan Bandung. Lantas 'dilempar' ke Medan, Padang, Pekanbaru di bagian barat indonesia, sekarang Kalimantan?? Semakin jauh saja. "Adakah peradaban di sana?", batinku bertanya. Bermodal nekad (seperti biasanya), kuiyakan saja tawaran itu. Toh ini adalah sebuah pengalaman baru buatku. Toch, segala sesuatunya berawal dari ketidaktahuan. Kalau tidak tahu, maka harus cari tahu. Kalau tidak kenal, maka kenalan. Kalau belum juga punya pacar, makanya cari pacar. upss.... :P

Setelah sempat mendapat beberapa halangan, akhirnya aku berangkat juga. Kusiapkan semua kebutuhan yang kuperlukan di sana. Pakaian, pernak pernik, buku, dan bayar polis asuransi jangan lupa. In case kalau terjadi sesuatu padaku. Dengan semangat 45 kulangkahkan kaki menuju tempat baru. Welcome to the Jungle.

Perjalanan Jakarta-Balikpapan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Kalau naik pesawat, aku selalu meminta kursi dekat jendela. Karena dapat bebas memandang keluar plus terbebas dari orang dan kru pesawat yang lalu lalang. bisa tidur dengan damai :P 30 menit lagi menuju Bandara Sepinggan, kuarahkan pandanganku ke bawah sana, masih dengan image yang lama tentang Kalimantan "hijau dan hutan. Tetapi….loh kok? loh kok? mana? mana?

Sepanjang mata memandang tak lagi kulihat rimbunan pohon di bawah sana. Permadani hijau hutanku telah berubah warna menjadi kumpulan warna hijau yang tak rapat perkebunan di bawah sana, menjadi hamparan luas berwarna coklat, kuning dan warna warni atap rumah dan bangunan di mana-mana. Hingga pesawat mendarat dengan selamat tak jua kutemukan hamparan sangat luas hutan hijau yang pernah kulihat di televisi ataupun gambaran imaginasiku sendiri. Aku patah hati.

Setelah 2 minggu di Kota minyak Balikpapan, aku semakin melihat sebuah realita yang menyedihkan. Bahwa dalan beberapa puluh tahun terakhir ini, telah berjuta juta hektar hutan telah beralih fungsi menjadi perkebunan, tambang maupun pemukiman. bayanganku tentang hutan di Kalimantan digantikan oleh pertambangan dimana-mana. Kaum expat merajalela, PMA berkuasa. Birokrat yang merasa jadi raja. semuanya atas nama satu hal, keegoisan dan keserakahan manusia. ternyata benar kalimat dalam kitab suci, "kalau manusia akan lebih banyak berbuat kerusakan di muka bumi". Sebelumnya aku sudah sering mendengar berita tentang HPH dan perusakan lingkungan, kebakaran ataupun "pembakaran" hutan, ilegal logging, maupun perusakan alam karena pertambangan. Sebelumnya semua hal itu terasa tak nyata buatku. setaknyata ketika orang bicara tentang migrasi manusia ke mars ataupun kemungkinan menjadi karyawan permanen di tempatku bekerja. semua itu terasa jauh dari kehidupan keseharianku.

Ternyata, datang dan tinggal beberapa saat di sini (walaupun belum terlalu lama) telah memberi satu lagi pelajaran padaku. Aku tersadar bahwa keegoisan dan keserakahan manusia sudah sedemikian parahnya. terutama di negeri kita, Indonesia. Coba kita mulai berhitung 50 thn terakhir saja, sudah berapa juta hektar hutan yang beralih fungsi? Sudah berapa banyak kekayaan alam bumi kita yang beralih tangan ke pihak asing? Sementara rakyatnya sendiri harus rela menjadi kuli di negeri sendiri, dan membiarkan kekayaan alamnya sendiri dikuasai bangsa asing. Coba kita hitung, dari seluruh kekayaan alam kita yang sudah dieksploitasi, hanya berapa persen yang masuk ke kas negara? Dan dari jumlah itu, setelah dipotong korupsi dan birokrasi, hanya seberapakah yang benar-benar dirasakan rakyat banyak? Belum lagi dampak lingkungan yang tak ternilai harganya. Kerusakan alam dimana-mana. Kepunahan berbagai jenis satwa dan flora di depan mata. Pertanyaannya "apakah kita perduli?"

Sebuah keironisan kulihat disini. Ketika kucoba mengunjungi tempat konservasi orang utan di sini, hampir penduduk kota yang kutanya tdk tahu keberadaannya. Mereka tak perduli dengan hutan mereka sendiri. Mereka hanya perduli dengan minyak dan dollar yang mengalir dari upah sebagai "kuli" pengusaha asing. Mereka tak sadar, kalau alam adalah penyokong kehidupan. Kalau alam rusak, apa jadinya hidup kita? Mungkin kita akan benar-benar memerlukan planet baru untuk bermukim.

Aku tak bermaksud mencela pemerintah orde manapun, dulu hingga sekarang. Tetapi ini adalah sebuah realita yang harus dipikirkan. Ini semua harus diperbaiki. Harus ada revolusi ataupun reformasi. Kalaupun kita tak bisa menjadi presiden ataupun anggota dewan pembuat kebijakan, minimal kita mulai sebuah kepedulian kecil. tidak membuang sampah sembarangan, minimalkan penggunaan plastik. Hemat menggunakan kertas dan korek, dan masih banyak hal lain. Semua berawal dari hal yang kecil. Kalau kata AA Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang.

Let's save our Earth. Let’s go Green for the future.

Balikpapan, 30 Juni 2009

0 komentar:

Posting Komentar