Pages

Rabu, 13 Agustus 2008

Gadis pantai By : PAT


Perempuan adalah sang 'empunya'. Perempuan sebagai guru, tonggak peradaban. Majunya perempuan adalah majunya suatu bangsa, matinya perempuan adalah matinya suatu bangsa.

Wanita berasal dari kata wani dan tata (toto). Sesuatu yang di tata, Ataukah (hanya) sebuah perhiasan??

Kontradiksi makna perempuan dan wanita menjadi gambaran hidup seorang perempuan. Perempuan sebagai pemberi hidup bagi alam. Saking besarnya peran perempuan, hingga di hampir seluruh tempat di dunia ini terdapat legenda, mitos tentang Dewi Ibu, Dewi Sri, Dewi kesuburan, dan sejenisnya. Tetapi di lain pihak, di berbagai belahan bumi, hingga kini, wanita hanya dijadikan sebagai perhiasan dan objek semata. Dinisbikan peran dan nilainya. Tak ubahnya perhiasan. Kaum jahiliyah di masanya, Era Siti Nurbaya, feodalisme Jawa hingga nasib perempuan-perempuan Afgan yang terlindas Taliban.

Sang Dewi yang merana. Ibunda yang sengsara. Itulah nasib kami, kaum perempuan dari dulu hingga kini. Tergusur hegemoni laki-laki yang dengan keangkuhannya hingga menggambarkan Tuhan dari jenisnya sendiri.

Gadis pantai adalah gambaran nasib kaum perempuan dari golongan kebanyakan di era feodalisme jawa. Pasrah pada nasib. Tak punya hak, tak punya pilihan. Bahkan untuk hidupnya sendiri. Tiada peran perempuan. Yang ada hanyalah fungsi wanita sebagai perhiasan. Sebagai alat pemuas nafsu laki-laki. Di usia belia, gadis pantai 'diserahkan' untuk menjadi pemuas seks lelaki bangsawan. Di usia muda, gadis pantai kehilangan segalanya. Kemudaannya, keceriaannya, kebebasannya dan dirinya sendiri sebagai manusia merdeka. Status, kasta, darah, keningratan dan jenis kelamin yang mendiskriminasi. Menempatkan gadis pantai sebagai sasaran empuk celaan.

Sebuah karya yang mengusik kesadaranku sebagai perempuan. Sama seperti Thousand Splendid sunsnya Khosaini. walaupun dengan latar tempat dan waktu yang berbeda, keduanya menceritakan nasib perempuan yang dinistakan. ditiadakan dan direndahkan.

Aku hanya bisa berkata "inilah nasib kaum perempuan dimana mana. kapan saja"

0 komentar:

Posting Komentar