Kamis, 24 September 2009

Political Correct Bedtime Stories – Dongeng, Hegemoni Lelaki dan Barbie By : James Finn Garner


"Once upon a time, there is life …………………bla bla bla.............
and they are live together. happy. ever after. forever."


Sebuah pakem standar dari dongeng pengantar tidur. Sebuah dongeng yang pernah membawa fantasiku - dan juga hampir seluruh anak perempuan di dunia - terbang ke sebuah negeri antah berantah. Menjadi seorang perempuan muda yang baik hati, ramah tamah, suka menabung dan tidak suka membuang sampah sembarangan. Yang karena kebaikannya (plus kecantikan fisiknya) akhirnya dijemput seorang pangeran tampan berkuda putih, dan mereka hidup bahagia selamanya.

Tetapi siapa yang menyangka, ternyata di balik kisah-kisah dongeng tersebut ada banyak hal lain yang "tersembunyi". Tidak hanya sekedar hitam vs putih. Juga tak sekedar kebaikan yang akan menang melawan kejahatan. Dalam buku ini, Garner mengangkat issue tentang gender, budaya patriarki, sexist, classist dan juga. Barbie.

Baru sadar, kalau memang banyak sekali unsur sexist dan gender di sini. Budaya patriarki dan laki-laki yang mendominasi. Kaum perempuan seringkali hanya dijadikan sebagai sebuah objek dan bukanlah subyek. Penilaian terhadap seorang perempuan lebih banyak didasarkan kepada apa yang diharapkan para pria tentang wanita. Dan contohnya adalah Barbie. Barbie yang sempurna secara fisik adalah prototype dari fantasi pria tentang wanita secara fisik. Barbie dijadikan gambaran ideal tentang fisik seorang perempuan. Barbie adalah symbol penjajahan kaum adam terhadap kaum hawa secara fisik. Anehnya, Barbie pulalah salah satu hal yang bisa membuat jutaan kaum wanita rela melakukan diet ketat yang menyiksa, perawatan kecantikan dan salon yang juga tak kalah menyiksa (baik secara fisik maupun finasial) serta banyak lagi hal gila yang sanggup dilakukan kaum hawa hanya atas nama “kesempurnaan fisik”. Mulai dari operasi plastik, sedot lemak, botox, catox, brontox hingga menderita anoreksia, bulimia, anemia, insomnia, dan masih banyak “mia-mia” lainnya. Susahnya jadi wanita.

Ups, bahkan kata “wanita” pun juga kata yang bias gender. Wanita yang diambil dari kata “wani” dan “tata”. Orang yang ditata. Perhiasan. Damn, apakah hanya itu arti kaum hawa? Sekedar makhluk tanpa otak, tanpa kepribadian yang hanya didandani dan dijadikan perhiasan bagi kaum lelaki? Harga diriku berontak. Aku tak kan pernah lagi mau menggunakan kata wanita (kecuali terpaksa…sekali). Kata “perEmpuan” terdengar jauh lebih bermartabat. Karena “perEmpuan” diambil dari kata “Empu”., yang memiliki. Pemilik. Orang yang dihormati. Satu point inilah yang membuatku tertarik dgn buku ini. Karena dalam seluruh penulisannya, Garner selalu menggunakan kata “perEmpuan” (dengan huruf E besar). Untuk mengingatkan arti penting kaum hawa yang sebenarnya.

Barbie oh Barbie. Hatiku mendua. Satu sisi, aku ingin melawan dominasi tak berdasar kaum laki-laki atas diri kaumku. “perEmpuan” adalah manusia bebas yang bebas menentukan nasibnya sendiri. Merdeka dari dominasi. Merdeka dari “keharusan2” yang ditimbulkan budaya patriarki. Merdeka atas hak reproduksi dan kesetaraannya sendiri. Termasuk juga merdeka dari keharusan berbadan ramping, tinggi, kurus dan berbodi seksi seperti Barbie.

Akan tetapi, di lain sisi, aku belum bisa membuang Barbie. Aku masih belum mampu membuang, melelang atau bahkan menghibahkan puluhan koleksi barbieku yang berjejalan di lemari. I still luv Barbie. Ironis. Ternyata, aku belum merdeka dari Barbie.

0 komentar:

Posting Komentar