Sabtu, 26 September 2009

Happy Birthday Pa. For You, A Thousands Times More


Sudah seminggu aku berlibur di sini. Rumahku. Keluargaku yang ramai dan tak pernah sepi. Kotaku yang tak pernah mati serta teman2 yang membuatku tak bosan hidup dan tak ingin cepat mati. Energy kehidupanku yang hampir kosong kembali terisi lagi. All, I luv u full.

Sekembalinya ke sini, aku baru menyadari kalau hidup selalu berjalan. Menghitung hari tak terkendali. Banyak perubahan di sana-sini. Selain wajah Jakarta yang tak pernah berhenti “dioperasi” di sana sini. Serta semakin banyak borok dan cacat yang belum juga dibenahi. Seperti apapun, this is still my home, my city, my family. Tempat aku akan kembali.

Semua hal di dunia pasti berubah. Seperti orang bijak bilang, bahwa “Tak ada sesuatupun yang tidak berubah di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri”. Perubahan mau tak mau pasti terjadi.

Lama tak tinggal di rumah, segalanya terasa sangat berbeda. Begitupun ketika aku melihat ayah. Padahal, baru sebulan yang lalu aku pulang ke rumah, walaupun hanya sementara. Tetapi kenapa sekarang terlihat begitu berbeda. Ayah terlihat begitu lemah, rapuh, tak berdaya. Semangat dan jiwa mudanya habis digerogoti usia. Rambutnya mulai terlihat berubah warna, memutih semua. Aku baru sadar, kalau ayahku sudah sedemikian tua. Hari ini, genap sudah 69 tahun usianya. Tanpa sadar, mataku berkaca-kaca. Tiba-tiba rasa takut itu datang menyapa. Tiba-tiba paranoid itu mulai melanda. Aku takut kalau tiba-tiba Tuhan mengirim malaikat untuk mengambilnya. Aku takut, kalau saat itu tiba, aku belum menjadi apa-apa. Aku takut, kalau waktunya tiba aku masih belum bisa membuatnya bahagia. Aku takut kalau aku telah banyak berbuat salah dan dosa padanya dan belum sempat meminta maafnya. Aku takut. Takut.
Happy Bday Pa. Terimakasih atas semuanya. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya. I luv You Pa. For You, A Thousands Times More.

Maafkan anakmu yang belum bisa menjadi seperti yang kau mau.

Jakarta, 25 September 2009

0 komentar:

Poskan Komentar