Kamis, 03 September 2009

Ramadhan Kali Ini


Ramadhan kali ini, ku jalani dengan berbeda. Tak sama dengan tahun – tahun sebelumnya, ramadhan kali ini kujalani dalam sepi. “terlempar” ke sebuah negeri asing yang sama sekali baru buatku. Sebuah kota yang nyaris mati tanpa ada gejolak dan keramaian berarti. Ditambah lagi, sepi dan sendiri yang menyesakkan hati.

Makan sahur kujalani sendiri di rumah kontrakanku yang mini. Segelas susu, terkadang dengan sereal plus ditemani acara televisi. Itulah menu sahurku sehari-hari. Kubuka puasaku juga hampir setiap hari dengan sendiri, masih di rumahku ini. Ketika kebosanan makan sendiri sudah memuakkan diri, aku pergi keluar ditemani beberapa kawan baru disini. Duniaku serasa mati. Tak berarti. Aku seperti terkungkung dalam duniaku sendiri. Apakah ini berarti kalau “autisme” itu semakin memuncul di diri?


Terkadang, aku menjadi ingin menangis sendiri. Aku merindukan keceriaan dan rumahku yang ramai. Suara tawa, tangis dan bahkan pertengkaran kecil di tengah keluarga kami. Aku yang terlahir di sebuah keluarga besar, di sebuah kota besar, tak terlalu terbiasa makan sendiri. Walaupun orang sering sekali bilang kalau aku adalah orang yang mandiri. Yups, I’m independent woman. Aku tak pernah mau bergantung kepada orang lain. But still, I’m human. Aku rindu kehangatan dan keramaian keluarga dan teman-teman. Aku bosan terus menerus terbang tanpa henti. Aku seperti burung yang sudah bosan terbang dan merindukan bumi. I really miss u, my friends, my family, my city.

Tetapi di tengah semua ini, aku menemukan hal baru yang sangat berarti. Kekhusukan ibadah di bulan. suci. Kuteringat saat aku menjalani bulan suci di Jakarta. Hampir setiap hari aku selalu pergi. Jalan ke sana-kemari. Berkedok acara buka puasa bersama di sana-sini. Magribku kulewatkan di keramaian ataupun di jalan raya tertelan macet ibukota ini. Sesampai nya di rumah, hampir aku tak lagi punya energy. Tak terhitung banyaknya kulewatkan malam-malam khusus yang seharusnya untuk bertarawih ataupun mengaji. Aku memang berpuasa, tetapi sering tanpa arti. Kulewatkan bulan suci tanpa ada perubahan berarti. Berpuasa hanya menjadi sekedar ibadah tanpa arti. Tarawihku adalah serangan macet jalan raya ataupun acara televisi. Tahajudku adalah tertidur pulas di malam hari. Tadarusku adalah bergunjing atau berbicara tanpa arti. Siangku kuhabiskan dengan mengejar materi tanpa henti.

Di sini, di tengah kesendirian ini, aku menjadi lebih menghargai banyak hal. Keluarga, teman-teman dan bulan ramadhan yang suci. Memang betul apa kata orang, kita akan lebih menghargai sesuatu ketika mereka tiada lagi. Aku masih beruntung, aku menghargai arti semua ini, ketika mereka masih ada. Ketika aku masih punya kesempatan untuk merubah diri. Entah karena tak ada alternative lagi untuk dikerjakan. Entah karena tiada teman untuk di ajak berbagi. Entah karena kesadaran yang tiba-tiba muncul di diri. Apapun alasannya, aku belajar mendekati-Nya. Aku tahu, Dia tak pernah melupakanku. Dia yang tak pernah mati, tak pernah pergi dariku. Aku yang mulai melupakan-Nya. Aku yang terjebak cinta dunia dan kilau materi. Aku memang bekerja untuk dunia seakan aku akan hidup selamanya. Tetapi aku lupa, aku juga harus mengejar akhirat, seakan aku akan segera pergi dari dunia ini

Aku tak mau mengatakan kalau aku sudah bisa menjalani bulan suci ini dengan sempurna. Aku tak berani bilang kalau Ramadhanku kali ini lebih baik dari sebelumnya. Aku hanya bisa menikmatinya sendiri. Dalam hati. Tuhan, terimakasih Kau telah berikan aku kesempatan ini. Terimakasih atas semua yang telah kau beri. Jangan kau biarkan aku melewatkan lagi kesempatan yang telah Kau beri. Berikan aku kesempatan lagi untuk bertemu dengan Ramadhan-Mu. Berikan aku kesempatan untuk lebih mengenal dan dekat pada-Mu. Karena aku tahu, selangkah kudekat pada-Mu, seribu langkah Kau dekat padaku.

Ramadhan kali ini, hanya tinggal menghitung lagi. Semoga Ramadhan kali ini membuatku menjadi hamba-Mu yang lebih baik lagi. Ramadhanku, kan kutunggu kedatanganmu lagi. Insya Allah, jika Allah berkehendak.

Palangkaraya, 2 Sepember 2009

0 komentar:

Poskan Komentar