Sabtu, 10 Oktober 2009

Travellous By : Andrei Budiman


A Lost Bird
By: Rie


A bird
Dream
Freedom
Life and love

when I was a child,
I always dreamed of the bird
Free without any tie
Could fly high until the sky

After years,
I could fly so high
I could go so far
I could be so free

But now, i’m just like a lost bird
Can’t found navigation
Can’t found the direction

I’m a lost bird
Who tired to fly
Missed the earth
Missed the grass

I’m a bird who is searching for a place
Where I could stay forever


Itu adalah sepenggal catatan hati yang langsung muncul di diri ketika mendengar kata “perjalanan”. Sejak kecil, saya ingin sekali bisa berkelana ke banyak tempat. Bertemu orang-orang baru, melihat tempat-tempat baru dan mendapat banyak pengalaman baru. Saya sempat terobsesi untuk bisa keliling dunia. Tapi itu hanyalah sebuah cita-cita belaka. Yang bahkan sebelum sempat terlaksana sudah habis naluri petualangnya. Tergantikan rutinitas yang stagnan dan monoton. Kebosanan untuk terus hidup nomaden. Buat saya, sesuatu yang baru tidak harus berarti sesuatu yang jauh. Yang terpenting adalah bagaimana cara menikmatinya.
==

Mendengar kata perjalanan buat saya adalah bisa berarti banyak hal. Sebuah pencarian, pelarian sekaligus juga pelampiasan akan banyak hal. Makna hidup, jati diri, pelarian masalah, mimpi dan masih banyak lagi. Perjalanan untuk setiap orang pasti berbeda maknanya.

Membaca buku ini tidak hanya membaca sebuah catatan perjalanan. Tetapi juga sebuah kisah. Sebuah cerita yang penuh romantikanya. Sebuah catatan perjalanan, juga sebuah novel. Tak melulu seperti tour guide membosankan yang ada di brosur-brosur perjalanan. Karena di dalamnya terdapat hal-hal pribadi sang penulis. Ibarat membaca buku harian penulis. Tergambar jelas pikiran dan perasaan penulisnya. It’s so personal. Walaupun terkadang terkesan sangat subjektif dan ego centris. Wajar sih sebenernya karena ini adalah sebuah buku harian perjalanan, yang pastinya penuh sentuhan personal. Perasaan bribadi, pikiran pribadi, prasangka pribadi, dll. But, that’s not a problem. So what gitu loch? Yang terpenting jalan ceritanya masih bisa dinikmati.

Membaca buku ini, membuatku teringat akan mimpiku sendiri. Sebuah mimpi pasti dimiliki oleh hampir semua orang. Yang tdk dimiliki oleh semua orang adalah tekad dan keberanian untuk meraih mimpi. Saya salut sekaligus iri dengan Andrei yang punya keberanian (baca : kenekatan) luar biasa untuk mewujudkan mimpinya.

Walaupun terdapat beberapa kekurangan di sana-sini. Mulai dari penulisan dan tanda baca yang agak mengganggu serta foto yang kurang banyak (plus tdk berwarna). Padahal sebuah buku travelling umumnya dihiasi foto-foto menarik. Untuk menarik perhatian biasanya. Secara keseluruhan buku ini cukup layak lah untuk dibaca.

@ Andrei : Saya tunggu perjalanan selanjutnya. Negeri bunga Sakura? atau keliling Indonesia? masih penasaran dengan akhir kisahnya ^^

Nb: Buat penghuni radal, thx atas pinjeman bukunya. Jangan pernah lelah dan bosan meminjami buku kepadaku =D

0 komentar:

Posting Komentar