Rabu, 22 April 2009

Why is God Laughing? By : Deepak Chopra


Ketika sedang luntang lantung ga karuan di toko buku Gramedia di Pekanbaru, tak sengaja mata melihat sebuah buku dengan judul “menggoda”.” Mengapa Tuhan Tertawa?”. Jadi inget si naga yang sering memanggil Gus Gieb dengan “han han“. Jadi teringat teman-teman dan keluarga di Jakarta. Homesick yang kuderita semakin kuat mendera *lebay mode on*.

Ternyata..setelah kudekati si buku tadi, nafsu membeli buku semakin kuat ketika kulihat nama sang penulis –Deepak Chopra-. Siapa coba yang tdk pernah mendengar nama ini. Sebuah nama yang identik dengan buku-buku tentang pencerahan, pencarian jati diri, spiritualisme dan semacamnya. Tanpa melihat isi dalam, penerjemah dan penerbitnya, aku langsung membawa si buku ke meja kasir.

Alhasil, sesampainya di hotel dengan semangat 45 kubuka sampul plastiknya dan langsung kulahap kata demi kata. Satu lembar..dua lembar....Semakin jauh ke dalam kerut di dahiku semakin bertambah... Gabungan antara bingung, ga ngerti dan melongo. Diceritakan sang tokoh -Mickey Fellows- sedang mengalami suatu masa perubahan besar dalam hidupnya. Perceraian, kematian ayahnya serta karir yang mulai menanjak. Diceritakan pula adegan demi adegan ketika Mickey bertemu dengan seorang sosok misterius yang menamakan dirinya Fransisco. Cerita berlanjut antara kejadian-kejadian aneh dan teka teki. Lihatlah ini:

Teka Teki Pertama:
“Ketakutan menceritakan banyak dusta, namun selalu dipercaya
Jika terjadi hal-hal yang buruk, ketakutan sungguh akan terbebas
Pada hari ketika engkau dilahirkan, ketakutan telah meracuni hatimu
Ketakutan akan tetap di sana ketika kau mati“
..........................berlanjut dengan teka keti kedua............

Teka Teki Kedua:
“Aku menjaga rahasiamu, engkau membayar upahku
Kau tahu, jika kau tidak membayarnya, maka aku tidak akan lagi bersikap manis
Perlindungan itu penting, bukankah itu yang kau katakan?
Hidup begitu hampa ketika kau tidak tahu cara menjalaninya
Siapakah aku?“
..............................teka teki ketiga........................

Teka Teki Ketiga:
“Suatu hari engkau mencintaiku, tapi esok kau membenciku
Namun, kau tidak pernah menepis kail dan umpan
Engkau meronta ingin melarikan diri, tetapi apa peduliku?
Jala yang kulempar adalah sebuah perangkap abadi“
...........................

Teka teki yang membingungkan. Tak hanya bagi Mickey, juga buatku. Kerutku semakin banyak…..kepalaku pusing…..sumpah, aku tak mengerti sebenernya inti cerita dan rangkaian teka tekinya dimana sih??? Terus apa hubungannya dengan pertanyaan “mengapa Tuhan tertawa?” semakin jauh kubaca, semakin tak bersemangat untuk meneruskan. Entah kenapa aku tak bisa menangkap jalan cerita apalagi pesan moral dan kesan mendalam yang umumnya kutemui dari tulisan-tulisannya Chopra. Yach, walaupun aku bukanlah pencinta sejati karya Chopra, paling tidak aku telah membaca satu dua judul bukunya. Untuk yang satu ini, aku merasa tertipu. Ekspektasi tinggi yang awalnya kurasakan ketika melihat namanya di sampul depan, semakin lama semakin pudar. Entahlah. Aku jadi bertanya, benarkah ini karyanya Deepak Chopra??? Apakah karena masalah terjemahan yang kurang qualified (lagi lagi masalah terjemahan)?? Ataukah hanya karena aku saja yang tidak bisa medapat mood dan feelnya?? Atau...memang akunya saja yang lemot dan ga nyambung. Hahahaha

Lantaran sudah terlanjur membeli bukunya, pun sudah diancam si naga agar membuat review, kuusahakan juga menamatkan buku setebal 241 halaman ini. Baru ketika memasuki bagian epilog dengan sub bab yang bertemakan “Jalan meraih kebahagiaan. Sepuluh prinsip optimisme spiritual”. Aku baru mulai “ngudeng” klo orang jawa bilang. Karena di bagian ini dijelaskan inti dari kisah sebelumnya. Walaupun kalau boleh jujur, ketika membaca kisah sebelumnya, aku sama sekali ga nyambung, apalagi bisa menemukan intinya :P

Menurut Om Chopra di buku ini, terdapat Jalan meraih kebahagiaan. Sepuluh prinsip optimisme spiritual
1. Respons yang paling sehat terhadap hidup adalah tertawa. penangkal ketakutan
2. Selalu ada alasan untuk berterima kasih. penangkal atas pengorbanan
3. Anda adalah bagian skema semesta. Tiada yang harus ditakuti. Anda aman. penangkal perasaan tidak aman
4. Jiwa anda menghargai setiap aspek kehidupan anda penangkal dari perasaan rendah diri
5. Ada sebuah rencana. Jiwa anda menetahui rencana itu. penangkal ketidakberartian
6. Ekstasi merupakan energi jiwa. Ketika hidup mengalir, ekstasi itu alami. penangkal kelesuan (kurang semangat)
7. Ada solusi kreatif untuk setiap problem. Setiap kemungkinan menggenggam harapan berlimpah. penangkal kegagalan
8. Berbagai rintangan adalah peluang yang tersembunyi penangkal. kekakuan
9. Evolusi memandu perjalanan menuju keinginan. penangkal masalah kemunafikan
10. Biarkan kebebasan terjadi. penangkal ketergantungan
Hmmmm… jadi ini ya intinya?? Tahu begitu ga perlu dech cape2 baca kisah sebelumnya yang mondar mandir ga jelas dan menghabiskan 187 halaman dari buku ini. Langsung aja hajar bagian ini. Ketauan dech klo aku adalah penyuka hal-hal yang serba praktis. Instant.
Secara ringkas sebenernya, buku ini bisa dirangkum dalam haiku berikut (lagi ikut-ikutan buat haiku):

Aahh.........
Ah ha !
Ha ha….

Selintas haiku itu tampak tak bermakna. But let wee see.

Aahh…..
Itu adalah masa ketika manusia menghadapi masalah, perubahan, ketakutan, cobaan dan masa lalu yang menekan. Kita cenderung untuk mengeluh, takut bahkan depresi. Lantas berteriak Aahh…. Aku lelah dengan hidup. Aku takut, aku tak sanggup.

Ah ha!
Adalah fase ketika ketika memperoleh ide, solusi, pencerahan dan mulai memperbaiki diri. Ah ha! Adalah sebuah ekspresi umum banyak orang ketika tiba-tiba muncul ide di kepala yang mulai stagnan.

Ha ha…
Ketika manusia udah mulai mendapat pencerahan, dia sudah mulai bisa mengatasi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya dibuatnya sendiri. Hingga akhirnya kita sudah mulai bisa menertawakan diri sendiri. Menertawakan masa lalu dan menertawakan ketakutan itu sendiri.

Intinya, kalau kita lihat point 1 dari sepuluh prinsip di atas. Respons yang paling sehat terhadap hidup adalah tertawa. Jadi kalau kita ingin bahagia dan optimis, tertawa itu tidak hanya perlu, tetapi menjadi wajib. Kalau menggunakan prinsip ini, berarti orang yang paling sehat terhadap hidup adalah ‘orang gila’. Karena orang gila selalu tertawa. Ha ha ha. Tanpa beban, tanpa ketakutan dan tanpa kemunafikan. Orang gila adalah orang yang paling jujur. Karena orang gila tak terkotakan nilai, peraturan atau apapun yang sifatnya materi. Jadi..apakah kita harus jadi orang gila untuk bisa sehat terhadap hidup? Hahaha. Entahlah.

Awalnya aku hanya ingin memberi 2 bintang untuk buku ini. Karena sumpah..terjemahannya kacau balau (atau sebenernya aku saja yang ga nyambung sih). Tetapi, setelah dipertimbangkan lagi, kutambah jadi tiga bintang.

Satu bintang untuk judulnya yang provokatif serta nama seorang Deepak Chopra yang merangsang naluriku membeli buku ini
Dua bintang untuk bagian epilognya yang inspiratif
Tiga bintang karena aku ga tega memberi hanya dua bintang untuk karya Om Chopra.

Minus dua bintang karena
- terjemahannya yang kurang bisa kupahami
- lagi lagi terjemahan yang mengurangi nilai dari buku aslinya (mungkin, karena aku belum pernah baca buku aslinya)

Intinya, buku ini masih layaklah untuk dibaca. Tetapi sebaiknya baca buku aslinya, jangan versi terjemahan. Apalagi yang kubaca adalah versi terjemahan dari penerbit yang kurang dikenal. Karena takut anda akan kecewa karena terlalu memaang high expectation atas nama seorang Deepak Chopra. Dan kalau anda sudah mengalami kesulitan saat membaca bab bab awal, langsung lompat ke bagian epilognya. Karena di situlah intinya. Daripada buang buang waktu membaca sesuatu yang ga dimengerti kan?hehehe

0 komentar:

Poskan Komentar