Minggu, 29 Agustus 2010

Unbelievable By : Winna Effendi

Baru pertama kali ini baca seri Glamgirls. Dari tema seriesnya, dah kebayang sih kalau isinya tentang orang-orang tajir dgn segala “keglamorannya”. Pasti gak jauh-jauh dari pamer barang branded, gaya hidup socialite yang selangit, gaya bahasa yang sok westernish – alias campur aduk English Indonesia gitu deh.

Ternyata bener aja. Ini adalah cerita tentang anak-anak jetzet bin borju dan glamour yang kerjanya shopping, shopping, gossip dan gaya hidup serbah wah, lux, jetzet, high class dan bourjuis. Glamgirls - Rashi, Maybelline dan gank cliquenya - yang super glamourousss di sekolah VIS (Voltaire Internationale School) yang juga ga kalah glamorousss..nya. Glamourousss - with triple s, coz they are more than an ordinary glamour-.

Baca halaman-halaman awalnya sih bikin agak muak. Hedonis, konsumeris, materialis, borjuis, ga realistis, free lifestyle, sok westernis, so fashionable, etc yang gak banget deh (setidaknya buat gw pribadi). Gw seperti disuguhi parade barang branded yang dengernya aja baru sekarang :P Maklum, gw bukan berasal dari dunia “awan” yang tidak membumi. Dengan kata lain, kaum kebanyakan. Terlalu “ngawang”, bisa jadi karena terlalu “proletarnya” gw hingga tak mampu menjangkau dunia mereka yang selangit. Belum lagi dengan gaya bahasa yang campur aduk English-indonesia plus slangnya. Banyak bahasa dan istilah ajaib muncul. Ck ck ck ..geleng-geleng kepala gw dibuatnya. Gw jadi merasa jadul dan so…last years banget. Gak up to date geeto loch :D

Baca novel ini bikin gw jadi teringat sama “klub bulu-bulu” atau bahkan “si biru” yang sempet bikin geger ranah GRI dan selama hampir seminggu (bahkan lebih) selalu menghiasi bagian depan (home) setiap kali gw login di Goodreads. “si biru” yang menghebohkan bukan karena isi ceritanya, tetapi lebih kepada “faktor penulisnya” atau lebih tepat “attitude si penulisnya & tulisan-tulisannya di blog pribadinya yang defensive, narsis, megalomaniac…sekalee”. Otak prima vs otak Teflon. ups.. gak bermaksud membuka kembali lembaran lama yang udah basi dan so..last month :D

But seriously, tingkah laku, gaya bahasa dan cara para tokohnya memandang diri mereka sendiri dan orang serta lingkungan sekitarnya mengingatkan gw pada tulisan dan komentar penulis “si biru”. Apa memang anak-anak tajir bin jet zet atau yang sok tajir sok high class hampir semua berpikiran seperti itu? Hmm.. dunno coz to be honest I never be apart of them :P

Back to this unbelievable novel, strangely even the settings is almost hyperbolic (at least for me), i’m quite enjoy to read this book. Walaupun awalnya sempat bikin gw muak dan hampir gw lempar (ga jadi dilempar begitu inget, klo ini buku pinjeman dari orang.. @kakak palsay, tq yak ^^). Tetapi ceritanya tidak terkesan dibuat-buat. Inti ceritanya sendiri sih standar, nothing special, yaitu tentang anak-anak orang kaya dengan segala gaya hidup dan masalahnya. Namun pada akhirnya, cinta dan persahabatan mampu menemukan jalan sejatinya. Tetapi, ceritanya ringan dan mengalir begitu saja. Lama-lama enak untuk dibaca. Ditambah lagi tidak banyak tipo yg mengganggu (two thumbs for the editor).

Lumayanlah sebagai bacaan ringan pengisi hari.

0 komentar:

Posting Komentar