Kamis, 05 Agustus 2010

One Episode was Closed. Finished



Terkadang, masa lalu itu masih datang menggentayang. Seperti hantu yang menghantui. Dan kini, saat kuterpaksa harus kembali bertemu dengan masa laluku yang sebenarnya masih terhitung baru. Hantu itu mewujud lagi dalam diriku. Aku takut luka itu kembali terbuka dan menganga. Tetapi yang lebih kutakuti aku takut terjebak “cinta lama” dan membuatku tak setia. Aku tak mau menyakiti siapapun, sama besar seperti aku tak mau disakiti siapapun. Aku tak mau khianat dari janji, sama besar dengan rasa benciku pada pengkhianat, playboy Casanova dan tukang tebar pesona. Aku tak mau mendua hati, sama seperti ku tak mau dimadu dan diduakan hati.

Tetapi walau hantu itu terus datang menggentayang, Ku tak boleh jadi pengecut lantas lari. Semuanya harus ku hadapi. Aku bisa peroleh jawaban atas banyak tanya. Apakah masa lalu masih mampu membuatku luluh dan sakit hati? Apakah aku bisa benar-benar bebas dari penjara dan trauma itu? Dan di saat yang sama, aku juga bisa tahu apakah sebenarnya yang kurasakan pada dia yang telah kuberikan komitmen dan janji pada saat ini? Kukumpulkan semua energy, kusiapkan hati. Aku harus siap dengan apapun yang terjadi nanti.

Saat pertama kulihat dia – masa laluku-, sesaat ragu kembali mencuat. Tetapi entah kenapa tak lagi kurasakan debaran itu. Tak lagi kurasakan kecanggungan dan gejolak di hatiku. Begitu pula dengan sakit hati dan rasa benci. Semua hilang lenyap, menguap entah ke mana. Buatku sekarang, yang ada di depanku kini adalah seorang sahabat lama. Seorang teman yang kuanggap sebagai seorang kakak. Aku bisa tersenyum tulus. Mampu tertawa lepas di depannya. Ternyata memang benar, memaafkan orang lain berarti menyembuhkan diri sendiri. Beban itu hilang sudah. Ragu itu musnah pula. I’m so free now. Di saat yang sama, aku seperti disodori kaleidoskop yang dimulai dari sekitar setahun lalu. Kaleidoskop yang kini bisa membuatku tertawa akan kebodohan dan kenaifan diri sendiri. Akan kesalahpahaman dan kehebohan diri sendiri. Aku tertawa bahak ketika ingat hiperbola dan “kelebay”an diri sendiri saat itu. Yang hampir membuat banyak sahabatku muak dan “muntah- muntah” melihat keanehan sikapku. Dan bahkan membuatku hampir menjadi “korban kekerasan” mereka setiap aku mulai bercerita dan curhat pada mereka. Kuputar kembali kaleidoskop itu diselingi cengiran dan tawa sendiri yang mungkin membuat orang yg melihatnya berpikir aku gila :P

Kaleidoskop yang sudah berubah warna dari merah muda, merah tua, menghitam dan kini kembali tanpa warna. Sebuah catatan harian yang sudah tutup buku. Hanya menjadi sebuah pengalaman dan masa lalu. Tetapi walaupun begitu, “I still must say thanks. For my past, thanks for everything. From you, I learn a lot of thing. Sayonara my brother”.
Lega rasanya. Kan kulanjutkan hidupku lagi, seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi. Walau ku tak pernah bisa tahu apa yang terjadi di esok hari. Walau aku juga masih tak pasti akan berakhir seperti apa dengan cintaku saat ini. Tetapi satu hal yang pasti, aku bahagia karena aku tahu kini, bahwa aku bukanlah seorang pengkhianat dan mendua hati. Dan kalau rasaku pada cintaku di masa kini bukan karena lariku dari sakit hati dan masa lalu. Tetapi karena dia adalah dia, bukan yang lain. Dan karena aku cinta. Itu saja.

Pontianak, 5 Agustus 2010

0 komentar:

Posting Komentar