Jumat, 27 Mei 2011

Cinta, Mencintai dan Dicintai

Beberapa tahun yang lalu, kakak perempuanku pernah bilang begini “Seorang perempuan, akan jauh lebih bahagia kalau ia bersama dengan pria yang mencintainya sepenuh hati daripada bersama dengan pria yang ia cintai , tapi sang pria tidak mencintainya sepenuh hati. Karena perempuan bisa belajar mencintai, sementara pria tidak.” Kalimat yang sama dengan yang diucapkan beberapa orang temanku setelahnya hingga saat ini. 

Benarkah begitu? Apakah seorang perempuan akan lebih bahagia bila menerima cinta daripada bila ia mencintai? 

Cinta yang tulus mampu menghancurkan kerasnya karang, apalagi hati perempuan. Karena memang pada dasarnya perempuan adalah mahkluk yang mudah tersentuh hatinya. Saat ia dicintai, wanita akan merasakannya. Walaupun sebelumnya ia tak punya perasaan apa-apa tetapi lambat laun ia bisa belajar mencintai sang pria. Karena saat dicintai, orang akan merasa lebih berharga, diperhatikan dan merasa luar biasa.

Sementara saat mencintai, orang akan terdorong untuk menjadi luar biasa, hebat dan memberikan perhatian kepada orang yang kita cintai. Jatuh cinta memang indah, tetapi berhati-hatilah terhadap kekecewaan di belakangnya. Kalau sudah berani jatuh cinta, harus berani patah hati. Saat mencintai, kita tak terpikirkan alasan ataupun penjelasan. Apalagi buat perempuan yang lebih memakai perasaan daripada logika. Terkadang saat jatuh cinta kita menjadi buta terhadap kenyataan dan sekeliling. Parahnya, kita jadi tak melihat keburukan orang yang kita cintai, juga tak memperhatikan kebaikan dan perhatian orang lain. Karena buat kita saat itu hanya ada dia, dia dan dia. Padahal bisa jadi, justru orang lain itu yang lebih tulus dan benar-benar menyayangi kita.

“Saat kita sibuk menatap punggung seseorang dari belakang, seringkali tanpa kita sadari bisa jadi ada orang lain yang juga sedang menatap punggung kita dari belakang. Dan bisa jadi justru orang itulah yang sebenarnya adalah cinta sejati kita, bukan orang yang saat itu kita tatap punggungnya dari belakang.”

Perempuan, akan lebih bahagia saat dicintai. Karena perempuan punya energi yang terbatas untuk mengejar cinta. Dulu, saya pernah berpikir kalau cinta tak butuh balasan. Ternyata salah. Cinta antara perempuan dan laki-laki itu butuh balasan. Apalagi buat seorang perempuan. Sebesar apapun perasaan seorang perempuan terhadap seorang pria, kalau terus menerus dalam posisi mengejar dan terabaikan tanpa ada balasan, lambat laun akan lelah juga. Yang kemudian akan menipis dan terkikis habis tergantikan dengan cinta - cinta yang lain.

Seorang pria tidak seperti perempuan yang suka bermain “jinak-jinak merpati”. “Kalau seorang pria memang mencintai seorang perempuan, ia akan melakukan apapun untuk menarik perhatian dan untuk mendapatkannya” (from He is Just Not That Into You by : Greg Behrendt). Sebaliknya, umumnya pria tidak bisa belajar mencintai seperti halnya perempuan. Mereka umumnya relative lebih ‘straight and to the point’. Suka ya suka, tidak ya tidak. Walaupun untuk beberapa kasus ada pria yang bisa belajar mencintai, berupaya mencintai atau bahkan berpura-pura mencintai seorang wanita. Tetapi coba tanya hatinya, bisakah ia membohongi hati dan perasaan sendiri? manusia normal tidak. Mungkin manusia –baik pria ataupun wanita - bisa membohongi seluruh dunia. Tapi ia takkan pernah bisa membohongi Tuhan dan dirinya sendiri.

Ini bukan berarti perempuan tidak setia. Tetapi buat saya, apa artinya sebuah kesetiaan kalau sebenarnya orang yang kita setiai tidak butuh itu. Bahkan lebih buruknya kalau orang yang kita cintai sama sekali tidak membutuhkan kita. Untuk apa bergantung pada sesuatu yang tidak sudi kita jadikan tempat bergantung. Percuma saja memberikan perhatian, sayang dan kebaikan untuk seseorang yang tidak pernah menghargai semua yang telah kita lakukan. Haloo… dunia ini luas dan indah loh. Masih banyak kesempatan dan hal-hal baik di luar sana yang menanti kita. dunia itu indah. Hidup itu indah, hanya jika kita ingin menjadikannya indah J Karena berbahagia adalah sebuah pilihan.

Cinta memang tentang perasaan, tetapi tetap harus menggunakan logika dan pikiran. Dan satu hal, jangan sampai cinta membuat anda kehilangan harga diri dan diri anda sendiri. karena sesungguhnya Tuhan menanamkan perasaan cinta ke dalam hati manusia  untuk memuliakan manusia, bukan untuk menghinakannya. Cinta datang untuk menjadikan manusia lebih baik, bukan untuk membuatnya terperosok dalam jurang perendahan harga diri apalagi kenistaan. Cinta itu suci dan murni. Yang salah adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Apalagi ketika cinta sudah bercampur dengan nafsu, ego dan keinginan sesaat.

Jadi, akan memilih mana antara dicintai dan mencintai? Buat saya akan jauh lebih baik bila kita dicintai oleh orang yang juga kita cintai :D Keinginan dicintai jangan dijadikan alasan membohongi diri sendiri lantas malas berjuang mengejar cinta. Tetapi tetap ada batasnya. Sampai pada satu titik, ketika mencintai dan dicintai tak bisa dipertemukan pada satu sosok, seorang perempuan mungkin akan lebih berbahagia bila ia memilih untuk dicintai terlebih dahulu. Saya bilang mungkin, karena saya sendiripun belum tahu pasti. karena saya juga belum pernah merasakan dicintai dengan benar-benar. Atau mungkin saya memang belum menyadarinya? Adakah seseorang di luar sana yang saat ini sedang memperhatikanku dari belakang? Kalau ia, pls come. Datanglah, katakan, tunjukan. I’ll open my door to greet you n let you in if you are really serious with me. Kalau tidak? Ke laut aja! Dan jangan coba-coba :P because human heart isn’t a toy that you could play.

Love without saying any words, confusing.
Saying love without any action, you must be joking!
Saying love and pretend loving, but actually just acting, damn playing!!
A true love, I’m waiting.

Insomia effect. Balikpapan May 27th 2011

0 komentar:

Poskan Komentar