Senin, 02 Juli 2012

Gembel Traveller. Day 12. Welcome to Bangkok


Pesawat kami dari Phuket menuju Bangkok berangkat jam pagi. Jadi kami sudah harus checkout dan berangkat dari hotel jam 4 pagi. Pagi-pagi buta kami sudah melaju di jalan raya sepi dan menuju ke Bandara. Kami sengaja sudah memesan taxi dari hari sebelumnya karena sangat sulit mencari taxi pagi buta seperti itu di sana. Kami sudah sampai di bandara Phuket jam 5 pagi.

Penerbangan dari Phuket menuju Bangkok di tempuh dalam waktu 1 jam 20 menit. Pesawat tiba di Bangkok 8.15. Di Bangkok, kami akan menginap di rumah host kami James, ia juga dari komunitas CS yang bersedia menjadi host kami selama di Bangkok. Setelah proses pengambilan bagasi, kami menuju stasiun kereta. Kami naik airport train sampai Phayathai Station. Dari stasiun, seharusnya kami menggunakan bus no. 54 untuk menuju rumah James seperti yang sudah ia infokan. Akan tetapi, kami kebingungan dimanakah letak halte bus atau paling tidak dimana kami harus menunggu bus yang dimaksud. 

Kami sudah berdiri di sebuah titik yang kami kira pemberhentian bus (karena bentuknya yang mirip halte bus di Indonesia), akan tetapi tidak ada satupun buskota yang berhenti. Kami pun menanyakan pada penduduk setempat. Akan tetapi kendala bahasa jadi masalah. Ternyata, orang Thailand, khususnya di Bangkok banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, bahasa tarzanpun tidak nyambung karena yang kami tanyakan adalah alamat rumah atau halte bus. Setelah kebingungan hampir 30 menit, kami akhirnya bertemu seorang bule dan akhirnya bertanya padanya. Ternyata, tempat kami berdiri dari tadi itu memang bukan halte bus. Itu adalah pemberhentian khusus taxi, pemberhentian bus terletak beberapa puluh m dari sana*zedig.. pantes aja*.

Karena sudah terlalu lelah dan bis juga tak muncul juga, akhirnya ujung-ujungnya kami memutuskan naik taxi. Tak terlalu sulit menemukan alamat James yang terletak di Jl. Intamara, karena tempat itu sekaligus sebuah café. Finally, kami sampai juga di café milik James tempat kami akan menginap selama di Bangkok.

Café itu terletak di ruko tiga lantai dimana café di lantai 1 sedangkan lantai 2 dan lantai 3 terdiri dari beberapa ruang untuk kamar-kamar. Pada saat yang sama, James menjadi host untuk lebih dari 10 orang yang berasal dari berbagai bangsa. Kami ditempatkan di lantai 3, dan bersama kami ada 4 orang lain, 1 berasal dari USA, 1 dari Hongkong, 1 Inggris dan 1 lagi dari Kanada. Selain kami berenam, ada lagi keluarga dari Timur Tengah dan beberapa orang lagi. OMG, James baik hati sekali, dia bersedia menyediakan tempat menginap bagi banyak backpacker yang datang ke Bangkok. Entah sudah berapa ratus orang yang diterimanya selama beberapa tahun ini. Bener-bener amazing rasanya. Walaupun tempatnya biasa saja, tetapi buat ukuran para backpacker yang terpenting adalah ada tempat untuk tidur dan beristirahat. Kami sangat berterimakasih kepada James atas kebaikan hatinya.
Café milik James di lantai 1 adalah café yang 100% makanan yang disediakan adalah makanan halal. Ini karena James memang seorang muslim. Kami sangat tertolong sekali. Karena di Bangkok tidak seperti di daerah Thailand Selatan seperti Krabi dan Phuket yang masih banyak penduduk muslimnya dan makanan halal mudah didapat. Di Bangkok makanan halal sulit ditemukan. 

Setelah beristirahat sejenak dan beramah tamah dengan tuan rumah, kami segera keluar dan memulai petualangan kami di Bangkok hari itu. Tujuan pertama kami adalah Museum lilin Madam Tussaud yang ada di Discovery Mall Bangkok. Musium ini memajang koleksi patung lilin banyak tokoh dunia, mulai dari aktris dan aktor, penyanyi, sutradara, tokoh negara dan terkenal lainnya. Harga masuk Museum ini cukup mahal, sekitar 1300 baht per orang. Tetaou kita bisa buas bernarsis ria dengan para tokoh dan selebritis favorit. Mau berfoto bareng Justin Beiber atau Beyonce? Bisa :D

Dari museum ini, kami ke national stadium dan MBK. MBK adalah pusat perbelanjaan terkenal di Bangkok. Para penggila belanja yang datang ke Bangkok pasti mampir ke mall ini. Tak jauh dari MBK, ada art Contemporary Museum. Di depan museum ini banyak hasil karya seni kontemporer yang unik, mulai dari tong sampah raksasa yang terguling, patung hewan dan bola bola warna warni. Saat kami lewat di depannya juga ada seniman jalanan yang sedang memamerkan aksinya. Seniman jalanna ini memainkan musik pukul semacam gendang tapi terbuat dari beragam kaleng dan bekas kemasan makanan. 

Selanjutnya kami menuju museum Jim Thompson. Jim Thompson adalah orang Amerika yang akhirnya menetap di Thailand dan mengembangkan industri sutra di sana. Dialah salah satu tokoh yang membuat Thailand terkenal karena prosuksi sutra. Tokoh ini menghilang saat sedang berlibur di daerah Cameroon Highland, Malaysia dan hingga sekarang tidak diketahui di mana keberadaanya dan bagaimana nasibnya, masih hidup atau tidak. Rumah milik Jim Thompson inilah yang kemudian oleh perintah Thailand dijadikan museum Jim Thompson untuk menghormati dan mengenang beliau. Area musium ini sangat luas terdiri dari beberapa bangunan yang didesain berdasarkan desain rumah asli Thailand. Di dalam mueum ini ditampilkan berbagai hal yang terkait dengan produksi sutra serta beragam barang antik yang menjadi koleksi pribadi milik Jim Thompson. 

Dari museum Jim Thompson, rencananya kami akan ke kedutaan RI untuk mencari info terkait visa ke Myanmar dan Laos. Kami menyusuri jalan mengikuti peta tak juga menemukannya. Kelaparan mulai mendera dan memamg dari tadi kami belum juga menemukan makanan halal. Sebenarnya kalau sore menjelang, hampir di sepanjang jalan di kota Bangkok banyak pedagang yang menjajakan makanan. Akan tetapi karena kami khawatir akan kehalalannya kami tak berani mencoba. Karena dari yang kami dengar, makanan di sini banyak mengandung B2.

Akhirnya kami terus berjalan menyusuri jalan. Baru setelah sekitar 1 jam berjalan kami menemukan rumah makan yang menjual makanan halal. Kalau di Bangkok, kedai makan milik muslim selalu jelas diberi tanda makanan halal, jadi pembeli tidak perlu khawatir. Pemilik rumah makan ini juga seorang ibu-ibu berjilbab. Rasanya aman untuk makan di sini. Worry free. Kami menyantap nasi goreng dan mie goreng Thailand serta  beberapa baso seafood yang ditusuk seperti sate dan dibakar serta disajikan dengan saus. Rasa makanan di sini maknyus. Rasanya selama lebih dari seminggu di Thailand kami belum pernah merasakan makanan yang tidak enak :D

Perut sudah damai, badan sudah letih, kami pun beranjak kembali ke tempat kami menginap. Malam itu kami bertemu dengan beberapa orang backpaker yang sama-sama menginap di tempat James. Setelah bercakap-cakap, bebersih, kamipun tidur.

1 komentar:

arie mengatakan...

Tempatnya mas james ini di daerah/distrik mn mbak? Dia buka hostel gt ya? Atau emang menjamu teman scr cuma2?

Poskan Komentar