Selasa, 03 Juli 2012

Gembel Traveller. Day 13. Nyasar di Bangkok


Pagi hari setelah sarapan kami kembali menjelajahi ibukota negara Thailand ini. Dari kediaman James, kami naik buskota (nomornya saya lupa) untuk menuju tempat kapal sungai di Kiak Kai. Buskota di Bangkok tarifnya cukup murah, yaitu 6,5 baht atau sekitar 2000 rupiah per orang. Kalau kita beruntung, bis tersebut tidak ada kernet yang meminta ongkos, itu artinya kita tidak perlu membayar apapun alias gratis :D

Dari Kiak Kai (pemberhentian nomor 21), kami naik kapal sungai yang melintasi sungai Chao Phraya sampai pemberhentian no. 8 di dekat Grand Palace di Ko Ratanakosin area. Dari sana kami berjalan kaki menuju Grand Palace. Grand palace adalah komplek istana kerajaan Thailand yang sangat luas dan terdiri dari beberapa bagian dan gedung. Tempat ini dulunya adalah tempat kediaman Raja Thailand. Tiket masuk komplek Grand palace ini seharga 400 Baht per orang, sudah termasuk tiket masuk Grand Palace dan Wat Phra Kaew yang sering disebut Temple of Emerald Buddha. 

Di Grand palace ini terjadi kecelakaan pada kamera SLR saya. Saat saya ke toilet, tas kamera saya gantung di cantelan pintu toilet. Tetapi tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamar mandi dengan sangat kencang hingga kamera saya terjatuh. Damn!! My lens was broken :( Mau nangis rasanya lihat lensa Tamron 18-270 FZD yang baru dibeli 2 bulan lalu retak bagian putarannya jadi agak menganga, walaupun masih bisa dipakai sih. Mana pelaku yang menggedor pintu toilet gak ketauan lagi. Makin kesel jadinya. 

Dari Grand Palace, kami melanjutkan berkeliling sekitar area Ko Ratanakosin. Setelah itu kami menuju Wat Pho. Wat Pho adalah salah satu dari beberapa temple besar di Bangkok yang sering dikunjungi para wisatawan. Selain Wat Pho ada Wat Arun, Wat Phra Kaew, Wat Traimit  dan Wat Benchamabophit. Luas kompleks Wat Pho cukup luas. Temple ini berciri khas warna emas di ornamen-ornamennya. Saat kami masuk ke area Wat Pho, kami tidak melihat adanya booth tiket, jadi kami pikir memang gratis. Setelah hampir satu jam kami di dalam, tiba-tiba Dahlia mengajak saya supaya segera keluar dari area Temple. Ternyata, sebenarnya ada tiket untuk masuk ke area temple. Dan ia mendengar ada beberapa orang yang sedang mencari orang-orang yang masuk tanpa tiket. Oo.. kami beneran baru tau kalau ada tiket. Dan tiket boothnya terletak di sisi yang berbeda dari pintu kami masuk. Harga tiket masuk Wat Pho adalah 50 baht. Jadi dengan kata lain, tanpa sengaja kami telah jadi penyelundup. He3x :D psstt. Jangan bilang siapa-siapa ya. Karena khawatir tertangkap basah tanpa tiket, kamipun segera keluar meninggalkan area Wat Po. Daripada kami harus kenapa-kenapa di negri orang  :D

Setelah sukses ‘selamat’ keluar dari Wat Pho, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Wat Arun. Wat arun terletak di tepi Sungai Chao Phraya, dan untuk mencapainya kami harus menyebrangi sungai Chao Phraya dengan menggunakan kapal untuk penyebrangan yang tarifnya 10 Baht. 

Kalau Grand Palace dan Wat Phra Kaew berwarna warni, Wat Pho berwarna emas dan ornamen warna warni, warna dasar bangunan Wat Arun adalah batu. Tidak terlalu banyak ornamen di sana. Harga tiket masuk ke area temple ini adalah 50 baht. Kali ini kami membayar tiket masuk loh :D  hari itu panas sangat terik, sehingga kami benar-benar tepar dan dehidrasi apalagi harus naik turun bagian-bagian kuil. Entah sudah berapa banyak air yang masuk ke tenggorokan. Panas gila!!! 

Sebenarnya di Bangkok masih banyak lagi temple-temple seperti Wat Traimit, Wat Bechamabophit, etc. pantas saja Thailand sering dijuluki negeri seribu pagoda. Karena pagoda di negara ini sangat banyak dan tersebar di mana-mana. Akan tetapi kalau waktu kita untuk mengeksplore Thailand terbatas, anda cukup mengunjungi Grand Palace, Wat Phra Kaew, Wat Pho dan Wat Arun

Dari Wat Arun, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Khaosan road. Khaosan road adalah areal backpacker terkenal di Bangkok. Karena di sini banyak tersedia penginapan, tour agent dan sarana pendukung untuk para wisatawan. Khaosan road ini sangat ramai dan padat dengan banyak orang berbagai bangsa berlalu lalang. Kami berkeliling sekitar Khaosan road sekaligus mencari tiket bus ke Siam Reap - Kamboja untuk esok hari. Setelah berkeliling dari satu tour agent ke tour agent lainnya, akhirnya kami mendapatkan tiket bus ke Siam Reap seharga 600 baht per orang.  

Dari sini kami melanjutkan perjalanan mencari pusat pertokoan elektronik untuk mengecek keadaan kamera dan lensa yang yang mengalami  ‘kecelakaan’ tadi pagi sekaligus mencari kedutaan Indonesia untuk mencari info terkait visa Myanmar. Kami naik bus sampai Victory monument dan melanjutkan bus menuju area jalan Pratunam , kalau tidak salah namanya Plaza Central.

Kami naik bus sampai victory monument. Dari sini, seharusnya kami naik bis yang lewat jalan Pratunam. Kami naik bus dengan damai. Di bus, kami jadi tontonan umum. Karena mungkin jarang wisatawan asing yang menggunakan bus umum di sana. Apalagi dengan ‘penampakan’ saya yang lagi-lagi terlalu obvious :p Karena petugas yang menagih tidak bisa bahasa Inggris dan kamipun tidak mengerti bahasa Thai. Jadilah kami menggunakan bahasa tarzan untuk mengetahui dan membayar ongkos bus :p Kami santai saja duduk dan mengobrol di kursi penumpang. Seakan-akan kami tahu dimana tempat yang kami tuju dan dimana kami harus turun :D  Setelah sekitar 30 menit, kami baru sadar kalau bus membawa kami makin menjauhi pusat kota. Kami mulai panik, kami mencoba menanyakan kepada petugas ataupun penumpang lain soal tujuan kami dan di mana kami berada saat itu, tetapi mereka juga tidak bisa bahasa Inggris. Mampus!! Kamipun makin panik. Untunglah tak lama kemudian, penumpang yang duduk di kursi di depan saya yang mengerti bahasa Inggris bersedia membantu. Darinya kamipun tahu, kalau kami telah NYASAR! Kami telah naik bus yang salah dan terbawa oleh bus yang rutenya berlawanan arah dengan tujuan kami. Dari orang yang sama jugalah kami disarankan untuk turun di halte terdekat berikutnya agar kami tidak nyasar semakin jauh.

Di suatu halte, entah di mana dan di jalan apa kamipun turun dari bus. Kalau kemarin kami hampir nyasar saat mencari bus ke rumah James, hari itu kami benar-benar lost in Bangkok :D Di halte tersebut tidak ada orang lain yang sedang menunggu bus juga tak ada petugas ataupun pedagang (emangnya di jakarta, hampir di setiap halte bus ada pedagang asongan :p). Kami mencoba mencari tahu posisi kami saat itu di peta. Salah satu hal yang wajib dibawa traveller independent adalah peta. Karena di situ kita bisa tahu rute dan lokasi tempat yang kita cari. Kami mencoba mencari tahu nama jalan tempat kami berada saat itu. Celingak celinguk, kami tak menemukan nama jalan satupun. Kalaupun ada papan nama ataupun tulisan, semuanya dalam bahasa dan tulisan Thai. Grook. 

Kamipun memutuskan untuk menyebrang jalan dengan tangga penyebrangan karena di halte sebrang jalan terlihat beberapa orang yang sedang menunggu bus. Kami berharap bisa mendapatkan info dari mereka. Sebenarnya untuk sesaat saya tergoda untuk menghubungi ‘teman’ saya yang saat itu bekerja di Bangkok untuk membantu. Akan tetapi gengsi saya terlalu tinggi. Ha3x :D Bukan apa-apa sih, soalnya teman saya itu, he is my ex. So I don’t want to contact him nor have any debt to him. Yang paling penting, saya juga tidak mau dianggap mengganggu apalagi ‘mengejar’nya. No way!! Walaupun kami berpisah tidak bisa dibilang dengan tidak baik juga, akan tetapi tidak juga bisa dibilang baik-baik. Dan saya tidak mau berpura-pura seakan- akan tidak ada apa-apa. He hurt me so much before, so I couldn’t pretend nothing happen. I still could be his friend – an ordinary friend – but don’t expect me to pretend to be his best friend anymore. Loe, gw, END, SELESAI!  Akhirnya, saya lebih memilih untuk bertanya. Malu bertanya, sesat di jalan. Gengsi menerpa nyasar jadinya :D

Kami mencoba menanyakan pada beberapa orang, tetapi lagi-lagi kendala bahasa jadi masalah. Kami beneran jadi dua cewek gembel yang nyasar di negeri orang saat itu. Kami akhirnya mengegelar peta untuk meminta mereka menunjukan di mana posisi kami saat itu dengan bahasa tarzan. Untunglah akhirnya ada mbak-mbak yang sepertinya baru pulang kerja membantu kami. Lebih lagi, dia juga menelpon temannya untuk tahu bagaimana cara kami untuk ke central plaza. Akhirnya disimpulkan kalau kami harus kembali menyebrang jalan, lalu jalan kaki ke perempatan sekitar 200 m dari situ baru melanjutkan naik bus yang lewat plaza central. Atau, cara termudah adalah naik taxi :D Akhirnya kami menuruti saran mbak-mbak tadi dan kembali menyebrang jalan untuk melanjutkan perjalanan. 

Dari jembatan penyebrangan menuju perapata rasanya jauh sekali. Karena kami sudah sangat letih, kaki pegel dan perut kelaparan. Lagi-lagi kami tak berani makan sembarangan. Padahal, di Bangkok kalau sore sudah menjelang, hampir di sepanjang jalan ada pedagang yang menjajakan makanan aneka macam yang kelihatan menggugah selera. Tetapi lagi-lagi karena khawatir akan kehalalan makanan tersebut, kami tak berani mencoba. Jadi berpikir ada bagusnya rekan perjalanan saya sama-sama muslim, jadi kami memang sama-sama memilih dalam hal makanan. Bagaimana jadinya kalau rekan perjalanan saya non muslim? Ini bukan masalah SARA sih, karena saya tidak pernah mempermasalahkan soal SARA dalam hal pertemanan. Saya bisa berteman dengan siapa saja, akan tetapi kalau dalam hal makanan tetap saja berbeda. Saya jadi berpikir, kalau teman perjalanan saya bukan muslim, pasti dia akan sangat menderita travelling dengan saya. Karena dia jadi tidak bisa menikmati banyak makanan khas disini yang terkenal enak rasanya.

Lelah, letih dan kelaparan, akhirnya sampai juga kami ke pusat pertokoan yang kami tuju. Tujuan pertama kami pastinya adalah mencari tempat makan :D Kami memilih untuk makan ayam goreng di restoran cepat saji KFC, walaupun sebenarnya kami juga tidak terlalu yakin akan kehalalannya karena tidak ada logo halalnya. Tetapi we think, it’s better than we eat food that obviously not halal.
Setelah mengisi perut, kami berkeliling pertokoan untuk mencari tempat servis kamera. Dari hasil bertanya sana-sini sebagian besar menyarankan agar lensa dan kamera saya di’rawat inap’ untuk diperiksa dan diservis. Karena kami tidak punya banyak waktu, dan besok sudah harus meninggalkan Thailand, akhirnya saya batal memperbaiki lensa dan kamera saya. Dari hasil windows shopping di sana, kami jadi tahu, ternyata harga elektronik di Thailand lebih murah daripada di Jakarta. Dahlia membeli tripod hanya seharga 30 baht atau sekitar 90 ribu rupiah. Padahal kalau di Jakarta harganya bisa mencapai lebih dari 200 ribu rupiah. 

Malam semakin turun, kamipun beranjak keluar dari area mall untuk kembali ke tempat James. Dalam perjalanan, ternyata kami melewati Kedutaan Indonesia yang dari kemarin kami cari-cari. Karena saat itu sudah malam, kantor kedutaan sudah tutup, jadi kami tidak bisa mencari info di sana. Malam itu adalah malam terakhir kami di Thailand dalam perjalanan kali ini. Kami nikmati pemnadangan malam di kota Bangkok melalui tuk-tuk yang kami sewa menuju daerah Intamari tempat kami menginap.]


Selama melakukan perjalanan di Thailand, ada beberapa point penting yang kami dapat.

11. Makanan Thailand umumnya enak dengan citarasa pedas asam sebagai ciri khasnya. Untuk daerah Thailand Selatan (Phuket, Krabi, etc), makanan halal masih mudah ditemui sedangkan makin ke Utara semakin sulit. Untuk traveller muslim, sebaiknya cari info terlebih dahulu di mana tempat yang menyajikan makanan halal di daerah yang dituju.
2
22. Harga barang di Thailand secara garis besar lebih murah dari di Indonesia. Buat para penggila belanja, tempat ini cocok untuk menguras dompet anda dengan barang murah.

33. I love Thailand’s  beach and islands. Karena kami hanya ke pulau dan pantai di sekitar laut Andaman,kami tidak tahu kondisi di area lain. Akan tetapi berdasarkan info yang kami dapat, pantai dan laut di area lain di Thailand pun sama indahnya.

44. Untuk traveller, sebaiknya paling tidak tahu beberapa kata dasar dalam bahasa Thai. Karena masyarakat di sana jarang yang bisa bahasa Inggris. Dan ini bukan salah mereka, karena ini adalah negeri mereka. Seharusnya kitalah sebagai tamu yang paling tidak sedikit mengerti bahasa mereka. 
55. Jangan lupa bawa peta dan travel guide book Ini adalah hal yang sangat penting untuk para independent traveller seperti saya. 

Bye Bye Thailand, hope I could go there again :)

0 komentar:

Posting Komentar