Kamis, 27 Januari 2011

Setelah Badai Reda...


Badai yang datang tiba-tiba menghancurkan semuanya.  Semua mimpi, janji, asa dan juga.. rasa.  Secepat itukah semua menguap tak bersisa? Terbawa angin entah ke mana. Secepat kebahagiaan itu datang dengan tiba-tiba. Secepat itu pula ia berlalu lantas pergi.

Atau malah ternyata semua tak pernah ada. Hanya mimpi, ilusi dan fatamorgana. Bayangan maya mataku yang kehausan di tengah sahara.

Aku jadi berharap semua hanyalah mimpi. Jadi semua bisa kembali seperti sebelumnya. Tak ada salah faham dan sakit hati. Tak ada dusta dan rasa palsu. Tak ada kcewa. Tak ada keinginan ‘tuk memiliki. Jadi tak perlu ada kehilangan. Semua tulus tanpa tendensi ataupun main hati.

Tapi kusadari ini bukanlah mimpi. Ini nyata. Senyata lubang yang tertinggal. Walaupun pakunya sudah kucabut dan kubuang jauh. Tetapi bekas itu akan tetap ada dan bersarang di sana, entah sampai kapan. Ini sebuah nyata, bukan mimpi, hanya palsu.

Tuhan, aku lelah terus bermusafir di rimba dan sahara. Aku bosan terus terbang tak tentu arah. Aku rindu mata air sejati. Aku rindu rumah nyaman tempat aku bisa kembali, beristirahat dari keras dunia ini. Tuhan, kapan dan di manakah aku bisa bertemu? Tuhan, aku rindu...

Balikpapan, 27 Januari 2011

0 komentar:

Poskan Komentar