Senin, 02 November 2015

Flash Back: The Worst Travel Experience Ever


Banyak orang terpikir bahwa traveling hanya soal tujuan dan tempat-tempat indah serta pamer foto Dan check in di sosial media. Banyak orang mengira kalau traveling hanya tentang pengalaman Indah tanpa nelihat hal sebaliknya.

Kali ini saya tidak ingin menceritakan tentang pengalaman menarik dan hal-hal baru yang saya temui. Tiba-tiba saya ingin bercerita tentang pengalaman buruk dan tidak menyenangkan yang pernah saya alami.

Soal ditinggal pesawat? Sudah biasaa. Scam wisata? beberapa kali nemuin. Dijutekin orang sampe dianggap TKW? Beberapa kali. Sampe harus diinterview polisi sebelum masuk imigrasi di negara tetangga  Brunei Darussalam juga pernah. Semua itu adalah pengalaman tidak menyenangkan buat saya. Tapi Kali ini saya tidak ingin bercerita tentang hal-hal itu, Mungkin lain kali, jika sempat dan muncul moodnya.

Semua teman pejalan, backpackers, traveller, atau apapun namanya pasti pernah punya pengalaman tidak menyenangkan. Termasuk juga saya. Dari berbagai pengalaman itu, ada satu trip yang sampai detik ini masih saya anggap sebagai 'the worst travel experience ever’, yaitu saat saya solo traveling ke Tana Toraja beberapa waktu lalu.

Sekitar oktober atau November thn 2012 lalu, saat saya sedang jd pengacara alias pengangguran banyak acara, saya diajak teman untuk ikut survey project milik salah satu instansi pemerintah. Kebetulan saat itu saya kebagian area Makassar. Survey selesai beberapa hari sebelum yang direncanakan. Sehingga kami masih punya waktu bebas beberapa hari sebelum pulang ke Jakarta. Akhirnya saya memutuskan untuk solo traveling ke Tana Toraja.

Saya membeli tiket bus malam dari Makassar, bus dijadwalkan tiba di Toraja esok harinya. Rencananya saya akan keliling toraja dengan ojek seharian, lalu akan kembali ke Makassar malamnya menggunakan bus malam.

Setelah Perjalanan sekitar 9 jam dari makasar, sampailah saya di toraja sekitar jam 6 pagi. Sebenarnya ini bukanlah kunjungan pertama kali saya ke sana. sebelumnya sudah beberapa kali saya berkunjung ke Toraja. Sebagian besar karena urusan pekerjaan. Sesampainya di Rantepao-Tana Toraja-, saya mencari ojek yang akan mengantar saya berkeliling. Saya sudah terbiasa traveling solo, jadi tidak pernah ada masalah demgan ojek, sopir rental mobil, yukang kapal dan sejenisnya. Hari itu, saya menggunakan jasa tukang ojek lokal (lupa namanya, katakan saja si x). Setelah deal harga kami pun mulai berkeliling Toraja. 

Perjalanan sama sekali tidak ada masalah sampai sore. Drama dimulai ketika sore menjelang senja. Saat sedang asyik memotret, tiba-tiba kaki saya terantuk di tangga. Terkilirlah saya. Menahan sakit dan meringis, kaki saya sempat diurut seadanya oleh ibu-ibu setempat. Selanjutnya si ojek x, menawarkan saya untuk dibawa ke tukang urut terdekat. Tanpa curiga sedikitpun, sayapun mengikuti dia.

Ternyata tukang ojek x malah membawa saya ke suatu tempat sepi, entah di mana. Dalam keadaan bingung Dan kaki sakit, si x malah mendorong tubuh saya. Astagfirullah, saya segera sadar klo si x punya niat buruk terhadap saya. Sayapun meronta saat si x mulai mendekatkan tubuhnya ke saya Dan memegangi tangan saya. Astagfirullah, Astagfirullah. Saya terus berdoa memohon perlindungan Yang Kuasa. Dengan sekuatnya kaki saya menendang si x tepat di bagian vitalnya. Selanjutnya saya langsung lari secepat kilat ke arah jalan yang ramai. Selanjutnya langsung menghentikan ojek lain yang lewat untuk segera menuju pool bis agar saya bisa segera kembali ke makasar Dan menjauh dari kejaran ojek x.

Kalau dipikir-pikir, entah kekuatan dari mana saya bisa lari secepat itu dalam keadaan kaki terkilir parah. The power of kepepet, Dan Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya.

Rasanya mau nangis, shocked bercampur jadi satu. Mau lapor polisi, saya terlalu malas dengan kehebohan selanjutnya. Tak percaya juga kalau polisi akan bisa membantu saya. Dalam bayangan saya saat itu, yang ada malah saya bisa diinterogasi lama dan bermacam-macam. Belum lagi resiko masuk media. Padahal besok siangnya saya sudah harus naik pesawat kembali ke Jakarta. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah harus segera pulang. 

Sesampainya di pool bus antar Kota, saya segera memesan tiket bus menuju makasar. Waktu Baru menunjukan jam 7 malam. Sedangkan bus Baru akan berangkat jam 9 malam. Waktu 2 jam itu saya gunakan untuk menenangkan diri. Menahan diri agar tidak menangis tiba tiba atau bahkan marah-marah. Si ojek x berkali kali menghubungi, namun tak saya hiraukan. Sampai dia sms minta maafpun tak saya pedulikan. Shocked, marah, kesal, bercampur jadi satu. Apa yang telah dia lakukan tak bisa selesai hanya dengan kata maaf.

Jam 9, bus menuju Makaasar pun berangkat juga. Saya naik ke dalam bus dengan ditolong kernet bus. Saya Baru menyadari kalau kaki saya semakin bengkak dan membiru akibat terkilir tadi. Jangankan dipakai jalan atau berlari, digerakkan saja sudah sangat sakit.

Di perjalanan saya gunakan untuk berpikir kenapa sampai saya hampir mengalami pelecehan atau bahkan kejahatan seksual? Pakaian saya sopan dan tertutup. Saya tidak pernah memakai pakaian ketat atau mini. Sikap saya juga tidak seolah menggoda. Lantas kenapa? Saya jadi berinstrospeksi diri. Apakah yang salah dengan saya? Apa karena saya terlalu cuek dan tidak waspada? Saya sudah sering kemana-mana sendiri, dan Alhamdulillah semua baik-baik saja. Baru kali ini saya mengalami hal separah ini. Ataukah saya yang terlalu polos hingga tak ada curiga? Atau... Kenapa? Sepanjang perjalanan banyak Tanya dan diskusi di dalam diri saya. Hingga saya lelah dan tertidur.

Ternyata, drama tak hanya sampai di situ. Paginya, bus tiba di daerah maros, tak jauh dari bandara. Sopir bus memberhentikan bus ke dalam area polres Maros. Kernet bus mengumumkan kepada seluruh penumpang agar mengecek semua barang bawaannya. Dan menginfokan kepada petugas jika ada barang yang bilang.

Hadeuh... Ada apa lagi ini, pikirku. Langsung saja kucek tas day pack yang saya bawa, tali retsletingnya tak bisa dibuka. Keras sekali. Tak lama kemudian, mas-mas yang duduk di kursi 1 deret di belakang 2 baris dari saya melaporkan kalau laptopnya bilang. Space yang tadinya diisi laptop sekarang sudah berganti dengan buku tulis besar sebesar laptop. Oo.. Modus Baru ini, untuk mengelabui korbannya sekilas tampak tidak ada yang hilang. Ajaib isinya sudah berganti. Langsung saja semua penumpang lain mengecek satu satu barang bawaannya, termasuk saya. Walaupun tas saya tetap tak bisa terbuka.

Tak lama kemudian, ajaibnya si mas mas yang kehilangan laptop menemukan laptopnya di kolong kursi. Ha ha sepertinya sudah dikembalikan oleh si pencuri. Tak lama kemudian, dua oramg bapak-bapak yang duduk di belakang saya berteriak kalau sudah tidak ada lagi barang yang bilang. Laptop si mas tadi sudah ditemukan. Mereka meminta bus segera melanjutkan perjalanan. Tetapi saya berteriak menolak. Karena tas saya masih belum bisa dibuka. Jadi saya belum tau apakah ada barang saya yang bilang.

Akhirnya oleh pak polisi tas saya diperiksa. Dan ternyata... Retsleting tas saya dilem menggunakan lem kuat semacam lem alteco. OMG... Langsung saja pikiran negatif muncul. Dan ternyata benar saja, setelah dibuka paksa, ketahuanlah klo camera SLR dan external hard disk saya sudah raib entah ke mana. Dan sebagai, sebungkus plastik hitam berisi aqua gelas mengisi tas saya.

Kontan saja saya panik, saya sedih kehilangan kamera SLR, Tapi saya lebih sedih kehilangan external hard disk. Bagaimana tidak, di harddisk tersebutlah tersimpan semua foto-foto perjalanan saya selama bertahun-tahun. Mo nangis rasanya.

Tuhan, cobaan apa lagi ini. Innalillahi wa inna illaihi rajiun.. Berulang saya ucapkan istighfar. Lemes banget rasanya. Setelah terkilir Dan kaki bengkak segede gaban, hampir mengalami kejahatan dan pelecehan seksual, terus sekarang kehilangan barang. Semua terjadi dalam sehari. Hanya selang beberapa jam.

Petugas kepolisian langsung menggeledah seluruh isi tas penumpang bus. Dan trala... Ajaibnya sekarang kamera SLR dan external hard disk saya sudah ada di kolong kursi saya. Ajaib bukan?

Tak lama kemudian, polisi menetapkan 2 orang yang duduk di kursi belakang saya sebagai tersangkanya. Bus diperbolehkan melanjutkan perjalanan, kecuali beberapa orang, dua orang tersangka tadi, mas mas yang kehilangan laptop, kernet bus Dan saya :(

Ya, saya Dan mas mas yang kehilangan laptop serta kernet bus diminta untuk menjadi saksi. Kami pun diturunkan dari dalam bus, sementara bus pergi meninggalkan kami di kantor polisi.

Usut punya usut, ternyata polisi memang sejak awal sudah mengincar dua orang tersangka tadi. Mereka diduga anggota kelompok pencuri dalam bus antar kota yang selama ini dicari polisi. Yang menjadi petunjuk polisi adalah ketika dua orang tersangka membeli tiket dengan menggunakan nomor HP yang sama dengan korban pencurian di dalam bus sebelumnya. Polisi memerlukan bukti tangan dan saksi untuk menangkap si tersangka. Dan jadilah kami di sini, diinterogasi di kantor polisi sebagai saksi.

Sungguh, menjadi saksi kejahatan di Indonesia itu sangat tidak enak. Bayangkan saja, saya sampai diinterogasi beberapa kali tentang hal yang sama oleh beberapa petugas yang berbeda. Belum lagi harus berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Padahal ya, dengan kondisi kaki saya yang bengkak segede gaban, berdiri saja susah, eh, ini malah disuruh mondar mandir. Serasa dipingpong. Saya jadi heran, sebegitu tidak professionalnyakah aparat kepolisian kita? Bukannya harusnya cukup satu kali ditanya-tanya, lalu dibuat berita acara terus selesai? Kok jadi saksi diperlakukan seperti tersangka? Padahal saya harus segera ke bandara kalau tidak akan ketinggalan pesawat ke Jakarta?

Belum lagi barang-barang saya, yaitu kamera SLR dan external hard disk serta tas saya yang tadi  dilem alteco diminta polisi untuk ditinggal untuk dijadikan barang bukti :( OMG... Apa lagi ini. Pihak kepolisian tidak berani berjanji akan sampai kapan barang saya tersebut akan disimpan, termasuk juga polisi tidak berani menjamin kalau barang-barang tersebut tidak rusak. Dengan seenaknya mereka bilang akan menginfokan klo kasusnya sudah selesai sehingga saya bisa mengambil' barang-barang saya. Terus saya ke Jakarta pakai apa Pak kalau tas saya disita? Apa saya harus pakai kantong kresek gitu ke bandara? Belum lagi saya harus mengambil sendiri gitu barang-barang saya dari Jakarta ke Makasar begitu kasusya selesai? Denga biaya sendiri?? Belum lagi saya tidak percaya kalau barang-barang saya tidak akan hilang ataupun rusak. Tidak, saya sama sekali tidak percaya dengan polisi. Apalagi jika melihat ketidakprofesionalan mereka saat memeriksa saksi.

Kemudian saya dan si mas yang jadi saksi juga itu sepakat, kalau kami tidak bersedia barang-barang kami disita. Jika polisi bersikeras, silahkan cari saksi lain. Dan untungnya, si mas tadi punya keluarga di kejaksaan dan pengacara. Dia mengancam akan mempersalahkan hal ini jika polisi tetap memaksa. Akhirnya ada jalan tengah, barang-barang kami cukup difoto sebagai pelengkap kesaksian kami sebelumnya.

Interogasi selesai, barang tidak jadi disita, sekarang tinggal masalah bagaimana caranya saya ke bandara? Kami sudah ditinggal bus yang kami tumpangi sebelumnya Dan waktu sudah hampir jam 10 pagi, padahal pesawat saya sudah berangkat jam 12 ini.  Untungnya, Pak Kapolsek akhirnya berbaik hati mengantarkan saya ke bandara.

Dengan kaki bengkak dan jalan terseok, serta shocked saya akhirnya bisa pulang ke Jakarta.


Moral of the story :
1. Harus selalu waspada, kapanpun, di manapun.
2. Kalau solo traveling, wanita sebaiknya membawa alat simple pertahanan diri, spray merica misalnya.
3. Harus aware dengan kondisi sekitar, klo tidur di dalam bus atau kendaraan umum lainnya, jangan terlalu pulas.
4. Selalu cek semua barang bawaan dan isi tas sebelum turun dari bus atau kendaraan umum apapun.
5. Banyak-banyak berdoa, karena cuma Dia-lah Maha Penolong atas segala yang tejadi pada kita


6. Jika memang sampai hampir ada tindak kejahatan dan pelakuknya adalah pria. Melawanlah, serang bagian vitalnya. Tendang sekuat-kuatnya :D .
7. Etc.. Akan ditambah lagi kalau sempat :D


I Gusti Ngurah Rai International Airport of Bali, 2 November 2015

Erry, yang lagi suka flashback sebagai bahan instrospeksi diri.

2 komentar:

Ron mengatakan...

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Aku termasuk orang yang malas travel dadakan atau tanpa persiapan jelas, karena hal-hal seperti ini bisa terjadi.

Memang ada serunya travel spontan tanpa rencana yang detail, kalau semua berjalan lancar.

Ya, pengalaman sist pasti jadi pelajaran berharga buat semua pembacanya :)
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

erry mengatakan...

Saya sering travel spontan sama seperti jg sering terencana detail. Tergantung situasi Dan kondisi.
Travel spontan selama ini memang ini yg pengalaman buruknya parah. Jd pelajaran berhargalah

Posting Komentar