Minggu, 04 April 2010

Di Negeri Bisu


Terdampar di tengah keramaian. Penuh orang lalu lalang. Kereta, kuda dan beragam kendaraan. Tak jauh, kulihat ada pasar. Beragam benda dan barang dagangan. Bermacam ras dan umur. Semua bercampur baur di dalam pasar.

Tetapi, tunggu dulu. Ada sesuatu yang rasanya aneh. Dengan sebegitu banyaknya orang dan kegiatan. Dengan sedemikian ramainya orang berseliweran. Kenapa tak kudengar satu suarapun? Ibarat menonton adegan film bisu. Charlie Chaplin dan pantomime. Semua bergerak tetapi sunyi. Kuperhatikan orang-orang. Mulut-mulut mereka bergerak, seperti berbicara tetapi tanpa kata. Kulihat kuda-kuda yang diparkir di depan pasar. Mereka seperti meringkik, tetapi tanpa suara. Bel dan lonceng yang bergerak seperti berdentam. Ada apa? Batinku bertanya. Apakah mereka semua bisu? Ataukah mereka menggunakan bahasa dan isyarat asing yang tak kumengerti?

Kucoba dekati mereka satu per satu. Kuucapkan tanya. Setelah melirikku sekilas, mulut mereka lantas bergerak- seperti bersuara. Tetapi tetap tiada kata. Aku bingung. Terdampar sendirian di negeri asing yang entah di mana. Di tengah keramaian yang sunyi. Kumulai berteriak-teriak, meracau. Seperti orang gila. Aku mulai panik. Aku tak tahu harus berbuat apa. Kuterus berteriak hingga lelah. Hingga habis suara. Hampir putus asa.

Dalam letih ku menepi. Dalam lelah ku tetirah. Kucari asa kuraba tanya. Dari kejauhan kuamati lagi sekelilingku. Tetap sepi yang sama. Tetap hampa yang tak berkata. Tetap tanya yang tak peroleh jawabnya.

Hingga sampai di satu titik, akhirnya kusadari. Kalau bukan mereka yang bisu. Bukan orang lain yang gagu. Tetapi aku yang tuli . Suara itu ada. Kata itu nyata. Dan jawab itu jelas adanya. Tak bisa kudengar suara yang jelas ada. Tak mau kudengar kata dan jawab yang sudah nyata. Terdampar dalam jalan pikiran sendiri. Terjebak dalam labirin fantasi sendiri. Terikat dengan ego dan penilaian sendiri.

Aku tuli - tak mendengar. Hingga hampir ku bisu - tak bicara.

Palangkaraya, 3 April 2010

0 komentar:

Posting Komentar