Selasa, 20 April 2010

Kepada Tanya


Dalam keraguan, kebimbangan dan ketakpastian. Terpapar fakta dan berita yang menghadang. Jenuh yang menggerogot, lelah yang menggelayut. Rentetan tanya itu terus mengemuka.

Terjebak di antara fakta, issue &imagi yg simpang siur. Terbelit rasa, hati, akal & logika yang terus bertikai. Topeng-topeng yang lalu lalang. Hantu-hantu yang bergentayangan. Benar, salah, naif, polos, licik, cerdik, tipu, muslihat, jujur, palsu, innocent, pemain? Ragu itu terus berdansa, penasaran itu terus teriakkan lagunya. "Katakan padaku, siapakah kau sebenarnya"

Tanya, kenapa kau diam saja? Tak bisakah kau ucapkan sepatah kata? Secuil berita? Tak bisakah kau katakan padaku ada apa sebenarnya? Apa maumu? Siapa kamu? Bebaskan penasaran yang terus membelengguku. Bukalah ikatan ragu yang terus menyiksaku. Menggerogoti hati dan jiwaku. Tanya, kumohon bebaskan aku, dari semua rasaku padamu. Dari semua khayal tentangmu. Dari cinta matiku kepadamu.

Kau diam membatu ketika kutanya. Kau tetap membeku ketika kuutarakan rasa. Kau senyap tak bergeming saat kusodorkan fakta dan berita. Kuberondong sindir dan maki pun kau tetap diam saja. Apakah kamu bisu? Apakah kamu tuli? Ataukah kamu buta? Atau malah kau sengaja? Menjadikan semuanya hanya permainan belaka? Kau terus diam, membatu. Ataukah hatimu terbuat dari batu? Apakah sensormu telah mati beku?

Tanya, ku tak pernah mengerti apa maumu. Ku tak pernah bisa tahu siapakah sebenarnya kamu. Apa yang tersimpan di dalam hatimu. Kupikir, aku telah cukup mengenalmu, nyatanya tidak. Kukira aku bisa mengerti kamu, faktanya tiada. Baru kusadari kalau kita sama sekali asing. Dua orang asing yang dipertemukan oleh waktu dan permainan takdir. Aku sama sekali tak tahu apa-apa tentangmu. “I never know you. not your good side, nor your bad side. I never know you. not your past, nor your present. I never know what’s in your mind and your heart. I know nothing about you. I just know you, just like I already known you for whole of my life.”

Tanya, Kebimbanganmu telah membunuhku. Ketakjelasanmu menusukku. Menghabiskan hampir seluruh energiku. Kau diam seperti batu. Tapi salahku, terlanjur mencintaimu yang seperti itu.

Palangkaraya, 19 April 2010

0 komentar:

Posting Komentar