Senin, 03 Mei 2010

Jejak Langkah By: PAT


Sepertinya, membaca tetralogi buru semakin lama terasa semakin berat. Makin lama saja selesainya. Bukan hanya karena ketebalan bukunya, tetapi lebih kepada isinya. Dan untuk buku ketiga ini, menghabiskan entah berapa bulan sejak pertama kali kubuka lembar pertamanya. Kalau berdasarkan waktu saat pertama kali saya memasukkan buku ini dalam readlist di goodreads, berarti hampir satu tahun lamanya. Karena di GR, tertulis kalau saya membacanya sejak Mei 2009. ini adalah buku yang memakan waktu paling lama untuk menyelesaikannya, bahkan mengalahkan Musashi yang tebalnya melebihi kitab suci. Kalau buku-buku yang bahkan sama sekali tak terselesaikan tidak dihitung ya.

Karena membaca bagian awalnya sudah lama.. sekali. Terseling banyak buku, plus sempat tertinggal di Jakarta saat di Palangkaraya kemarin. Jadinya agak kebingungan juga ketika mulai melanjutkan lagi. apalagi kalau dikaitkan dengan dua buku sebelumnya jadi keteteran dan ga nyambung. Harus banyak membolak balik bagian depannya.

Kalau di bumi manusia, lebih banyak bercerita tentang pergolakan internal di dalam diri seorang Minke, ketika budaya Jawa dan Timur akar darimana dia berasal ditabrakkan dengan budaya Eropa dan Barat. Dan di buku kedua (Anak Semua Bangsa), kesadaran kebangsaan itu mulai tumbuh dan berkembang di dalam dirinya. Di buku ketiga ini, Minke sudah memantapkan hati untuk menjadi orang yang bisa memberikan sesuatu untuk bangsanya. Dengan Medan, Boedi Oetomo dan SDI sebagai sarananya.

Membaca buku ketiga ini seperti membaca buku sejarah perjuangan bangsa, akan tetapi dalam bentuk penyajian yang berbeda. Jadi teringat pelajaran PSPB waktu jaman esde dulu. Terlalu banyak data sejarah dan detailnya. Membuat harus pelan-pelan membacanya. Saya yang agak lemah dalam menghafal tanggal dan peristiwa makin pening dibuatnya $%&*$

Ga mampu buat review ah. Lieur…. Dan belum siap buat baca buku keempatnya. Butuh break, daripada muntah-muntah. Ho3x :P

0 komentar:

Posting Komentar