Senin, 03 Mei 2010

Tanah Tabu By: Anindita S. Thayf


“Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah.” (Anindita S. Thayf – Tanah Tabu)

Penulisan dan penggambaran yang luar biasa tentang papua dan masyarakatnya. seperti diceritakan sendiri oleh orang yang terlahir dan besar di sana. Padahal, berdasarkan info seorang teman, Anindita bahkan sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di tanah papua saat menulis novel ini. ck ck ck..salut.

Hasil sebuah studi literasi dan penelitian yang mendalam? Atau jangan-jangan penulis punya kemampuan supranatural yang membuatnya bisa pergi kemanapun, walaupun secara fisik ia tidak beranjak kemana-mana? *mulai ngehayal*

Benar kata pepatah, buku adalah jendela dunia. Dan di zaman sekarang buku dan internet bekerjasama mengantarkan kita ke tempat manapun di dunia. Menyusuri pedalaman manapun di belantara sana. Mempelajari kebudayaan apapun di masyarakat nun jauh di sana. Membawa imajinasi kita pergi melanglang buana. walaupun secara fisik tidak. Jadi kekuatan supranatural yang dikenal nenek moyang kita dulu, saat ini bernama "imajinasi".

Acung banyak jempol untuk novel ini. Untuk deskripsinya yang detail, untuk kisahnya yang orisinil dan baru, untuk penokohan dan karakternya yang kuat, untuk cara penceritaanya yang sempat membuatku terkecoh dan dibuat bingung akan siapakah kwee dan pum itu. Dan yang paling penting dari semua itu, adalah ceritanya itu sendiri. Tanah tabu adalah kisah tentang nasib orang-orang yang menjadi budak di negerinya sendiri. Menjadi miskin di tanahnya sendiri yang kaya raya, Terpinggirkan dan terkucilkan. Ketika mereka hanya bisa jadi penonton yang termangu ketika hasil kekayaan alam mereka dijarah habis-habisan oleh pihak asing - yang ironisnya diamini oleh sebagian kecil pribumi penjilat dan haus kekayaan-. sebuah penjajahan jenis baru di negara yang katanya sudah merdeka sejak tahun 1945 ini.

Selain itu, kisah ini juga mengangat issue keperempuanan. Lagi-lagi tentang perempuan. Entah kenapa akhir-akhir ini buku-buku yang kubaca banyak yang bertemakan issue keperempuanan, atau paling tidak terkait ke arah sana. Sampai-sampai ada seorang kawan yang berkomentar bahwa di hampir semua tulisan dan review yang kutulis belakangan ini bernada sentiment “girl power” semua. Ha ha ha. Ada- ada saja. Hi brother, saya bukan seorang feminis, apalagi orang yang feminim. Dan saya tidak suka membaca femina ataupun meminum feminax setiap bulan :P saya adalah saya. Hanya saya. Saya hanya orang yang suka membaca dan sedang belajar untuk menuliskan dan mengemukakan pikiran-pikiran saya sendiri. terlepas dari apakah saya terlahir sebagai seorang perempuan ataupun lelaki. Karena sebuah ide, imajinasi tak bisa dimomopoli oleh satu kaum atau jenis kelamin saja. Dan kalaupun ternyata Tuhan menghendaki saya terlahir sebagai seorang perempuan. Ya sudah, terima saja. Syukuri, jalani, nikmati. Karena kita tidak bisa memilih kapan dan dimana kita akan dilahirkan, termasuk berjenis kelamin apakah kita. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha dengan sebaik-baiknya. karena hidup adalah sebuah pilihan. Dan pilihan-pilhanlah yang akan membentuk jalan hidup kita. Karena kitalah yang menentukan dan membelokkan takdir. Karena Tuhan tidak akan pernah merubah nasib seseorang ataupun suatu kaum kalau mereka sendiri tidak mau dan tidak berusaha merubahnya.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, kalau kita tidak bisa memilih kapan dan di mana kita lahir serta akan berjenis kelamin apa. Jadi, bukan salah dan kemauan saya kalau saya terlahir sebagai seorang perempuan. Juga bukan salah dan kemauan Annabel, Lisbeth, Mama Helda serta berjuta perempuan lainnya di seluruh dunia. Aku, kami, mereka tidak pernah memilih dan memutuskan untuk jadi perempuan. Kami hanya terlahir sebagai perempuan. Sesuatu yang kami terima tanpa protes. Yah, walaupun terkadang ada beberapa yang mengadu dan marah pada Tuhan karenanya. Bahkan tak jarang yang coba menghindari kenyataan. Tetapi apakah hanya karena kami terlahir sebagai perempuan – dan bukannya laki-laki – kami bisa diperlakukan dengan seenaknya dan semena-mena? Seperti raja dan alas kakinya? Di hampir semua budaya, entah itu Jawa, Papua, Eropa, Timur Tengah, Cina, Jepang dan yang lainnya. Entah kenapa kalau menyangkut issue yang satu ini agak sensi sepertinya. Bisa memacu perdebatan panjang yang tak kunjung usai. Orang boleh bilang kalau jaman sudah maju. Orang boleh berkata kalau kesetaraan itu sudah ada. Tetapi tetap saja, masih ada saja -di entah bagian bumi yang mana - terjadi penindasan dari jenis kelamin yang satu terhadap jenis kelamin lainnya. Seperti juga terjadi penjajahan atas kaum yang satu terhadap kaum yang lainnya. Itulah dunia. Tempat kita tinggal sekarang dan mungkin akan jadi tempat kita mati nanti. Tapi seperti apapun itu, jalani saja dan terus berusaha. Jangan mengeluh apalagi mencucurkan air mata. Seperti petuah Mabel yang bijak “Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah.”

0 komentar:

Poskan Komentar