Sabtu, 01 Mei 2010

Sahabat Jadi Cinta (Sebuah Review atas Novel Refrain By: Winna Efendi)


Kuhantarkan bak di pelataran
Hati yang temaran
Matamu juga mata mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang
*
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Reff :
Tak bisa hatiku merapikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah nafas yang tak bisa teruskan
Persahabatan jadi cinta
Back To *
Back to Reff
Reff:
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapakah kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan
(Sahabat Jadi Cinta By : Zigaz)

Lagu sahabat jadi cinta-nya Zigaz ini sangat tepat untuk menggambarkan topic sentral dalam kisah ini. Ketika dua orang sahabat sejak kecil -Nata dan Niki- harus dihadapkan pada kenyataan ketika perasaan salah satu dari mereka mulai berubah arah, dari persahabatan menjadi cinta. Sebenarnya, topik seperti ini bukanlah sebuah hal baru. Banyak kisah yang bertemakan hal yang sama. Karena memang pada kenyataannya banyak sekali terjadi ketika dua orang - pria dan wanita – bersahabat dekat, biasanya ada satu pihak, kalau tidak keduanya yang akhirnya jatuh cinta kepada sahabatnya. Karena kebersamaan yang lama. Karena perasaan memiliki dan saling mengerti. Ketika pria dan wanita bersahabat seringkali terjebak pada batasan antara sahabat dan cinta yang menjadi sedemikian tipis. Bahkan saking dekatnya terkadang tidak kita sadari keberadaannya hingga suatu ketika muncul orang ketiga yang menjadi “ancaman”. Atau bahkan hingga orang sahabat kita itu sudah tak ada lagi di dekat kita. Sebuah kisah yang klise dan tidak bisa disebut baru. Tetapi bisa diolah sedemikian rupa hingga menyentuh.

Saya bilang menyentuh, setidaknya buat diriku pribadi , entah buat yang lain. Toch penafsiran dan penilaian atas sebuah karya tetap kembali kepada masing-masing pembaca kan? Menyentuh karena kisah dalam novel ini seperti mengingatkanku pada kisahku sendiri beberapa waktu lalu. Ketika sebuah persahabatan yang telah dijalin beberapa lama, walaupun hanya dengan beberapa kali tatap muka, lebih banyak hanya melalui dunia maya bisa menumbuhkan benih-benih cinta yang entah sejak kapan datangnya. Hingga sampai di satu titik, kutaktahu harus bagimana. Tak bisa terus membohongi diri sendiri serta rasa takut kehilangan. Kejujuran adalah sebuah pilihan yang membebaskanku dari rasa penasaran. Walaupun ketika tiba saatnya, semuanya jadi serba salah, serba canggung. Tapi dengan berjalannya waktu semuanya bisa kembali berjalan normal, bahkan lebih baik dari sebelumnya.

Persahabatan yang tulus tak butuh alasan. Ia akan tetap ada, walaupun tak ada lagi alasan. Ketika persamaan tempat tinggal, pekerjaan, kantor, kelas sosial, kepentingan, hobi, minat, organisasi, dll yang seringkali dijadikan alasan untuk sebuah pertemanan tidak ada lagi. Persahabatan akan tetap ada dan terjalin. Persahabatan bisa menumbuhkan saling pengertian yang seringkali lebih dalam daripada cinta.

Sama seperti Niki yang merelakan Nata untuk pergi meraih mimpinya. Aku seperti diingatkan kembali pada seseorang yang memilih untuk pergi juga demi meraih mimpinya. Karena buatku, mimpinya seperti juga mimpiku sendiri. Dan pada saat yang sama kusadari kalau aku mengaguminya justru karena mimpinya. Idealismenya. Cita-citanya. Mimpi, idealisme dan cita-cita yang tak jauh berbeda dari milikku sendiri. Yang hingga kini kumasih terseok-seok tak tentu arah untuk mempertahankannya. Dihadapkan pada realita hidup, dihadapkan pada kewajiban dan tanggung jawab. Jadi, kepergiannya mengejar mimpi, seperti membawa sebagian dari mimpiku yang belum bisa kuraih di waktu yang sama. Menjadi pendukung dan sahabat terbaiknya adalah pilihan yang akhirnya kupilih. Entah demi dia atau bahkan demi diriku sendiri. Demi semua hal yang kumiliki terhadapnya, demi mengobati kesedihan hati sendiri yang hingga kini belum bisa mendekati mimpi-mimpi tadi, atau bahkan tidak demi apa-apa. Yang ada hanya keinginan untuk memberi.

Ups..sepertinya review ini berubah jadi sebuah curcol. Tapi tak apalah, saya tak perlu menutupi apapun karena tak ada hal yang salah. Pun tak ada yang perlu disesali atau diratapi. Memang, “tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya”. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menjalani dan mensyukuri setiap hal yang ada saat ini, dengan tetap menatap ke depan dengan optimis dan terus memiliki mimpi. “Because we never know what will happen at the future”.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kisahnya seperti kisah ku... sekarang ini,,,
yg selama tiga tahun memendam perasaan,,kepada sahabatku,, kalau aq mencintainya,,
karna takut akan retaknya persahabatan kami,,,
tetapi harus merelakannya karna cinta memang tidak harus memiliki ,,, dan lebih baik lagi melihat dya bahagia dengan orang lain ,, itu sudah membuat q bahagia,,
ne sebenarnya cirhat q,, karna dya akn menikah,, satu minngu lagi ,
q tidak tahu mau,, bagaimana .....
ne memang serba salah, seperti dalam cerpen dalan cerita cerpen ini,,
tetapi q ingin dya bahagia walau itu bersama dengan orang lain,,,,

by: ade

erry mengatakan...

yang seperti ini memang banyak terjadi. terkadang batasan antara cinta dan persahabatan terlalu tipis :)

intinya berserah, kalau dia memang bukan dodoh kamu. berarti Tuhan sudah menyiapkan yang lebih baik buatmu kan :)

Poskan Komentar