Kamis, 21 Juni 2012

Gembel Traveller. Day 1. Singapore: Surga Para Shoper, Neraka Bagi Backpacker



The Journey is begin. Sekitar jam 7.30 pagi waktu setempat kami sudah berangkat. Emiko mengantar kami berkeliling area sekitar tempat tinggalnya sekalian ia berangkat ke kantor. Hollad Village adalah kawasan pemukiman, banyak apartment berdiri di sana. Apartment yang ada di sini tidak seperti apartment mewah seperti yang banyak ada di Jakarta. Mungkin lebih tepatnya ini seperti rumah susun di jakarta, hanya saja jauh lebih rapih, bersih dan teratur. Setelah berkeliling, kami sama-sama menuju stasiun MRT terdekat.

Tujuan pertama kami di Singapore adalah Esplanade dan Marina Bay. Kami berjalan kaki berkeliling mulai dari Teater Esplanade yang didesign mirip durian, Marina Bay hingga Patung Merlion yang terkenal sebagai iconnya negeri singa ini. Sayangnya saat kami ke sana Patung Merlion sedang dalam proses renovasi jadi kami tidak bisa bernarsis ria di sana. Kami hanya bisa narsis di Little Merlion, patung Merlion kecil yang letaknya tak jauh dari Patung Merlion. Jam sudah menunjukan jam 10 pagi dan matahari sudah makin meninggi perutpun sudah berteriak minta diisi. Akhirnya kami memutuskan ‘ngadem’ di coffe bean terdekat. Kami membeli secangkir kopi untuk Dahlia, secangkir coklat panas untuk saya dan satu porsi sandwich untuk kami makan berdua. Bukan karena kami romantis, tetapi karena harga semua barang di Singapore bikin kami hampir menangis. Sebotol air mineral 500 ml yang di Jakarta seharga 3000 Rupiah, di sana dihargai sekitar SIN$ 1,5 - 3 atau sekitar 10 ribu – 20 ribu Rupiah. Harga tiket MRT berkisar SIN$ 1,2-3 tergantung jarak. Jadi kami harus banyak berhitung sebelum membeli barang.

Setelah cukup mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan menuju area Bugis dan Little India. Toko-toko berjajar sepanjang jalan yang menggoda iman. Apalagi saat kami mengunjungi area Orchard Road, shopping mall sepandang mata memandang. OMG… bener- bener godaan iman yang (untungnya) tertahan oleh kemampuan kantong yang tak mau bolong. Perjalanan kami masih panjang, ini baru hari pertama dari 40 hari yang kami rencanakan. Alhasil, kami sukses tidak membeli apapun di sana.

Puas windows shopping, kami berangkat menuju Sentosa Island menumpang MRT menuju Vivo Mall. Dari sana kami membeli tiket dan naik Sentosa Express menuju Universal Studio Singapore. Berkeliling kota di Singapore, seperti perjalanan dari mall ke mall. Naik turun MRT akan langsung menuju mall. Negeri ini adalah negeri sejuta mall. Buat para penggila belanja, ini adalah surga. Tetapi, buat traveller berkantong pas-pasan seperti kami, ini adalah neraka!!  Hemat adalah motto utama kami.

Sesampainya di Universal Studio, kami tidak masuk ke dalam area USS, karena (lagi-lagi) masalah biaya jadi kendala utama. Harga tiket masuknya mahal cyin.. sekitar SIN$80 per orang atau sekitar 600 ribu rupiah/ orang. Jadi kami sudah cukup puas hanya dengan berfoto ria di depannya, terutama mini globe yang ada logo universal studionya .

Puas bernarsis ria di Universal studio, kami berkeliling area lain di Sentosa Island. Sentosa Island ini sebenarnya adalah pulau buatan yang terbentuk dari urukan pasir. Dengar-dengar, pasirnya berasal dari pantai di Indonesia. Hebatnya Singapore, mereka benar-benar memanfaatkan teknologi dan berdana besar untuk membuat pulau, membangun air terjun buatan, sungai buatan dan  kebun raya buatan. Dan mereka pandai mempromosikan wisatanya. Padahal, kalau dari segi alam, Indonesia jauh lebih indah dan punya segalanya. Tetapi mereka bisa mendayagunakan yang mereka punya dan memanagenya dengan baik. Kadang jadi mikir, kenapa masih banyak orang Indonesia ke Singapore malah datang ke ‘hutan’ buatan di sini. Padahal di Indonesia banyak, luas dan asli. Mungkin yang mereka cari hanyalah gengsi? Entahlah. Kalo ke Singapore untuk shopping sih sangat wajar, karena ini memang surganya belanja. Tetapi untuk wisata alam? Hmm… nanti dulu deh.

Puas beredar di Sentosa Island, sekitar jam 7 malam kami menuju Lau Pa Sat untuk makan malam. Kami akan makan malam bersama Emiko host kami. Lau Pa Sat adalah food court luas tak jauh dari MRT Rafless Place. Tempat ini terkenal sebagai tempat kumpul dan dinner warga Singapore maupun wisatawan. Di tempat ini menyajikan berbagai jenis masakan, mulai dari seafood, chinesse food, indian, melayu hingga western food. Kami memilih seafood sebagai menu makan malam. Singapore terkenal dengan  sea food di hawker food stal nya. Sea food yang kami makan lumayan enak dan segar.kami menghabiskan sekitar SIN $50 untuk makan malam. Lumayan mahal untuk ukuran Indonesia, tetapi apa sih di Singapore yang tidak mahal?

Rencananya, setelah dinner kami akan melanjutkan untuk hunting night shoot photo di area Marina Bay Sand yang terkenal itu. Tetapi kami sudah terlalu lelah karena hampir sepanjang hari ‘berkakilator’ ria muter-muter Singapore. Plus perut yang kekenyangan kami memutuskan untuk segera kembali ke apartment Emiko untuk tidur dan beristirahat. Karena kami harus berangkat esok pagi untuk menumpang bis menuju Melaka.

1 komentar:

nopanngluyur mengatakan...

terima kasih infonya. perjalanannya keren...

Posting Komentar