Rabu, 24 Februari 2010

Animal Farm By : George Orwell


“Kawan-kawan” teriak mayor tua, “Sudah jelas bahwa sumber kesengsaraan hidup kita tak lain adalah tirani manusia. Maka hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita bisa menikmati hasil keringat kita. Hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita menjadi merdeka”.

Selama ini dipeternakan milik seorang manusia yang bernama Jones, binatang hidup dalam perbudakan oleh manusia. Para binatang bekerja keras hanya untuk memperoleh imbalan sekedar cukup untuk makan dan bertahan hidup. Suatu hari, berawal dari orasi berapi-api mayor tua, para binatang mulaii bangkit kesadarannya. Akan hak-hak mereka yang terpasung. Akan kemerdekaan mereka yang terlupakan. Dan tentang hak-hak asasi binatang “binatangisme”.

Gerakan perlawan dimulai. Penyebarluasan faham binatangisme digencarkan. Pemberontakan dirancang. Hingga suatu hari Jones- manusia pemilik pertanian itu - bisa diusir oleh para binatang.

Maka dimulailah era pertanian binatang. Dimana bintang bekerja untuk kesejahteraan mereka sendiri. Tidak seperti sebelumnya, mereka diperas demi keuntungan manusia. Di pertanian binatang, para binatang bekerja untuk mereka sendiri. Kebanggaan akan kemandirian dan kemerdekaan kaum binatang membuat mereka rela bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Sebuah cerita yang sungguh cerdas. Penggunaan binatang sebagai tokoh cerita, penyamaran akan kritik yang sempurna. Narasi hebat dan menohok. Provokatif.

Sebuah fabel yang menceritakan tentang bagaimana seringkali pergantian era ditandai dengan sebuah “chaos” dan pertumapahan darah. Entah itu reformasi atau revolusi. Pemberotakan yang dipimpin para babi telah berhasil mengusir manusia yang lalim dan telah menjajah para binatang. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, di antara para revolusioner, muali terjadi sengketa antara sesama pihak yang mengaku reformis untuk perebutan pengaruh dan kekuasaan. Intrik politik dan saling sikut di antara sesama pun dimulai.

Seperti yang seringkali terjadi, seiring berjalannya waktu para reformis dan anti tirani akan seringkali tumbuh menjadi tirani itu sendiri. Melupakan cita-cita awal perjuangan. Mereka yang dulu menggembar-gemborkan keadilan dan kesetaraan, pada akhirnya menjadi pelanggar keadilan dan kesetaraan. Mereka yang dulu anti penindasan terhadap sesama, karena materi dan kekuasaan berubah jadi lalim kejam yang tak segan menindas dan menyingkirkan pihak yang dianggap bersebrangan. Pengkambing hitaman pihak lain. Dan itu semua dilakukan dengan dalih untuk kepentingan bersama.

Apakah cerita ini mengingatkan kita pada negeri kita sendiri?

0 komentar:

Poskan Komentar