Rabu, 24 Februari 2010

Kartini : Habis Gelap Terbitlah Terang By : Armijn Pane


Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam” (Kartini - Habis Gelap Terbitlah Terang)

“Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu.”

Itu adalah sebuah kutipan dari sebuah lagu lama. Sebelumnya saya ingin jelaskan kalau saya tidak sudi menggunakan istilah wanita karena artinya yang merendahkan. Wanita berasal dari kata: wani = orang; toto = hias; yang artinya orang yang dihias, hiasan. Sedangkan perempuan memiliki makna yang jauh lebih menghormatkan. Perempuan dari kata empu = pemilik. Jadi wanita adalah pemilik, yang dihormati. Jadi untuk selanjutnya hanya akan ada kata perempuan.

Perempuan, sejak jaman dahulu kala sudah teraniaya. Entah itu di era Mesopotamia, Yunani maupun Timur Tengah. Baik itu Gadis pantai, Kartini hingga Siti Nurbaya. Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah dan dilemahkan. Tak berdaya dan dibuat tak berdaya oleh system, adat dan kebudayaan. Apalagi, di era feodalisme Jawa, peran perempuan didomestikan. Peran perempuan hanyalah berkisar pada tiga hal : kasur, dapur dan sumur. Perempuan tak boleh berpendidikan. Tak berhak meraih kebebasan. Tujuan hidup perempuan jawa di masa feodal hanya satu: Kawin dan selanjutnya menjadi mesin reproduksi untuk meneruskan garis keturunan dan hegemoni laki-laki. Bahkan yang lebih parah, terkadang perempuan hanya dijadikan objek dan pemuas nafsu dan ego laki-laki. Perempuan dianggap patung yang tak punya perasaan. Dia harus merelakan suaminya memadu dirinya, hingga 2,3,4 bahkan lebih. Dia harus menahan sedihnya ketika harus hidup seatap dengan para madunya. Perempuan yang datang belakangan pun tak kalah menderitanya. Dia harus mau untuk menjadi istri kesekian dari seorang laki-laki yang entah sudah punya berapa istri.

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Tanpa tahu secara detail kenapa? Dan mengapa Kartini? Yang diajarkan saat pelajaran sejarah sejak esde hanya kalau tentang lahir, hidup dan matinya saja, secara garis besar. “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang merupakan kumpulan surat-surat kartini kepada para sahabatnya memang sering sekali disebutkan. Tetapi, sampai sebelum hari ini, saya tidak pernah tahu apa isinya. Lagi-lagi kelemahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Hanya mengajarkan kulitnya saja.

Akan tetapi terlepas dari itu, sosok Kartini adalah sosok yang dijadikan lambang perjuangan perempuan. Yang oleh masa sekarang digembar-gemborkan sebagai gerakan emansipasi perempuan. Satu pertanyaan menggelitik “kenapa Kartini?” Padahal pada masa yang tidak terlalu jauh, juga sudah ada beberapa perempuan yang tercerahkan dan mau memperjuangkan nasib kaumnya. Sudah ada juga perempuan yang memulai pendobrakan. Tokoh Dewi Sartika misalnya. Bahkah, sosok yang satu ini tidak hanya menuangkan cita-cita dan mimpinya ke dalam kata-kata. Akan tetapi beliau sudah pada tataran riil. Beliau mendirikan sekolah sendiri untuk kaumnya. Lantas kenapa Kartini yang dijadikan icon perjuangan kaum perempuan? Tanpa bermaksud membanding-bandingkan atau menafikkan peran yang satu terhadap yang lain. Karena kedua tokoh ini berbeda tetapi tak sama. Sama, tetapi berbeda. Dan keduanya tidak dapat dibandingkan, karena keduanya sama berjasanya. Dengan cara berbeda.

Kembali kepada Kartini, dalam tulisan-tulisannya tertera pikirannya, semangatnya, cita-citanya dan mimpinya untuk memajukan peran dan derajat kaumnya. Berangkat dari apa yang ia lihat di lingkungannya, Kartini mencoba mendobrak pakem-pakem baku dari adat istiadat Jawa. Kartini yang lahir dari keluarga bangsawan Jawa yang memegang teguh adatnya. Di tengah konflik internal yangmuncul dalam dirinya, Kartini coba untuk memberontak. Pada fase-fase awal surat-suratnya, terlihat semangat muda seorang Kartini. Semangat untuk maju, sekolah, memperoleh pendidikan dan setara dengan kaum lelaki. Pada fase-fase awal, Kartini terkesan terlalu memuja Eropa dan membenci budaya, adat dan agama yang dianut masyarakat Jawa. Yang menurutnya mengukung dan mengekang. Buat Kartini muda, Eropa adalah segalanya. Baru pada fase selanjutnya ia baru mulai berpikir lebih dewasa dan realistis. Tiba-tiba teringat pada minke di tetralogi buru yg hdp di masa yg hampir sama dgn Kartini. sama-sama berasal dari keluarga bangsawan. Sama-sama ketika muda mengagungkan Eropa. Baru membumi setelahnya. Apakah ini memang jadi tren kaum muda bangsawan terpelajar di masa itu ya?

Karena tulisan ini adalah kumpulan surat, isinya lebih bersifat subyektif dan personal. Seringkali Kartini memiliki konflik di dalam dirinya. Pertarungan antara mimpi dan cintanya kepada orang tua. Hingga akhirnya ia memilih untuk mengabaikan mimpinya sekolah di negeri Belanda.

Membaca buku ini, membuatku mengerti sulitnya jadi seorang Kartini. Seseorang yang bermimpi setinggi langit, tetapi terkungkung adat dan tradisi. Butuh tekad dan keberanian besar untuk mendobrak system yang telah ada dan membudaya. Walaupun Kartini tidak pernah secara nyata menjadi seorang “pemberontak”. Tetapi pada masanya, sikapnya yang ia curahkan lewat tulisan-tulisannya sudah merupakan sebuah pemberontakan. Kartini yang berasal dari keluarga bangsawan memang menjadi salah satu kelebihannya – kenapa ia begitu dikenal orang-. Karena berasal dari keluarga bangsawan majulah, ia bisa memiliki kesempatan untuk belajar. Karena asal usulnyalah ia punya kesempatan belajar bahasa belanda, yang akhirnya menjadi alatnya untuk menyuarakan mimpi dan cita-citanya kepada dunia. Karena tulisannyalah ia jadi dikenal banyak orang, baik di bumi Hindia Belanda ataupun di Eropa. Dan lagi karena ia berasal dari keluarga bangsawan jawa yang terkenal ketat terhadap adat istiadatnyalah, “pemberontakan’nya serasa jadi sesuatu yang lebih istimewa. Mungkin karena itulah Kartini menjadi icon gerakan perjuangan kaum perempuan.

Satu hal yang menarik dari tulisan-tulisan Kartini. Ternyata, memperjuangkan hak dan derajat kaum perempuan tidak berarti melepaskan kodrat sebagai seorang perempuan dan seorang ibu. Tidak seperti yang banyak digembar gemborkan para feminis zaman sekarang. Ketika atas nama kesetaraan hak dan emansipasi , mereka bisa dengan bebas melegalkan aborsi, free sex dan banyak pandangan semu serta salah kaprah lainnya. Dan satu hal yang paling penting: Walaupun Kartini punya mimpi yang besar, Kartini tetap menikah dan punya anak loch ^^ Soal pendapat yang menyatakan kalau pernikahan buat perempuan adalah penjara dan sebagainya, itu kembali kepada pribadi dan nasib masing-masing. :D apakah kita akan mendapatkan pasangan hidup yang bisa menghargai dan menerima kita apa adanya? Apakah kita mendapatkan suami yang bisa sekaligus jadi sahabat, kekasih dan pembimbing? Bukan pernikahan yang salah, yang salah adalah pelakunya. Just Heaven Knows. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan berdoa.

Terlepas dari asal usul dan gelarnya. Sosok Kartini memang sudah istimewa. Walaupun akhirnya ia tak pernah bisa menamatkan mimpinya sekolah di negeri Belanda. Walaupun ia tidak bisa melihat pengaruh dari cita-citanya karena ia mati muda dalam usia 25 thn. Tetapi ia membuka jalan dan membawa pencerahan bagi kaumnya. Kartini bukanlah pendobrak. Tetapi Kartini membawa pelita dan membuka kesadaran kaumnya akan nasibnya. Membuat wanita berani berbicara, berani bermimpi. “Bermimpilah, karena tanpa itu, manusia akan mati”.

===
Note:
Sekedar catatan, buku yang saya baca ini adalah terjemahan dari surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya yang ditulis dalam bahasa Belanda. Buku yang ada di tangan saya ini, adalah versi terjemahan ke bahasa melayu oleh Armijn pane. Itulah kenapa gaya bahasa yang digunakan terlihat begitu mendayu-dayu. Agak aneh dan membuat pusing sebenarnya. Karena jadi serasa membaca atau menonton film Malaysia :D Walaupun saya tetap dapat mengerti isi dan jalan ceritanya, ini membuat saya tidak memberi 5 bintang untuk buku ini. Jadi penasaran untuk baca versi yang lainnya. Adakah?

0 komentar:

Poskan Komentar