Kamis, 11 Februari 2010

Mafalda By : Quino


Suatu hari di kelas
Guru : “Manolito, sebutkan satu kata yang dimulai dengan huruf P”
Mafada : *dalam hati* “duh! Pasti dia bakal menyebut kata jorok itu”
Manolito : “politik”
Mafada : *dalam hati* “nah benar kan!”

Mafalda adalah sosok anak kecil yang kritis dan serba ingin tahu. Pertanyaan dan ucapan polosnya mengena dan menohok. Lucu, usil dan menggemaskan. Juga sekaligus kritis dan mengena. Masalah-masalah yang terjadi di dunia seperti politik, perang dingin, perang, komunisme, kelaparan, kemiskinan, dsb dilihat dari sudut pandang seorang anak kecil.

Tokoh mafalda dan teman-temannya mewakili golongan masyarakat yang ada. Manolito yang kapitalis & mengukur semua hal dari segi materi dgn took Don Manolonya. Felippe yang pemalas dan suka mengulur-ulur pekerjaan –seperti kebanyakan orang-. Tokoh Susanita sebagai penggambaran kaum borjuis yang hanya bisa berhura-hura. Serta Miguelito yang polos dan seolah tak terkontaminasi dengan situasi dunia.

Sebuah komik yang cerdas. Tepat. Mengena. Lucu dan membuatku tertawa sepanjang jalan cerita. Dimana-mana. Di mobil, di rumah, di tempat makan, etc. untungnya belum ada yang menyangka saya orang gila (atau mungkin sudah?). Tidak hanya lucu dan menghibur, tetapi sekaligus tajam, kritis dan mengena. Walaupun dibuat era tahun 60-an. Akan tetapi ceritanya, permasalahan-permasalahan yang dikritis dan disindirnya terasa masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi dunia serta negara kita saat ini.

Kita butuh mafalda-mafalda baru untuk menyadarkan negeri ini dari tidur panjangnya.

0 komentar:

Posting Komentar