Rabu, 03 Februari 2010

The Letter (Gantung Part 2)


Siang ini kau bertanya padaku. Suatu pertanyaan lugu yang sulit tuk kujawab. Bukan karena aku tak tahu jawabannya. Tetapi Karena ku tak tahu bagaimana mengatakannya. Akhirnya aku memilih untuk diam.

Kediamanku, mungkin mengesalkanmu. Ketakjelasanku, pasti menyesakkanmu. Maafkan aku, tetapi kurasa ini yang terbaik. Buatmu, buatku dan buat kita. Maafkan aku kalau ku tak berani katakan ya, pun tak punya cukup nyali untuk berkata tidak. Andai engkau tahu.

Masih teringat dengan jelas di otakku, saat pertama kali kita bertemu. Di sudut sebuah café yang tenang kau duduk sendirian sambil tertawa kecil sendirian. Di tanganmu nampak sebuah buku buku kecil bergambar yang kutahu belakangan kalau itu adalah komik jepang. Tawa kecilmu mengusik naluri ingin tahuku. Rasa penasaranku. Tanpa sadar, diriku tertarik pada medan magnetmu. Tapi kutak berani bahkan hanya sekedar tuk berkenalan. Gambar sosokmu hari itu saja yang kubawa dalam ingatan.

Hingga akhirnya takdir membuatku bertemu lagi denganmu. Membuatku punya kesempatan untuk lebih jauh mengenalmu. Tanpa syarat, tanpa isyarat kujatuh pada pesonamu. Pada daya dan semangat hidupmu. Pada keceriaanmu. Pada senyummu. Pada tawa lepasmu. Yang terindah adalah saat melihatmu tertawa lepas tanpa beban. Hingga rasanya seluruh dunia terasa ringan. Hanya dengan mendengar celotehanmu, rasanya semua bebanku menjadi hilang. Lenyap. Menguap.

Masih bisa kuingat dengan jelas hari-hari yang kita lalui bersama. Tawa, canda dan semuanya. Semakin lama kuterperosok semakin dalam dalam cintamu. Dalam dirimu. Hingga rasaku hampa bila tanpa hadirmu. Aku cinta kamu Re.

Tetapi, justru karena aku cinta kamu. Karena aku menyayangimu. Ku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Ku tak bisa katakan isi hatiku. Aku hanya bisa diam. Seribu bahasa.

Karena buatku, kau terlalu berharga. Karena buatku kaulah segalanya. Aku tak bisa melihatmu sedih. Aku takkan sanggup melihatmu menangis dan berduka. Aku ingin senyum dan tawa itu tetap ada. Terang seperti mentari. Indah seperti bintang. Dan teduh seperti sang rembulan. Aku takkan memaafkan diriku sendiri kalau kulihat air mata jatuh dari mata beningmu. Aku takkan bisa. Tetapi aku juga takkan mampu 'tuk jauh darimu. Takkan bisa tak melihat sosokmu. Mendengar suara dan tawamu. Senyummu. Makanya aku memilih untuk diam. Biar saja semua seperti ini, seperti adanya kini. Ku tak mau membuat janji. Ku tak mau berikan padau sesuatu yang tak pasti. Apalagi dengan kondisiku kini

………………………..
Kebahagiaanku adalah ketika melihat kau bahagia. Teruslah tersenyum dan tertawa. Teruslah berikan cahaya dan semangat hidup pada orang-orang di sekitarmu. Aku 'kan terus memandangmu dari jauh. Mengawasimu dari jauh. Pun nanti ketika waktuku telah tiba, aku kan tetap membawa ingat akanmu ke surga. 'Kan kuminta pada Tuhan di surga, semoga kau tetap bahagia selamanya.

Waktuku, hanya tinggal sekejap saja. Ku tak tahu apakah kukan bisa terus bertahan, melawan apalagi menang dalam perang ini. Bukan perang terhadap bom, granat atau senjata. Tapi terhadap kanker yang telah merajalela. Aku hanya ingin kau tetap ingat kenangan hari ini. Saat aku masih ada di dunia ini.
Aku sayang kamu Re.
……………………………………………………

Lembaran putih itu basah terkena rintik hujan yang mengguyur sejak dini hari tadi. Membasahi gundukan tanah merah yang baru tertanam. Hampa. Sunyi. Di sudut batu nisan yang baru terpasang.

Telah beristirahat dengan tenang
Andra Reva Susanto
10 October 1979 – 2 Februari 2010

0 komentar:

Posting Komentar