Selasa, 23 Februari 2010

Negeri Lima Menara By : A Fuadi


Satu kata: “biasa saja”.

Setelah membaca buku ini, saya mendapat kesan yang biasa saja tentang buku ini. Maklum, mungkin sebelum membacanya saya cukup terpengaruh dengan pendapat dan review beberapa orang. Apalagi buku ini sempat dibahas di GRI. Jadi jujur saja, setelah membacanya, saya agak sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi awal.

Saya bilang biasa saja karena :
1. Ide ceritanya standar. Tentang perjuangan hidup seseorang atau beberapa orang untuk meraih mimpi. Cerita model begini mulai booming pasca lascar pelanginya andrea hirata. Jadi tidak lagi terlalu orisinil. Walaupun dengan setting yang berbeda. Kisah LP menceritakan perjuangan Ikal dari kecil hingga ia meraih mimpinya kuliah di Paris. Dan N5M, menceritakan kehidupan di balik pondok. Tetapi kalau bicara soal perjuangan seseorang meraih mimpi, di buku ini tidak terlalu dijelaskan secara detail kenapa dan bagaimana tokoh Alif dan teman-temannya bisa meraih mimpinya se[erti sekarang. Seperti ada sesuatu yang terpotong dan hilang. Jadi mulai masa di ponpes, lulus lantas “meloncat” begitu saja jadi orang sukses. Atau memang karena buku ini rencananya akan dibuat tetralogi? (kabarnya sih begitu). Padahal, dari sebuah cerita tentang perjuanagn meraih mimpi yang paling penting adalah bagaimana perjuangannya.

2. Membaca tahapan-tahapan tingkat di PM dalam buku ini mengingatkan saya pada kisah Harry Potter dengan Hogwartsnya. Mulai dari masuk sekolah, ujian hingga pertandingan olahraganya. Bedanya di sini sepakbola dan di sana squiditch. Atau memang semua sekolah berasrama memiliki system seperti ini atau setidaknya mirip seperti ini? Entahlah, saya tidak tahu persis karena belum pernah tinggal di pondok ataupun sekolah berasrama. Tetapi saya merasakan cerita dalam buku ini biasa saja. Nothing new.

3. Judulnya negeri 5 menara. Maksudnya apa sih? Dari awal sampai akhir saya menebak-nebak negeri mana saja yang di maksud. Bukittinggi? USA? London? Kairo? Jakarta? Penggambaran yang kurang jelas. Lagi-lagi karena memang buku ini rencananya akan dibuat berseri? Jadi detailnya akan dimuat di buku lanjutannya?

4. Cerita terkesan terlalu panjang, hingga hampir membosankan. Banyak hal-hal yang tidak terlalu penting diceritakan panjang lebar. Tanpa tahu apa kaitan antara satu bagian cerita dengan bagian cerita yang lain. Untungnya, saya menggunakan cara speed reading saat membacanya. Jadi saya tidak sampai bosan dan tertidur mengikuti alur cerita. Tetapi sebaliknya, inti ceritanya kurang digali lebih dalam. Terlalu datar. Tidak ada konflik ataupun pasang surut. Kurang dalam. Kalau diumpamakan dalam sebuah grafik, mungkin grafik alur cerita novel ini hanya akan berbentuk garis-garis kecil naik turun tanpa perubahan kenaikan atau drastic yang berarti.

Tetapi walaupun begitu, harus saya akui sebenarnya banyak nilai moral yang bisa kita ambil dari kisah ini. tentang keikhlasan, keyakinan dan perjuangan. “Man Jadda Wa jadda”.Dan kita bisa tahu lebih banyak tentang kehidupan di balik dinding-dinding pondok pesantren. Tetapi secara umum, dari sudut pandang saya pribadi, buku ini biasa saja. Nothing new. Nothing special. Sebuah cerita, walaupun idenya sederhana, kalau dikemas dengan cerdas dan apik pasti akan jadi sangat menarik. Yang sayangnya tidak terlalu muncul di buku ini.

Sekali lagi, ini hanya pandangan subyektif saya loch.

0 komentar:

Posting Komentar