Kamis, 16 Oktober 2008

Buddha By : Deepak Chopra


“Siapapun yang melihatku melihat ajaran”

Ini adalah sebuah kisah metamorfosis dari Siddharta Sang Pangeran menjadi Gautama si Petapa hingga menjadi sang Buddha. Siddharta meninggalkan semua kekayaan dan kemulian dunia untuk menjadi Petapa. Terdorong oleh panggilan hati dan takdir, pangeran kerajaan Sakya ini memilih jalan mengembara. Selama perjalanannya mencari kebenaran, mencari makna dan arti hidup, Gautama melalui berbagai penderitaan dan sakit. Perang, kelaparan, kekerasan dan penderitaan hampir menghabiskan tubuhnya. 


Melalui berbagai tempat, bertemu banyak guru dan petapa lain hingga metode penyiksan diri sendiri yang ekstrim dijalaninya demi satu hal, pencerahan. Apakah arti hidup?? Kenapa begitu banyak penderitaan?? Dan kenapa kita harus menderita?? Itu adalah pertanyaan yang terus menerus berkelebat di benak Gautama. Di sisi lain, Mara terus menerus menggodanya, dan berharap Gautama akan gagal. Akan tetapi, bagaimanapun usaha Mara untuk menggagalkan Gautama tidaklah membuahkan hasil. Setelah perenungan dan meditasi mendalam, Gautama memperoleh pencerahan. Sang Buddha telah lahir.

Buddha adalah sosok yang selama ini diidentikan dengan damai, pencerahan dan ketenangan. Tetapi, dibalik itu, kisah hidupnya penuh dengan kekerasan, penderitaan dan sakit. Dari seorang manusia biasa menjadi seorang yang setengah dewa (walaupun ia sendiri tidak pernah mengakui sisi keilahian dirinya. Ajaran-ajarannya masih mempengaruhi jutaan umat manusia di penjuru dunia hingga kini, lebih dari dua milenium sesudahnya. Itulah hebatnya Buddha. Ia hanyalah manusia biasa, hati dan pikirannya sama manusianya dengan hati kita. Ia bukanlah anak Tuhan ataupun tuhan yang turun ke bumi. Ia hanyalah manusia biasa. Manusia biasa yang mengalami pencerahan melalui perjuangan dan kihah panjang yang tak mudah. Sisi manusianya, sama dengan kita semua.

0 komentar:

Poskan Komentar