Rabu, 08 Oktober 2008

BUMI MANUSIA - By : Pramoedya Ananta Toer


"Cerita, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa ataupun hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia. Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biarpun penglihatanmu setajam mata elang; pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”

- Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia –

Setelah melalui pemanasan dengan membaca beberapa buku ‘ringan’ karya Pram, akhirnya sampai juga aku di mahakaryanya. Buku pertama dari Tetralogi Buru – Bumi Manusia -. For Maya, thanks bgt atas pinjeman semua koleksi Pram-nya. Jangan pernah kapok meminjamkan buku padaku. =D

Aku adalah manusia. Tentu yang tak sempurna. Karena kealpaan dan lupa tak bisa lepas dariku. Aku hanyalah manusia biasa. Aku bukanlah dewa dengan segala ke-Maha-annya. Sempurna adalah kata yang tidak untukku.

Namaku Minke, setidaknya itulah sapaan oang-orang ketika memanggilku. Saking terlalu seringnya nama itu digunakan, hingga aku hampir lupa nama asliku. Nama yang diberikan oleh Bunda dan Ayanda yang dengan bersusah payah akhirnya berhasil menjadi Bupati B.

Sebagai keturunan priyayi Jawa, aku beruntung bisa mengenyam pendidikan ala Eropa. Ilmu pengetahuannya, budayanya, pergaulannya, bahasanya serta segala hal yang berbau Eropa. Aku begitu kagum akan peradaban dan budaya mereka. Hingga hampir- hampir tak lagi berdiri di atas tanah budaya sendiri. Ironis memang, tetapi itulah yang mungkin akan terjadi padaku kalau saja tak terjadi peristiwa itu

Sebagai lelaki normal, wajarlah kiranya ketika kujatuh hati pada seorang perempuan. Apalagi perempuan yang kecantikannya ibarat dewi. Cantik, lembut namun rapuh. Aku mabuk karena kecantikannya dan cintanya. Hingga membuatku tak sadar, jatuh semakin dalam. Sebuah hubungan yang tulus, tanpa menyadari hukum, peraturan, kasta, etnis, bangsa dan pandangan orang lain dan dunia. Tak kudengarkan lagi nasihat para guru dan orangtua sendiri. Aku terjerat, terikat, terpenjara.

Pribumi adalah bundaku. Bunda yang melahirkanku, memberiku dasar budaya, adat dan darah Jawa ini. Bunda yang telah memberiku kehidupan. Pribumi juga adalah Mamaku. Seorang wanita cerdas yang menjadi pintar secara otodidak. Perempuan biasa yang menjadi keras karena pengalaman hidup. Seorang Mama yang membuatku begitu mengaguminya.

Eropa adalah guruku. Aku belajar dari mereka. Aku melihat dunia dari mereka, hingga aku lebih sering berlisan dengan bahasa mereka. Tetapi seperti apapun aku tetaplah seorang pribumi. Pribumi yang hanya dijadikan alat bangsa Eropa untuk meninggikan kejayaan mereka, sementara di pihak lain kami - kaum pribumi - akan semakin direndahkan derajatnya hingga ke jauh ke dalam tanah.

Batinku berontak, harga diriku berteriakdi. Apakah ini arti dari semua yang telah kupelajari dari kalian wahai bangsa Eropa?? Apalah artinya semua ilmu, pengetahuan, sopan santun, hukum dan keadilan yang telah mereka ajarkan?? Ketika keadilan itu hanya berlaku bagi kaum mereka sendiri. Ketika hukum hanya melindungi ras kulit putih sendiri. Dan ketika batas antara Eropa dan pribumi tetap tak dapat terlampaui. Ketika kaum penjajah kolonial tetap akan menginjakkan kaki mereka di atas kepala kaum pribumi pemilik negeri sendiri. Apakah akan selamanya seperti itu??

Bumi manusia. Manusia dgn segala problematikanya. Sebuah novel tentang seorang seorang keturunan priyayi Jawa yang mengenyam pendidikan ala Eropa. Sebuah pergolakan batin ketika ia berada di antara pertentangan antara apa yang dinamakan dengan modern dan tradisi. Apakah harus memilih cinta, cita cita ataupun keluarga. Pun jua ketika dihadapkan pada batasan antara pribumi dan Eropa. Hukum, keadilan dan semuanya.

Sebuah novel yang cukup berani. Humanis. Melihat manusia dengan segala sisinya. Karena memang ini adalah Bumi manusia. Tak salahlah kalau novel ini banyak meraih penghargaan dari berbagai lembaga dan negara. Juga berulangkali diterbitkan di dicetak ulang dalam berbagai bahasa di dunia. Bahkan kalau tak salah, karena novel ini Pramoedya pernah beberapa kali dinominasikan meraih nobel sastra. Satu pertanyaan menggelitik kepala : Kenapa novel ini pernah sampai dilarang peredarannya?? Sepanjang saya membaca novel ini menurut pandangan saya pribadi, tiadalah unsur sosialis, komunis, mengancam ketahanan negara dan semacamnya. Suatu keanehan memang. Tetapi bukankah Indonesia memang adalah negeri yang penuh anomali??

Bumi manusia mengajak kita untuk berpikir dan merenung. Walaupun settingnya di era kolonial Belanda. Masih cocok dengan kondisi sekarang. Kebaikan dan keburukan manusia, diskriminasi, keadilan dan ketidak adilan hukum, mengutamakan kepentingan kelompok/ golongan tertentu, pemerasan, penjajahan dan pembatasan kemerdekaan, dan sebagainya. Kalau kita renungi, hingga masa kini pun itu semua masih terjadi bukan?? Bedanya tidak lagi antara Eropa dan pribumi. Tetapi antara sesama pribumi anak negeri. Hmm…mungkin saja itu jadi salah satu jawaban dari pertanyaan yang menggelitikku tadi. Mungkin. Dan itu mungkin saja loh………..

0 komentar:

Posting Komentar