Senin, 20 September 2010

Karena Perempuan Berjilbab Juga Manusia (Sebuah Review Atas Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab, By: Juneman)


Sebuah buku dengan judul yang cukup provokatif dan unik. Jarang sekali ada buku yang membahas fenomena kenapa seorang perempuan memilih melepas jilbabnya.

Ini adalah sebuah kajian dari hasil penelitian ditinjau dari sisi ilmu psikologi. Ini bukanlah buku agama. Jadi, jangan heran kalau dalam pembahasannya sangat sedikit sekali membahas dari sisi agama.

Baru membaca seperlima bagian buku ini sudah membuat saya geregetan. Apalagi jilbab biasanya diidentikan dengan agama tertentu (baca : Islam). Umumnya masyarakat Indonesia menganggap jilbab sebagai suatu kewajiban dalam beragama. Jadi ketika dikatakan kalau jilbab adalah bagian dari fashion, style atau apapunlah itu akan sedikit “menyentil” komunitas dan orang tertentu. Ketika agama dan kepercayaan menjadi sesuatu yang “sensitif” untuk dibahas apalagi diperdebatkan, pastinya hal itu akan memancing banyak perdebatan dan kontroversi. Tapi terkadang, saya suka sesuatu yang kontroversial :D

Buku ini menceritakan tentang empat orang subyek, yaitu Tari, Intan, Wina dan Lanni yang pernah mengenakan jilbab namun akhirnya melepas jilbabnya.

1. Subyek Pertama (Tari) : Jilbab Sebagai Pilihan Busana

Tari pertama kali memakai jilbab saat duduk di bangku SMA. Di sekolahnya ia banyak bergaul dengan para anggota kerokhanian Islam (Rohis) yang sedikit banyak mempengaruhi pola pikir dan pandangannya akan agama dan Jilbab. Ia tidak pernah melepas jilbabnya, menghindari musik, televisi, dan sebagainya. Ia juga cukup aktif berdakwah. Saat menginjak bangku kuliah, Tari semakin mantap untuk berjilbab.

Ketika menginjak tahun kedua, Tari mulai berpacaran dengan seorang pria. Pergaulan dengan mahasiswa AINI dan pengaruh pacarnya membuat Tari memikirkan ulang tentang jilbabnya. Titik kritis terjadi saat pemilihan ketua divisi keputrian di kampusnya. Saat itu, issue yang beredar adalah ketua keputrian mushola haruslah yang jilbabnya besar. Hal ini memancing krtisi internal di dalam diri Tari, “Apakah perempuan hanya bisa dinilai dari seberapa lebar jilbab yang dipakainya? Bukan dari pikiran atau dirinya sendiri?”

Lulus kuliah dan bergabung di sebuah LSM keperempuanan (Afina Riskana) membuat Tari banyak bergelut dan berdiskusi tentang issue-issue keperempuanan, termasuk masalah jilbab. Hingga Tari sampai pada satu kesimpulan, kalau jilbab adalah busana, bagian dari budaya. Jilbab bukanlah sebuah ajaran agama dan bukanlah menjadi suatu kewajiban buat setiap perempuan muslim. Jilbab memang menjadi identitas muslimah, akan tetapi lebih kepada sebuah simbol.

Keputusannya melepas jilbab tidak serta merta membuatnya mengambil sikap bertolak belakang terhadap jilbab. Menurutnya, jilbab adalah bagian dari busana, fashion, simbol serta budaya. Ia masih mungkin memakai jilbab kembali dengan alasan dan tujuan tertentu yang sifatnya lebih politis dan bukan teologis.

2. Subyek Kedua (Intan) : Orang yang Berjilbab adalah Orang yang Gagal Trust Terhadap Orang Lain

Intan yang berasal dari keluarga pluralistik dan hanya menekankan Shalat sebagai satu-satunya kewajiban mulai “tertarik” memakai jilbab saat duduk di bangku SMP. Kala itu, guru agamanya banyak “menebarkan rasa takut” akan Tuhan dan agama. Ancaman kalau wanita yang tidak menutup auratnya dan tidak mengenakan jilbab di neraka nanti payudaranya akan digantung kemudian dibakar sampai bernanah. Ini menjadi titik balik buat Intan yang membuatnya berkeinginan memakai jilbab. Apalagi saat sepupu terdekat Intan memutuskan untuk memakai jilbab.

Intan memakai jilbab tertutup sekitar dua tahun sampai saat ia berpacaran dengan seorang aktivis politik. Walaupun sang pacar tidak secara langsung memintanya melepas jilbab, tetapi diskusi panjang di antara mereka membuat Intan mempertanyakan kembali jilbabnya. Bertahap, Intan mulai menanggalkan jilbabnya hingga akhirnya melepasnya. Pararel dengan itu, terjadi pergeseran pemahaman dan pemaknaan keagamaan dalam diri Intan. Ia mulai mempelajari ajaran agama lain serta mempertanyakan ibadah, dosa-pahala, takdir serta berbagai hal lainnya.

Intan kemudian dengan sang pacar yang secara tidak langsung mempengaruhi pola pikirnya. Sang mantan pacarnya tersebut malah menikah dengan wanita rohis berjilbab besar. Hal ini menimbulkan kekecewaan yang besar dalam diri Intan. Perlahan, timbul sinisme dan sentimen negatif agama dalam dirinya. Secara ekstrem, bahkan Intan menganggap bahwa perempuan yang memakai jilbab adalah orang yang gagal trust terhadap orang lain.

3. Subyek Ketiga (Wina) : Melepas Jilbab untuk Berjilbab Kembali.

Winna memakai jilbab saat SMA setelah mengikuti basic training sebuah perkumpulan remaja islami. Namun baru memakai jilbab setealh bergabung di organisasi Mahasiswa Islam NMI. NMI adalah organisasi yang sangat berperan dalam pengembangan karakternya.

Sejak memakai jilbab, jilbab Wina tertutup rapat. Karena menurutnya menutup aurat tidak bisa setengah-setengah. Hingga suatu ketika Wina mengalami insiden kritis dalam bidang seksual dengan sang pacar. Wina akhirnya melepaskan jilbabnya karena ia merasa belum cukup pantas mengenakan jilbab dan tidak bisa mempertanggungjawabkan jilbabnya di lingkungan dan di mata Tuhannya.

Wina terus melakukan upaya pencarian diri, hingga beberapa tahun kemudian setelah mengalami “mimpi religius”, Wina memakai kembali jilbabnya yang ternyata hanya sementara. Beberapa waktu kemudian Wina kembali melepas jilbabnya karena ia masih banyak terlibat gossip, intrik dan “politik tertentu” yang kurang sehat. Lagi-lagi karena ia merasa kurang pantas untuk berjilbab. Saat ini, Wina terus melakukan upaya pencarian diri dan tetap berniat untuk kembali berjilbab.


4. Subyek Keempat (Lanni) : Jilbab Belum Sejatinya Mencerminkan Diriku.

Berbeda kisah antara Tari, Intan dan Wina. Begitupun dengan yang terjadi pada Lanni. Lanni memutuskan memakai jilbab pada usia 37 tahun. Setelah mengalami tekanan sosiopsikis dan hampir membuatnya putus asa, Lanni memilih lari ke jilbab dan agama dengan maksud untuk menenangkan hati.

“waktu gw akhirnya putuskan pakai jilbab, gue waktu itu ufah putus asa, tidak ada cowok yang mau ama gue. Mending ditutup aja segala keindahan gua.”

Lanni mengenakan jilbab atas anjuran seorang laki-laki yang ia cintai saat itu. Namun, di saat hubungannya dengan laki-laki itu menjadi tidak penting lagi, Lanni sudah mulai mencoba melepas jilbabnya. Diawali dengan kedatangan temannya dari Belanda di saat bulan puasa. Karena merasa tidak nyaman, suatu sore ia melepas jilbabnya. Lanni melepas jilbab karena ia merasa kalau jilbab tidak sesuai dengannya dan tidak mencerminkan dirinya.

Serentet Tanya Buat Penulis

Empat orang perempuan dengan empat latar belakang, empat alasan, empat pengalaman, empat pandangan, empat penjelasan, dengan satu keputusan: melepaskan jilbab yang telah mereka pakai.

Sebuah penelitian yang masih terbilang baru dan cukup berani. Karena setahu saya belum pernah ada penelitian mengenai fenomena perempuan yang melepas jilbabnya, apalagi dipandang dari sudut pandang ilmu psikologi.

Yang lantas menjadi pertanyaan saya adalah “Mengapa penulis memilih keempat orang subyek tersebut?” apakah yang menjadi dasar pertimbangannya. Karena kalau merujuk pada penjelasan awal penulis “Empat muslimah yang ditampilkan pengalaman fenomologisnya dalam buku ini dipilih oleh penulis (purposif) dengan kriteria tertentu, yaitu perempuan Indonesia yang telah mengenakan jilbab selama minimal dua tahun berturut-turut “ (Juneman, 2010:120). Kalau mengacu pada kalimat ini, satu-satunya yang mendasari pemilihan subyek hanyalah jangka waktu subyek memakai jilbab, yaitu minimal dua tahun. Menurut saya, penjelasan ini masih tidak memberikan gambaran secara jelas alasan pemilihan subyek. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomologis-subyektif. Dengan istilah “subyektif” yang dimaksud adalah bahwa pendekatan metodis ini mengungkap data dari perspektif subyek yang diteliti (Poerwandari dalam Juneman, 2010: 113). Dengan pendekatan subyektif ini, faktor pemilihan subyek akan sangat mempengaruhi hasil penelitian.

Yang tidak saya habis pikir adalah kenapa kok bisa ya, (secara kebetulan?) empat orang subyek memiliki skala orientasi religius menurut Allport (Briglass dalam Juneman, 2010) yang berbeda-beda. Mulai dari indiscriminately anti-religius type (pada Tari), indiscriminately pro-religius type (pada Intan), intrinsic type (pada Wina) dan extrinsic type (pada Lanni). Sebuah kebetulan yang disengaja? Yang jadi pertanyaan saya selanjutnya adalah bahwa penulis tidak menjelaskan lebih detail berapakah sampel yang diambil? Apakah dalam proses penelitiannya penulis mengambil banyak sampel/ subyek, lantas hanya menjabarkan empat kasus diantaranya untuk menggambarkan beragam variasi tipe skala orientasi religius terhadap keputusan subyek untuk melepas jilbabnya? ataukah memang penulis hanya mengambil empat subyek, dan (kebetulan) keempat subyek tersebut memiliki skala orientasi religius yang beragam, tidak ada yang sama satu dan lainnya. Kalau memang iya, sungguh suatu kebetulan yang luar biasa.

Ini memang buku psikologi dan bukan buku agama. Jadi, teori-teori yang menjadi dasar penelitian dan penulisan buku ini adalah teori-teori psikologi. Dan kalaupun ada teori atau referensi agama yang digunakan, lebih banyak menggunakan sudut pandang Islam moderat, bahkan (mendekati) Islam liberal yang memang cukup longgar dalam memaknai hukum pemakaian jilbab dalam agama Islam. Kenapa tidak mengambil referensi yang lebih beragam? Hal ini mengundang pertanyaan lebih lanjut buat saya. Apakah ada tendensi tertentu yang mempengaruhi dan mendasari penelitian dan penulisan buku ini? Padahal dalam metode penelitian fenomologis, peneliti harus bersikap netral, tidak berpihak ataupun berlawanan dengan fenomena yang ada. Kalau ternyata ada tendensi, itu akan merusak keseluruhan penelitian. Secara sekilas, kalau dilihat dari teori-teori yang dijadikan dasar dan referensi penelitian dan penulisan buku ini, menurut pendapat saya pribadi, saya melihat “sepertinya ada kecenderungan dan tendensi tertentu” untuk mendukung fenomena perempuan melepas jilbab.

Perempuan Berjilbab Juga Manusia

Terlepas dari beberapa hal tersebut di atas, membaca kisah empat orang perempuan dalam buku ini sedikit banyak memberikan gambaran tentang fenomena perempuan melepas jilbab di Indonesia.

Kalau ingin menelaah mengenai alasan perempuan melepas jilbab, sebaiknya kita telusuri dulu apakah yang menjadi alasan awal seseorang memakai jibab (sebelum melepasnya)? Melihat pada kasus empat orang subyek, dua diantaranya (Tari dan Intan) memakai jilbab awalnya karena faktor “ketakutan akan surga-neraka’ yang disebarkan oleh lingkungan sekitar, seorang karena faktor kesadaran pribadi (Wina) dan seorang lagi karena putus asa lantas menjadikan agama dan jilbab sebagai pelarian (Lanni). Dari sini terlihat bahwa sebagian besar alasan (tiga dari empat) lebih kepada faktor eksternal, dan bukan dari kesadaran pribadi subyek untuk memakai jilbab. Dan faktor ketakutan menjadi alasan dominan mereka.

Memang, saat ini masih banyak masyarakat kita yang menggunakan “ancaman” surga-neraka serta imbalan pahala-dosa untuk “mendorong” orang beribadah. Seakan-akan beribadah tak ubahnya sebuah niaga antara manusia dan Tuhan. Ibadah direndahkan menjadi hitung-hitungan timbangan antara amal dan maksiat manusia. Seakan-akan Tuhan bukanlah Maha pengasih, tetapi Tuhan yang Maha Kejam, penghukum dan pendendam. Tuhan digambarkan sebagai suatu entitas dengan cambuk dan sisi menyeramkan di satu sisi, dan dengan hadiah dan keindahan di sisi satunya lagi. Padahal sesungguhnya tidaklah begitu. Mungkin, pendekatan semacam ini bisa diterapkan pada anak-anak yang pehamannya masih simple tentang hidup. Tetapi hal ini tidak bisa diterapkan pada orang-orang dewasa yang sudah bisa berfikir secara logis. Karena ini akan menimbulkan konflik dan gamangnya “pondasi” seseorang. “Ketakutan” menjadi sebuah alasan yang tidak cukup kuat bagi seseorang untuk beribadah, termasuk juga dalam memakai jilbab. Karena hal itu akan dengan mudah digoyahkan oleh akal, naluri maupun logika dan ego manusia serta kondisi eksternal seseorang. Hal inilah yang menurut saya terjadi pada tiga orang subyek tersebut.

Mengenai alasan para subyek melepas jilbabnya, saya kembali “dikejutkan” pada fakta bahwa hampir semua subyek melepaskan jilbabnya karena ada pengaruh dan faktor laki-laki (baik secara langsung ataupun tidak). Tari yang terpengaruh pacarnya serta diskusi-diskusi kritis dengan pacarnya tersebut membuat Tari memikirkan ulang tentang jilbabnya. Begitupun yang terjadi dengan Intan. Dalam kasus Intan ditambah lagi dengan putusnya hubungan Intan dengan sang pacar yang malah memilih untuk menikahi wanita berjilbab besar. padahal selama ini sang pacarlah yang banyak mendorong Intan untuk melepas jilbabnya. Kondisi ini turut mempengaruhi sikap Intan terhadap jilbab selanjutnya yang cenderung sinis dan anti jilbab.

Pada kasus Wina, berbeda lagi. Insiden dalam bidang seksual dengan sang pacar membuatnya merasa kurang pantas untuk memakai jilbab dan lantas melepasnya. Pada kasus Lanni, sejak awal ia terdorong untuk memakai jilbab juga karena faktor laki-laki. Jadi ketika hubungannya dengan pria tersebut tidak lagi dianggap penting, Lanni tergoda untuk mulai melepas jilbabnya. Kenyataan yang terjadi pada empat orang subyek ini membuat saya bertanya lagi. “Kenapa lagi-lagi karena pria? Sedemikian besarnyakah dampak seorang pria terhadap keputusan seorang perempuan terkait masalah jilbabnya?” Haloo… kemanakah pendirianmu wahai para perempuan?? Geleng-geleng kepala saya dibuatnya. Lagi-lagi saya mempertanyakan alasan penulis dalam pemilihan subyek. Karena menurut saya masih banyak sekali alasan seorang perempuan dalam memutuskan untuk memakai dan atau melepaskan jilbabnya, dan itu tidak melulu terkait dengan pria seperti pengalaman saya pribadi dan orang-orang sekitar saya.

Yang cukup mengusik saya adalah subyek kedua (Intan) dan ketiga (Wina). Pada kasus Intan, pengalamannya, terutama pasca ditinggal menikah pacarnya (yang malah menikahi wanita Rohis berjilbab besar) membuat Intan jadi bersikap sinis dan anti jilbab. Padahal, saat berjilbab, ia termasuk aktif cenderung ekstrim dalam beragama. Seperti yang terjadi pada Tari, Intan juga bisa dengan mudahnya menilai orang dari penampilan luarnya saja. Bisa dengan mudah “mengkafirkan” oranghanya karena ia berjilbab atau tidak. Dan sebaliknya, saat Intan sudah tidak berjilbab, ia juga dengan ekstrim dan sinis menentang jilbab. Mengutip kalimat Intan“bahwa perempuan yang memakai jilbab adalah orang yang gagal trust terhadap orang lain”. Statement ini terus terang membuat saya “tersedak”. Saya merasa “disinggung”. Sampai saat ini, saya memakai jilbab, tetapi saya tidak merasa kalau saya mengalami gagal trust terhadap orang. “Haloo… jangan suka sembarangan ambil kesimpulan ya mbak. Mungkin mbak memang punya pengalaman sendiri, dan saya bisa maklumi, pun jua saya juga tidak menjudge atas keputusan siapapun yang memilih untuk memakai atau melepaskan jilbabnya” Karena buat saya, itu adalah hak setiap orang. Karena semua hal yang terkait masalah agama dan kepercayaan itu murni pilihan dan hak asasi setiap orang yang tidak dapat diganggu gugat ataupun dicampuri oleh orang lain. “Kalau mbak mau melepas jilbab terserah itu hak anda, tetapi jangan lantas bersikap sinis bahkan anti terhadap jilbab dan agama. Kalau anda tidak suka dijudge, maka jangan juga suka menjudge pihak lain”. Statement satu itu sungguh membuat saya geregetan. Seseorang yang tadinya ekstrim “membela” jilbab dan agama serta Tuhan, malah kemudian berbalik menjadi seseorang yang sinis dan anti terhadap jilbab dan agama – dengan sama ektrimnya. Ironis.

Di lain sisi, bisa jadi perubahan sikap yang sangat bertolak belakang yang terjadi pada diri Intan merupakan bentuk “pertahanan diri” dan sikap defensifnya terhadap pengalaman buruk serta respons orang-orang sekitar terhadap keputusannya melepas jilbab. Seperti tembok ada aksi dan reaksi.

Mengenai subyek ketiga (Wina), saya tertarik pada keputusannya yang bolak-balik antara memakai dan melepas jilbabnya. Wina yang memiliki latar belakang agama cukup baik serta alasan awal pemakaian jilbab yang tidak berasal dari luar (internal) beberapa kali memutuskan memakai terus melepas kembali jilbabnya. Yang menjadi dasar keputusannya untuk melepas jilbab adalah karena ia merasa belum pantas untuk memakai jilbab dan merasa belum dapat mempertanggungjawabkan jilbabnya di mata Tuhan dan lingkungan sekitar. Begitupun yang terjadi dengan Lanni yang merasa kalau jilbab bukalah sejatinya dirinya sendiri.

Satu hal menggeitik saya “ Kriteria apa yang digunakan untuk menilai pantas atau tidaknya seseorang untuk memakai jilbab?” Karena di Indonesia, jilbab dijadikan sebagai simbol perempuan muslim. Secara lebih khusus digambarkan bahwa perempuan berjilbab adalah orang yang baik hati, takwa, ramah tamah, tidak sombong, tidak suka menggosip, rajin menabung, tidak suka membuang sampah sembarangan. etc. Sempurna dan dasa darma pramuka gitu dech. “Apakah memang benar seperti itu dan harus seperti itu?”

Ketika suatu simbol dan budaya diidentikan dengan agama inilah yang terjadi. Apa yang terjadi dan dilakukan oleh simbol akan selau dikaitkan dengan agama.

Sebaiknya setiap manusia menjaga tingkah lakunya. Ini berlaku untuk semuanya tidak hanya perempuan, dan tidak hanya perempuan berjilbab. Menurut saya, jangan sampai image ‘kesempurnaan” seorang perempuan berjilbab membatasi seseorang untuk mengenakan jilbab. Karena faktor merasa tidak pantas. Siapa sih yang bisa menilai “kepantasan” itu? Karena yang berhak menilai iman dan nilai seorang manusia hanyalah Tuhan dan bukan manusia. Kalau kita menunggu “kepantasan” itu akan sampai kapan? Walaupun tidak juga seseorang bisa bebas bertingkah laku – dengan atau tanpa jilbab-. Dalam kondisi jilbab sebagai symbol, jilbab bisa menjadi “social control” dan “self control” buat seseorang untuk menjaga tingkah lakunya. Akan tetapi jangan sampai terjebak pada simbol semata. Karena nilai seseorang tidak bisa hanya dilihat dari apa yang terlihat di luar, termasuk juga pakaiannya – berjilbab atau tidak-. Yang menentukan nilai seseorang di mata Tuhan adalah “iman” dan “takwa”nya. Termasuk juga hubungannnya baik itu secara vertikal maupun horizontal terhadap sesama manusia). Hanya Tuhan yang berhak untuk menilai, manusia tidak. Jadi, jangan terjebak pada simbol ataupun stigma. Juga tidak lantas dengan serta merta bertindak “bebas nilai” karena aturan itu ada untuk mengatur hidup manusia agar lebih terarah.

Lagi-lagi pendapat pribadi saya, jilbab buat saya adalah sebuah kebutuhan, paling tidak buat saya hingga detik ini. Keputusan apakah seseorang akan memakai atau tidak atau bahkan memakai kemudian melepasnya itu adalah hak pribadi masing-masing. Kalau memang merasa butuh dan nyaman, pakailah, tetapi kalau tidak itu adalah hak anda sebagai manusia dewasa yang tahu mana yg baik atau buruk dan yang harus siap dengan segala konsekuensinya. Di lain sisi, janganlah menjudge seseorang hanya dari apa yang tampak di luarnya, jangan terjebak simbol ataupun stigma. Tidak berarti seseorang yang tidak berjilbab itu iman dan nilainya lebih rendah daripada yang berjilbab, begitupun sebaliknya. Perempuan berjilbab tidaklah berarti perempuan yang sempurna tanpa noda. Karena perempuan berjilbab juga manusia 

Jakarta, 18 September 2010

0 komentar:

Poskan Komentar