Kamis, 21 Oktober 2010

Demi Nayla


Malam ini aku menonton berita malam di televisi. Masyarakat kota Jakarta kembali digegerkan oleh penemuan mayat di sebuah motel murah di kawasan mangga dua. Diduga, ini juga adalah korban pembunuhan berantai yang dalam beberapa bulan terakhir ini menghantui warga Jakarta. Semua korbannya adalah pria, dan hampir semuanya ditemukan dalam keadaan tanpa busana di hotel, motel ataupun penginapan serta  –maaf- dengan kondisi tanpa alat kelamin laki-lakinya.

Pembunuhan. Lagi-lagi pembunuhan. Kenapa belakangan ini nyawa manusia jadi terasa begitu murah? Aku diam seribu bahasa. Kenangan masa lalu itu muncul kembali. Lima tahun yang lalu, kakak perempuanku ditemukan tewas di sebuah kebun di pinggiran kota Jakarta. Menurut investigasi polisi, Nayla tewas dibunuh teman kencan prianya setelah melakukan persetubuhan. Dan menurut informasi yang kudapat, ternyata selama ini Nayla bekerja sebagai pekerja seks komersial. Perlahan air mata itu jatuh lagi. aku masih ingat bagaimana Nayla bekerja keras untuk membiayai keluarga kami dan juga sekolahku. Ia sering pulang larut malam, bahkan hampir pagi. Saat itu, kami tak tahu apa yang ia lakukan sebenarnya juga tak pernah mempertanyakannya. Yang kami tahu hanya bahwa Nayla bekerja keras demi kami sekeluarga.

Tak mampu lagi kutonton tayangan berita, aku matikan televisi dan beranjak menuju kamarku. Berita-berita itu berkelebat lagi. Sakit dan perih itu datang lagi. Kupandangi potongan artikel-artikel koran di balik pintu lemari. Potongan-potongan gambar yang tumpang tindih, serta foto wajah Nayla.

Kubuka laci dan dari dalamnya kuambil sebilah belati. Belati tajam yang telah banyak membantuku selama ini. untuk memuaskan keinginanku membalas kebencian pada semua lelaki hidung belang. Demi Nayla.

0 komentar:

Posting Komentar