Sabtu, 23 Oktober 2010

PENGLARIS

Warung baksoku hari ini sangat ramai. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku membuka warung ini  beberapa tahun lalu bersama suamiku. Awalnya memang kurang ramai, tetapi  setelah mendapat masukan dari beberapa teman aku tahu kekurangan warung kami: "penglaris".

Awalnya suamiku tidak setuju. Haram katanya. Tetapi aku  tetap pada keputusanku. Warungku butuh penglaris. Dan ternyata memang benar, sejak menggunakannya warung baksoku menjadi  laris manis.

Pada awalnya beberapa orang pelanggan mempertanyakan ketidakhadiran suamiku. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, mereka sudah mulai lupa. Tak peduli lebih tepatnya.

Hari ini kututup warungku sore hari. Karena  dagangan sudah habis terjual sedari tadi. Sekarang  waktunya menyiapkan adonan dan bahan untuk esok hari. Kuambil bahan-bahan di lemari dan ruang pendingin. Dengan hati-hati kukeluarkan sebungkus plastik hitam yangg kusimpan di pojokan. Kupandangi isi di dalamnya. Sebuah jari lengkap dengan cincin kawin menghiasinya. Kutarik nafas panjang.  "Bahan penglarisku sudah akan habis, sepertinya aku sudah harus mencari pengganti untuk penglaris yang sedikit demi sedikit kucampurkan ke dalam adonan bakso maupun kuahnya."

Balikpapan, 231010

0 komentar:

Poskan Komentar