Sabtu, 23 Oktober 2010

KIRANA


Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun terakhir ini, aku menjejakkan kaki lagi di kota ini. Sebuah kota kecil tempat aku lahir dan dibesarkan. Dalam memoriku, kota ini tak bisa dilepaskan dari satu nama “Kirana”. Kirana adalah sahabatku sejak kecil. Sosok seorang gadis manis dan periang yang senantiasa mengisi hari-hariku dari kecil hingga menjelang dewasa.

Rasanya baru kemarin, ketika aku memutuskan untuk pergi demi meraih cita-cita. Rasanya baru kemarin, ketika Kirana mengungkapkan semua perasaan dan cintanya. Rasanya baru kemarin, ketika dengan dingin kutepis tangan mungilnya yang kala itu ingin memelukku. Menahanku agar mengurungkan niat dan kepergianku. Rasanya baru kemarin ketika tanpa perasaan aku pergi begitu saja meninggalkannya dalam hancur dan sepi juga tanpa kabar maupun berita.

Tahukah kau Kirana, kala itu aku tak mengijinkanmu memelukku. Karena aku tahu, kalau itu terjadi, aku tak’kan sanggup pergi. Tahukah kau, kalau aku tak pernah menoleh ke belakang ataupun mengabarimu lagi Karena itu akan membuatku goyah tuk meraih cita-cita. Karena itu akan membuatku teringat lagi padamu yang akhirnya membuatku tak bisa focus dalam meraih mimpi dan cita-cita? Tahukah kau Kirana? Kalau aku pergi demi masa depan kita? Aku pergi agar mampu membuatku bangga dan bahagia? Aku pergi agar aku bisa menjadi penjagamu selamanya?

Dan kini, setelah beberapa tahun berlalu aku kembali untuk menjemputmu. Aku kembali demi menjemput impianku ‘tuk hidup bersama denganmu. Aku datang ‘tuk memintamu untuk menjadi pengantinku, pendamping hidupku hingga ajal menjemput salah satu dari kita.

Bergegas kulangkahkan kaki menuju kediamanmu. Sesampainya di sana kulihat ramai oleh warga dan tetangga. Terlihat janur kuning terhias di sana. Jantungku berdentam, hatiku bertanya “ada apa?” Langsung saja kumasuk ke dalam rumah. Kulihat di sana Kirana tampak cantik dan bahagia dalam kebaya dan kerudung putihnya. Disampingnya terlihat duduk seorang pria dalam pakaian pengantin pria. Mereka baru saja melangsungkan akad nikah.

Duniaku serasa berhenti berputar saat itu juga

Balikpapan, 231010

Inspired By: 25 Minutes – Michael Learn To Rock (MLTR)

After some time I've finally made up my mind
she is the girl and I really want to make her mine
I'm searching everywhere to find her again
to tell her I love her
and I'm sorry 'bout the things I've done

I find her standing in front of the church
the only place in town where I didn't search
She looks so happy in her weddingdress
but she's crying while she's saying this

Chorus:
Boy I've missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I'm sorry your are
twentyfive minutes too late

Against the wind I'm going home again
wishing me back to the time when we were more than friends


But still I see her in front of the church
the only place in town where I didn't search
She looked so happy in her weddingdress
but she cryed while she was saying this

Chorus: Boy I've missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I'm sorry your are
twentyfive minutes too late

Out in the streets
places where hungry hearts have nothing to eat
inside my head
still I can hear the words she said

Chorus:
I can still hear her say.......

0 komentar:

Poskan Komentar